Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Malam itu, suasana rumah terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah berpacu dengan debaran jantung di dalam ruang tengah. Papa Arga dan Bunda sudah masuk ke kamar mereka sejak tiga puluh menit yang lalu, meninggalkan keheningan yang justru terasa mencekam sekaligus memabukkan bagi dua orang yang masih terjaga di sofa ruang tamu.
Lampu utama sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu sudut berwarna kekuningan yang temaram, memberikan bayangan panjang pada sosok Arsen yang sedang duduk kaku sambil menatap layar ponselnya. Namun, konsentrasinya hancur total saat ia merasakan beban hangat di sampingnya.
Araluna tidak duduk di kursi lain. Ia memilih duduk tepat di samping Arsen, begitu dekat hingga paha mereka bersentuhan. Luna mengenakan kaus tipis yang sedikit kebesaran, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang di bawah cahaya lampu yang minim.
"Kak... lo masih marah soal rendang tadi siang?" bisik Luna, suaranya terdengar sangat lembut, jauh dari kesan ceriwis yang biasa ia tunjukkan di kampus.
Arsen tidak menjawab, namun rahangnya mengeras. Sifat kakunya adalah benteng terakhir yang ia miliki untuk menjaga kewarasannya malam ini "Enggak. Tidur sana, udah malem."
Luna terkekeh kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di telinga Arsen. Ia mulai menggerakkan jemarinya, memainkan ujung kaos Arsen, lalu perlahan naik menyentuh lengan kekar cowok itu. "Bohong. Lo dari tadi nggak fokus sama HP lo. Lo mikirin omongan Clarissa ya? Atau lo mikirin gue?"
"Araluna, jangan mulai," peringat Arsen dengan suara rendah yang dalam.
Luna justru semakin berani. Ia menggeser duduknya hingga ia kini menghadap Arsen sepenuhnya di atas sofa. Ia meletakkan kedua tangannya di pundak Arsen, memaksa cowok itu untuk akhirnya menatap matanya.
"Gue tau lo nahan diri, Kak. Gue bisa liat dari mata lo," goda Luna lagi. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan aroma parfum stroberinya menginvasi ruang napas Arsen. Ia mulai meniup pelan telinga Arsen, seperti yang ia lakukan tempo hari, namun kali ini gerakannya lebih berani dan lambat.
Arsen memejamkan matanya rapat-rapat. "Luna... gue bilang berhenti."
"Kalau gue nggak mau?" tantang Luna. Ia mengecup singkat rahang Arsen, lalu beralih ke sudut bibirnya. "Lo kaku banget sih jadi orang. Padahal di sini cuma ada kita berdua. Nggak ada Papa, nggak ada Clarissa, nggak ada siapa pun."
Sentuhan Luna malam ini terasa berbeda. Tidak ada kejailan kekanak-kanakan; yang ada hanyalah intensitas seorang gadis yang sedang menginginkan perhatian penuh dari pria yang dicintainya. Luna mulai menciumi leher Arsen dengan lembut, membuat napas Arsen yang tadinya teratur kini mulai memburu dan tak beraturan.
Pertahanan Arsen akhirnya runtuh. Sifat kaku yang selama ini ia agungkan hancur berkeping-keping oleh tarikan magnet Araluna yang begitu kuat. Dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, Arsen menarik pinggang Luna hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.
Luna terkesiap, namun ia langsung melingkarkan lengannya di leher Arsen, mengunci posisi mereka.
"Lo yang minta ini, Araluna," bisik Arsen di depan bibir Luna. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat penuh gairah dan kepemilikan yang gelap.
Tanpa menunggu jawaban, Arsen membungkam bibir Luna dengan ciuman yang intens dan penuh tuntutan. Bukan ciuman lembut yang biasa, melainkan ciuman yang menyalurkan seluruh rasa frustrasi, cemburu, dan cinta terlarang yang selama ini ia pendam dalam-dalam di balik status saudara tiri mereka.
Luna membalasnya dengan sama beraninya. Tangannya meremas rambut Arsen, menarik cowok itu lebih dekat seolah ingin menyatu. Di sofa itu, di bawah remangnya cahaya lampu, mereka seolah melupakan segalanya—melupakan norma, melupakan Papa Arga, dan melupakan fakta bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar di mata dunia.
Ruangan itu hanya diisi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kain. Arsen memposisikan Luna di bawahnya, memojokkan gadis itu ke sudut sofa yang empuk. Tangannya yang besar menjelajahi pinggang Luna, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Luna mengerang pelan.
"Lo cuma milik gue, Luna... selamanya," gumam Arsen di sela ciumannya.
"Gue... gue emang milik lo, Arsen..." jawab Luna dengan suara yang nyaris hilang.
Malam itu, mereka melewati garis yang seharusnya tidak pernah mereka injak. Di ruang tengah rumah yang sunyi, Araluna dan Arsen Sergio menciptakan dunia mereka sendiri—dunia yang penuh dengan rahasia gelap, gairah yang meledak, dan cinta yang tak seharusnya ada, namun terasa begitu nyata hingga mereka tak mampu lagi untuk berhenti.
Suasana malam ini bener-bener panas dan penuh risiko ya! Mereka bener-bener berani main api.
Hening malam itu terasa semakin pekat, namun suhu di ruang tengah seolah naik berkali-kali lipat. Araluna benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak lagi peduli pada risiko atau status mereka. Yang ia inginkan hanyalah meruntuhkan seluruh tembok kekakuan Arsen Sergio yang selama ini membuatnya gemas setengah mati.
Tangan Luna bergerak lincah, tidak hanya meremas bahu Arsen, tapi mulai menyelinap masuk ke balik kaos hitam yang dikenakan cowok itu. Ia bisa merasakan otot-otot perut Arsen yang mengeras seketika saat jemarinya yang dingin bersentuhan langsung dengan kulit hangat sang kakak tiri.
"Kak... lo selalu bilang gue gila," bisik Luna dengan suara serak, napasnya menerpa langsung di ceruk leher Arsen. "Sekarang, lo mau ikut gila bareng gue, atau tetap jadi robot kaku yang membosankan?"
Arsen menggeram rendah. Suara itu bukan lagi suara Arsen yang sopan di depan Papa Arga; itu adalah suara seorang pria yang sudah mencapai batas kesabarannya. Ia mencengkeram pinggang Luna begitu kuat hingga gadis itu memekik pelan, namun bukannya menjauh, Arsen malah menarik tubuh Luna hingga benar-benar menempel tanpa celah.
"Lo bener-bener nggak tahu cara berhenti ya, Araluna?" Arsen menatap Luna dengan mata yang menggelap, memancarkan kilat yang belum pernah Luna lihat sebelumnya. "Gue udah coba nahan diri. Gue udah coba inget kalau kita tinggal di bawah atap yang sama. Tapi lo terus-menerus mancing gue."
Arsen tidak lagi memberikan ruang untuk Luna bicara. Ia membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut. Tangannya yang besar menekan tengkuk Luna, memastikan tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka. Di sofa itu, Luna merasa seolah seluruh dunianya hanya berisi aroma Arsen dan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Luna mendongak, membiarkan Arsen menguasai lehernya. Ia merasakan bibir Arsen yang hangat memberikan tanda-tanda kecil di sana—sebuah tanda kepemilikan yang besok pasti akan membuatnya harus memakai syal atau jaket tinggi ke kampus. Tapi Luna tidak peduli. Ia malah semakin menarik kepala Arsen agar tetap di sana.
"Lagi, Kak... jangan berhenti," racun Luna dengan suara yang hampir habis.
Tangan Arsen mulai bergerak lebih berani, menjelajahi setiap lekuk tubuh Luna yang tertutup kaos tipis. Sifat kakunya menguap, digantikan oleh naluri posesif yang meledak-ledak. Ia membalikkan posisi mereka di sofa yang luas itu hingga Luna kini berada di bawah kungkungannya. Rambut hitam Luna tergerai berantakan di atas bantal sofa, wajahnya kemerahan dengan mata sayu yang hanya menatap Arsen.
"Kalau besok lo nggak bisa jalan ke kampus, jangan salahin gue," bisik Arsen dengan nada mengancam yang justru terdengar sangat seksi di telinga Luna.
Arsen menunduk kembali, menciumi bahu Luna yang tersingkap karena kerah kaosnya yang melorot. Namun, tepat saat suasana sedang berada di puncaknya, saat napas keduanya sudah benar-benar memburu dan tangan Arsen hampir saja melangkah lebih jauh...
KREEEKK...
Suara pintu kamar Papa Arga di lantai bawah terbuka pelan. Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat ke arah ruang tengah, disusul suara dehem Papa yang khas.
"Arsen? Luna? Kalian masih di sana?" suara Papa Arga terdengar semakin jelas.
Jantung Luna rasanya ingin copot dari tempatnya. Arsen langsung membeku, tubuhnya menegang hebat. Dengan gerakan yang sangat cepat namun berusaha tetap senyap, Arsen menarik Luna untuk duduk tegak. Ia merapikan kaos Luna yang berantakan dalam hitungan detik, sementara ia sendiri buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak di meja.
Luna dengan gemetar mencoba merapikan rambutnya yang sudah seperti sarang burung, wajahnya masih panas dan jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton.
Papa Arga muncul di ambang ruang tengah, menyipitkan mata karena lampu yang remang-remang. Ia melihat dua anaknya duduk di ujung sofa yang berbeda—jaraknya sekitar satu meter, seolah-olah mereka tidak pernah bersentuhan sebelumnya.
"Belum tidur?" tanya Papa Arga sambil berjalan menuju dapur yang melewati ruang tengah.
"Ini... baru mau naik, Pa. Tadi Luna tanya soal materi kuis besok, jadi saya jelasin sedikit," jawab Arsen. Suaranya kembali menjadi sangat datar dan kaku, seolah-olah pria yang beberapa detik lalu menciumi Luna dengan ganas itu tidak pernah ada.
"Iya, Pa! Kak Arsen jelasinnya susah banget, makanya agak lama!" timpal Luna dengan suara yang sedikit melengking karena gugup.
Papa Arga hanya mengangguk pelan. "Ya sudah, cepat tidur. Besok kalian harus bangun pagi."
Setelah Papa Arga masuk ke dapur dan terdengar suara kucuran air minum, Arsen dan Luna saling lirik. Luna memegangi dadanya yang sesak, sementara Arsen mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir sisa-sisa gairah yang masih tertinggal.
"Masuk kamar lo sekarang, Luna. Sebelum gue berubah pikiran dan beneran bikin lo nggak bisa bangun besok pagi," bisik Arsen dengan nada yang sangat serius namun matanya tetap melirik nakal ke arah bibir Luna.
Luna hanya bisa tersenyum simpul, ia segera bangkit dan lari menaiki tangga dengan perasaan yang campur aduk. Malam ini, mereka selamat. Tapi satu hal yang pasti, Araluna tahu bahwa Arsen tidak akan pernah bisa menjadi "kakak tiri yang kaku" lagi saat mereka hanya berdua.