NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - RAKA

Lily tiba di PT Cakrawala Mandiri jam sepuluh kurang tujuh.

Gedungnya ada di kawasan ruko yang lebih baru dari yang biasa dia lewati. Lantai tiga dari bangunan empat lantai, dengan lift yang berbunyi pelan dan lorong yang berbau cat yang belum lama kering. Bukan kantor mewah, tapi ada ketertiban di sana yang terasa fungsional dan tidak dibuat-buat.

Resepsionis muda yang menerimanya langsung mempersilakan duduk di ruang tunggu kecil... tiga kursi, meja rendah dengan majalah yang sudah lecek di atasnya, dan jendela yang menghadap ke jalan di bawah.

Lily duduk dengan tas di pangkuannya dan mengamati.

Dua orang lain di ruang tunggu itu. Laki-laki usia dua puluhan dengan kemeja yang terlalu formal untuk posisi administrasi, dan perempuan yang sedang mengganti-ganti posisi duduknya dengan cara orang yang gugup. Lily tidak berkenalan dengan keduanya.

Jam sepuluh tepat, pintu ruang dalam terbuka.

"Lily Rosamaria?"

Yang mewawancarainya bukan perempuan HR seperti yang Lily antisipasi.

Laki-laki, usia awal tiga puluhan. Tingginya sedang, rambutnya tidak disisir dengan upaya berlebihan, kemejanya rapi tapi tidak terlihat seperti baru disetrika. Ada tatanan di tampilannya yang terasa lebih ke teratur daripada formal.

Dia memperkenalkan diri sambil membuka pintu lebih lebar: "Raka Satria. Kepala divisi administrasi. Masuk."

Ruangannya kecil tapi tidak berantakan, yang membuat Lily langsung memperhatikan karena ruangan orang yang benar-benar sibuk biasanya tidak serapi ini. Berarti orangnya teratur, atau baru beres-beres sebelum wawancara. Keduanya memberitahu sesuatu.

Mereka duduk berhadapan. Raka membuka folder tipis, CV Lily yang dua halaman yang dia susun dari ponsel akhir pekan lalu.

"Riwayat pendidikan SMA," katanya. Bukan dengan nada menghakimi, hanya membaca. "Pengalaman kerja... manajemen rumah tangga, administrasi dokumen, logistik kebutuhan rumah." Dia menutup folder dan menatap Lily langsung. "Kamu tulis ini sendiri?"

"Iya."

"Kebanyakan yang datang ke sini nulis 'penjualan' atau 'pelayanan pelanggan' untuk pengalaman pertama. Kamu nulis manajemen rumah tangga."

"Karena itu yang aku kerjakan."

Raka mengangguk pelan, bukan anggukan yang menilai, lebih ke yang mencatat. "Berapa lama?"

"Tujuh tahun."

"Di satu tempat?"

"Iya."

"Kenapa mau pindah?"

Lily sudah memikirkan jawaban ini sejak Jumat. "Karena aku perlu pengalaman di lingkungan yang berbeda. Dan karena bekerja di tempat yang sama terlalu lama tanpa perkembangan bukan hal yang baik untuk jangka panjang."

Raka menatapnya tiga detik. "Itu jawaban yang sudah dipikir sebelumnya."

"Iya," kata Lily langsung. "Semua jawaban wawancara yang bagus sudah dipikir sebelumnya."

Sesuatu di ekspresi Raka bergerak, sangat tipis di sudut mulutnya, jenis yang bukan senyum tapi dekat ke sana.

"Bagus," katanya. "Tes tulisnya dulu."

Tes administrasinya tidak susah, Lily selesai dalam dua puluh lima menit dari waktu yang disediakan empat puluh menit. Pengarsipan dokumen, penjadwalan, pengelolaan data sederhana di spreadsheet, dan satu soal situasional tentang menangani permintaan yang bertentangan dari dua atasan berbeda pada waktu yang bersamaan.

Di soal terakhir, Lily menulis jawaban yang lebih panjang dari yang diminta. Bukan karena tidak tahu batasnya, tapi karena jawabannya tidak bisa dipotong tanpa kehilangan bagian yang penting.

Raka membacanya di depannya waktu Lily menyerahkan lembar jawaban.

Dia membaca soal terakhir dua kali.

"Kamu pernah menghadapi situasi ini?" tanyanya.

"Sering."

"Bagaimana kamu menyelesaikannya di kehidupan nyata?"

"Dengan mencari tahu mana yang konsekuensinya lebih bisa diperbaiki kalau ditunda, lalu mendahulukan yang tidak bisa. Dan segera memberitahu kedua pihak secara langsung supaya tidak ada yang merasa diabaikan tanpa alasan."

Raka meletakkan lembaran itu di meja.

"Kamu tidak nulis itu di jawaban kamu."

"Karena yang kamu tanya di soal itu adalah prosedurnya, bukan pendekatannya. Aku jawab prosedur. Kamu tanya pendekatan, aku jawab pendekatan."

Tiga detik.

"Kamu bisa mulai kapan?"

Lily keluar dari gedung itu jam sebelas lebih tiga puluh dengan status magang yang resmi mulai Rabu lusa. Tiga hari dalam seminggu untuk bulan pertama, dengan kemungkinan ditambah kalau performanya memuaskan.

Di trotoar di depan gedung, dia berdiri sebentar dan membiarkan udara luar masuk ke kepalanya.

Rabu lusa.

Empat hari dari sekarang, Lily Rosamaria akan menjadi dua orang sekaligus. Pembantu di rumah keluarga yang sedang berusaha mencuri haknya, dan staf magang administrasi di perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan semua orang yang sudah mencoba mengontrol hidupnya.

Dua kehidupan yang harus berjalan sejajar tanpa satu pun bocor ke yang lain.

Lily sudah melakukan hal yang lebih susah dari itu selama empat minggu terakhir.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Hendra. [Ada perkembangan soal kasus lama. Pak Syarif butuh kamu jam dua siang. Bisa?]

[Bisa,] balas Lily. [Dua jam lagi.]

Dia berjalan ke halte angkutan terdekat, naik, dan duduk di dekat jendela.

Di luar, kota bergerak seperti biasanya. Orang-orang yang tidak tahu satu sama lain melewati satu sama lain di trotoar yang sama, masing-masing membawa urusannya sendiri yang tidak kelihatan dari luar.

Lily menatap keluar jendela dan berpikir tentang Raka.

Laki-laki itu tidak banyak bicara tapi setiap pertanyaannya terasa disengaja. Tidak ada yang basa-basi, tidak ada yang mengisi waktu. Cara dia membaca jawaban Lily di soal terakhir, cara dia menutup folder dan menatap langsung sebelum mengajukan pertanyaan. Ada di sana cara seseorang yang terbiasa memperhatikan hal-hal yang tidak ditampilkan secara langsung.

Itu bisa jadi berguna. Atau bisa jadi menyulitkan.

Terlalu dini untuk tahu.

Pertemuan dengan Pak Syarif siang itu berlangsung di kantor pengacara itu sendiri, pertama kalinya Lily ke sana dengan jadwal yang bukan mendadak.

Pak Syarif membuka map kulitnya dan meletakkan satu lembar di depan Lily.

"Dokter yang pernah menangani ibumu, beliau bersedia bersaksi secara resmi di Pengadilan. Sudah ditandatangani pernyataan kesediaannya tadi pagi."

Lily menatap dokumen itu.

"Apa yang mengubah pikirannya?"

"Beliau bilang sudah terlalu lama. Dan beliau bilang..." Pak Syarif mengambil kacamatanya dan sedikit mengernyit, "...bahwa beliau bermimpi tentang ibumu minggu lalu. Saya tidak akan mengomentari soal itu, tapi hasilnya adalah dokumen ini."

Lily tidak mengomentari juga.

"Ada lagi," kata Pak Syarif. Dia mengeluarkan satu lembar lagi. "Mantan karyawan Reinaldo yang kamu temukan lewat Hendra, dia bersedia memberikan keterangan tertulis soal apa yang dia ketahui tentang Sinta Wardhani dan peran Sinta dalam operasi perusahaan."

"Waktunya?"

"Minggu ini. Kamis."

Lily mengangguk. "Ada yang perlu kamu tahu soal Sinta." Dia menceritakan pertemuan pagi itu. Tempat, isi, dan syarat yang Sinta ajukan.

Pak Syarif mendengarkan tanpa memotong.

Waktu Lily selesai, pengacara tua itu duduk diam selama beberapa detik dengan cara orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

"Dokumen yang dia punya, kalau isinya seperti yang dia gambarkan itu bisa jadi yang paling kuat dari semua yang sudah kita kumpulkan," katanya akhirnya. "Masalahnya adalah kredibilitasnya sebagai saksi akan diserang habis-habisan karena posisinya yang dulu."

"Makanya dia minta jaminan nama bersih."

"Dan itu bukan sesuatu yang bisa saya janjikan karena itu bukan di tangan kita." Pak Syarif melepas kacamatanya. "Tapi ada mekanisme hukum. Kerjasama dengan penyidik, kesaksian yang dilindungi yang bisa memberikan sesuatu yang mendekati apa yang dia minta. Saya perlu bicara dengan beliau langsung."

"Tiga hari," kata Lily. "Aku kasih jawaban ke dia dalam tiga hari."

Pak Syarif mengangguk. Menutup map-nya.

"Lily." Suaranya berubah sedikit lebih pelan, lebih bukan pengacara dan lebih manusia. "Kamu baik-baik aja?"

Lily menatapnya.

Pertanyaan sederhana. Tapi ada bobot di dalamnya yang mengatakan bahwa Pak Syarif sudah cukup lama bekerja dengan manusia yang menanggung beban besar untuk tahu bahwa pertanyaan itu perlu ditanyakan.

"Aku sedang belajar perbedaan antara sabar dan mengalah," kata Lily.

Pak Syarif menatapnya sebentar. Lalu ada di wajahnya sesuatu yang terasa seperti pengakuan yang tidak perlu diverbalkan.

"Ibumu bilang hal yang mirip dengan itu," katanya pelan. "Pertama kali dia datang ke kantor saya."

Lily berdiri dari kursinya.

"Kamis," katanya. "Aku akan ada di sini."

Dia keluar dari kantor itu dengan langkah yang stabil. Keluar ke jalan yang ramai, ke angkutan yang akan membawanya pulang, ke rumah yang masih ada pengawas di ujung jalannya, ke dapur yang masih perlu dia masuki dan pekerjaan yang masih perlu dia selesaikan sebelum makan malam.

Tapi di dalam tas jinjingnya ada surat penerimaan magang yang ditandatangani Raka Satria.

Dan di kepalanya ada peta yang mulai kelihatan bentuk besarnya. Tidak lengkap, tidak sempurna, tapi cukup untuk melangkah ke titik berikutnya tanpa tersandung.

Cukup.

Untuk sekarang, cukup.

Bersambung ke Bab 35...

1
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
WeGe
ya ampun kapan selsainya😭
Lily 💪💪💪
WeGe
😐sudah kuduga.
sunaryati jarum
Semakin cerdik Lyli .Emak yang sudah lansia mengikuti perjalanan Lyli ala detektif
Erchapram: Buat hiburan dikala menunggu buka puasa Mak... Terima kasih sudah mampir baca.
total 1 replies
WeGe
tanah warisan yang ruwet prosesnya.
WeGe: betul kak, katanya semua bukti bisa diputarbalikkan. membaca Lily ini rasanya seperti nyata. 😐
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!