Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Di Koridor Kampus
Kitty menemukan momentumnya saat ia secara tidak sengaja melihat Guzzel keluar dari sebuah apotek di pinggiran kota dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar menggenggam kantong plastik kecil. Dengan koneksinya di kalangan influencer kampus dan rasa irinya yang mendidih, Kitty menyusun sebuah narasi yang mematikan.
Kitty Valencia, yang merasa harga dirinya diinjak-injak sejak pengusirannya di malam Gala, tidak bisa membiarkan Guzzel hidup dalam ketenangan, meskipun itu adalah ketenangan yang rapuh.
Pagi itu, sebuah unggahan anonim di forum mahasiswa Columbia meledak.
"Si Angsa Suci ternyata mengandung telur busuk. D.G.D tertangkap basah membeli test pack. Mengingat kelakuannya yang 'liar' beberapa minggu lalu di pelukan banyak pria, siapa yang bisa menebak siapa ayahnya? Apakah Justine? Ataukah salah satu pria dari bar yang ia datangi? Kasihan keluarganya, dinasti bisnis yang dibangun dengan martabat kini hancur karena rahim yang tidak terjaga."
Berita itu menyebar seperti api di atas tumpahan bensin. Tidak butuh waktu lama bagi media tabloid New York untuk mencium aroma skandal dari keluarga Guzzalie. Sore harinya, gerbang kampus Columbia sudah dipenuhi oleh wartawan. Judul berita utama terpampang nyata:l, "Putri Mahkota Guzzalie: Skandal Kehamilan di Balik Gaya Hidup Liar."
Guzzel berjalan menembus kerumunan mahasiswa dengan kepala tegak, meskipun tangannya dingin membeku. Setiap bisikan terasa seperti sayatan pisau. "Lihat, itu dia," "Kira-kira berapa pria yang sudah tidur dengannya?" "Kasihan sekali ayahnya."
Guzzel terus berjalan menuju perpustakaan, tempat ia berharap bisa menemukan sedikit kesunyian. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah sosok tinggi besar menghadang jalannya di lorong yang sepi.
Maximilien Vance berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi dingin, wajahnya tampak hancur, dipenuhi kemarahan dan kecemasan yang meluap-luap.
Berita itu telah sampai ke telinganya, dan bagi Max, itu adalah tamparan yang membuatnya kehilangan akal sehat.
Max mencengkeram bahu Guzzel, menariknya ke dalam sebuah ruang kelas kosong dan mengunci pintunya.
"Apa maksud dari berita ini, Guzzel?!" suara Max menggelegar, bergetar karena emosi. "Kau hamil?"
Guzzel hanya menatap Max dengan mata yang kosong. Kelelahan emosionalnya telah mencapai batas. "Bukan urusanmu, Max. Kau sudah membuangku, ingat?"
"Bukan urusanku?!" Max berteriak, napasnya memburu. "Berita itu bilang kau tidur dengan banyak pria saat kau bersikap liar kemarin! Katakan padaku, Guzzel! Katakan padaku dengan jujur..." Max menjeda, suaranya mengecil namun terdengar sangat menyakitkan.
"Siapa ayah dari bayi itu? Apakah itu anak Justine? Atau pria asing yang kau cium di bar??"
PLAK!
Suara tamparan itu bergema keras di ruangan yang sunyi tersebut. Guzzel menampar Max dengan seluruh tenaga yang ia miliki, hingga wajah Max berpaling ke samping.
Tangan Guzzel gemetar hebat, dan matanya kini menyala oleh api kemarahan yang paling murni.
"Kau..." suara Guzzel rendah dan bergetar karena benci. "Kau adalah pria paling menjijikkan yang pernah aku kenal, Maximilien Vance."
Guzzel melangkah maju, menekan dadanya ke dada Max, menatap pria itu tepat di matanya. "Kau bertanya siapa ayahnya?
Setelah Malam-malam yang kita lalui di Paris? Setelah malam di apartemenmu di mana kau menangis di pelukanku?"
Guzzel tertawa pahit, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kau yang menghancurkanku, Max. Kau yang membuatku ingin mati setiap kali aku bangun tidur. Dan sekarang, kau berdiri di sini, menuduhku tidur dengan pria lain setelah kau sendiri yang memperlakukanku seperti sampah?"
Max tertegun. Kata-kata Guzzel menghantamnya lebih keras daripada tamparan tadi. Dia melihat kehancuran di mata Guzzel, dan dia melihat kebenaran yang selama ini ia coba sangkal.
"Guzzel, aku..."
"Cukup!" potong Guzzel. "Jangan pernah sebut namaku lagi. Kau ingin tahu siapa ayahnya? Bayi ini tidak punya ayah. Dia hanya punya aku.
Baginya, ayahnya sudah mati di hari dia meninggalkan ibunya di Paris hanya karena penasaran."
Guzzel mendorong Max menjauh dan berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Kau takut akan ancaman ayahmu, Max? Kau takut kehilangan hartamu? Selamat. Kau sudah berhasil menyelamatkan semuanya, kecuali jiwamu sendiri.
Dan sekarang, kau juga kehilangan hakmu atas apa yang ada di rahimku."
Guzzel keluar dari ruangan itu, meninggalkan Max yang jatuh berlutut di lantai. Max menutupi wajahnya dengan kedua tangan, terisak tanpa suara.
Dia baru saja menyadari bahwa dalam usahanya yang pengecut untuk "melindungi" Guzzel dari ayahnya, dia justru menjadi monster yang paling menyakiti wanita itu.
Dia telah menuduh wanita yang ia cintai berselingkuh, padahal janin itu adalah buah dari satu-satunya cinta yang ia miliki.
Di luar, kilatan kamera wartawan menyambut Guzzel. Namun Guzzel terus berjalan, melindungi perutnya dengan tasnya, berjanji dalam hati bahwa dia akan melawan seluruh dunia, termasuk Maximilien Vance, demi nyawa kecil yang kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap hidup.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰