NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.4

...POSKO YANG TERLALU SEPI...

Desa itu tidak menyambut, Ia hanya diam. Bukan diam yang tenang seperti pagi hari atau yang nyaman seperti sore menjelang magrib. Ini diam yang canggung, yang terasa seperti seseorang yang berdiri terlalu dekat tapi tidak mengatakan apa-apa. Diam yang membuat kulit terasa lebih peka terhadap suara sekecil apa pun.

Begitu bus tua berwarna hijau kusam itu pergi meninggalkan lapangan kecil di tengah desa, sunyi langsung menutup ruang seperti selimut basah. Tidak ada suara mesin. Tidak ada klakson, juga tidak ada teriakan anak-anak atau obrolan warga. Bahkan suara angin pun terdengar ragu untuk bergerak. Mesin bus sempat meraung sebentar, lalu benar-benar menghilang di balik tikungan tanah merah. Debu yang tertinggal turun perlahan, seperti memilih jatuh satu per satu agar tidak mengganggu kesunyian yang sudah terlanjur menguasai tempat itu.

Empat belas mahasiswa itu berdiri terpaku, menatap satu arah yang sama. Tidak ada yang langsung mengangkat ponsel untuk story. Tidak ada yang tertawa melepas lelah. Tidak ada yang sibuk membetulkan tas atau topi. Seolah tanpa komando, semua tubuh berhenti dalam satu kesepakatan diam.

Kini di hadapan mereka terdapat sebuah rumah kayu tua. Rumah itu tidak besar, tapi juga tidak kecil. Tingginya cukup untuk berdiri tegak tanpa merasa terhimpit, namun tidak cukup megah untuk disebut bangunan penting. Ia berdiri sendirian, sedikit menjauh dari rumah-rumah warga lain, seperti seseorang yang memilih duduk di sudut ruangan agar tidak perlu ikut percakapan.

“Itu posko kita?” seseorang diantara mereka bertanya pelan, bukan karena takut, tapi karena berharap jawabannya bukan.

Nada suara itu bukan nada panik. Lebih seperti nada seseorang yang baru saja menyadari kenyataan tidak sesuai ekspektasi. Ada harapan kecil yang diselipkan di akhir kalimat, berharap ada yang tertawa dan berkata, ‘Bukan, itu gudang.’ Sayangnya, tidak ada yang tertawa. Rumah itu berdiri sedikit terpisah dari rumah-rumah warga lain. Catnya kusam, warnanya pernah hijau muda, lalu menyerah pada hujan, panas, dan waktu. Dindingnya tidak roboh, tapi jelas tidak berniat terlihat ramah. Jendelanya tertutup rapat. Pintu depannya menghitam, entah karena usia atau karena terlalu sering ditutup dari dalam. Kayunya tampak keras kepala, tidak rapuh, tidak juga segar. Seperti benda yang menolak runtuh hanya karena sudah terlalu lama berdiri.

Halaman depannya kosong. Bukan kosong karena baru dibersihkan. Ini kosong yang aneh, seperti ruang yang sengaja dibiarkan tanpa tanda kehidupan. Tidak ada pot bunga. Tidak ada sandal. Tidak ada kursi bambu tempat orang duduk sore-sore. Bahkan rumputnya tidak tumbuh liar, seolah tanah itu sendiri malas hidup.

“Ini… beneran rumah orang?” tanya Juned sambil mengarahkan kamera, lalu menurunkannya lagi. “Atau rumah yang pernah jadi orang?”

Kalimat itu meluncur begitu saja, refleks khas Juned yang selalu berpikir dulu dengan kamera, baru dengan otak. Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya, sebagian dengan tatapan peringatan, sebagian lagi dengan ekspresi tolong jangan dilanjutkan.

“Rumah nggak pernah jadi orang,” sahut Bodat cepat.

Nada suaranya datar, tapi jelas bermaksud menghentikan imajinasi Juned sebelum berkembang ke arah yang tidak perlu.

“Ya siapa tahu di sini beda.”

Sunyi kembali jatuh. Tidak ada yang membalas atau yang menertawakan. Kalimat itu dibiarkan menggantung di udara, pelan-pelan mengendap bersama perasaan tidak nyaman yang mulai terasa di dada masing-masing.

Udin menarik napas dalam-dalam. Sebagai ketua kelompok, ini momen yang seharusnya diisi dengan kalimat bijak, penuh semangat, dan membangun mental tim. Sayangnya, mulutnya kering, dan tenggorokannya terasa sempit. Ia sadar, empat belas pasang mata termasuk dirinya sendiri bergantung padanya. Bukan untuk jawaban pasti, hanya untuk arah. Sedikit saja.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita… kita cek dulu.”

Kalimat itu tidak heroik. Tidak menggebu-gebu. Tapi cukup. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap untuk berdiri lebih lama di lapangan terbuka sambil menatap rumah itu. Langkah kaki mereka menyentuh tanah halaman. Bunyi krek pelan terdengar. Bukan dari kayu. Dari sesuatu yang tidak jelas. Semua refleks berhenti. Beberapa orang langsung mengangkat kaki masing-masing, seolah takut menginjak sesuatu yang tidak ingin diinjak. Mata-mata menunduk, mencoba mencari sumber bunyi itu, tapi yang terlihat hanya tanah kering dengan sedikit kerikil.

“Tenang,” kata Udin cepat. “Itu… tanah.”

Nada suaranya dibuat setenang mungkin. Kalimatnya sederhana, logis, dan seharusnya menenangkan. Padahal tidak ada tanah yang berbunyi seperti itu. Mereka maju perlahan. Jarak ke rumah terasa lebih jauh dari sebelumnya, seolah setiap langkah ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Paijo sudah siap dengan senyum ramahnya, meski tidak ada siapa pun untuk disapa. Senyum yang biasanya muncul ketika ia bertemu warga, anak-anak, atau siapa pun yang membutuhkan sapaan hangat. Kali ini, senyum itu terasa menggantung di wajahnya, perlahan memudar karena tidak ada satu pasang mata pun yang membalas. Palui berjalan sambil sesekali melirik sekeliling, seolah mencari papan bertuliskan “SEMUA GRATIS”. Tidak ada. Tentu saja tidak ada.

“Biasanya rumah desa tuh minimal ada kursi depan,” gumamnya, lebih ke diri sendiri. “Atau ember, atau sapu… ini kosong banget.”

Surya berjalan paling belakang, mencoba terlihat santai sambil sesekali menoleh. Setiap bunyi kecil membuat bahunya sedikit menegang. Ia berusaha tidak menunjukkan apa-apa, tapi langkahnya selalu tertinggal setengah detik di belakang yang lain. Moren sibuk menyalakan alat-alatnya, meski tidak satu pun terlihat benar-benar berfungsi. Ia menekan tombol, memutar switch, menggoyangkan kabel. Layar kamera berkedip lalu mati lagi.

“Serius deh,” keluhnya pelan. “Di kota normal semua.”

Anang memanggul tas besar dengan ekspresi puas, seolah rumah ini hanyalah dapur baru yang menunggu ditaklukkan. Ia menilai bangunan itu dengan mata praktis, menghitung ruang, membayangkan tungku, panci, dan asap masakan.

Dan Ithay? Ia memotret rumah itu dari berbagai sudut. Dari depan, dari samping, sedikit miring agar terlihat dramatis. Ia bahkan mundur beberapa langkah untuk mendapatkan sudut yang menurutnya pas.

“Lighting-nya dapet sih,” komentarnya. “Cuma vibe-nya kayak mantan yang belum move on.”

Beberapa orang menghembuskan napas pendek, hampir seperti tertawa. Bukan tawa lepas, tapi cukup untuk memberi jeda pada ketegangan yang mulai mengeras. Pintu posko berdiri tepat di depan mereka. Kayunya retak halus, gagangnya besi tua berkarat. Tidak ada gembok. Tidak ada kunci. Dan itu justru membuatnya lebih tidak nyaman. Seharusnya ada sesuatu. Apa pun. Tanda bahwa pintu itu pernah dijaga.

“Kenapa nggak dikunci?” gumam Aluh pelan.

Ia tidak bertanya keras-keras, seolah takut rumah itu mendengar.

“Karena… siapa juga yang mau masuk?” jawab Surya cepat.

Kalimat itu keluar spontan, tanpa dipikir panjang. Dan tepat setelah itu, semua orang menyadari satu hal yang sama, tidak ada yang tertawa.

Udin mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh gagang pintu, dingin. Terlalu dingin untuk kayu yang seharusnya terpapar matahari seharian. Ia menarik tangannya sebentar, lalu menggenggam lebih erat. Tidak ada alasan logis untuk mundur sekarang.

“Bismillah,” gumam Juleha.

Pintu didorong, bunyinya panjang meski Pelan seolah rumah itu menghela napas.

...🍃🍃🍃...

BERSAMBUNG....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!