Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Takdir
King Cristopher tak memberi jeda bagi Putri Lily untuk tinggal lebih lama. Dua buah peti besar milik sang putri diangkat dan dimasukkan ke dalam kereta oleh para pelayan istana, menandai perpisahan yang tak dapat ditunda. Roda besi berlapis ukiran Kingdom Conqueror berdiri menunggu, seperti rahang takdir yang telah terbuka.
Putri Lily berdiri di antara kedua kakaknya. Debu dan kotoran tanah tak lagi melekat di wajahnya, memperlihatkan betapa bersih dan lembut kulit sang putri. Wajahnya yang indah tanpa hiasan justru memancarkan cahaya tenang, keindahan yang lahir dari keteguhan.
Tatapan matanya tanpa sengaja bersinggungan dengan mata tajam King Cristopher. Tidak ada reaksi berlebihan dalam sorot matanya. Ia menatap raja penakluk itu dengan keanggunan yang dingin. Sikap itu begitu tenang, berjarak, dan tanpa minat. Reaksi yang jauh lebih menusuk daripada perlawanan.
Pangeran Leo menggenggam tangan Lily erat. Jemarinya enggan melepas, meski ia paham tak ada kekuatan yang mampu menahan adiknya lebih lama.
“Jangan terlalu bersedih, Kakak.” ucap Lily lembut. “Aku hanya pergi, bukan mati. Kita masih akan bertemu di masa depan.”
“Kau ini…” Pangeran Leo berusaha tersenyum, lalu mencubit pipi Lily ringan, seperti masa kecil mereka. “Selalu berbicara seolah kau yang tertua.”
Pangeran Aurelian melangkah maju dan menyerahkan sebuah kotak kayu berukir.
“Bawalah tanaman-tanaman ini, adikku.” katanya tenang namun penuh perhatian. “Kau akan sangat membutuhkannya di sana.”
Kotak itu berisi tanaman obat Moonveil yang tak ternilai harganya, warisan dari hutan Moonveil yang membesarkannya.
“Terima kasih, Kakak.” balas Lily, suaranya bergetar haru. Dalam diam, ia menyadari betapa teliti kedua kakaknya menjaga setiap kebutuhannya, bahkan saat hati mereka sendiri retak.
Pangeran Leo yang biasanya keras kepala dan enggan menunduk pada siapa pun, melangkah ke depan King Cristopher. Ia menunduk dalam. Sebuah tindakan yang membuat banyak bangsawan menahan napas.
“Tolong jaga dan lindungi adik hamba, Your Majesty.”
“Air matanya adalah penderitaan bagi Agartha,” ucap Kaisar Aurelian, suaranya tenang namun sarat ancaman yang tak perlu diteriakkan. “Jika Kingdom Conqueror gagal memperlakukannya dengan hormat, aku tidak akan ragu menanggalkan jubah kebesaran ini. Bahkan kematian tak akan menghalangiku untuk mempertahankan kehormatannya.”
Kaisar Aurelian berhenti sejenak, menyembunyikan kegelisahan yang memenuhi ruang hatinya. Bagaimana adiknya akan bertahan sendirian, di tanah asing yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan Imperial Agartha? Kekhawatiran itu menekan dadanya kuat. Namun kekhawatiran itu perlahan sirna ketika pandangannya bertemu dengan mata sang putri. Tatapan itu teguh, penuh keyakinan. Lily telah menerima takdirnya dengan kepala tegak.
“Dan jika suatu hari kerajaanmu berubah pikiran,” lanjut Aurelian perlahan, “jika ia dianggap tak lagi layak menerima mahkota Conqueror, katakanlah padaku. Aku akan datang menjemputnya dengan senang hati, Your Majesty.”
King Cristopher berdiri dengan dagu terangkat, wibawa kekuasaan mengalir kuat dari setiap sikapnya. Ia menatap Kaisar Aurelian dan Pangeran Leo tanpa ekspresi lalu berkata dengan suara dingin dan pasti.
“Kehidupan yang ditakdirkan menjadi milik Kingdom Conqueror tak akan bisa pergi, meski dunia ini mati. Namun darahnya, tak akan pernah terputus dari leluhur Agartha.”
Jawaban itu cukup untuk membuat Kaisar Aurelian dan Pangeran Leo merasakan kelegaan yang luar biasa. Janji secara tidak langsung telah tercipta, bahwa Putri Lily tidak akan sepenuhnya direnggut dari mereka.
Putri Lily memeluk kedua kakaknya bergantian, pelukan yang singkat namun penuh makna, seolah mengikat kenangan agar tak terkikis jarak.
Kaisar Aurelian dan Pangeran Leo meletakkan tangan mereka di atas kepala Lily bersamaan.
“Semoga berkat para dewa selalu berdiri di atas kepalamu,” ucap Aurelian.
“Menyertai setiap langkahmu,” sambung Leo,
“dan memberkahi seluruh kehidupanmu.”
Putri Lily menunduk hormat, “Semoga Dewa selalu memberkati kalian. Jagalah Imperial Agartha, seperti Ayahanda dan Ibunda pernah menjaganya.”
Kemudian ia berbalik, melangkah anggun dalam kesederhanaan menuju kereta yang telah disiapkan untuknya. Gaunnya berayun lembut mengikuti langkah kaki, tak tergesa, tak ragu, seolah jalan itu memang telah ditakdirkan menunggunya sejak awal.
King Cristopher menyusul dan naik ke kereta yang sama. Pintu tertutup rapat di belakang mereka. Untuk pertama kalinya, keduanya berbagi udara yang sama dalam satu ruang tertutup. Hanya mereka, dua jiwa yang berasal dari benua berbeda namun disatukan karena satu kata yang disebut takdir.
Putri Lily membuka sedikit tirai kereta. Ia tersenyum tulus tanpa kepahitan, lalu melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Kereta mulai bergerak perlahan, melewati barisan rakyat yang ikut melambaikan tangan. Suara mereka bergema menyertai perjalanan.
“Berbahagialah, Putri…”
“Berbahagialah, Putri…”
Putri yang mengorbankan hidupnya demi kemenangan Agartha.
Lily menarik tangannya kembali dari jendela, menutup tirai, lalu menyatukan kedua tangannya di atas paha. Ia duduk tegak, menatap lurus ke depan. Teriakan rakyat masih terdengar samar, seperti doa yang enggan dilepaskan.
King Cristopher menatapnya, mencoba menelisik lebih dalam. Namun tak satu pun emosi dapat ia baca dari wajah gadis itu. Tak ada ketakutan, tak ada penyesalan, bahkan tak ada kebencian.
“Jangan menatapku terlalu lama.” ucap Putri Lily akhirnya terdengar dalam keheningan.
Suara itu menggunakan bahasa Kingdom Conqueror dengan fasih, meski terselip nada yang belum sempurna. Ketidaksempurnaan yang justru membuatnya terasa lebih hidup.
“Seorang putri tidak diizinkan memerintah seorang raja.” balas King Cristopher, suaranya menekan dingin.
“Aku mengerti.” jawab Putri Lily singkat, menurut tanpa perlawanan.
Jawaban itu justru menyulut sesuatu dalam dada King Cristopher. Mereka baru saling mengenal, namun ia masih mengingat jelas bagaimana gadis ini berdiri menantangnya di atas puing-puing kekalahan perang malam itu. Sikapnya yang kini patuh, acuh, dan tenang terasa bukan sebagai penyerahan, melainkan penghinaan halus.
Tatapan King Cristopher mengeras. Sikap Putri Lily membuatnya tanpa sadar ingin menguji lebih lauh sampai batas mana keberanian dan ketenangan itu akan bertahan.
Kereta yang mereka tumpangi melaju dalam keheningan panjang. Hanya bunyi roda yang bergesek pelan dengan jalan berbatu, mengiringi waktu yang terasa melambat.
Putri Lily memejamkan matanya, kelopak matanya terasa berat. Sejak ayahanda dan ibundanya pergi, tak ada malam yang benar-benar tenang baginya. Kesadarannya perlahan luruh. Nafasnya menjadi teratur, bibir kemerahan itu sedikit terbuka tanpa disadari. Dalam alam bawah sadarnya, tubuh gadis itu bergerak menjauh, memilih bersandar pada dinding kereta, menciptakan jarak yang kian jelas di antara mereka.
King Cristopher memperhatikannya dalam diam. Sepanjang hidupnya, ia dikelilingi perempuan-perempuan yang selalu berhati-hati menjaga rupa, suara, dan gerak. Perempuan yang bahkan bernapas pun terukur saat berada di hadapan seorang raja. Namun ini… adalah pertama kalinya ia menyaksikan seorang gadis tertidur dengan mulut terbuka, tanpa upaya untuk tetap tampak indah di hadapan Raja Penakluk Benua Barat.
Pelahan keraguan tumbuh dalam tatapan King Cristopher. Apakah gadis seperti ini yang ditakdirkan untuk duduk di singgasana Kingdom Conqueror?
Pertanyaan itu menggantung di benaknya, perlahan menumbuhkan bayang-bayang ragu yang tak ia sukai. Karena untuk pertama kalinya, takdir yang selalu ia kendalikan terasa tak sepenuhnya berada di tangannya.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author