Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak kecil di pinggir pantai
Maira sudah pergi dua jam yang lalu, meninggalkan kepulan debu di jalanan tanah depan rumah nenekku. Namun, kehadiran wanita itu seolah masih tertinggal di udara—aroma parfum mewahnya yang asing di desa ini, dan kata-katanya yang jauh lebih tajam daripada angin laut mana pun.
Biru melepaskan segalanya.
Kalimat itu bergema di kepalaku, memantul di antara dinding-dinding rumah kayu yang sepi. Aku duduk di kursi anyaman tua di teras, menatap laut yang kini berwarna perak di bawah cahaya bulan. Tanganku yang biasanya stabil kini memegang erat pinggiran kursi, mencoba mencari pegangan di dunia yang baru saja diputarbalikkan lagi.
Jika apa yang dikatakan Maira benar, maka aku telah melakukan kesalahan fatal. Aku telah menghakimi seseorang yang justru mengorbankan dunianya untuk melindungiku. Namun, separuh dari diriku—bagian yang sudah terlalu sering dihancurkan—masih berbisik dengan nada sinis: Bagaimana kalau ini juga bagian dari skenario? Bagaimana kalau pengorbanan itu hanya taktik baru keluarga Laksmana untuk membuatku merasa berhutang budi? Bukankah mereka ahli dalam memanipulasi rasa?
Aku tidak bisa langsung percaya. Luka yang dibuat Abhinara terlalu dalam, terlalu bernanah, untuk disembuhkan hanya dengan satu pengakuan dari istrinya yang sedang emosional. Bagiku, cinta selalu datang dengan syarat, dan kebaikan selalu punya tagihan di belakangnya.
Besoknya, aku tidak kembali ke kota. Aku memutuskan untuk tetap di desa ini, tenggelam dalam anonimitas. Aku ingin melihat, jika fajar ini benar-benar menghilang, sejauh mana langit akan mengejarku tanpa membawa kemewahannya.
Aku mulai bekerja di tempat pelelangan ikan lokal. Tugasnya sederhana: mencatat berat tangkapan nelayan dan administrasi harian. Tidak ada yang mengenalku sebagai Aruna Rembulan Maharani, editor senior bertangan dingin dari ibu kota. Di sini, aku hanyalah "Mbak Na", perempuan kota yang tampak punya banyak rahasia di matanya dan jarang bicara.
Minggu pertama berlalu dalam rutinitas yang melelahkan secara fisik namun menenangkan secara mental. Bau amis pasar, teriakan para nelayan, dan bunyi mesin kapal menjadi musik baruku. Namun, setiap kali subuh datang—saat garis oranye mulai membelah langit hitam—aku selalu terbangun dengan sesak di dada. Aku membayangkan Biru berdiri di pelabuhan kota, sendirian, menatap laut yang sama, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang kembali.
"Mbak Na, kopi?" seorang nelayan tua menawarkan segelas kopi hitam kental dalam plastik.
"Terima kasih, Pak," jawabku singkat.
Saat aku menyesap kopi pahit itu, aku tersadar. Rasa pahit ini mengingatkanku pada Biru. Dingin di pagi ini mengingatkanku pada jaket flanelnya. Ternyata, meskipun aku telah berlari sejauh empat jam perjalanan, aku tidak pernah benar-benar meninggalkan Biru. Dia telah menjadi bagian dari atmosfer yang kuhirup.
Aku menyesap kopi pahit itu perlahan, membiarkan panasnya menjalar dari tenggorokan hingga ke dadaku yang beku. Lucu rasanya; aku datang ke pinggir pantai ini untuk menukar kebisingan kota dengan ketenangan ombak, berharap namaku dan masa laluku luluh lantak tersapu pasang. Namun, pagi ini aku tersadar bahwa pelarian ini hanyalah sebuah ironi. Aku bisa saja mengganti identitas menjadi 'Mbak Na', aku bisa saja mengubur tumit tinggiku di balik bau amis pasar ikan, tapi aku tidak bisa mengganti udara yang kuhirup.
Jika benar Biru melepaskan segalanya demi diriku, maka setiap tarikan napasku di sini adalah utang yang tidak akan pernah sanggup kubayar. Aku berdiri di sini, menatap luasnya cakrawala yang tak bertepi, hanya untuk menyadari bahwa dunia sekecil apa pun akan selalu terasa sesak jika hatimu tertinggal di tempat yang berbeda. Sejauh apa pun aku berlari, aku tidak sedang menuju ke depan. Aku hanya sedang berputar-putar di dalam labirin yang ujungnya selalu kembali pada laki-laki itu. Ternyata, bukan laut yang luas ini yang menelan keberadaanku, melainkan kenyataan bahwa di bawah langit yang sama, aku tetaplah sebuah riak kecil yang merindukan badainya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...