Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pintu Masuk Irian Kisaran
Bab 25: Pintu Masuk Irian Kisaran
Langkah kaki Rafi terasa sedikit berat saat sol sepatunya menyentuh ubin granit yang mengkilap di area lobi Irian Kisaran. Ada sebuah sensor otomatis yang mendeteksi kehadiran mereka, memicu pintu kaca raksasa itu bergeser terbuka dengan suara desis halus. Dalam hitungan detik, hawa panas ekstrem dari jalanan Lintas Sumatera yang membakar kulit di Bab 20 lenyap, digantikan oleh hembusan udara dingin dari unit AC sentral yang bekerja maksimal.
Bagi Nisa, ini mungkin sekadar mall. Namun bagi Rafi, ini adalah medan perang yang sesungguhnya.
Secara mikroskopis, Rafi mengamati perubahan pada diri Nisa. Begitu udara dingin menerpa wajahnya, Nisa tampak memejamkan mata sejenak, menghirup aroma khas pusat perbelanjaan—campuran antara pengharum ruangan lemon, aroma roti yang baru dipanggang, dan sentuhan wangi parfum dari konter kosmetik di lantai dasar. Ketegangan di bahu Nisa yang terlihat sejak di Terminal Tanjungbalai (Bab 16) kini perlahan meluruh.
"Wah... dinginnya," bisik Nisa. Sebuah senyum tulus merekah di bibirnya, bukan lagi senyum sopan yang dipaksakan seperti saat obrolan canggung di bus tadi.
Rafi mengangguk, namun pikirannya tidak sedang menikmati kesejukan itu. Ia sedang melakukan pemindaian radar. Matanya bergerak cepat ke arah penanda lokasi: konter makanan cepat saji ada di sebelah mana, posisi bioskop 5D di lantai berapa, dan yang paling penting, di mana letak ATM terdekat—bukan untuk mengambil uang, karena saldonya sudah nol, melainkan sebagai titik orientasi jika ia butuh menghitung uang secara tersembunyi.
Ia meraba saku belakang celana jinsnya.
Dompetnya terasa menonjol. Berdasarkan audit mental yang ia lakukan sejak Bab 23, posisinya adalah sebagai berikut:
* Modal Awal: Rp315.000
* Pengeluaran Bus (Tanjungbalai - Kisaran): Rp20.000 (Rafi membayar untuk dirinya sendiri, Nisa membayar sendiri sesuai kesepakatan awal untuk transport, atau Rafi membayar keduanya jika ia ingin terlihat lebih mapan—tapi secara logis, Rafi harus menyimpan uang untuk makan).
* Sisa Saldo Operasional: Rp295.000.
Angka itu terlihat besar di atas kertas coret-coretan (Bab 5), namun di bawah lampu neon mall yang terang ini, angka itu terasa mengecil secara drastis.
"Rafi? Kita mau ke mana dulu?" tanya Nisa, membuyarkan kalkulasi matematikanya.
Rafi berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya. "Kita jalan-jalan sebentar ke atas ya? Biar keringatnya kering total dulu, baru kita cari makan."
Mereka melangkah menuju eskalator. Ini adalah momen krusial lainnya. Rafi membiarkan Nisa naik lebih dulu. Saat ia berdiri satu anak tangga di bawah Nisa, ia melihat bayangan mereka di dinding kaca samping eskalator. Kontras itu kembali terlihat: kemeja flanelnya yang agak pudar di bagian kerah (Bab 13) bersandingan dengan penampilan Nisa yang meski sederhana, tetap terlihat bersih dan berkelas.
Rafi menunduk, melihat ujung sepatunya. Lem Alteco di Bab 3 masih bekerja dengan sangat baik. Tidak ada sol yang menganga. Setidaknya, harga dirinya tidak akan runtuh karena masalah alas kaki di tengah lantai mall yang licin ini.
Saat eskalator membawa mereka ke lantai dua, aroma ayam goreng dari arah food court mulai menusuk hidung. Rafi menelan ludah. Ia lapar.
Terakhir kali ia makan layak adalah tadi malam, dan pagi ini ia hanya mengganjal perut dengan air putih demi menghemat uang saku. Namun, ia tidak boleh terlihat lapar. Di depan Nisa, ia harus terlihat seperti pria yang memiliki segalanya dalam kendali.
"Nis, kamu mau makan sekarang atau nanti?" tanya Rafi saat mereka melewati deretan gerai pakaian.
Nisa melirik ke arah jam tangannya. "Nanti aja deh, jam sebelas lewat dikit. Sekarang masih agak penuh kayaknya."
Rafi bernapas lega. Penundaan makan berarti ia punya waktu lebih banyak untuk memantau harga-harga di daftar menu tanpa terlihat mencolok. Secara skeptis, ia tahu bahwa harga di aplikasi seringkali berbeda dengan harga pajak di kasir. Ia harus menyiapkan mental untuk biaya tambahan 10%.
Mereka berjalan menyusuri koridor. Nisa sesekali berhenti di depan etalase toko sepatu atau baju, hanya untuk melihat-lihat. Rafi mengikuti di sampingnya, menjaga jarak yang pas agar tidak terlihat seperti pengawal, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa mereka datang bersama.
Di titik ini, perjalanan panjang dari Tanjungbalai terasa seperti mimpi buruk yang sudah lewat. Bau apek bus, debu terminal, dan sentuhan tak sengaja yang menggetarkan di Bab 22 kini terkunci dalam memori perjalanan. Realitas baru mereka adalah lantai yang bersih, musik latar yang lembut, dan status sosial yang terasa meningkat hanya karena mereka berada di dalam gedung ini.
Namun, bagi Rafi, ini adalah awal dari ketegangan yang lebih besar. Setiap langkah yang mereka ambil di atas lantai Irian Kisaran ini adalah langkah yang berbayar. Tidak ada yang gratis di sini. Bahkan untuk duduk di kursi pijat otomatis pun butuh koin.
Rafi kembali meraba dompetnya. Ia memastikan posisinya tidak berubah. Ketakutan terbesarnya—uangnya jatuh atau dicopet di keramaian—kembali muncul secara irasional. Ia secara periodik menyentuh saku belakangnya setiap dua menit sekali.
"Rafi, kamu kok kayak cemas gitu?" Nisa memperhatikan tingkahnya.
Rafi tersenyum kaku, mencoba tertawa. "Enggak kok. Cuma... lagi mikir aja, habis ini kelihatannya asyik kalau kita coba nonton yang 5D itu. Katanya seru, kursinya bisa goyang-goyang."
"Boleh juga," sahut Nisa riang.
Binar di mata Nisa adalah segalanya bagi Rafi.
Semua penderitaan nasi garam di Bab 2 terasa terbayar lunas saat ini. Namun, ia tahu ia harus tetap disiplin. Satu kesalahan dalam memesan menu tambahan, atau satu permintaan tak terduga untuk membeli camilan, bisa membuat simulasi biayanya hancur berantakan.
Mereka berhenti tepat di depan pintu masuk area utama pusat perbelanjaan. Di depan mereka, keramaian orang-orang Kisaran dan sekitarnya hilir mudik membawa kantong belanjaan. Rafi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin mall untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar masuk ke inti permainan.
Ia menatap Nisa yang sedang merapikan tasnya, siap untuk menjelajah. Rafi menyadari bahwa
Bagian 1: Persiapan & Pengorbanan telah berakhir di sini, di ambang pintu masuk ini. Semua yang ia lakukan sejak menghitung uang receh di celengan ayam (Bab 1) telah membawanya tepat ke titik ini.
Ia tidak boleh gagal. Ia tidak boleh terlihat miskin.
Ia tidak boleh membiarkan Nisa tahu betapa kerasnya perjuangan di balik selembar uang seratus ribuan di dompetnya.
"Ayo, Nis," ajak Rafi dengan suara yang lebih mantap.
Nisa melangkah masuk, dan Rafi menyusul di sampingnya. Pintu otomatis di belakang mereka menutup dengan suara desis yang pelan, mengunci dunia luar yang panas dan berdebu.
Rafi berbisik dalam hati, sebuah janji pada dirinya sendiri:
Permainan dimulai sekarang, dan aku tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun.