NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Sekte

Gerbang Sekte Langit Teratai menjulang megah di ujung lembah yang dikelilingi pegunungan berlapis kabut tipis. Pilar-pilar batu putih setinggi tiga puluh meter diukir motif teratai raksasa yang seolah hidup—kelopaknya menyala samar biru keperakan saat matahari terbit menyentuhnya. Di atas gerbang utama, plakat emas bertuliskan huruf kuno: “Langit Teratai, Cahaya Abadi”. Angin pagi membawa aroma bunga teratai segar dan dupa kayu cendana dari dalam sekte.

Shen Yi, Lian'er, Shi Jun, dan empat murid pengawal turun dari kuda di depan gerbang. Kuda-kuda itu langsung ditarik pelayan sekte yang berpakaian biru muda. Shi Jun maju selangkah, mengeluarkan token jade berukir teratai dari saku jubahnya dan menunjukkannya ke penjaga gerbang—dua pendekar berjubah biru dengan pedang teratai di pinggang.

“Murid Shi Jun kembali dengan Shen Yi dan Bai Lian,” kata Shi Jun tegas tapi hormat. “Kami diminta Elder Mei Ling.”

Penjaga itu membungkuk dalam-dalam, mata mereka sempat melirik Shen Yi dan Lian'er dengan rasa ingin tahu yang tertahan. “Silakan masuk. Elder Mei Ling sudah menunggu di Aula Teratai Utama.”

Gerbang terbuka pelan dengan suara derit batu yang dalam. Di baliknya, halaman luas terbentang: jalan batu putih membelah taman teratai yang luas, air mancur kecil mengalir dari mulut patung teratai raksasa, dan murid-murid muda berlatih pedang di lapangan samping dengan gerakan lincah seperti angin.

Shen Yi berjalan di samping Lian'er, tangan mereka sesekali bersentuhan. Lian'er memandang sekeliling dengan mata besar—ini pertama kalinya dia melihat sekte besar setelah ratusan tahun kesepian di istana atas.

“Ini… indah sekali,” bisiknya. “Tapi juga terasa dingin. Banyak aturan, banyak tatapan.”

Shen Yi mengangguk pelan. “Aku juga merasa begitu. Kayak pulang ke rumah orang, bukan rumah sendiri.”

Shi Jun mendengar dan menoleh. “Ayah… Pemimpin Shi Tian… akan bertemu kita di aula. Dia sudah tahu kau datang. Tapi ingat: dia orang yang keras kepala. Jangan terpancing kalau dia bicara soal darah teratai atau tugas sekte.”

Shen Yi tersenyum tipis. “Aku nggak takut bicara. Yang penting, kita hentikan Xue Han dulu.”

Mereka melewati jembatan melengkung di atas kolam teratai, lalu masuk ke Aula Teratai Utama—bangunan besar dengan atap melengkung berlapis genteng biru. Di dalam, aroma dupa lebih kuat, dan cahaya dari jendela kertas tipis membuat ruangan terasa suci.

Di ujung aula, Elder Mei Ling duduk di kursi kayu berukir tinggi. Wanita tua itu tampak seratus tahun lebih, tapi matanya tajam seperti elang. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berjubah biru gelap dengan bordir teratai emas besar di dada—Pemimpin Sekte Langit Teratai, Shi Tian. Wajahnya keras, tapi ada garis penyesalan di sudut matanya saat melihat Shen Yi.

Shi Jun membungkuk dalam-dalam. “Ayah, Elder Mei Ling. Kami sudah membawa Shen Yi dan Bai Lian.”

Shi Tian bangkit pelan. Matanya tertuju pada Shen Yi lama sekali—seolah melihat bayangan masa lalu. “Shen Yi… atau harus kusebut Shi Yi?”

Shen Yi membungkuk hormat, tapi tak terlalu dalam. “Nama saya Shen Yi. Terima kasih sudah terima kami.”

Shi Tian mengangguk pelan. “Kau mirip sekali dengan ibumu waktu muda. Dan meridianmu… teratai murni yang paling lembut. Kau memang anakku yang hilang.”

Lian'er maju selangkah, suaranya tenang tapi tegas. “Kami datang bukan untuk klaim keluarga atau warisan. Kami datang karena Xue Han mengancam keseimbangan teratai. Kalau ritualnya selesai, bukan cuma kami yang terancam—seluruh dunia jianghu bisa membeku.”

Elder Mei Ling mengangguk. “Benar. Kami sudah kirim mata-mata ke Danau Teratai Kuno. Xue Han sudah kumpulkan pasukan besar. Dia pakai darah murid-murid yang dia culik untuk pengikat sementara. Tapi bulan purnama penuh dalam tiga hari lagi—saat energi teratai paling kuat. Dia butuh darah kalian berdua untuk selesaikan ritual.”

Shi Tian memandang Shen Yi. “Kau… mau bantu sekte ini? Darahmu adalah kunci untuk lawan Xue Han. Kalau kau setuju gabung sekte, kami bisa lindungi kalian berdua selamanya.”

Shen Yi menggeleng pelan. “Saya nggak mau gabung sekte. Saya mau hentikan Xue Han karena dia ancam orang-orang yang saya sayang—termasuk desa di gunung, Lian'er, dan kalian semua. Tapi setelah ini selesai, saya pulang ke gubuk saya. Bersama Lian'er.”

Shi Tian mengerutkan kening. “Kau tolak warisan teratai? Kau tolak posisi sebagai pewaris?”

Shen Yi menatap ayahnya langsung. “Saya nggak butuh posisi. Saya butuh rumah kecil, danau teratai yang mekar, dan Lian'er yang bisa tersenyum setiap pagi tanpa takut dingin lagi. Itu saja.”

Ruangan hening sejenak. Elder Mei Ling tersenyum tipis. “Hati murni… seperti yang dikatakan prasasti pulau. Kau memang yang membawa cahaya teratai.”

Shi Tian menghela napas panjang. “Baiklah. Aku tak akan paksa. Tapi sekte akan bantu kalian sepenuhnya. Kami sudah siapkan pasukan elit. Besok pagi kita berangkat ke Danau Teratai Kuno.”

Lian'er membungkuk hormat. “Terima kasih, Pemimpin Shi Tian.”

Shi Tian memandang Lian'er lama. “Kau dulu adalah seorang dewi teratai. Sekarang kau pilih hidup biasa. Kenapa?”

Lian'er tersenyum lembut. “Karena sesungguhnya hidup biasa dengan orang yang kucinta lebih berharga daripada keabadian di istana dingin.”

Shi Tian mengangguk pelan, ada sesuatu yang berubah di matanya. mungkin penyesalan, mungkin penerimaan.

Malam itu, mereka dijamu di kamar tamu sekte. Kamar luas dengan tempat tidur kayu berukir, selimut sutra, dan jendela menghadap taman teratai. Shen Yi dan Lian'er duduk di beranda kecil, memandang bulan yang hampir purnama.

“Shen Yi… kalau besok kita menang, kau benar-benar mau pulang?” tanya Lian'er.

Shen Yi mengangguk. “Benar. Tapi kalau kau mau tinggal di sini… di sekte ini, aku ikut.”

Lian'er menggeleng cepat. “Tidak. Aku mau pulang ke gubuk. Mau tanam lebih banyak teratai. Mau masak sup jahe yang lebih enak. Mau… punya anak suatu hari nanti, kalau kau mau.”

Shen Yi tersentak kecil, lalu tertawa pelan. “Anak? Wah… aku harus latihan jadi ayah yang baik.”

Lian'er menyandarkan kepala ke bahunya. “Kau sudah jadi yang terbaik. Dari hari pertama.”

Mereka diam menikmati malam. Tapi tiba-tiba, angin dingin tak wajar menyusup ke beranda. Lian'er tersentak.

“Es hitam… dekat.”

Shen Yi bangkit. Dari balik taman, bayangan gelap bergerak cepat. Enam pemburu berjubah hitam muncul—mereka sudah menyusup ke dalam sekte.

“Darah teratai ganda!” teriak salah satu. “Xue Han perintahkan ambil malam ini!”

Shi Jun muncul dari koridor, pedang sudah terhunus. “Mereka sudah masuk! Lindungi Shen Yi dan Lian'er!”

Pertarungan meledak di taman teratai. Murid-murid sekte berlarian keluar, pedang teratai mereka menyala. Shen Yi dan Lian'er berdiri berdampingan—Lian'er melepaskan badai kelopak teratai, Shen Yi menggunakan jarum akupunktur untuk lumpuhkan titik vital pemburu yang mendekat.

Tapi pemimpin pemburu—seorang wanita bertopeng perak dengan mata merah—melompat melewati barisan. Dia langsung menyerang Lian'er dengan cakar es hitam.

Shen Yi mendorong Lian'er ke samping. Cakar itu menggores lengannya—darah menetes, tapi bukan darah biasa. Darah Shen Yi bercahaya tipis emas, dan saat menyentuh tanah, es hitam di sekitarnya mencair seketika.

Wanita itu tersentak. “Darah teratai murni lebih kuat dari yang dikatakan Xue Han.”

Shi Jun menebas wanita itu dari samping. Pedang teratai birunya menembus bahu pemburu itu. Wanita itu mundur, tapi sebelum kabur, dia melemparkan sesuatu ke udara—bola kristal hitam kecil yang meledak menjadi kabut es hitam tebal.

Kabut itu menyelimuti taman. Semua orang batuk, mata terbakar. Di tengah kabut, suara Xue Han terdengar samar seperti bisikan dari angin.

“Darah teratai ganda… sudah tercium. Ritual akan selesai lebih cepat. Datanglah ke danau… atau dunia ini akan membeku.”

Kabut menghilang secepat datangnya. Pemburu-pemburu yang tersisa kabur ke kegelapan.

Elder Mei Ling muncul dengan tongkat kayunya, wajahnya pucat. “Mereka sudah tahu kita bergerak. Ritual mungkin dipercepat. Kita harus berangkat sekarang juga—malam ini.”

Shi Tian mengangguk. “Siapkan pasukan. Kita berangkat ke Danau Teratai Kuno sekarang.”

Shen Yi memandang luka di lengannya—darah emas itu masih bercahaya samar. “Darahku bereaksi pada es hitam.”

Lian'er memegang lengannya, matanya penuh kekhawatiran. “Shen Yi, darahmu mungkin lebih kuat dari yang kita kira. Itu bisa jadi senjata atau bahkan jebakan.”

Shi Jun mendekat. “Kita harus cepat. Kalau Xue Han tahu darah Shen Yi bisa mencairkan es hitam, dia akan lebih agresif.”

Shen Yi mengangguk. “Baik. Kita berangkat sekarang. Tapi ingat—kita nggak datang untuk perang. Kita datang untuk hentikan ritual. Dan pulang.”

Lian'er memeluknya erat. “Pulang bersama.”

Pasukan sekte bergerak dalam kegelapan malam. Kuda-kuda berlari kencang menuju Danau Teratai Kuno—tempat di mana nasib teratai dunia akan ditentukan.

Di danau itu, Xue Han berdiri di tengah lingkaran es hitam raksasa. Di sekitarnya, murid-murid yang dicuri darahnya terikat di tiang es, wajah mereka pucat. Xue Han tersenyum dingin saat merasakan darah Shen Yi dari jauh.

“Darah teratai murni telah datang dengan sendirinya. Ritual ini akan sempurna.”

Es hitam di danau mulai naik, membentuk sosok raksasa yang mirip teratai hitam—siap menelan segalanya.

Di jalan menuju danau, Shen Yi memegang tangan Lian'er erat. “Apa pun yang terjadi… aku cinta kau.”

Lian'er membalas genggaman itu. “Dan aku cinta kau. Selamanya.”

Kuda-kuda terus berlari. Bulan purnama mulai naik, menerangi jalan menuju akhir dari segala dingin.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!