NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Rapat

Senin pagi yang cerah bagi jutaan pekerja di Jakarta, namun bagi Bimo, ini adalah hari penghakiman yang ia bungkus dengan sisa-sisa penyangkalan. Keluar dari rumah sakit dengan uang pemberian dr. Aris, Bimo tidak menggunakan uang itu untuk makan. Ia justru mencari kios kosmetik murah di terminal, membeli dua botol parfum dengan aroma menyengat, dan sebuah botol bedak wangi.

Di kamar mandi umum terminal yang kumal, Bimo mencoba melakukan ritual "pembersihan". Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan parfum hingga kulitnya terasa perih terbakar alkohol. Ia menaburkan bedak ke seluruh lipatan tubuhnya, mencoba menyumbat pori-pori yang ia curigai sebagai sumber bau busuk tersebut.

"Dokter bilang gue sehat. Gue cuma butuh parfum," gumamnya di depan cermin yang retak. Ia mengenakan kemeja cadangan yang ada di tasnya—kemeja putih yang sudah agak kuning, namun setidaknya kering. Ia memasang dasi sutranya dengan tangan gemetar. Ia tampak seperti pria kantoran dari jauh, namun jika dilihat dari dekat, wajahnya yang pucat dan matanya yang cekung tidak bisa menyembunyikan kehancuran di dalamnya.

Langkah Menuju Kegilaan

Bimo sampai di lobi gedung kantornya pukul sembilan lewat sedikit. Ia berjalan dengan dada dibusungkan, mencoba memanggil kembali sosok Bimo yang sombong dan berkuasa. Saat melewati meja resepsionis, ia memberikan senyum yang ia pikir menawan.

Namun, resepsionis itu tidak membalas senyumnya. Begitu Bimo melintas, wanita itu menutup hidung dengan punggung tangannya, matanya melebar karena ngeri. "Bau apa ini? Seperti bau bangkai yang disemprot parfum melati," bisiknya pada rekan di sebelahnya.

Bimo tidak peduli. Ia masuk ke dalam lift yang penuh sesak. Di dalam ruang sempit itu, bencana dimulai. Perpaduan antara aroma parfum murahan yang menyengat dengan bau busuk alami dari tubuh Bimo menciptakan aroma kimiawi yang mengerikan. Orang-orang di dalam lift mulai gelisah.

"Aduh, ada bau apa ya? Bau limbah ya?" seorang wanita dengan jas rapi mulai mengeluh.

"Kayak bau bangkai tikus mati di AC," sahut yang lain sambil melirik ke arah Bimo yang berdiri kaku di pojok.

Bimo menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak mendengar. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa hawa panas mulai menjalar kembali di selangkangannya.

Rapat Penting dan Aroma Kematian

Begitu sampai di lantainya, Bimo melihat suasana kantor sangat sibuk. Rupanya hari itu ada rapat evaluasi bulanan yang dipimpin langsung oleh Pak Hendra, dan dihadiri oleh jajaran petinggi perusahaan.

Bimo masuk ke ruang rapat tepat saat rapat baru dimulai. Semua mata tertuju padanya.

"Bimo? Kamu baru datang?" Pak Hendra mengernyitkan dahi. "Kamu bolos dua hari tanpa kabar. Saya pikir kamu sudah mengundurkan diri."

"Maaf, Pak. Saya sakit, baru keluar dari rumah sakit pagi ini," jawab Bimo sambil mencoba duduk di kursinya yang biasanya, tepat di sebelah Diana.

Diana, yang sedang mencatat, tiba-tiba berhenti. Kepalanya mendongak, hidungnya kembang kempis. Begitu Bimo duduk, Diana langsung menutup mulutnya dengan tisu. Wajahnya berubah pucat pasi.

"Bim... kamu pakai parfum apa sih? Baunya aneh banget," bisik Diana dengan nada jijik, ia menggeser kursinya menjauh hampir satu meter dari Bimo.

Rapat dimulai. Pak Hendra sedang memaparkan presentasi di depan, namun konsentrasi di ruangan itu hancur berantakan. Bau busuk yang keluar dari tubuh Bimo mulai memenuhi ruang rapat yang kedap udara tersebut. Pendingin ruangan (AC) justru membantu menyebarkan aroma anyir dan busuk itu ke setiap sudut meja.

Satu per satu peserta rapat mulai merasa mual. Seorang manajer keuangan bahkan harus meminta izin keluar karena tidak kuat menahan rasa ingin muntah.

"Pak Hendra, maaf... sepertinya ada masalah dengan saluran pembuangan di gedung ini. Baunya sangat mengganggu," ujar salah satu petinggi.

Pak Hendra berhenti bicara. Ia mengendus udara di sekitarnya, lalu tatapannya jatuh pada Bimo yang berkeringat deras. Pak Hendra berjalan mendekati Bimo. Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat bau busuk itu menghantamnya.

"Bimo... ini bau dari kamu?" tanya Pak Hendra dengan wajah tak percaya.

"Bukan, Pak. Mungkin dari luar..."

"Jangan bohong! Kamu bau bangkai, Bimo!" teriak Joni dari ujung meja. "Gila, gue dari tadi mau muntah gara-gara lu! Lu mandi nggak sih?!"

Ruangan itu mendadak riuh. Hinaan dan makian yang Bimo dengar di kontrakan kemarin kini terulang lagi di kantor mewahnya. Diana menatap Bimo dengan pandangan yang sangat merendahkan, seolah Bimo adalah onggokan sampah yang tidak sengaja masuk ke ruang rapat.

Ledakan Sengkolo

Tekanan mental, rasa malu yang luar biasa, dan kemarahan Bimo yang memuncak memicu reaksi keringat dalam tubuhnya. Adrenalin dan emosi negatif membuat keringatnya makin banyak mengalir .

Bimo merasakan rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah ada ribuan silet yang berputar di dalam perut dan organ vitalnya. Ia menjerit kesakitan, memegangi meja rapat hingga berkas-berkas berantakan.

"ARGH! SAKIIIIIT!"

Di depan mata seluruh rekan kerjanya, sebuah fenomena yang melampaui akal sehat terjadi. Meskipun dr. Aris bilang Bimo sehat, kini di bawah cahaya lampu kantor yang terang, kemeja putih Bimo mulai basah oleh cairan hitam yang merembes dari balik kulitnya. Cairan itu berbau sangat amis.

Dan yang paling mengerikan: ulat-ulat kecil berwarna abu-abu mulai merayap keluar dari balik kerah kemejanya dan dari celana kainnya. Mereka jatuh ke atas meja rapat yang bersih, menggeliat-geliat di depan mata Pak Hendra dan Diana.

"SETAN! APA ITU?!" jerit Diana histeris, ia melompat dari kursinya dan berlari menuju pintu.

"BELATUNG! BIMO PUNYA BELATUNG DI BADANNYA!" teriak yang lain.

Suasana menjadi chaos. Para eksekutif berpakaian rapi itu berlarian keluar ruangan seperti orang gila, menabrak kursi dan meja. Pak Hendra mundur hingga ke pojok ruangan, wajahnya penuh kengerian dan kemarahan.

"BIMO! KELUAR KAMU! KELUAR DARI KANTOR SAYA SEKARANG JUGA!" raung Pak Hendra. "KAMU DIPECAT! JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKI DI GEDUNG INI LAGI! KAMU MANUSIA TERKUTUK!"

Bimo merangkak di lantai, mencoba menggapai kaki Pak Hendra untuk meminta maaf, namun Pak Hendra menendang tangan Bimo dengan rasa jijik yang luar biasa. "JANGAN SENTUH SAYA! KAMU BUSUK!"

Pengusiran Terakhir

Dua orang satpam yang memakai masker gas (yang biasa digunakan untuk menyemprot hama) masuk ke ruangan. Mereka tidak menyentuh Bimo dengan tangan kosong; mereka menggunakan tongkat keamanan untuk mendorong Bimo keluar.

Bimo diseret melewati lobi kantor. Seluruh karyawan berdiri di sepanjang koridor, menonton dengan tatapan ngeri dan jijik. Ada yang memotret, ada yang merekam video sambil tertawa menghina. Citra Bimo sebagai pria idaman kantor hancur berkeping-keping, digantikan oleh identitas baru: Si Manusia Bangkai.

Bimo dilempar ke trotoar depan gedung. Tasnya dilempar tepat ke wajahnya.

"Pergi lu! Dasar pembawa penyakit!" teriak salah satu satpam.

Bimo tergeletak di aspal panas, di bawah terik matahari Senin yang kejam. Ia kehilangan pekerjaannya, satu-satunya harapannya untuk menyambung hidup. Ia tidak punya uang, tidak punya motor, tidak punya rumah, dan kini ia tidak punya martabat.

Di tengah kebisingan jalanan, Bimo mendengar suara langkah kaki yang tenang mendekatinya. Ia mendongak dengan mata yang kabur oleh air mata dan nanah.

Di sana, berdiri Ratih. Ia mengenakan baju sederhana namun bersih. Ia tampak sangat cantik, sangat tenang, kontras dengan Bimo yang seperti bangkai di kakinya. Ratih membawa sebuah botol air mineral.

"Haus, Bimo?" tanya Ratih lembut, ia menuangkan air itu perlahan ke aspal, tepat di depan mulut Bimo yang kering, namun tidak membiarkan Bimo meminumnya.

"Ra... Ratih... tolong... hentikan ini..." isak Bimo, suaranya nyaris hilang.

"Aku sudah bilang, Bimo. Dunia ini sempit bagi pengkhianat," Ratih berjongkok, menatap mata Bimo yang penuh ulat. "Kantormu sudah membuangmu. Teman-temanmu menganggapmu sampah. Sekarang, kamu mau pergi ke mana lagi? Ke dukun? Ke rumah sakit? Atau... kamu mau bersujud di kakiku sekarang?"

Bimo menatap kaki Ratih yang memakai sandal jepit sederhana. Kaki yang dulu selalu ia suruh untuk mencuci baju-bajunya. Kini, kaki itu tampak seperti satu-satunya jalan menuju keselamatan.

"Aku... aku minta maaf, Ratih... aku balikin uangnya... tolong cabut ini..."

Ratih tertawa kecil, suara tawa yang paling mengerikan yang pernah Bimo dengar. "Uangnya? Uangnya sudah habis kamu pakai foya-foya dan ditipu dukun, kan? Aku tidak butuh uang lagi, Bimo. Aku hanya butuh melihatmu merasakan apa yang ibuku rasakan saat kamu mencuri uang pengobatannya. Kamu tahu? Ibuku meninggal dalam kesepian, sementara kamu tertawa di bar."

Ratih bangkit berdiri, ia membuka payung hitamnya karena matahari semakin terik.

"Sujudmu belum tulus, Bimo. Masih ada sisa kesombongan di matamu. Selamat berjalan, Bimo."

Ratih berjalan menjauh, meninggalkan Bimo yang meraung di tengah trotoar Jakarta yang ramai. Orang-orang yang lewat menganggapnya orang gila yang sedang sakau. Bimo menyadari bahwa ia harus merangkak. Benar-benar merangkak karena kakinya sudah terlalu busuk untuk berjalan.

Hari Senin yang ia harapkan menjadi penyelamat, justru menjadi hari di mana Bimo resmi menjadi mayat yang ditolak bumi.

Seiring kepergian Ratih, perlahan-lahan keadaan Bimo membaik,membuat Bimo menjerit putus asa.Semua orang yang melihatnya menganggap dia orang gila.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!