Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KONSPIRASI DI ALIANSI MURIM
Dua minggu telah berlalu sejak pertempuran malam itu.
Istana Dinasti Iblis perlahan pulih. Tembok barat yang hancur sedang dibangun ulang dengan batu hitam yang lebih kuat. Prajurit yang gugur telah dikremasi dengan upacara militer penuh penghormatan. Lilith kini tinggal di istana—bukan sebagai tahanan, tapi sebagai "tamu negara" dengan pengawasan ketat. Setiap tiga hari, ia mengunjungi ibunya di menara, dan setiap kali wajahnya sedikit lebih cerah.
Namun di tengah pemulihan itu, kabar buruk datang dari Seo Jung-won.
Pagi itu, utusan dari Aliansi Murim tiba dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat, pakaiannya kusut—tanda ia berkuda siang malam tanpa istirahat.
"Laporan darurat untuk Yang Mulia!" serunya begitu turun dari kuda.
Yehwa menerima utusan itu di ruang tahta. Yun-seo di sampingnya, Cheol-soo dan Seo Jung-won di sisi lain. Lilith—yang kebetulan lewat—diizinkan ikut mendengar, sebagai tanda kepercayaan yang mulai tumbuh.
"Apa yang terjadi?" tanya Yehwa.
Utusan itu berlutut, suaranya bergetar. "Aliansi Murim... kacau, Yang Mulia. Sekte-sekte besar berselisih. Beberapa menuduh Yang Mulia telah menyihir para pemimpin mereka dengan ilmu hitam. Yang lain ingin membatalkan perjanjian damai."
Yehwa mengerutkan kening. "Tuduhan konyol. Aku bahkan tidak pernah ke markas Aliansi."
"Mereka punya 'bukti', Yang Mulia." Utusan itu mengeluarkan gulungan kertas. "Surat-surat ini—konon ditulis tangan Yang Mulia—berisi rencana untuk menghancurkan Aliansi dari dalam."
Yehwa membaca surat itu. Matanya melebar—tulisan itu mirip sekali dengan tulisannya. Bahkan tanda tangannya sempurna.
"Ini pemalsuan," desisnya. "Siapa yang melakukan ini?"
Seo Jung-won maju, memeriksa surat itu dengan saksama. "Ini... ini teknik pemalsuan tingkat tinggi. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mempelajari tulisan seseorang dan menirukannya dengan sempurna."
Yun-seo berpikir keras. "Siapa yang punya akses ke tulisan tangan Yehwa? Dan kepentingan untuk menghancurkan perdamaian?"
Semua diam. Lalu Lilith angkat bicara—untuk pertama kalinya dalam pertemuan resmi.
"Mungkin... bekas pengikut ayahku."
Semua menatapnya.
"Ayahku punya jaringan mata-mata di mana-mana. Bahkan di Aliansi Murim." Lilith tampak tidak nyaman bicara soal ini, tapi melanjutkan. "Mereka ahli menyamar, memalsukan dokumen, dan memanipulasi opini publik. Kalau mereka masih aktif, inilah cara kerja mereka."
Yehwa dan Yun-seo bertukar pandang. Ini lebih rumit dari yang mereka kira.
---
Dua hari kemudian, konferensi darurat digelar di perbatasan.
Tempat netral—sebuah lembah di antara wilayah iblis dan manusia. Di satu sisi, tenda-tenda Dinasti Iblis berkibar. Di sisi lain, tenda-tenda Aliansi Murim dengan spanduk masing-masing sekte.
Yehwa datang dengan pengawalan terbatas—Yun-seo, Seo Jung-won, dan sepuluh prajurit terbaik. Cheol-soo tinggal di istana menjaga Jin-ho dan Lilith (yang mulai dipercaya untuk tugas ringan).
Di pihak Aliansi, hadir lima perwakilan sekte besar: Shaolin diwakili Pendekar Hong Jing, Hwasan diwakili Pendekar Baek Cheon, Sekte Gunung Es diwakili Song Ha-na (yang kini sudah menjadi tetua muda), Aliansi Selatan diwakili Pendekar Namgung Do-jun, dan Aliansi Utara diwakili Pendekar Myung Jin-ho (bekas prajurit yang dulu menyelamatkan Yun-seo).
Suasana tegang. Song Ha-na—yang dulu satu kelas dengan Yehwa di akademi—menatapnya dengan campuran rasa hormat dan curiga.
"Surat-surat ini," Baek Cheon dari Hwasan memulai, membuka dokumen. "Bagaimana menjelaskannya, Yang Mulia?"
Yehwa menjawab tenang. "Itu palsu. Tulisan tangan bisa dipalsukan. Terlebih oleh musuh yang ingin menghancurkan perdamaian."
"Tapi ini mirip sekali," sergah Namgung Do-jun. "Bahkan tanda tanganmu sempurna."
Yun-seo angkat bicara. "Justru itu kelemahannya. Terlalu sempurna. Kalau kau perhatikan, surat asli Yehwa selalu punya satu ketidaksempurnaan kecil—titik di belakang tanda tangan, kebiasaan dari masa kecil. Di sini tidak ada."
Song Ha-na memeriksa surat itu lebih teliti. Matanya menyipit.
"Dia benar." Suaranya terdengar enggan mengakui, tapi jujur. "Tidak ada titik di belakang."
Para pendekar lain mulai memeriksa. Myung Jin-ho—yang paling mengenal Yehwa—mengangguk.
"Aku ingat. Saat pertama kali bertemu, ia menandatangani dokumen pengungsi dengan titik di belakang. Aku tanya kenapa, ia bilang kebiasaan sejak kecil."
Yehwa tersenyum tipis pada Myung Jin-ho. "Kau ingat."
"Seorang prajurit tidak mudah lupa, Yang Mulia."
Ketegangan sedikit mereda. Tapi belum selesai.
"Baik, surat ini mungkin palsu," kata Baek Cheon. "Tapi itu tidak menjelaskan serangan terhadap desa-desa perbatasan. Yang selamat mengatakan penyerangnya iblis. Iblis asli, bukan Wraith."
Yehwa dan Yun-seo terkejut. Ini informasi baru.
"Serangan?" tanya Yehwa. "Kapan?"
"Seminggu lalu. Tiga desa di perbatasan selatan." Baek Cheon menunjukkan peta. "Semua penduduk tewas. Cara pembunuhannya—khas iblis."
Yehwa menggeleng. "Ini bukan perintahku. Aku bahkan tidak tahu ada serangan."
"Atau kau pura-pura tidak tahu?"
"Kalau aku ingin perang, aku tidak akan repot-repot datang ke sini." Suara Yehwa dingin. "Aku bisa serang kalian kapan saja dengan pasukanku. Tapi aku memilih damai."
Song Ha-na diam, berpikir. Lalu bertanya, "Kalau bukan kau, siapa?"
Yun-seo menjawab, "Mungkin provokator. Ingin memicu perang lagi. Kita harus selidiki bersama."
Para pendekar saling pandang. Akhirnya Pendekar Hong Jing dari Shaolin—yang paling tua dan bijaksana—bersuara.
"Anak muda ini benar. Kita harus selidiki bersama." Ia menatap Yehwa. "Yang Mulia, apa kau bersedia bekerja sama dengan kami untuk menyelidiki serangan ini?"
Yehwa mengangguk. "Tentu. Ini juga demi rakyatku."
Perjanjian darurat dibuat. Tim gabungan akan dibentuk—terdiri dari perwakilan Aliansi dan Dinasti Iblis—untuk menyelidiki sumber serangan.
Saat konferensi usai, Song Ha-na mendekati Yehwa.
"Aku tidak sepenuhnya percaya padamu," katanya jujur. "Tapi aku percada pada murid akademi yang dulu satu kelas denganku. Kau berubah, Yehwa. Menjadi lebih baik."
Yehwa tersenyum. "Terima kasih, Ha-na. Aku juga ingat kau—keras kepala, tapi adil."
Mereka berjabat tangan. Perdamaian kecil di tengah konspirasi besar.
---
Di tempat lain, di gua rahasia di pegunungan, sesosok bayangan menerima laporan.
"Konferensi gagal memicu perang," lapor seorang mata-mata. "Mereka malah membentuk tim investigasi bersama."
Bayangan itu—seorang pria berjubah hitam dengan topeng tengkorak—menggeram frustasi.
"Rencana kedua, gagal. Kalau begitu, kita jalankan rencana ketiga." Ia menatap para pengikutnya. "Kirim pembunuh. Target—pemimpin tim investigasi. Buat mereka saling curiga."
Para pengikut bergerak. Konspirasi terus berjalan.
Dan di perbatasan, Yun-seo, Yehwa, dan para pendekar Aliansi bersiap untuk penyelidikan yang akan membawa mereka ke dalam bahaya lebih besar.
---