Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Serangan Eclipse
Matahari baru saja terbit ketika kota mulai bergetar lagi.
Di seluruh pusat kota, sirene meraung lebih keras dari sebelumnya. Gedung-gedung yang tersisa bergetar karena ledakan jarak jauh. Dari kejauhan, titik-titik cahaya merah muncul satu per satu—sel-sel Eclipse yang disebarkan Adrian mulai menyerang.
Raka berdiri di atap markas Helios Guard, cahaya Alpha-nya berdenyut kuat. Kayla dan Damar berada di sampingnya, siap menghadapi serangan skala besar ini.
“Raka, jumlah musuh lebih banyak dari perkiraan!” Kayla berseru sambil menunjuk ke radar.
“Setidaknya dua kali lipat!”
Damar mengangguk. “Dan makhluk-makhluk buatan mereka terlihat jauh lebih kuat daripada yang kita hadapi sebelumnya.”
Raka menatap ke arah pusat kota, di mana asap hitam masih membubung dari reruntuhan ledakan sebelumnya. Matanya bersinar biru terang, aura Alpha menyelimuti tubuhnya sepenuhnya.
“Kita tidak punya waktu untuk menunggu. Aku akan turun duluan,” kata Raka, mencondongkan tubuhnya ke depan.
Kayla segera menahan tangannya. “Raka! Tunggu—jangan langsung masuk ke zona panas sendirian!”
Raka tersenyum tipis. “Ini bukan pertarungan sendirian, Kayla. Aku hanya pemimpin di medan ini, kalian berdua akan mengatur koordinasi.”
Damar mengangguk. “Baik, Rak. Kita lakukan ini bersama.”
---
Bentrokan Pertama
Raka melesat ke pusat kota. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya biru yang menandai hadirnya kekuatan Alpha. Di jalanan, makhluk-makhluk buatan Eclipse mulai muncul dari reruntuhan. Mereka berukuran besar, tubuhnya tersusun dari energi gelap dan logam hitam bercahaya merah.
Salah satu makhluk itu melesat ke arah warga yang berlarian. Raka menatapnya, lalu membentuk tombak energi biru di tangannya dan menembakkannya dengan presisi sempurna. Makhluk itu hancur menjadi serpihan cahaya, meninggalkan gelombang energi yang membuat kaca-kaca gedung bergetar.
Kayla segera mengatur gravitasi di sekeliling kelompok warga, menahan reruntuhan yang jatuh. “Raka, cepat! Ada lima makhluk lain mendekat dari arah timur!”
Raka melompat, menciptakan pusaran energi biru di sekeliling tubuhnya. Setiap pukulan menghancurkan makhluk-makhluk itu satu per satu.
Damar menembakkan gelombang pelindung untuk menahan ledakan yang liar.
Cahaya biru Raka kini memenuhi sebagian besar jalan. Warga yang melihat dari jauh mulai berteriak kagum, meski sebagian lainnya ketakutan.
“Dia… dia sama seperti yang kemarin!” seorang warga berbisik.
Raka memusatkan energi di dada, membentuk perisai besar. Ia menahan serangan beberapa makhluk sekaligus, melompat ke udara untuk menangkis ledakan energi yang menghantam gedung.
“Raka… jangan terlalu banyak menahan sendiri!” Kayla berteriak.
Raka menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku tidak sendiri. Kalian ada di belakangku, bukan?”
Kayla dan Damar saling bertukar pandang, lalu bersama-sama mereka memperkuat medan gravitasi dan energi pelindung, memandu pergerakan musuh agar Raka bisa menyingkirkan ancaman paling kritis terlebih dahulu.
---
Strategi Alpha
Raka menatap peta kota dalam pikirannya. Titik-titik merah menyebar luas, Eclipse tidak menyerang secara acak—mereka menyerang pusat komunikasi, pembangkit listrik, dan markas Helios cadangan.
“Ini pola,” gumam Raka. “Mereka ingin melemahkan kota dari dalam, bukan langsung menghancurkannya.”
Damar menatapnya. “Benar. Kalau mereka bisa menonaktifkan fasilitas ini, koordinasi Helios akan kacau.”
Raka menutup mata sebentar. Energi biru di tubuhnya berdenyut lebih cepat, menandakan sinkronisasi Alpha bekerja optimal.
“Kayla, dorong gravitasi ke seluruh area pusat komunikasi!” Raka memberi perintah.
Kayla membentuk medan gravitasi luas, menahan gelombang energi makhluk-makhluk Eclipse agar tidak merusak pusat komunikasi sepenuhnya.
Raka melesat, menembakkan serangkaian tombak energi biru dengan kecepatan tinggi. Setiap hantaman menghancurkan makhluk yang mencoba menyerang gedung penting.
Damar menjaga area di sekitar pembangkit listrik, memblokir gelombang energi dari makhluk besar.
---
Tekanan Terhadap Raka
Namun serangan terus meningkat. Makhluk-makhluk baru muncul, lebih cepat dan lebih kuat. Beberapa mulai menyerang warga secara langsung.
Raka mulai merasakan tekanan. Napasnya berat, energi biru berdenyut lebih cepat, tubuhnya berkeringat. Ia menyadari Alpha bukan sekadar kekuatan—tapi tanggung jawab yang menuntut fokus dan kontrol sempurna.
Salah satu makhluk berhasil mendekat dan menabrak bangunan, menimbulkan ledakan energi. Debu dan reruntuhan beterbangan, sebagian menimpa Raka.
Ia menahan diri, mengumpulkan seluruh energi Astra, lalu menembakkan ledakan terarah yang menghancurkan makhluk itu.
Kayla memegangi lengan Raka. “Rak… kamu harus berhati-hati!”
Raka menatapnya, wajahnya serius. “Aku tidak akan membiarkan Eclipse menang. Tidak setelah semua yang terjadi.”
Damar memutar energinya, menciptakan pelindung tambahan. “Kita tidak akan kalah. Fokus, koordinasi, dan Alpha-mu—itu cukup.”
---
Akhir Bab – Kota Masih Berjuang
Beberapa jam berlalu. Raka, Kayla, dan Damar berhasil menyingkirkan sebagian besar makhluk, tapi kota masih hancur parah.
Langit siang yang sebelumnya abu-abu kini tertutup awan gelap. Titik cahaya merah masih bertebaran di beberapa lokasi.
Raka menatap langit dan menelan napas panjang.
“Ini baru serangan awal…” gumamnya. “Eclipse tidak akan berhenti sampai kota ini hancur sepenuhnya.”
Kayla menggenggam tangannya pelan. “Dan kita akan menghadapi mereka. Bersama.”
Damar mengangguk. “Raka, Alpha-mu… itu adalah simbol harapan. Jangan lupakan itu.”
Raka menatap kota yang terluka, cahaya biru Alpha-nya berdenyut stabil.
“Harapan… dan perlawanan. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan ini.”
Di jauh, menara Eclipse berdiri megah, dan di dalamnya Adrian tersenyum.
“Bagus… mereka sudah merasakan kekuatannya. Saatnya meningkatkan permainan.”