Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Pagi di rumah itu berjalan lebih tenang dari biasanya.
Setelah mengatakan itu, Nick sudah lebih dulu bangun dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi tanpa banyak bicara, meninggalkan Tessa yang masih duduk di tepi ranjang sambil mencoba sepenuhnya sadar dari kantuknya.
Beberapa menit kemudian suara air kembali terdengar dari balik pintu kamar mandi.
Tessa memandang pintu itu sebentar.
Ia masih memikirkan kejadian malam tadi.
Cara Nick berbicara.
Cara pria itu menahannya dalam pelukan.
Dan cara ia bersikap pagi ini.
Ia menghela napas pelan lalu akhirnya bangkit dari ranjang.
Ketika Nick keluar beberapa menit kemudian dengan kemeja putih yang sudah rapi dikenakan,
“Pergi mandi,” kata Nick singkat sambil merapikan mansetnya.
Bukan saran.
Perintah.
Tessa mengangguk kecil.
“Baik.”
Ia masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara.
Saat ia keluar beberapa waktu kemudian, Nick sudah
berdiri di dekat jendela kamar, memeriksa sesuatu di ponselnya. Cahaya pagi jatuh di bahunya, membuat siluet tubuhnya terlihat semakin tegap.
Nick menoleh sebentar ketika mendengar pintu terbuka.
Matanya menyapu penampilan Tessa sejenak.
Gaun rumah yang sederhana.
Rambut yang masih sedikit lembap.
Tatapan itu hanya beberapa detik.
Lalu ia kembali pada ponselnya.
“Ayo turun.”
Tessa mengerutkan alis sedikit.
“Sekarang?”
Nick mengangkat pandangannya.
“Kau akan sarapan di atas ranjang?”
Nada datarnya membuat Tessa langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kalau begitu ikut aku.”
Nick sudah berjalan keluar kamar lebih dulu.
Tessa mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Ruang makan sudah siap ketika mereka sampai.
Meja panjang itu sudah ditata rapi. Piring, roti panggang, telur, dan kopi hangat sudah disiapkan oleh pelayan rumah.
Tessa duduk di kursinya dengan gerakan pelan.
Nick duduk di seberangnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Hanya bunyi kecil sendok yang menyentuh piring.
Tessa mencoba makan roti panggangnya, tapi pikirannya masih terasa penuh, ia merasa tidak berselera makan,
Nick memperhatikannya sekilas.
“Kau makan seperti burung.”
Tessa berhenti.
“Aku belum berselera makan,” jawab tessa jujur,
Nick mengambil pisau kecil, memotong telur di piringnya, lalu mendorong piring itu sedikit ke arah Tessa.
“Makan ini.”
Tessa menatapnya.
“Ini milikmu.”
“Sekarang itu milikmu,” jawab Nick tetap datar.
Tapi jelas tidak memberi ruang untuk menolak.
Tessa ragu sejenak, lalu akhirnya mengambilnya.
“Terima kasih.”
Nick tidak menjawab.
Ia hanya meneguk kopinya dengan tenang.
Beberapa detik kemudian ia berkata lagi,
“Hari ini kau ikut denganku.”
Tessa mengangkat wajah.
“Kemana?” tanya tessa penasaran,
“Ke kantor.”
Tessa terlihat sedikit terkejut.
“Aku?”
Nick mengangguk sekali.
“Ya. Kau.”
“Tapi aku tidak...”
“Belajar.” jawaban nick terdengar seperti perintah,
Nick menatapnya langsung sekarang.
“Kau bagian dari hidupku.”
Tatapannya tajam namun stabil.
“Dan dunia yang kau masuki bukan dunia yang lembut.”
Tessa terdiam lagi merasakan detak jantungnya yang lebih kencang,
Nick melanjutkan dengan nada tenang yang khas.
“Mulai hari ini, kau akan melihatnya.”
Hening kembali menghampiri mereka.
Namun kali ini berbeda dari sebelumnya.
Bukan lagi keheningan karena pertengkaran.
Lebih seperti awal dari sesuatu yang baru.
Nick mengangkat cangkir kopinya lagi.
“Dan Tessa.”
Tessa menatapnya.
“Makan lebih banyak.” nada suaranya masih dingin.
Masih dominan.
Tapi kali ini ada sesuatu yang lain di baliknya.
Perhatian.
Yang tidak pernah diucapkan langsung.
Nick sudah berdiri lebih dulu ketika sarapan selesai.
Ia mengenakan jas gelap yang rapi, kemeja putihnya bersih tanpa satu pun lipatan.
“Tiga puluh menit,” katanya sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Tessa yang masih memegang cangkir teh sedikit terkejut.
“Tiga puluh menit untuk apa?”
“Bersiap.” nick menatapnya singkat.
“Aku tidak suka keterlambatan,” jawaban nick tidak keras, tapi cukup jelas membuat Tessa langsung berdiri.
“Baik.”
Ia kembali ke kamar dengan langkah cepat.
Begitu pintu kamar tertutup, Tessa berhenti di depan lemari besar yang sebelumnya hampir tidak pernah ia buka dengan benar.
Ketika pintunya dibuka, deretan pakaian langsung terlihat rapi di dalamnya.
Gaun-gaun elegan.
Setelan formal.
Sepatu yang tertata seperti di etalase butik.
Tessa menatap semuanya beberapa detik.
Ini lebih terlihat seperti butik pribadi daripada lemari pakaian Gumannya pelan.
Ia menghela napas kecil.
“Aku harus pakai yang mana…”
Tangannya sempat menyentuh beberapa gaun mahal yang tergantung rapi, tapi ia segera menarik tangannya kembali.
Terlalu formal.
Terlalu mencolok.
Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang mencoba terlalu keras.
Setelah beberapa menit memilih, akhirnya matanya berhenti pada satu setelan sederhana.
Blazer berwarna hitam dengan potongan yang rapi, dipadukan dengan celana yang tidak terlalu formal.
Cukup profesional.
Tapi tetap nyaman.
Tessa mengambilnya dari gantungan.
Beberapa menit kemudian ia sudah berganti dan berdiri di depan cermin.
Rambutnya ia ikat rapi ke belakang, sederhana namun bersih.
Ia memoles sedikit makeup tipis di wajahnya, sekadar memberi warna pada pipinya dan sedikit lip balm di bibirnya.
Tidak berlebihan.
Hanya cukup untuk terlihat segar.
Tessa menatap pantulannya beberapa detik.
Masih terasa aneh.
Tapi setidaknya sekarang ia terlihat siap.
Ketika ia turun ke lantai bawah, mobil sudah menunggu di depan rumah.
Nick berdiri di samping pintu mobil, berbicara singkat dengan sopir.
Begitu melihat Tessa, percakapannya berhenti.
Matanya menyapu penampilan Tessa sekali.
Blazer sederhana.
Rambut yang diikat rapi.
Makeup tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Ia mengangguk kecil.
“Masuk.” perintah nick singkat.
Namun entah kenapa, Tessa merasa seolah itu adalah bentuk persetujuan dari Nick.
Ia masuk ke dalam mobil.
Perjalanan menuju kantor pun dimulai.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna