Ava Seraphina Frederick (20) memiliki segalanya kekayaan, kekuasaan, dan nama besar keluarga mafia. Namun bagi Ava, semua itu hanyalah jeruji emas yang membuatnya hampa.
Hidupnya runtuh ketika dokter memvonis usianya tinggal dua tahun. Dalam putus asa, Ava membuat keputusan nekat, ia harus punya anak sebelum mati.
Satu malam di bawah pengaruh alkohol mengubah segalanya. Ava tidur dengan Edgar, yang tanpa Ava tahu adalah suami sepupunya sendiri.
Saat mengetahui ia hamil kembar, Ava memilih pergi. Ia meninggalkan keluarganya, kehidupannya dan juga ayah dari bayinya.
Tujuh tahun berlalu, Ava hidup tenang bersama dengan kedua anaknya. Dan vonis dokter ternyata salah.
“Mama, di mana Papa?” tanya Lily.
“Papa sudah meninggal!” sahut Luca.
Ketika takdir membawanya bertemu kembali dengan Edgar dan menuntut kembali benihnya, apakah Ava akan jujur atau memilih kabur lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rawat VIP itu. Hanya ada bunyi ritmis dari alat pemantau jantung yang seolah menjadi penanda napas di ruangan yang didominasi warna putih tersebut.
Di sana, terbaring dua sosok yang memiliki garis wajah hampir serupa, keduanya masih terlelap dalam pengaruh bius pascaoperasi transplantasi sumsum tulang belakang.
Ava melangkah dengan kaki yang terasa berat. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik: brankar di sisi kiri ruangan. Ia segera menghampiri Luca, menyentuh kening putranya yang masih pucat dengan tangan gemetar.
"Sayang, Mama di sini. Terima kasih sudah bertahan sampai detik ini. Mama janji mama tidak akan membuatmu kesakitan lagi, ya," bisik Ava dengan suara yang pecah. Ia menciumi jemari mungil Luca yang terpasang alat medis, mengabaikan sosok lain yang terbaring hanya beberapa meter di sampingnya.
Sementara itu, Lily tidak mengikuti langkah ibunya. Gadis kecil itu justru berjalan perlahan menuju ranjang di sisi kanan. Ia menatap wajah Edgar yang tampak sangat tidak berdaya, jauh dari kesan pria kuat yang ia temui di kantor tempo hari.
Lily meraih tangan Edgar yang besar, lalu menempelkan pipi chubby-nya di sana. "Papa, terima kasih sudah jadi obat ajaib buat Luca," gumamnya pelan.
Melihat sang ibu yang seolah menganggap Edgar tidak ada, Lily menoleh. "Mama, sini. Lihat Papa," panggil Lily dengan suara yang menggema di ruangan sunyi itu.
Ava hanya melirik sekilas tanpa mengubah posisinya.
"Mama di sini menjaga Luca, Lily. Kamu duduklah di kursi itu."
"Tapi Papa juga sakit, Mama. Papa butuh kita," bantah Lily, matanya yang besar menatap Ava dengan pandangan menuntut.
"Mama tidak mau pegang tangan Papa? Wajah Papa pucat sekali, seperti hantu. Lily takut Papa kedinginan," ucap gadis kecio itu lagi.
"Papa punya banyak perawat yang akan mengurusnya, Lily. Dia orang kaya, dia bisa mendapatkan perawatan terbaik," sahut Ava dengan nada datar, meski dalam hatinya ada gejolak yang sangat hebat.
Ava kasihan melihat keadaan Edgar. Tapi mau bagaimana lagi. Jika ingat dia suami sepupunya sendiri, rasa jengkel Ava kembali muncul.
Lily turun dari pinggiran ranjang Edgar, lalu menghampiri Ava dan menarik ujung bajunya.
"Mama, kenapa Mama galak sekali pada Papa? Padahal papa sudah kasih darah dan tulang buat Luca. Kalau tidak ada papa, Luca kita tidak akan bangun lagi, kan?"
"Lily, bukan begitu–"
"Mama tidak boleh egois!" potong Lily.
Ava terdiam. Kalimat polos putrinya itu menampar harga dirinya yang setinggi langit. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya.
"Bukan egois, Sayang. Mama hanya lelah."
"Kalau lelah, Mama duduk di dekat papa saja. Ranjang Ppapa besar. Cukup untuk kalian berdua sementara ranjang Luca sangat kecil," ucap Lily cerdas, mencoba menjodohkan kedua orang tuanya dengan cara yang naif.
"Ayo, Ma. Lihat wajah papa sebentar saja. Papa tadi bilang papa sayang kita. Apa mama tidak sayang papa?"
"Lily, cukup," tegur Ava, suaranya sedikit meninggi namun segera ia rendahkan karena takut mengganggu Luca. "Ada hal-hal yang tidak kamu mengerti. Menjadi pahlawan hari ini tidak menghapus semua luka di masa lalu."
Lily cemberut, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Papa sudah jadi pahlawan buat Luca! Mama selalu bilang kita harus berterima kasih kalau ditolong orang. Kenapa Mama tidak mau bilang terima kasih pada papa? Apa karena papa bukan orang baik?"
Ava terpaku. Ia menatap mata Lily yang jernih, lalu perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arah Edgar. Untuk pertama kalinya dalam ruangan itu, Ava benar-benar melihat pria itu.
Edgar tampak begitu rapuh. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, dan garis rahangnya yang tegas tampak mengendur dalam ketidaksadaran.
"Mama..." panggil Lily lagi, kali ini dengan nada memohon yang sangat halus. "Lihat mata papa yang tertutup itu. Dia pasti sedang mimpi kita, Ma. Sini, Ma. Pegang tangan papa sebentar saja."
Ava menyerah. Ia melepaskan tangan Luca sejenak dan berdiri di antara kedua ranjang itu, sebuah jembatan antara masa kini dan masa lalu yang kelam.
Ia mendekat ke ranjang Edgar, namun tangannya tetap ia sembunyikan di balik saku coat-nya.
"Dia melakukan tugasnya sebagai seorang ayah, Lily. Itu sudah seharusnya," ujar Ava dingin, mencoba menutupi rasa iba yang mulai merayap di hatinya.
"Tapi Papa kelihatannya kesepian, Ma," bisik Lily, kembali menggenggam tangan Edgar. "Tangan papa besar sekali, tapi terasa sangat sepi. Mama tidak mau memaafkan papa?"
Ava menatap wajah Edgar lebih dekat. Ia melihat bekas luka kecil di pelipis Edgar yang baru ia sadari. Kenangan malam tujuh tahun lalu berputar seperti film usang di kepalanya. Rasa marah dan sakit hati bertabrakan menjadi satu.
"Memaafkan itu sulit, Lily. Terkadang, rasa sakitnya lebih besar daripada rasa terima kasih," jawab Ava lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada putrinya.
"Tapi Luca butuh papa. Lily juga," sahut Lily dengan suara yang bergetar. "Lily mau kita seperti teman-teman Lily. Punya papa yang mengantar sekolah. Mama jangan keras kepala terus, nanti papa pergi lagi bagaimana?"
Ava tersenyum getir. Ia mengusap rambut Lily dengan sayang.
"Mama tidak akan membiarkan siapa pun pergi lagi, Sayang. Tapi untuk sekarang, biarkan Mama seperti ini. Menatapnya dari sini sudah cukup sulit bagi Mama."
Lily menghela napas, ia kembali bersandar di sisi ranjang Edgar.
"Ya sudah. Kalau Mama tidak mau pegang tangan papa, biar Lily saja yang kasih kekuatan buat papa. Papa harus cepat bangun supaya bisa lihat kalau Mama sebenarnya khawatir, tapi Mama malu."
Ava terkejut mendengar ucapan Lily. "Mama tidak malu, Lily!"
"Malu! Buktinya wajah Mama merah!" seru Lily sambil tertawa kecil di tengah kesedihan mereka.
Ava hanya bisa menggelengkan kepala, kembali duduk di samping Luca. Matanya kini tak lagi hanya tertuju pada putranya, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria yang sedang berjuang melawan rasa sakit pascaoperasi itu.
Di dalam hatinya, sebuah doa tak terucap mulai mengalir. Doa untuk kesembuhan mereka berdua, dan mungkin, doa untuk kesembuhan hatinya sendiri.
"Buka matamu, Ed..." lirih Ava dengan berbisik. Tak mau Lily mendengarnya.
pelan2 aja
lanjut Thor semangat 💪 salam sehat selalu ya ❤️🙂🙏
semangat kak senja.
up lagi😃😁😁