melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benih cinta dan bayangan tekanan
Hari-hari berikutnya, dunia Wulan terasa lebih berwarna. Setiap pagi ia bangun dengan semangat berbeda, seperti menunggu sesuatu yang istimewa. Ponselnya tak pernah jauh dari genggaman, menunggu pesan dari Agung yang selalu sederhana tapi hangat: “Semoga harimu menyenangkan, Wulan.”
Melda mengamati setiap perubahan kakaknya dengan hati campur aduk. Ia senang melihat Wulan tersenyum lebih sering, tapi ada rasa khawatir yang menggelayuti dadanya.
“Wulan, hati-hati ya,” ucapnya suatu sore ketika mereka duduk di teras rumah. “Dia orang baik… tapi dunia kalian beda banget.”
Wulan tersenyum tipis, menepuk tangan adiknya. “Mel, aku tahu. Tapi aku percaya sama dia. Aku merasa… nyaman.”
Melda menelan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia tahu, kenyamanan itu adalah awal dari rasa bahagia, tapi juga bisa menjadi awal luka.
Hari itu, Agung menjemput Wulan di depan kantor. Mobil hitam mewahnya terparkir di jalan sempit, memaksa beberapa pengendara sepeda motor menepi. Wulan tersenyum gugup saat menaiki mobil.
“Maaf kalau agak ribet,” kata Agung, memandangnya dengan lembut. “Aku ingin kita santai malam ini.”
Wulan mengangguk. Ia tahu dunia Agung tak selalu mudah ditembus. Meski begitu, setiap detik bersamanya terasa hangat dan aman.
Malam itu mereka pergi ke sebuah restoran kecil tapi elegan. Lampu temaram, musik jazz yang lembut, dan aroma makanan menggoda. Wulan merasa seperti memasuki dunia yang berbeda, mewah tapi hangat, dan Agung ada di sana membuatnya merasa di rumah.
Percakapan mereka ringan di awal: tentang pekerjaan, buku favorit, dan cerita masa kecil. Namun lama-kelamaan, pembicaraan mulai menyentuh hal-hal pribadi.
“Wulan, aku ingin kamu tahu… aku bukan orang biasa di keluargaku,” kata Agung, menatap matanya serius. “Segala keputusan hidupku selalu diawasi. Aku ingin… bebas, tapi kadang sulit.”
Wulan mendengar dengan saksama. Ia menyadari, cinta Agung padanya bukan sekadar perhatian manis. Ada beban di balik senyum hangat itu.
“Aku nggak peduli latar belakangmu, Agung,” jawabnya lembut. “Yang penting kita jujur sama diri sendiri, kan?”
Agung tersenyum, tapi ada garis ketegangan di wajahnya. Mereka berdua diam beberapa saat, menikmati keheningan yang nyaman namun penuh makna.
Keesokan harinya, Melda menyadari sesuatu. Tetangga di kampung mulai berbisik ketika Wulan terlihat naik mobil mewah bersama Agung.
“Eh, anak Bu Rini sekarang punya laki-laki kaya ya?”
“Kayaknya anak pemilik perusahaan besar itu, lho.”
Melda menatap tetangga itu dengan dingin. Ia tahu gosip itu tak bisa dihentikan, tapi yang lebih menakutkan adalah dunia yang mulai menekan kakaknya.
Di kantor, Wulan juga merasakan tekanan baru. Beberapa rekan kerja mulai bertanya tentang hubungannya dengan Agung, sebagian penasaran, sebagian sinis.
“Aku nggak mau dibicarain, Mel,” keluh Wulan suatu malam, menatap adiknya. “Aku cuma ingin bahagia, tapi rasanya dunia nggak mau ngasih kesempatan.”
Melda mengangguk, hatinya semakin keras. Ia tahu suatu hari nanti dunia yang menolak kakaknya itu akan berhadapan dengannya.
Beberapa minggu kemudian, hubungan Wulan dan Agung semakin intens. Pesan singkat tiap malam, panggilan telepon di sela-sela pekerjaan, bahkan pertemuan singkat di kantor. Setiap kali Agung menatap Wulan, ada ketulusan yang sulit dijelaskan.
Namun bayangan tekanan keluarga selalu ada. Suatu malam, Wulan bercerita kepada Melda:
“Agung bilang ayahnya nggak setuju aku dekat sama dia. Aku… aku nggak tahu harus gimana.”
Melda memegang tangan kakaknya erat. “Kamu harus hati-hati. Aku nggak mau kamu sakit.”
Wulan tersenyum tipis. “Aku tahu, Mel. Tapi aku nggak bisa ngelupain perasaan ini.”
Hari-hari berikutnya, Agung mulai membawa Wulan ke dunia sosialnya. Mereka menghadiri acara keluarga, makan malam formal, dan beberapa pertemuan bisnis. Wulan merasa canggung di awal, tapi Agung selalu menuntunnya dengan sabar.
Namun, tatapan dingin dari orang tua Agung tak bisa disembunyikan. Di sebuah pesta formal, Wulan merasakan tatapan itu menelannya hingga ke ulu hati. Ia mulai menyadari bahwa cinta yang ia rasakan bukan hanya menghadapi jarak dan perasaan, tapi juga tekanan sosial yang tak terlihat.
Agung mencoba menenangkannya setelah acara. “Aku tahu mereka terlihat keras, tapi aku tetap ingin kamu di sisiku.”
Wulan mengangguk, menahan air mata. Ia ingin percaya, tapi hatinya mulai gelisah.
Di sisi lain, Melda mulai menyusun strategi sederhana. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi instingnya sebagai adik yang protektif memberi tahu bahwa suatu saat dunia Agung bisa menyakiti kakaknya.
“Mungkin aku harus siap,” pikir Melda di malam itu. “Kalau dunia ini melukai Wulan, aku nggak akan diam.”
Hujan turun di luar jendela rumah mereka. Suara rintikannya seperti menyuarakan ketegangan yang semakin mendekat. Wulan memandang ke luar jendela, menahan perasaan campur aduk antara cinta dan ketakutan.
Dan di bawah hujan itu, Melda tahu: perjalanan cinta kakaknya baru saja dimulai, tapi bayangan konflik sudah muncul. Benih cinta itu tumbuh, tapi bayangan tekanan sosial dan dunia elite Agung menunggu untuk menguji mereka.
Sementara itu, Agung, di sisi lain kota, menatap langit malam dari jendela kantornya. Matanya gelap, tapi ada tekad yang tak kalah besar. Ia ingin cinta ini berjalan, tapi tahu jalan yang akan dihadapi penuh dengan rintangan dan kadang, ia sendiri tidak yakin mampu melawan keluarganya.
"cinta mereka baru saja mulai tumbuh, tapi dunia sudah menyiapkan badai yang tak terlihat, dan kadang cinta yang paling tulus harus menanggung luka yang paling dalam"
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.