Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kejatuhan Sang Tirani
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai beludru kamar utama Jerome, menerangi sisa-sisa gairah yang masih tertinggal di udara. Valerie terbangun dengan perasaan yang sangat ringan namun juga pegal di sekujur tubuhnya. Setiap gerakan kecil mengingatkannya pada penyatuan liar di ruang kerja semalam—sebuah momen di mana bukan hanya raga, tapi jiwa mereka seolah melebur menjadi satu entitas yang tak terpisahkan.
Valerie mencoba bangkit untuk mengambil jubah mandi di tepi ranjang, namun sebuah lengan kekar dan posesif langsung melingkar di pinggangnya. Dengan satu sentakan lembut, Jerome menariknya kembali ke dalam dekapan dada bidang yang hangat.
"Mau ke mana, Wifey?" suara serak khas bangun tidur Jerome berbisik tepat di telinga Valerie, mengirimkan desir halus ke seluruh sarafnya.
"Jerome... lepaskan. Ini sudah siang, aku harus ke perusahaan. Kita punya janji untuk menjatuhkan Edward hari ini," ucap Valerie sembari mencoba melepaskan cengkeraman yang sekuat baja itu.
Jerome justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Valerie, menghirup aroma tubuh istrinya seolah itu adalah oksigen terakhir yang tersisa di dunia. "Vaughn Group bisa menunggu satu jam lagi. Atau sehari lagi. Atau selamanya. Aku tidak ingin kau pergi ke mana pun hari ini."
"Jerome, jangan mulai lagi sisi posesifmu," Valerie tertawa kecil, meski jantungnya berdebar kencang melihat tatapan Jerome yang kembali menggelap oleh obsesi.
Mengetahui bahwa Valerie benar-benar telah menjadi miliknya seutuhnya—bahwa ia adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuh wanita itu—membuat api posesif di dada Jerome tumbuh sepuluh kali lipat. Ia merasa tidak ingin membagi keberadaan Valerie dengan dunia luar. Ia ingin mengurung istrinya di sini, di bawah selimut ini, menjaganya dari setiap pasang mata pria mana pun.
"Kau tidak akan pergi tanpa aku, Valerie. Tidak satu langkah pun," ucap Jerome dengan nada final yang tidak menerima bantahan.
Tiba-tiba, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama 'Raka' muncul di layar. Jerome mendesah kesal, namun tetap mengangkatnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap mendekap pinggang Valerie.
"Bicaralah," perintah Jerome singkat.
"Tuan, Edward Vaughn sudah tiba di kantor pusat. Ia membawa pengacara dan tampak sangat percaya diri. Ia bahkan membawa Serena sebagai pendamping. Mereka sedang mencoba membujuk dewan komisaris bahwa Nona Valerie sedang tidak stabil secara mental akibat trauma penculikan kemarin," lapor Raka di seberang sana.
Rahang Jerome mengeras seketika. Sebuah seringai dingin muncul di bibirnya. "Biarkan dia bermain drama sebentar lagi, Raka. Siapkan proyektor di ruang rapat utama. Aku dan istriku akan tiba dalam tiga puluh menit."
Jerome memutus sambungan, lalu menatap Valerie yang kini memandangnya dengan penuh tanya.
"Siapkan dirimu, Val. Kita akan pergi. Tapi pakailah pakaian yang sangat tertutup. Aku tidak ingin ada satu pun pria di kantor itu melihat bekas tanda yang kubuat semalam di lehermu," ucap Jerome sembari mengusap tanda kemerahan di kulit putih Valerie dengan ibu jarinya, sebuah klaim kepemilikan yang nyata.
Valerie hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Jerome yang kini benar-benar bertransformasi menjadi kaisar yang sangat protektif. Mereka bersiap dengan cepat; Valerie memilih mengenakan turtleneck hitam dan setelan blazer formal untuk menutupi jejak-jejak gairah semalam.
Begitu mereka sampai di lobi Vaughn Group, suasana mendadak sunyi. Kehadiran Jerome Renfred yang menggandeng Valerie erat-erat seolah membawa aura intimidasi yang membekukan siapa pun yang berani menentang mereka. Mereka melangkah masuk ke ruang rapat utama, di mana Edward Vaughn sedang tertawa bersama beberapa komisaris tua. Serena duduk di sampingnya mengenakan gaun merah mencolok, tampak sangat sombong.
"Ah, putriku tercinta akhirnya datang!" Edward berdiri, memasang topeng penuh kasih sayang. "Valerie, kemarilah. Ayah sedang menjelaskan bahwa kau butuh istirahat panjang. Biarkan Ayah yang menangani urusan perusahaan—"
"Berhenti di situ, Tuan Edward," potong Valerie dengan nada dingin yang membuat ruangan membeku. "Aku tidak datang ke sini sebagai putrimu. Aku datang sebagai pemilik saham mayoritas sekaligus istri sah dari Jerome Renfred."
Serena berdiri, matanya berkilat benci. "Valerie, jangan kurang ajar! Ayah hanya ingin membantumu. Kau tahu sendiri kan, kau sedang sakit? Jerome pasti memaksamu melakukan ini!"
Jerome tertawa rendah—tipe tawa yang membuat bulu kuduk Serena berdiri. Ia menarik kursi kebesaran untuk Valerie, mendudukkannya di sana, lalu berdiri tegak di belakang istrinya bak iblis pelindung yang siap menerkam.
"Sakit?" Jerome menatap Serena dengan hina. "Satu-satunya yang sakit di ruangan ini adalah kalian berdua. Sakit karena ketamakan yang tidak tahu diri."
Jerome memberi isyarat pada Raka. Seketika, layar besar di ruang rapat menyala, menampilkan data-data yang mengejutkan.
Video dari micro-chip di kalung Blue Tear mulai terputar. Rekaman suara dan dokumen digital yang memperlihatkan Edward sedang menyusun rencana kecelakaan Sofia Vaughn terpampang nyata di depan para komisaris.
Wajah Edward berubah menjadi pucat pasi. Ia gemetar hebat, tangannya memegang pinggiran meja. "Itu palsu! Itu manipulasi digital!" teriaknya histeris.
"Palsu?" Jerome melangkah maju, menjatuhkan tumpukan dokumen audit forensik ke depan wajah Edward. "Kau mencuri dana yayasan Sofia untuk membiayai gaya hidup mewah ibu Serena selama puluhan tahun. Dan kau..." Jerome menoleh pada Serena yang kini mulai menangis ketakutan. "Kau menggunakan nama Vaughn untuk menipu bank demi keuntungan pribadi Aiden."
"Jerome, tolong..." Serena mencoba meraih lengan Jerome. "Aku dipaksa oleh Ayah! Aku tidak tahu apa-apa!"
Jerome menepis tangan Serena seolah tangan itu adalah kotoran. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Kau tahu segalanya, Serena."
Tiba-tiba, rasa mual yang hebat kembali menghantam perut Jerome. Ia melirik Valerie; wanita itu sedang menatap Edward dengan kebencian yang mendalam, tubuhnya gemetar karena amarah yang memuncak. Jerome langsung memeluk bahu Valerie, menyalurkan kekuatannya.
"Sudah cukup, Val. Jangan kotori tanganmu dengan sampah ini," bisik Jerome lembut di telinga istrinya. Ia kemudian menatap petugas polisi yang sudah menunggu di luar pintu. "Bawa mereka. Pastikan mereka tidak pernah melihat cahaya matahari lagi tanpa seizinku."
Saat polisi menyeret Edward dan Serena keluar dengan teriakan histeris, Jerome berlutut di samping kursi Valerie. Ia menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin.
"Semuanya sudah berakhir, Sayang," bisik Jerome. "Vaughn Group sepenuhnya milikmu. Dan mereka akan membusuk di tempat yang seharusnya."
Valerie menatap Jerome, matanya berkaca-kaca penuh haru. "Terima kasih, Jerome. Tanpamu, aku mungkin sudah hancur di tangan mereka."
Jerome mencium punggung tangan Valerie dengan penuh posesif. "Kau tidak akan pernah hancur selama aku masih bernapas, Valerie. Sekarang, mari kita pulang. Aku ingin menghabiskan sisa hariku hanya denganmu."
...****************...