Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pulang ke Akar yang Teguh
Perjalanan menuju desa di Jawa Tengah itu memakan waktu berjam-jam, namun bagi Hana, setiap kilometer yang terlampaui terasa seperti lapisan beban yang terkelupas dari pundaknya. Gilang tertidur lelap di kursi belakang, memeluk tas ranselnya yang berisi mainan baru. Hana menatap keluar jendela, melihat hamparan sawah hijau yang mulai menguning di bawah sinar matahari pagi. Udara pegunungan yang masuk melalui celah kaca mobil terasa jauh lebih bersih daripada oksigen di Jakarta yang selalu berbaur dengan kepulan asap knalpot dan aroma persaingan.
Dulu, Hana sering pulang ke desa ini dengan perasaan was-was. Ia takut ayahnya akan bertanya tentang kabarnya di rumah mertua, dan ia terpaksa harus berbohong—mengatakan bahwa ia bahagia sementara hatinya hancur. Ia takut ibunya melihat telapak tangannya yang kasar karena terlalu banyak bekerja kasar. Namun kali ini, Hana pulang dengan kepala tegak. Ia membawa bukti bahwa kesabaran ayahnya selama puluhan tahun bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah tabungan kebenaran yang kini cair.
Mobil Hana memasuki jalanan desa yang sempit dan berbatu. Kedatangan sebuah mobil pribadi yang tampak mewah di desa terpencil itu segera mengundang perhatian warga. Beberapa ibu-ibu yang sedang mencuci di pinggir sungai kecil berhenti sejenak, menatap dengan penuh rasa ingin tahu.
Begitu mobil berhenti di depan sebuah rumah kayu yang sederhana namun sangat rapi, seorang wanita tua dengan kebaya lusuh berlari keluar dari pintu depan. Itu adalah Ibu Hana.
"Hana!" teriak ibunya dengan suara parau.
Hana turun dari mobil dan langsung menghambur ke pelukan ibunya. Isak tangis pecah di bawah pohon mangga di halaman rumah itu. Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya dekapan erat yang menyalurkan kerinduan dan rasa syukur yang luar biasa.
"Bapak mana, Bu?" tanya Hana setelah sedikit tenang, sambil menghapus air mata di pipi ibunya.
"Ada di dalam... Bapak tidak mau keluar sejak tadi malam setelah kamu telepon. Dia terus saja duduk di depan sajadah," jawab ibunya dengan bibir gemetar.
Hana masuk ke dalam rumah yang berlantai tanah namun sangat bersih itu. Di sudut ruangan, ia melihat ayahnya, Pak Hardiman, sedang duduk di sebuah kursi kayu tua. Pria itu tampak sangat rapuh. Rambutnya sudah memutih semua, dan garis-garis di wajahnya menceritakan betapa berat beban fitnah yang ia bawa selama tiga dekade.
Hana berlutut di depan ayahnya, meletakkan kotak kecil yang ia bawa dari Jakarta di pangkuan Pak Hardiman.
"Bapak... ini surat dari kepolisian dan pernyataan dari Tan Sri Setyo. Nama Bapak sudah bersih. Dunia sekarang tahu bahwa Bapak tidak pernah mencuri. Bapak tidak pernah mengkhianati siapa pun. Ayah Aris-lah yang melakukannya," bisik Hana.
Tangan Pak Hardiman yang gemetar perlahan membuka map tersebut. Matanya yang mulai rabun menelusuri baris demi baris tulisan di sana. Air mata jatuh perlahan, membasahi kertas dokumen yang sangat berharga itu. Pak Hardiman menutup matanya, menarik napas panjang seolah baru saja mendapatkan kembali paru-parunya yang hilang.
"Hana... Bapak sudah memaafkan mereka sejak lama," suara Pak Hardiman terdengar sangat rendah. "Tapi Bapak tidak pernah menyangka, anak Bapak sendiri yang akan berjalan menembus bara api hanya untuk mengambilkan kembali kehormatan Bapak."
"Hana hanya melakukan apa yang harus Hana lakukan, Pak. Mereka tidak pantas menginjak kita terus-menerus."
Sore itu, suasana di desa mulai berubah menjadi riuh. Kabar tentang bersihnya nama Pak Hardiman dan kesuksesan Hana di Jakarta menyebar lebih cepat daripada angin. Orang-orang yang dulu menjauhi keluarga Hardiman karena label "mantan narapidana" kini mulai berdatangan.
Kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat datang bertamu, membawa buah tangan seadanya sebagai bentuk permintaan maaf yang tersirat. Mereka duduk di teras, mendengarkan cerita Hana dengan wajah yang penuh rasa hormat. Hana melayani mereka dengan sopan, namun ada ketegasan di wajahnya yang membuat orang-orang itu sadar bahwa Hana bukan lagi gadis desa yang bisa diremehkan.
Namun, di tengah keriuhan itu, sebuah mobil hitam metalik kembali memasuki halaman rumah. Semua mata tertuju ke sana. Dari dalam mobil, Adrian turun dengan kemeja kasual yang rapi. Kehadirannya yang sangat berkelas membuat warga desa tertegun.
Hana bangga sekaligus bingung. "Mr. Adrian? Kenapa Anda sampai ke sini?"
Adrian berjalan mendekat, menyalami Pak Hardiman dan Ibu Hana dengan sangat hormat—sebuah pemandangan yang membuat warga desa semakin yakin bahwa Hana sekarang bekerja di tempat yang luar biasa.
"Maaf saya datang tiba-tiba, Hana. Ada beberapa dokumen yang butuh tanda tangan basahmu untuk proyek Singapura minggu depan. Dan... saya rasa saya perlu melihat sendiri tempat di mana seorang wanita sekuat kamu dibesarkan," ucap Adrian dengan senyum tipis yang tulus.
Adrian tidak bersikap seperti bos besar. Ia duduk di kursi kayu yang keras, meminum teh tubruk buatan ibu Hana, dan berbincang dengan Pak Hardiman tentang pertanian. Ia mendengarkan dengan seksama cerita Pak Hardiman tentang masa lalunya di dunia konstruksi sebelum difitnah.
Di mata Adrian, Pak Hardiman bukanlah orang desa yang kalah, melainkan seorang ahli lapangan yang jujur yang bakatnya telah disia-siakan oleh sistem yang korup.
"Pak Hardiman, jika Bapak berkenan, setelah kondisi Bapak lebih baik, saya ingin mengundang Bapak ke Jakarta untuk sekadar melihat proyek yang sedang dikerjakan Hana. Saya ingin Bapak melihat bahwa kejujuran yang Bapak ajarkan pada Hana kini menjadi pondasi utama di perusahaan saya," ujar Adrian.
Ibu Hana menatap suaminya dengan mata berbinar, sementara Pak Hardiman hanya bisa mengangguk haru.
Malam harinya, setelah warga desa pulang dan Adrian menginap di penginapan terdekat, Hana duduk di bangku kayu di halaman rumah bersama ayahnya. Suara jangkrik bersahutan di kejauhan, dan langit desa bertabur bintang yang sangat jelas.
"Hana," panggil Pak Hardiman pelan. "Pria itu... Pak Adrian... dia orang baik."
Hana tersenyum. "Iya, Pak. Dia yang banyak membantu Hana di Jakarta."
"Dia melihatmu bukan hanya sebagai bawahannya, Nak. Bapak bisa melihat cara dia menatapmu. Tapi Hana... Bapak hanya berpesan satu hal. Jangan biarkan hatimu membeku karena apa yang dilakukan Aris. Tidak semua laki-laki itu seperti dia."
Hana terdiam. Ia menatap tangannya yang kini sudah halus, tidak lagi kasar seperti saat masih di rumah Ibu Salma. "Hana belum memikirkan itu, Pak. Fokus Hana sekarang hanya Gilang dan memulihkan nama baik keluarga kita."
"Memulihkan nama baik sudah selesai, Hana. Sekarang waktunya kamu memulihkan hatimu sendiri."
Di kejauhan, Hana teringat Ibu Salma dan Maya yang mungkin sekarang sedang menyesuaikan diri di rumah kontrakan kecil yang ia siapkan. Ia juga teringat Aris yang sedang menghitung hari di balik jeruji besi. Anehnya, Hana tidak merasakan kepuasan yang jahat. Ia justru merasa bebas. Ia tidak lagi terikat oleh rantai kemarahan.
Perang panjang itu telah berakhir. Hana telah selesai menjadi sabar, dan kini ia sedang belajar untuk menjadi bahagia.
Keesokan paginya, sebelum kembali ke Jakarta, Hana mengajak Gilang berkeliling sawah. Ia menunjukkan pada anaknya bahwa meski mereka telah tinggal di apartemen mewah, mereka memiliki akar yang sangat kuat di tanah ini. Tanah yang pernah diinjak oleh seorang pria jujur yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Hana menatap Adrian yang berdiri di dekat mobil, menunggu mereka. Adrian melambai kecil, sebuah isyarat sederhana yang terasa sangat menenangkan bagi Hana. Langkah Hana menuju mobil terasa sangat ringan. Ia bukan lagi pelayan yang melarikan diri, bukan lagi istri yang terbuang. Ia adalah Hana Anindita, seorang pemenang yang baru saja menjemput kembali takdirnya yang sempat dicuri.
"Ayo, Gilang. Kita pulang," ucap Hana lembut.
"Pulang ke mana, Ma? Ke apartemen?" tanya Gilang.
Hana tersenyum, menatap rumah kayu ibunya dan kemudian menatap Adrian yang menunggu di depan sana. "Pulang ke masa depan, Sayang. Tempat di mana tidak ada lagi yang bisa menyakiti kita."
Mobil itu perlahan meninggalkan desa, membawa Hana menuju babak baru kehidupannya yang lebih gemilang. Sementara di belakang, nama Hardiman kini disebut dengan rasa hormat oleh seluruh warga desa, membersihkan sisa-sisa debu fitnah yang selama ini menyelimuti rumah kayu tersebut.