Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Kehormatan
Siang harinya, di kantin Fakultas Ilmu Pendidikan begitu ramai. Aroma soto ayam dan gorengan menyeruak di udara, bersaing dengan suara riuh rendah mahasiswa yang berdiskusi atau sekadar berkeluh kesah tentang tugas akhir. Kanaya duduk di sudut favoritnya, sebuah meja kayu panjang yang menghadap ke arah taman kecil.
Di depannya, sepiring nasi rames dan es teh manis sudah tersedia. Namun, fokusnya bukan pada makanan, melainkan pada flashdisk perak yang ia letakkan di atas meja.
"Kerja bagus," gumam Kanaya lagi, menirukan nada bicara Narendra yang datar namun dalam.
Kanaya tersenyum sendiri hingga sebuah tepukan keras di bahunya hampir membuat sesendok nasi tumpah dari tangannya.
"Heh! Senyum-senyum sendiri, kesambet penunggu perpustakaan ya?" tanya Lista dengan mengejek Kanaya.
Lista menarik kursi di depan Kanaya, matanya langsung tertuju pada benda perak yang berkilau di atas meja.
"Tunggu, itu flashdisk siapa? Mahal banget kelihatannya," tanya Lista.
"Punya Narendra," jawab Kanaya.
"Apa? kok bisa? maksudku gimana bisa flashdisk punya Narendra ada di kamu?" tanya Lista.
"Tadi ada rapat integrasi antar-jurusan, a-aku sempat berdebat sedikit dengannya soal metode mengajar lalu dia memberiku ini untuk dikerjakan," ucap Kanaya.
Lista melongo, mulutnya terbuka lebar hingga lupa menyuap mi instan yang baru ia beli. "Kamu berdebat sengan Narendra Atmaja? Dewa Kedokteran yang omongannya adalah hukum rimba itu? Wah Kanaya, kamu benar-benar punya nyali ya, padahal kamu kalau di tatap Narendra aja udah meleleh gitu sekarang malah ngajak dia debat, secara kamu kan pengagum rahasianya Narendra nomor satu," ucap Lista.
"Bukan ngajak debat, Lista. Aku hanya mempertahankan prinsip keilmuanku, dia mau pakai presentasi 3D dan istilah medis yang berat untuk anak-anak kecil, itu tidak akan masuk ke otak mereka," ucap Kanaya.
Lista menggeleng-gelengkan kepala lalu menatap flashdisk itu dengan pandangan menyelidik, "Dan dia gak marah? Seorang Narendra Atmaja yang biasanya mengabaikan orang lain seolah-olah mereka hanya butiran debu malah memberimu tanggung jawab ini?" tanya Lista.
"Dia bilang kerja bagus di akhir rapat," bisik Kanaya hampir tidak terdengar, tapi telinga tajam Lista menangkapnya.
"Saranku cuma satu, jangan baper sama sikap Narendra," ucap Lista.
"Ish, iya aku tahu," jawab Kanaya.
Lista mengaduk mi instan cup-nya, uap panas mengepul di antara mereka. "Bagus kalau kamu tahu, ingat ya orang seperti Narendra itu punya dunianya sendiri, kamu lihat flashdisk itu? Harganya mungkin bisa buat kita makan seminggu. Itu baru barang kecil, belum lagi ekspektasi keluarganya," ucap Lista.
Kanaya terdiam, jemarinya mengusap permukaan dingin flashdisk perak itu. Kata-kata Lista selalu menjadi jangkar yang menariknya kembali ke dasar laut setiap kali ia mencoba terbang.
"Apaan sih Lista, harusnya kamu semangatin Kanaya. Lagipula jodoh itu gak ada yang tahu, siapa tahu nanti Kanaya jodohnya Narendra," ucap Arin sahabatnya sejak SMA dan dia sekarang berada di jurusan Ekonomi.
"Hahaha, gak mungkinlah Rin. Aku juga sadar kali, aku cuma mengagumi seorang Narendra aja, gak pernah kebayang buat dapatin dia," ucap Kanaya.
"Ih siapa tau loh Nay," ucap Arin.
"Udah, jangan bahas dia terus. Oh ya, gimana sama acara amal yang katanya bakal diadakan kampus?" tanya Kanaya, karena Arin adalah anggota badan eksekutif mahasiswa sekaligus menjadi penyelenggara untuk acara tersebut.
"Ya gitu deh," ucap Arin.
"Gitu kenapa?" tanya Lista.
"Acara sosialnya gak jadi di lapangan kampus," ucap Arin.
"Kenapa?" tanya Kanaya.
"Huh, ternyata acaranya itu acara amal buat para petinggi kampus dan hanya mahasiswa-mahasiswa berduit yang bisa datang," ucap Arin.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Lista yang merasa kesal mendengar perkataan Arin.
"Nah itu, aku sendiri juga gak tau. Dandi jadi ketua pelaksana kurang pinter, kalau kayak gini kan jadi gak adil banget," ucap Arin.
"Terus acara amalnya dimana?" tanya Kanaya.
"Di ballroom Hotel Green," jawab Arin.
"Gila! Hotel Green itu hotel berbintang dan mahal banget, per malam aja bisa sampai 10 juta lebih apalagi ini pakai ballroom-nya," ucap Lista.
"Tau deh, makanya aku juga gak ngerti sama acara ini sebenarnya," ucap Arin.
"Acaranya besok kan?" tanya Kanaya.
"Iya, besok," jawab Arin.
"Makanya kok aku lihat lapangan bersih gak ada persiapan apa-apa, aku pikir malah gak jadi," ucap Lista.
"Udah mau sore, aku pulang dulu ya," ucap Kanaya.
"Yaudah deh, aku juga masih ada kelas lagi habis ini," ucap Lista.
"Aku masih harus ke ruang BEM," ucap Arin.
Keesokan paginya, sebuah email resmi masuk ke kotak masuk Kanaya. Bukan dari Arin, melainkan dari sekretariat rektorat.
Undangan Kehormatan: Gala Amal Universitas A
Mengharap kehadiran Saudari Kanaya Wulandari sebagai perwakilan mahasiswa berprestasi dari Program Integrasi Antar-Jurusan. Kehadiran anda diharapkan untuk memberikan testimoni singkat mengenai modul edukasi yang sedang dikembangkan.
Dresscode: Formal/Black Tie.
"Formal? Black tie?" gumam Kanaya dan menatap layar ponselnya dengan nanar.
Kanaya membuka lemarinya, isinya hanya ada kemeja kuliah, beberapa kaos, celana dan beberapa rok yang biasa ia gunakan.
Karena merasa bingung Kanaya pun menghubungi Arin, beruntung Arin bisa datang menyelamatkannya dan meminjamkan sebuah gaun simpel berwarna navy milik kakaknya yang syukurnya pas di tubuh mungil Kanaya.
"Pakai ini, Nay. Kamu harus terlihat berwibawa di depan para donatur," ucap Arin.
Beberapa saat kemudian, Kanaya sampai di hotel mewah itu. Saat ia melangkah masuk ke ballroom, gemerlap lampu kristal, tawa yang merdu dan kilauan perhiasan mewah menyeruak. Setiap sudut tampak dipenuhi oleh pewaris perusahaan, anak pejabat dan para bintang kampus. Kanaya merasa seperti seorang pengamat yang secara tidak sengaja tersesat ke pesta para dewa.
Kanaya segera mencari sudut yang paling tidak mencolok, di dekat meja makanan penutup yang masih kosong. Ia merasa canggung, tangannya memegang tas tangan kecilnya erat-erat, seolah itu adalah jangkar satu-satunya.
Lalu, Kanaya tidak sengaja melihat Narendra yang begitu tampan dengan mengenakan tuksedo hitam yang dibuat khusus, bahunya yang tegap dan posturnya yang sempurna membuatnya tampak jauh lebih dewasa dan berkuasa.
Narendra berdiri di dekat panggung, diapit oleh Rektor dan seorang wanita paruh baya yang Kanaya yakini sebagai Menteri Kesehatan, orang yang Lista sebut-sebut akan menjadi calon ibu mertua Narendra.
Narendra tertawa tipis, membalas obrolan serius yang dilontarkan Rektor. Tawanya begitu jarang dan minimal, tetapi ketika itu terjadi, Kanaya merasa seluruh ruangan seolah sedikit lebih hangat.
Narendra tidak berusaha mencuri perhatian, tetapi perhatian itu secara alami tertuju padanya, dia adalah pusat gravitasi di tengah lingkaran sosial tertinggi kampus.
.
.
.
Bersambung.....