Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama.
SEREN POV.
Aku terbangun karena suara mesin.
Awalnya aku pikir itu hujan. Lalu aku sadar hujan tidak berbunyi dari dalam kepalaku.
Mataku terasa berat, seolah kelopak mataku ditempeli sesuatu. Aku mencoba mengedipkannya, tetapi aku gagal. Ada rasa perih yang tertinggal di sudut mataku, seperti aku baru saja menangis begitu lama tapi aku tidak ingat alasannya.
Aku menarik napas.
Udara masuk dengan mudah, lalu ada sensasi dingin yang menyentuh tenggorokanku, seperti bau antiseptik. Aku bisa mengenali bau itu, bau rumah sakit.
Aku tahu ini rumah sakit, tapi aku tidak tahu kenapa aku ada di sini.
Aku akhirnya berhasil membuka mata.
Langit-langit putih, lampu panjang, retakan halus yang membentuk garis seperti peta jalan. Tirai hijau pucat di samping ranjang. Dan di sisi kananku sebuah kursi plastik biru.
Di kursi itu, seseorang duduk.
Seorang pria.
Ia sedang tertidur setengah duduk, kepalanya menunduk, satu tangannya menggenggam tanganku.
Sentuhan itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Jujur saja aku merasa asing dengan sentuhannya.
Aku mencoba menarik tanganku. Genggamannya mengencang refleks, lalu ia terbangun.
Matanya terbuka cepat, seolah ia sudah bersiap untuk momen ini jauh sebelum aku sadar.
"Seren."
Namaku keluar dari mulutnya dengan lembut, seperti sesuatu yang sudah sering ia ucapkan.
"Kamu sudah bangun."
Suaranya tenang pria itu bahkan idak terkejut dan tidak juga panik. Dia tidak bertanya "kamu kenapa" atau "kamu dengar aku". Seolah momen ini adalah sesuatu yang sudah ia prediksi.
Aku menatapnya.
Wajahnya tampan. Itu hal pertama yang kupikirkan, dan aku langsung merasa bersalah karena memikirkan itu.
Wajahnya oval dengan rahang tegas namun halus. Garis-garisnya rapi dan seimbang, membuatnya tampan dengan cara yang tenang dan dewasa, bukan mencolok tetapi memikat.
Namun ekspresi pria itu cenderung dingin, namun ketika melunak, ketampanannya terasa semakin hangat dan sulit diabaikan.
Rambut hitam, sedikit berantakan. Mata gelap. Kulit kuning langsat yang terlihat pucat karena lampu rumah sakit. Tidak ada bekas luka mencolok.
Dan entah kenapa, itu membuatku nyaman.
"Siapa kamu?" tanyaku.
Suaraku serak, seperti tidak dipakai lama.
Ekspresinya berubah bukan kaget ataupun marah. Lebih seperti seseorang yang sudah menyiapkan diri untuk kalimat itu, tapi tetapi aku berharap tidak mendengarnya.
Ia menghela napas pelan.
"Aku Arven," katanya. "Aku pacarmu."
Kata itu 'pacarmu' jatuh begitu saja di antara kami.
Aku menunggu sesuatu terjadi di kepalaku seperti kilasan memori apapun itu.
Tetapi tidak ada.
Yang ada hanya kekosongan. Seperti ruangan putih tanpa pintu.
"Aku......." Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. "Aku tidak ingat."
Ia mengangguk, seolah itu adalah jawaban yang benar.
"Dokter bilang kamu mungkin akan bingung saat bangun," katanya lembut. Ia masih memegang tanganku. Sekarang dengan kedua tangannya, seolah takut aku akan menghilang kalau ia melepasnya. "Kamu kecelakaan, Seren."
"Kecelakaan?"
"Mobil, setahun lalu."
Setahun. Kata itu terasa terlalu besar untuk dicerna dalam satu napas.
"Setahun?" ulangku pelan.
"Ya." Senyumnya tipis dan lembut."Kamu koma cukup lama."
Aku menatap mesin di sampingku. Garis hijau naik turun dengan setia, membuktikan bahwa aku hidup atau setidaknya, tubuhku hidup.
"Setahun…" ulangku lagi, kali ini lebih untuk diriku sendiri.
Aku mencoba mengingat setahun yang lalu. Tanggal, Bulan, apa pun itu. Tapi pikiranku seperti papan tulis yang sudah dihapus terlalu bersih. Tidak ada bekas kapur tidak ada satupun noda tentang apa yang terjadi setahun lalu
"Tenang," kata Arven cepat. "Kamu tidak perlu mengingat apa pun sekarang."
Nada suaranya seperti permintaan, bukan sebuah saran.
Aku menoleh ke arahnya. "Kita… pacaran?"
Ia tersenyum sedikit lebih lebar. Senyum orang yang akhirnya mendapat izin bernapas.
"Iya."
Seharusnya aku merasakan sesuatu. Yang kurasakan hanya satu hal yang aneh. Bukan karena ia mengaku pacarku. Tapi karena bagian dalam diriku terasa kosong.
Seolah, jika ia berbohong, seharusnya tubuhku menolak.
Tapi tubuhku diam saja.
"Sudah berapa lama?" tanyaku.
"Satu setengah tahun," jawabnya tanpa ragu.
Jawaban yang terlalu cepat.
Aku mengangguk pelan, berpura-pura menyerap informasi itu, padahal pikiranku sibuk mencatat hal-hal kecil yang mungkin bisa aku ingat
Tangannya terasa hangat, Tmtidak ada tanda ia sedang gugup. Orang yang berbohong biasanya gelisah.
Arven tidak.
"Orang tuaku?" tanyaku tiba-tiba.
Ekspresinya berubah sesaat. Sangat singkat, hampir tidak terlihat.
"Mereka sudah dihubungi, setahun lalu tepat saat kamu kecelakaan," katanya. " Tapi mereka tidak pernah datang."
Aku memejamkan mata sebentar. Kepalaku mulai berdenyut. Seperti ada sesuatu yang ingin muncul, tapi tertahan di balik pintu besi.
"Seren," katanya pelan. "Kalau kamu lupa aku… tidak apa-apa."
Aku membuka mata lagi.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan buat kamu jatuh cinta lagi dari awal."
Kalimat itu terdengar romantis. Aku tahu seharusnya begitu. Kalau aku membacanya di buku, mungkin aku akan menandainya.
Tapi di sini di ruangan putih dengan bau obat dan suara mesin kalimat itu terdengar seperti janji yang terlalu berat.
Aku menatap wajahnya lagi, lebih lama kali ini.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" kataku.
"Tentu."
"Kalau aku bukan aku yang dulu," ucapku pelan, "kamu masih mau sama aku?"
Ia tidak menjawab langsung.
Ia mengangkat tanganku, menempelkannya ke pipinya. Kulitnya hangat terasa nyaman saat kusentuh
"Aku tidak mencintaimu karena ingatanmu," katanya. "Aku mencintaimu karena kamu."
Jawaban yang sempurna.
Dan entah kenapa, itu membuat dadaku terasa sesak.
Karena aku tidak tahu siapa aku. Dan pria ini mengaku mencintaiku tanpa syarat.
Di luar jendela, langit Jakarta tampak kelabu.
Aku kembali memejamkan mata.
Di balik kelopak mataku, untuk sepersekian detik, muncul bayangan seorang pria lain punggungnya saja. Berdiri membelakangiku. Tangannya terangkat, seolah melambai atau mencoba meraihku.
Aku tersentak membuka mata.
"Ada apa?" Arven langsung bertanya.
"Tidak apa-apa," jawabku cepat.
Aku tidak tahu kenapa aku berbohong. Tapi ada dorongan kuat untuk menyimpan bayangan itu untuk diriku sendiri.
Aku menatap tangannya yang masih menggenggam tanganku.
Jika dia pacarku.. apa aku harus mencintainya?
Mesin di sampingku terus berbunyi.
Dan di antara setiap tarikan napas buatan itu, satu pikiran muncul pelan, mungkin aku harus menjalani hidup ku yang baru bersama dengannya