Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Terjangan Cahaya di Tengah Pemukiman
Jalanan pemukiman yang biasanya tenang kini bergejolak hebat. 12 kuda laut berwarna abu-abu gelap dengan duri tajam di punggungnya melesat di atas tanah basah dan genangan air, seolah-olah mereka masih berenang di lautan. Tubuh mereka yang panjang dan licin berputar-putar, merusak pagar rumah dan menumbangkan pohon-pohon kecil, menciptakan kekacauan di mana-mana. Namun, Heras tidak mundur. Matanya tajam mengamati pergerakan mereka, dan di antara gerombolan itu, ia melihat sosok yang jauh lebih besar—induk kuda laut dengan kulit yang tampak keras seperti batu dan moncong yang lebar, menjadi pusat dari semua kehancuran.
"Ini akan berakhir sekarang!" teriak Heras. Dengan satu lompatan kuat, ia melesat melewati serangan dua kuda laut yang mencoba mengapitnya di antara dua rumah. Tubuhnya berputar di udara, lalu mendarat dengan keras di punggung salah satu kuda laut, membuat makhluk itu meringis dan menabrak dinding bata di sampingnya, melemahkan cengkeramannya.
Heras bergerak secepat kilat. Ia menghindari tusukan duri dari kuda laut lain dengan menundukkan kepala di atas atap sebuah rumah kecil, lalu memukul keras sisi tubuh makhluk itu dengan telapak tangannya yang dipenuhi energi. Satu per satu kuda laut mulai terlempar ke samping, menabrak tumpukan kayu atau sumur warga, namun induknya tidak tinggal diam. Makhluk raksasa itu mengaum, suaranya bergema memecah ketenangan pemukiman, dan meluncur ke arah Heras dengan moncongnya yang tajam, siap menghancurkan apa pun yang ada di jalannya.
Heras siap menyambut. Saat induk kuda laut hampir menabraknya di tengah jalan utama, ia dengan cepat bergerak ke samping, menyentuh dinding rumah untuk memantul, lalu melompat ke atas kepala makhluk itu. Dengan kedua kakinya, ia menekan keras punggung induk kuda laut, memaksanya menunduk dan akhirnya berbaring di tanah yang berdebu dan berlumpur. Makhluk itu tampak lemah, napasnya terengah-engah, namun masih mencoba menggeliat untuk bangkit.
"Kau adalah sumber semua ini," bisik Heras. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, dan cahaya mentah yang menyilaukan mulai berkumpul di telapak tangannya. Cahaya itu semakin terang, semakin besar, hingga seluruh pemukiman di sekitarnya diterangi oleh kilau emas dan putih, membuat warga yang bersembunyi di dalam rumah pun memicingkan mata. Dengan satu teriakan penuh semangat, Heras melepaskan ledakan cahaya itu langsung ke moncong induk kuda laut.
BOOM!
Ledakan itu mengguncang seluruh pemukiman. Debu dan tanah berhamburan ke segala arah, dan cahaya itu menyelimuti tubuh induk kuda laut sepenuhnya. Makhluk raksasa itu mengeluarkan suara erangan terakhir sebelum tubuhnya mulai memudar dan akhirnya lenyap, menjadi partikel-partikel cahaya yang menghilang ke udara.
Namun, 11 kuda laut lainnya tidak menyerah. Melihat induknya musnah, mereka menjadi lebih ganas. Dengan serentak, mereka meluncur ke arah Heras, moncong-moncong mereka siap menyeruduk, membuat genangan air di jalanan memercik ke mana-mana.
Heras tersenyum tipis. Ia tidak takut. Saat kuda-kuda laut itu hampir sampai, ia melompat tinggi ke udara—begitu tinggi hingga ia hampir menyentuh atap rumah tertinggi di pemukiman. Di udara, ia memutar tubuhnya, mengumpulkan energi di seluruh tubuhnya. Cahaya mentah yang tadi ia gunakan kini menyelimuti seluruh tubuhnya, membuatnya tampak seperti bintang yang jatuh dari langit.
"Darah dan Cahaya!" teriaknya.
Heras meluncur turun seperti panah yang dilepaskan dari busur. Ia menabrak satu per satu kuda laut yang mencoba menghalanginya. Setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan makhluk itu, ledakan cahaya kecil terjadi, membuat kuda laut itu terlempar jauh dan hancur menjadi partikel cahaya. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata biasa, berputar di atas atap rumah, menendang dari sudut gang, memukul saat melayang, dan menebas dengan energi yang ada di tangannya.
Satu kuda laut mencoba menyerang dari belakang, menyelinap di antara dua rumah, namun Heras dengan cepat berbalik, menangkis serangannya dengan lengan kirinya sambil bersandar pada dinding, lalu dengan tangan kanannya, ia menembakkan sinar cahaya yang menembus tubuh makhluk itu hingga menabrak tumpukan batu di belakangnya. Yang lain mencoba mengelilinginya di alun-alun kecil pemukiman, namun Heras melompat lagi, kali ini melompat dari punggung satu kuda laut ke kuda laut lainnya, seperti bermain papan loncat di atas tanah, dan setiap kali ia mendarat, kuda laut itu akan hancur.
Dalam hitungan detik, 11 kuda laut itu semuanya telah dikalahkan. Tidak ada satu pun yang tersisa. Pemukiman yang tadinya bergejolak dan penuh kekacauan kini mulai tenang kembali, dan cahaya yang menyelimuti tubuh Heras perlahan memudar. Ia mendarat dengan lembut di tanah yang berlumpur, napasnya sedikit terengah-engah namun matanya bersinar penuh kemenangan.
Heras menatap ke sekelilingnya, memastikan tidak ada lagi ancaman yang tersisa dan warga bisa keluar dengan aman. "Sudah selesai," gumamnya, lalu ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya, siap menghadapi apa pun yang ada di depannya selanjutnya.