NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Reuni dari Liang Lahat

Ruangan bunker yang biasanya terasa aman mendadak berubah menjadi ruang pengap penuh tekanan. Alana berdiri mematung, cengkeramannya pada tas astronot Mochi mengerat sampai buku-bukunya memutih. Di hadapannya, pria yang selama ini hanya ia lihat dalam bingkai foto hitam-putih di atas meja kerja Arkan, kini berdiri nyata dengan sebatang cerutu yang belum dinyalakan di tangannya.

Adiwangsa Arkananta. Sosok legenda, "The Golden Boy" dari dinasti Arkananta yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan rem blong dua puluh tahun lalu.

"Pa... Papa?" Suara Arkan pecah, sesuatu yang belum pernah Alana dengar. Arkan yang selalu kokoh layaknya karang, kini tampak goyah, matanya berkaca-kaca menatap pria yang sangat mirip dengannya itu.

Adiwangsa melangkah maju, cahaya lampu neon bunker memantul di jam tangan emasnya yang mahal. "Dua puluh tahun adalah waktu yang lama untuk bersembunyi di balik bayang-bayang, Arkan. Tapi melihatmu sekarang... memimpin perusahaan dengan tangan besi namun hati yang mulai melunak karena gadis ini, aku rasa pengorbananku tidak sia-sia."

"Pengorbanan?!" Alana meledak, sisi "julid"-nya melompat keluar melampaui rasa takutnya. "Om... eh, Papa Mertua yang Ternyata Hidup Lagi... Om tahu nggak? Anak Om ini hampir gila! Dia hampir dibom, dikhianati sekretarisnya, dikejar-kejar mafia, dan sekarang Om dateng-dateng cuma bilang 'tidak sia-sia'? Selama dua puluh tahun Om ke mana aja?! Main petak umpet sama malaikat maut?!"

Adiwangsa menoleh ke arah Alana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis—senyum yang sama persis dengan gaya Arkan saat sedang meremehkan lawan bisnis. "Mulutnya tajam, Arkan. Persis seperti Larasati muda. Pantas saja kamu bertekuk lutut."

"Jawab pertanyaanku, Pa!" Arkan maju satu langkah, menutupi tubuh Alana. "Kenapa Papa membiarkan kami percaya kalau Papa sudah mati? Kenapa Papa membiarkan Kakek menghancurkan semuanya?"

"Karena Kakekmu tidak akan pernah berhenti mengejarku jika aku masih hidup, Arkan," suara Adiwangsa mendadak berat. "Satu-satunya cara untuk menghancurkan 'The Board' dari dalam adalah dengan menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri. Aku menghabiskan dua dekade membangun jaringan tandingan di London dan Zurich. Julian Black? Dia hanyalah pion kecil yang aku biarkan berkuasa agar aku bisa melacak aliran dana utamanya."

Ariel, yang sejak tadi siaga dengan tangannya di balik jaket, akhirnya angkat bicara. "Jadi... Anda adalah sosok misterius yang selama ini membiayai operasi intelijen Ayah Malik? Anda yang disebut sebagai 'The Ghost' di pasar gelap Eropa?"

Adiwangsa menatap Ariel dengan pandangan menilai. "Ariel Pramudya. Atau haruskah aku memanggilmu keponakanku? Ibumu, Larasati, adalah wanita hebat. Dan kamu... adalah instrumen yang aku butuhkan untuk memastikan dana ini tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah di dewan direksi."

"Tunggu, tunggu!" Alana menyela, tangannya membentuk tanda silang. "Jadi ini ceritanya semua orang tua di sini pada pura-pura mati demi tugas negara? Ini keluarga miliarder atau perkumpulan agen rahasia pensiunan sih? Mas Arkan, kalau besok Om Adiwangsa bilang dia sebenernya punya pangkalan militer di bulan, aku beneran nggak kaget lagi."

"Alana, fokus," bisik Arkan, meskipun tangannya masih gemetar.

"Aku fokus, Mas! Tapi ini nggak masuk akal! Kalau Papa Mas hidup, berarti Dana Perwalian ini..."

"Berada dalam bahaya yang lebih besar," potong Adiwangsa. Ia menekan sebuah tombol di dinding bunker yang seharusnya hanya diketahui oleh Arkan. Sebuah peta digital lereng Gunung Merapi muncul di layar. "Bambang—guru SD-mu itu, Alana—dia bukan sekadar guru. Dia adalah mantan kepala bagian keamanan finansial Arkananta Group. Dia yang memegang 'Kill Switch' untuk seluruh aset perbankan kita. Dan saat ini, faksi 'The Remnant' sedang menuju ke desanya."

Suasana kembali mencekam. Adiwangsa menjelaskan bahwa kematian Kakek Waluyo adalah tanda dimulainya perburuan terakhir. Tanpa Bambang, Dana Perwalian tidak bisa dikunci, dan "The Remnant" bisa membobolnya dengan paksa menggunakan superkomputer yang mereka miliki di Singapura.

"Kita berangkat ke Yogyakarta sekarang," putus Adiwangsa.

"Kita?" Arkan menaikkan alisnya.

"Ya, kita. Aku tidak akan membiarkan kalian mengacaukan rencana yang sudah aku bangun selama dua puluh tahun. Arkan, siapkan jet. Ariel, gunakan jalur logistikmu. Dan Alana..." Adiwangsa menatap Alana tajam. "Jangan bawa kucing itu. Dia terlalu mencolok."

Mochi langsung menggeram pelan, mata emasnya kembali berpendar sesaat.

"Dih! Jangan hina Mochi ya, Om Papa!" Alana membela kucingnya, menggendong Mochi dengan posesif. "Mochi ini detektor bom, GPS berjalan, dan temen curhat aku paling setia. Kalau Mochi nggak ikut, aku nggak ikut. Dan kalau aku nggak ikut, Mas Arkan nggak bakal tahu cara ngadepin Pak Bambang yang galak kalau muridnya nggak ngerjain PR!"

Arkan menatap ayahnya, lalu menatap istrinya. Ia menarik napas panjang. "Mochi ikut. Dan Papa... Papa ikut sebagai penasihat, bukan pemimpin. Ini zamanku sekarang."

Adiwangsa terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—tawa yang kali ini terdengar lebih manusiawi. "Baiklah. Mari kita lihat bagaimana 'Zaman Arkan' menyelesaikan masalah ini."

Beberapa jam kemudian, mereka sudah mendarat di Bandara YIA, Yogyakarta. Langit malam Merapi terlihat angker dengan awan merah tipis di puncaknya. Mereka menggunakan dua mobil jeep tangguh untuk menuju Desa Sukomulyo yang terletak di ketinggian.

Alana duduk di kursi belakang bersama Larasati yang juga ikut dalam misi ini. Di depan, Arkan menyetir dengan wajah serius. Di mobil belakang, Ariel bersama Adiwangsa.

"Bu... Ibu beneran nggak tahu kalau Papa Arkan masih hidup?" tanya Alana lirih.

Larasati menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan pinus. "Ibu punya firasat, Alana. Ada beberapa transaksi di rekening yayasan yang jalurnya terlalu rapi untuk dilakukan oleh orang asing. Tapi Ibu tidak pernah membayangkan dia akan muncul secepat ini. Adiwangsa adalah pria yang penuh rencana. Kamu harus hati-hati, Alana. Di dunia Arkananta, kasih sayang sering kali dibungkus dengan strategi."

Alana menelan ludah. Ia meraba kalung permata biru "The Blue Phoenix" yang tersembunyi di balik bajunya. Ia merasa seperti membawa beban seluruh dunia di pundaknya.

Mereka sampai di Desa Sukomulyo saat dini hari. Suasananya sepi, hanya ada suara jangkrik dan bau tanah basah. Mereka berhenti di depan sebuah warung kelontong sederhana dengan papan nama usang: "Warung Barokah - Pak Bambang".

Alana turun dari mobil, hatinya berdegup kencang. Ia ingat Pak Bambang sebagai guru yang sabar namun sangat disiplin. Siapa sangka guru yang dulu sering menghukumnya berdiri di depan kelas karena lupa perkalian itu kini memegang nasib miliaran dolar.

"Biar aku yang masuk duluan," ucap Alana. "Kalau kalian yang masuk dengan muka sangar kayak gitu, Pak Bambang pasti langsung mencet tombol penghancur karena ngira dirampok."

Arkan mengangguk setuju. Alana melangkah menuju pintu kayu warung tersebut dan mengetuknya pelan.

"Pak... Pak Bambang? Ini Alana, Pak. Alana yang dulu sering dihukum gara-gara nulis 'Sefnawati' di meja kelas..."

Hening sejenak. Lalu terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang pria tua dengan kacamata minus tebal dan kaos dalam putih. Ia menatap Alana dari balik kacamata, lalu matanya beralih ke arah mobil-mobil mewah di belakang Alana.

"Alana... Aku sudah tahu kamu akan datang," ucap Pak Bambang dengan nada tenang, sangat kontras dengan situasi darurat mereka. "Tapi aku tidak menyangka kamu akan membawa 'hantu' dari masa lalu juga."

Mata Pak Bambang menatap tajam ke arah Adiwangsa yang baru turun dari mobil belakang.

"Bambang... sudah lama," sapa Adiwangsa datar.

"Terlalu lama, Adiwangsa. Dan sepertinya kamu masih sama—membawa badai ke mana pun kamu melangkah," Pak Bambang membuka pintu lebar-lebar. "Masuklah. Sebelum 'tamu' yang lain datang."

Di dalam warung yang penuh dengan aroma kopi dan sabun cuci itu, Pak Bambang mengeluarkan sebuah laptop tua yang kelihatannya sudah berumur belasan tahun. Namun, saat ia menyalakannya, antarmuka yang muncul adalah enkripsi tingkat militer yang sangat rumit.

"Dana Perwalian itu hampir aktif, tapi protokol Malik memerintahkan aku untuk melakukan 'Uji Nurani' terakhir," ucap Pak Bambang. Ia menatap Alana. "Alana, jika dana ini cair, kamu punya kekuatan untuk mengubah wajah negeri ini. Tapi kamu juga punya kekuatan untuk menghancurkannya. Pertanyaanku hanya satu: Jika kamu harus memilih antara menyelamatkan panti asuhanmu atau menyelamatkan nyawa suamimu, mana yang akan kamu pilih?"

Alana tertegun. "Pak... itu pertanyaan apa sih? Masa nggak ada pilihan 'C: Selamatkan Keduanya'?"

"Tidak ada C di dunia nyata, Alana," sahut Pak Bambang tegas.

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah gerbang desa. Cahaya merah api menerangi kaca jendela warung.

"Mereka di sini!" Ariel berteriak dari depan pintu sambil memegang senjatanya. "Tim 'The Remnant'! Mereka menggunakan pelontar granat!"

"Alana, jawab!" desak Pak Bambang. "Pilihannya sekarang! Karena sistem ini butuh konfirmasi moral sebelum aku bisa menguncinya!"

Arkan menarik Alana ke balik meja kasir saat peluru mulai menembus dinding kayu warung. "Lana, jangan dengerin! Jawab asal aja!"

"Enggak bisa, Mas! Pak Bambang tahu kalau aku bohong!" Alana panik. Ia menatap Pak Bambang, lalu menatap Arkan, lalu menatap ke arah luar di mana api mulai melalap rumah warga desa yang tidak berdosa.

"Aku pilih..." Alana mengambil napas panjang, matanya berkilat penuh amarah. "Aku pilih untuk menghancurkan Dana itu sekalian kalau emang harus mengorbankan salah satunya! Aku nggak mau harta yang dibangun di atas tumbal nyawa! Kalau Dana itu nggak bisa nolong orang tanpa bikin orang lain mati, berarti Dana itu sampah!"

Pak Bambang tertegun. Sebuah senyum tipis muncul di wajah tuanya. "Jawaban yang sangat 'julid' tapi jujur. Sesuai harapan Malik."

Jari Pak Bambang menekan tombol Enter. Layar laptop berubah menjadi hijau sepenuhnya. "Sistem terkunci. Dana Perwalian Global kini sepenuhnya milik Yayasan Alana, dan tidak ada satu pun Arkananta yang bisa menyentuhnya—termasuk kamu, Adiwangsa."

Adiwangsa hanya terdiam, wajahnya sulit ditebak.

Namun, di luar, pertempuran semakin menggila. Sebuah helikopter tempur tanpa logo muncul dari balik kabut Merapi, mengarahkan moncong meriamnya tepat ke arah warung Pak Bambang.

"Lana! Keluar sekarang!" Arkan menarik Alana lari menuju pintu belakang tepat saat sebuah rudal meluncur dari helikopter.

BOOOM!

Warung kelontong itu hancur berkeping-keping. Alana terlempar ke semak-semak, telinganya berdenging. Saat ia membuka mata, ia melihat sesosok pria keluar dari helikopter yang mendarat darurat di tengah desa.

Pria itu memakai topeng perak, tapi Alana mengenali postur tubuhnya. Itu adalah Bayu, tapi dia tidak lagi terlihat seperti orang gila atau narapidana. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung gas saraf.

"Reuni yang meriah, bukan?" Suara Bayu terdengar melalui pengeras suara helmnya. "Kakek mungkin sudah mati, tapi dia meninggalkan hadiah perpisahan yang sangat spesial untuk kalian semua. Selamat datang di akhir riwayat Arkananta."

Alana menoleh ke arah Mochi yang kini berdiri di depannya, mata emasnya bersinar sangat terang sampai menerangi kegelapan. "Mochi... lakukan sesuatu!" teriak Alana.

1
Afsa
Sepertinya ada penghianat atau penyusup di kediaman Arkan
Afsa
Keren Kak.. seperti nya seru
Siti Naimah
serem banget yang dihadapi Alana..
semoga Alana bisa melewati ini semua
Siti Hodijah Enjen
haha pembawaannya lucu aku suka😄
Sefna Wati: 😄😄🤭
lanjut baca terus ya kak kalau suka,terimakasih sudah mampir dan baca ceritaku...
mampir juga di novel lainnya ya siapa tau suka 🙏🙏🙏🥰
total 1 replies
deepey
kadang mulut arkan juga setajam silet
Sefna Wati: iya bener
tolong dong Arkan... mulutmu dijaga😁😁😁
total 1 replies
deepey
jadi alana pasti bingung...
Sefna Wati: bener banget,pasti bingung banget ya kak jadi Alana ini🤣
total 1 replies
deepey
saling support ya kk
Sefna Wati: oke kk💪💪💪💪
total 1 replies
deepey
alana beruntung banget ketemu arkhan
Sefna Wati: iya bener kak...
makasih ya sudah mampir dan jangan lupa tinggalkan like jika kakak menyukai ceritanya😁😁🤫
total 1 replies
deepey
semangat Alana. 💪
Sefna Wati: 💪💪💪💪semangat💪💪💪💪💪


jangan lupa mampir di cerita yang lain ya kak
mana tau kkk juga suka ceritanya🙏🙏🙏
total 1 replies
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
deepey: semangat berkarya ya ka. salam kenal
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!