NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Mobil yang dikendarai Kenzo akhirnya berhenti di depan rumah mereka. Suasana sore terasa hangat, langit mulai berubah jingga. Dira turun lebih dulu dari mobil, masih memasang wajah merajuk sejak dari sekolah.

Kenzo menghela napas panjang sambil mengunci mobil.

“Masih marah juga?” tanya Kenzo santai.

Dira langsung berjalan ke arah pintu rumah tanpa menjawab. Tasnya digantung di bahu, langkahnya cepat seolah tidak ingin meladeni kakaknya.

“Dira,” panggil Kenzo lagi.

“Apaan sih, bang . Capek tau,” jawab Dira tanpa menoleh.

Kenzo hanya menggeleng kecil. Ia sudah sangat hafal sifat adiknya itu. Kalau sudah merajuk, bicaranya akan ketus seperti itu.

Saat pintu rumah dibuka, Dira langsung berhenti.

Di ruang tamu sudah duduk seorang wanita yang sangat ia kenal.

“Ibu…?” ucap Dira kaget.

Wanita itu langsung berdiri dengan wajah lembut dan penuh rindu.

“Dira…” katanya pelan.

Itu adalah Annisa, ibu mereka. Setelah pertemuan terakhir mereka. Kini ia datang kembali menemui anaknya.

Sudah lama mereka tidak tinggal bersama. Sejak beberapa kejadian di masa lalu, Dira dan Kenzo lebih sering hidup sendiri. Tepatnya kenzo yang membawa dan merawat dira.

Dira sedikit canggung. Ia berdiri di tempatnya, memegang tali tas dengan ragu.

“Ibu kapan datang?” tanya Kenzo dari belakang.

“Baru saja,” jawab Annisa sambil menatap kedua anaknya dengan mata hangat.

Kenzo masuk ke ruang tamu dan duduk santai di sofa.

Dira masih berdiri beberapa langkah dari ibunya.

Annisa tersenyum kecil.

“Kamu makin besar,” katanya mencairkan suasana sambil menatap Dira dari atas sampai bawah.

Dira menggaruk pelan kepalanya.

“Hehe… ya iyalah, Bu. Masa makin kecil.”

Kenzo tertawa kecil mendengar itu.

Annisa ikut tersenyum, tapi kemudian wajahnya berubah sedikit serius.

“Ibu sebenarnya datang karena ingin bicara sesuatu.”

Dira dan Kenzo saling melirik.

“Apa?” tanya Kenzo.

Annisa menarik napas perlahan.

“Ibu ingin kalian tinggal bersama ibu lagi.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.Dira sedikit terkejut.

“Tinggal… sama ibu?” ulangnya pelan. Bagaimana pun ia masih merasa canggung.

Annisa mengangguk.

“Iya. Rumah ibu sekarang sudah lebih aman. Ibu tidak ingin kalian terus hidup sendiri seperti ini.”

Kenzo menyandarkan tubuhnya di sofa, memikirkan kata-kata ibunya.

Sedangkan Dira terlihat bingung.

“Tapi… kita sudah biasa di sini,” kata Dira.

Annisa berjalan mendekat dan memegang tangan putrinya.

“Ibu tahu. Tapi ibu tetap ibu kalian. Ibu ingin kalian dekat lagi.”

Dira menunduk pelan.

Di dalam hatinya, sebenarnya ia juga merindukan ibunya. Tapi semuanya terasa canggung setelah sekian lama.

Kenzo akhirnya berdiri.

“Kita pikirkan dulu ya ,Bu,” katanya tenang.

Annisa mengangguk.“Ibu tidak memaksa. Ibu hanya berharap.”

Dira masih diam. Banyak hal yang berputar di pikirannya.

Ia tidak tahu… bahwa di luar sana, ancaman yang lebih besar sedang mendekat.

Dan keputusan mereka nanti… bisa menentukan keselamatan semuanya.

" Kalau gitu ibu pulang dulu" pamit annisa meninggalkan ruang tamu yang sunyi

"Hati-hati Bu." balas kenzo,sedangkan dira masih diam

Hening. Ruang tamu sunyi setelah kepergian annisa

" Gimana menurut abang?" Tanya dira

" Jika kamu mau , abang akan ikut " Kenzo menatap wajah dira .Ia tidak akan memaksa dengan pilihan dira.

" Aku bingung " ucap dira pelan

Kenzo diam sebentar " Yaudah .Jangan pikirkan sekarang " Merangkul bahu adiknya " Lebih baik kamu istirahat, katanya tadi capek "

" ck.. yaudah iyaa " balas dira yang kemudian pergi meninggalkan kenzo di ruang tamu.

Setelah kepergian dira ,Kenzo masih terdiam di tempat.

" Maafkan abang " lirih kenzo tertunduk

***

 Malam mulai turun. Rumah Kenzo dan Dira terlihat tenang dari luar. Lampu ruang tamu masih menyala, memperlihatkan bayangan tiga orang yang sedang berbincang di dalam.

Namun tidak ada yang sadar…

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dengan lampu mati.

Seorang pria duduk di dalamnya sambil menatap rumah itu tajam.

Bara.

Pria berusia lima puluh tahun itu bersandar santai di kursinya. Wajahnya yang dingin terlihat semakin menyeramkan dalam cahaya lampu jalan yang redup.

Di tangannya ada sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan seorang gadis kecil yang sedang tertawa.

Dira.

Bara tersenyum tipis.

“Sudah besar ternyata…”Ia menatap rumah itu lama.

“Keponakanmu yang manis. Ray.”

Di kursi depan, seorang anak buahnya menoleh.

“Bos… kita mulai sekarang?”

Bara menggeleng pelan.“Belum.”

Ia menyipitkan mata.

“Aku ingin permainan ini lebih menarik.”

Tatapannya kembali ke arah rumah Dira.

“Biarkan mereka merasa aman dulu.”

Senyumnya berubah licik.

“Nanti… baru kita hancurkan semuanya. Sekarang jalan ” Perintahnya pada anak buahnya.

***

Keesokan harinya di sekolah.

Bel istirahat berbunyi keras. Seperti biasa, kantin sekolah langsung ramai oleh siswa.

Dira duduk santai di meja bersama Albian dan beberapa teman lainnya.

Tawa mereka terdengar cukup keras.

“Dira! Kamu kemarin kabur dari aku ya?” kata Albian sambil menyenggol bahunya.

Dira langsung memutar mata.

“Siapa juga yang kabur. Aku cuma pulang sendiri.”

Albian menyipitkan mata curiga.

“Jangan-jangan kamu masih trauma dikejar kemarin.”

Dira langsung memukul lengan Albian pelan.

“Heh! Jangan ingetin!”

Teman-teman mereka tertawa. Namun dari sisi lain kantin…

Ada sepasang mata yang menatap tajam.

Vina.

Gadis itu duduk bersama temannya. Wajahnya terlihat kesal melihat Dira tertawa begitu bebas.

Salah satu temannya mendekat.

“Vin… kamu masih kesal?”

Vina mendengus.

“Harusnya dia sudah kapok kemarin.” Ia menatap Dira dengan penuh iri.

“Tapi lihat sekarang. Dia malah makin bahagia.”

Tangannya mengepal di atas meja.

“Aku benci lihat wajahnya.”

Temannya tersenyum licik.

“Aku benci lihat wajahnya.”

Temannya tersenyum licik.

“Kalau begitu… kita buat masalah yang lebih besar.”

Vina menoleh. “Lebih besar?”

Gadis itu mengangguk.

“Kali ini bukan cuma menakut-nakuti.”

Vina menyeringai pelan. “Bagus.”

Tatapannya kembali ke arah Dira. “Kalau begitu… kita mulai permainan baru.”

Kemudian vina dan temannya melangkah meninggalkan kantin.

***

Sore hari.

Kenzo dan Dira baru saja sampai di rumah setelah pulang sekolah. Dira masih mengomel sepanjang jalan.

“Bang Kenzo nyetirnya pelan banget sih! Kayak siput ”

Kenzo tertawa kecil. “Kalau ngebut kamu malah teriak.”

“Itu beda!”

Saat mereka masuk ke rumah…

Dira langsung berhenti.

Di ruang tamu sudah ada seseorang yang duduk dengan tenang. Seorang pria tinggi dengan jas hitam rapi.

Elvan.

Dira membelalakkan mata.

“LAH?! Om ”

Elvan menoleh pelan ke arah mereka.Wajahnya tetap tenang seperti biasa.

“Halo, Dira.”

Dira langsung menatap Kenzo.

“bang … kenapa om el di sini?!”

Kenzo terlihat santai. “Abang yang panggil.”

Dira makin bingung.

“Kenapa?!”

Elvan berdiri dari sofa.Tatapannya serius.

“Aku ingin bicara sesuatu.”

Dira menyilangkan tangan.

“Kalau om cuma mau ceramah, aku lagi capek.”

Elvan menghela napas pelan.

“Ini penting.”

Kenzo lalu berkata dengan nada serius.

“Dira… dengar dulu.”

Suasana ruangan berubah sunyi. Dira mulai merasa tidak nyaman.

“Ada apa sih?”

Elvan menatapnya lurus.

“Mulai sekarang… kamu dalam bahaya.”

Dira mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Kenzo menatap Elvan, memberi isyarat agar ia yang menjelaskan.

Elvan lalu berkata pelan namun tegas.

“Ada orang yang mengincarmu.”

Jantung Dira tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Siapa?”

Elvan terdiam sebentar.

Lalu ia berkata, " Pamanku "

Dira semakin bingung.

“Lah Apa hubungannya sama aku?”

Elvan menatapnya dalam.

“Karena untuk melindungimu…”

Ia berhenti sejenak.

“...aku berencana menikahimu.”

Ruangan itu langsung sunyi total.

Dira membeku.

Beberapa detik kemudian—

“APA?!”

Ruang tamu rumah itu berubah ricuh. Dira berdiri dari sofa dengan wajah merah.

“APA MAKSUDNYA MENIKAH?!”

Kenzo langsung menutup telinganya sedikit.

“Dira… kecilin suara—”

“NGGAK MAU!”

Dira menunjuk Elvan dengan kesal.

“Om pikir aku ini siapa?! Main nikahin aja!”

Elvan berdiri tenang di depannya. Wajahnya tetap dingin seperti biasa.

“Aku tidak bercanda.”

“Ya jelas nggak lucu!”

Dira berjalan mondar-mandir seperti singa kecil yang marah.

“Kenapa aku harus nikah sama om ?!”

Kenzo menghela napas.

“Karena itu cara paling aman.” Dira menatap kakaknya tajam.

“Bang Kenzo juga setuju?!”

Kenzo mengangguk pelan.

Dira langsung memegang kepalanya.

“Gila… kalian berdua gila.”

Elvan menatapnya dengan serius. “Pamanku bukan orang biasa dir .”

Dira melipat tangan. “Aku juga bukan orang lemah om.”

Elvan sedikit mendekat.

“Kalau sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat Dira diam beberapa detik.

Namun sifat bar-barnya kembali muncul.

“Pokoknya aku tetap nggak mau!”

Ia langsung berjalan ke kamar sambil mengomel.

“Gila! Tiba-tiba disuruh nikah!”

Kenzo menggeleng sambil tertawa kecil.

“Elvan… selamat.”

Elvan mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Baru kali ini ada orang yang berani teriak ke kamu.” kenzo terus tertawa.

" Diam kamu " Bentak elvan " Pokoknya tugas kamu bujuk dira " tunjukkan pada kenzo

" Hei... gak bisa gitu dong " Mana bisa kenzo membujuk dira yang ada .Dira tambah marah sama dia.

" Aku gak mau tau " kesal elvan kemudian berbalik pergi meninggalkan kenzo yang masih kesal.

" Huh.... untung kamu bos , kalau bukan sudah aku tendang " omel kenzo

***

Elvan memutuskan kembali kekantornya

Malam itu di kantor Elvan.

Lampu ruangan masih menyala walau hampir semua karyawan sudah pulang.

Elvan berdiri di depan jendela kantornya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Ia membuka pesan itu.

Di dalamnya hanya ada satu foto.

Foto Dira yang sedang keluar dari sekolah siang tadi. Mata Elvan langsung berubah dingin.Pesan kedua muncul.

"Gadis kecilmu sangat cantik."

Elvan langsung tahu siapa pengirimnya.

Ia menekan nomor itu dan menelepon.

Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.

Suara berat terdengar dari seberang.

“Sudah lama tidak berbicara, Elvan.”

Elvan menggertakkan rahangnya.

“Paman Bara.”

Pria di seberang tertawa pelan.

“Aku hanya ingin menyapa.”

“Jangan sentuh Dira.”

Bara tertawa lebih keras.

“Ah… jadi benar dia penting untukmu.”

Elvan mengepalkan tangan.

“Ini urusan kita berdua.”

“Sayangnya tidak lagi.”

Suara Bara berubah dingin.

“Permainan baru saja dimulai." Telepon langsung terputus.

Elvan menatap layar ponselnya dengan tajam.

Bersambung........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!