NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: tamat
Genre:Action / Mantan / Komedi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kenangan

Ketegangan yang dibangun selama sepuluh tahun akhirnya mencapai titik didihnya. Mahendra, sang pemangsa ulung, tidak lagi bermain di balik meja mahoni. Ia telah menarik pedang terakhirnya: keselamatan Anya. Bagi Reza, bisnis bisa dibangun kembali, harta bisa dicari, namun Anya adalah satu-satunya alasan mengapa ia tidak menarik kursi biru itu sepuluh tahun yang lalu.

Toko bunga organik "Anya’s Garden" yang biasanya dipenuhi aroma mawar dan melati, sore itu hanya menyisakan bau anyir kegelisahan. Pot-pot bunga terguling, dan di atas meja kasir, sebuah ponsel masih menyala menampilkan panggilan tak terjawab dari Reza. Di sampingnya, karangan bunga duka cita dengan nama Reza tergeletak sebagai pesan yang tak terbantahkan.

Reza sampai di lokasi dengan napas yang memburu. Aris sudah berada di sana, sedang memeriksa rekaman CCTV dari toko sebelah.

"Dua pria, Mas. Menggunakan van hitam tanpa plat nomor. Mereka sangat rapi, tidak ada sidik jari, tidak ada jejak fisik yang tertinggal," Aris melaporkan dengan suara yang ditekan serendah mungkin agar tidak menambah kepanikan Reza.

Ponsel Reza bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isinya bukan teks, melainkan sebuah koordinat GPS dan sebuah foto: Anya yang sedang terikat di sebuah kursi di tengah ruangan yang sangat ia kenali. Ruangan itu memiliki jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

"Ini... kantor lamaku," bisik Reza. "Gedung Aditya Tech yang disita Mahendra sepuluh tahun lalu."

Gedung itu sekarang sudah kosong, terbengkalai karena sengketa lahan yang panjang. Bagi Mahendra, tidak ada tempat yang lebih sempurna untuk menghancurkan Reza selain di tempat di mana Reza pertama kali merasa hancur.

"Kita tidak bisa memanggil polisi sekarang, Mas. Mahendra pasti sudah menempatkan orang di setiap sudut," Aris memperingatkan saat mereka berada di dalam mobil menuju lokasi.

"Aku tahu, Ris. Dia ingin aku datang sendiri. Dia ingin melihatku merangkak kembali ke tempat kegagalanku," Reza mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Budi, kamu tetap di markas. Siapkan tim IT. Jika aku tidak memberi kabar dalam satu jam, lepaskan semua data investigasi kita ke publik. Biar Mahendra hancur bersama rahasianya, meskipun aku tidak selamat."

Sesampainya di gedung tua itu, pemandangannya sungguh menyedihkan. Gedung yang dulunya merupakan simbol modernitas kini tampak seperti kerangka raksasa yang dihuni hantu masa lalu. Coretan grafiti menutupi dinding marmer, dan kaca-kaca jendela banyak yang pecah.

Reza melangkah masuk ke lobi. Suara langkah kakinya bergema di ruangan yang luas dan sunyi. Aris menyelinap lewat tangga darurat belakang, sementara Reza mengambil jalur utama sesuai permintaan Mahendra.

"Naik ke lantai 20, Reza. Lift nomor tiga masih berfungsi... hanya untukmu," suara Mahendra terdengar dari pelantang suara gedung yang sudah rusak, suaranya parau dan penuh distorsi.

Di dalam lift yang bergerak lambat, Reza merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia melihat bayangan dirinya di pintu lift yang kusam. Ia melihat pria yang berbeda dari sepuluh tahun lalu. Pria ini tidak lagi membawa ambisi kosong, tapi membawa tanggung jawab sebagai suami, ayah, dan pemimpin ribuan kurir.

Pintu lift terbuka. Lantai 20 adalah bekas ruang kerja utama Reza. Di tengah ruangan yang luas, Anya duduk terikat di sebuah kursi kayu. Di belakangnya stands Gery, memegang sebuah pisau kecil dengan tatapan mata yang sudah tidak waras. Di sudut lain, Mahendra duduk di sofa kulit tua, memegang segelas wiski seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan teater.

"Selamat pulang, Reza," sapa Mahendra tenang. "Bagaimana rasanya kembali ke tempat di mana kamu kehilangan segalanya?"

Reza tidak menatap Mahendra. Matanya terkunci pada Anya. Anya menangis, namun ia menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Reza tidak menyerahkan apa pun.

"Lepaskan dia, Pak Mahendra. Urusanmu denganku, bukan dengannya," kata Reza, suaranya tetap terkendali meski amarah membakar dadanya.

"Urusanku adalah keamanan masa depanku, Reza," Mahendra berdiri, berjalan mendekati Reza. "Serahkan semua bukti asli investigasimu. Hapus semua data yang ada di server koperasimu. Tanda tangani surat pernyataan bahwa semua tuduhanmu adalah fitnah. Maka Anya bisa pulang untuk memasak makan malammu."

"Dan jika aku melakukannya, kamu akan tetap membunuh kami agar tidak ada saksi, kan?" balas Reza cerdas. "Aku bukan lagi pemuda naif yang bisa kamu tipu dengan kontrak bodohmu sepuluh tahun lalu."

Gery mulai tertawa histeris. "Dulu aku gagal membunuhmu karena Aris! Sekarang, tidak ada Aris di sini, Za ! Hanya ada kita!"

Tiba-tiba, lampu ruangan itu berkedip dan mati total.

Di kegelapan, suara gaduh terdengar. Aris telah berhasil memutus aliran listrik gedung dari panel pusat di lantai bawah. Namun, ini bukan sekadar kegelapan biasa. Aris menggunakan pengasap (smoke bomb) yang ia lemparkan lewat ventilasi udara.

"Gery! Jangan bergerak!" teriak Mahendra panik.

Reza menggunakan kacamata night vision cadangan yang ia bawa di jaket kurirnya peralatan yang biasa digunakan kurir K.KJ untuk pengiriman malam di daerah hutan. Ia bergerak cepat menuju Anya.

Gery mencoba mengayunkan pisaunya secara buta di tengah asap, namun sebuah tendangan keras menghantam lengannya. Aris muncul dari balik asap, melumpuhkan Gery dengan teknik kuncian leher yang mematikan.

Reza segera memotong tali yang mengikat Anya. "Anya, lari ke lift! Liftnya punya baterai darurat!"

"Bagaimana denganmu, Za?!" Anya memeluknya erat dalam sekejap.

"Aku punya urusan yang harus diselesaikan. Pergi!"

Saat Anya berhasil masuk ke lift bersama salah satu tim keamanan K.KJ yang menyelinap bersama Aris, lampu darurat di ruangan itu menyala redup. Mahendra berdiri di sana, sendirian, sementara Gery sudah terkapar di lantai.

Mahendra tampak sangat tua di bawah cahaya lampu merah darurat. Ia tidak lagi tampak seperti predator. Ia tampak seperti sisa-sisa zaman yang sudah lewat.

"Kamu pikir kamu menang, Reza?" Mahendra terkekeh, meski tangannya gemetar. "Gedung ini milikku. Dunia ini milik orang-orang yang punya uang."

"Dunia ini milik orang yang punya hati, Pak Mahendra," Reza berjalan mendekat, meletakkan sebuah alat perekam kecil di atas meja. "Semua pembicaraan kita sejak aku masuk lift tadi sudah disiarkan langsung ke server kepolisian dan ribuan kurirku lewat aplikasi 'Keluarga Kurir'. Saat ini, jutaan orang sedang menonton keruntuhanmu."

Mahendra jatuh terduduk. Ia menyadari bahwa di era transparansi digital, tembok uangnya tidak lagi bisa melindunginya dari kebenaran.

Di bawah gedung, suara sirine polisi menderu. Ribuan kurir K.KJ dengan motor-motor mereka sudah mengepung gedung, membentuk pagar betis manusia yang tidak akan membiarkan Mahendra kabur.

Reza berjalan keluar dari gedung lamanya tanpa menoleh lagi. Di lobi, ia memeluk Anya dan Fajar yang baru saja sampai. Ia melihat gedung Aditya Tech untuk terakhir kalinya. Gedung itu mungkin pernah menjadi tempat ia ingin mati, tapi malam ini, gedung itu menjadi saksi bahwa ia telah benar-benar hidup.

kemudian Mahendra dan Gery digiring keluar dengan borgol di tangan, sementara matahari mulai terbit di ufuk timur Jakarta. Namun, di tengah kemenangan itu, Reza merasakan sesuatu yang aneh di sakunya. Sebuah kunci kecil yang diletakkan Mahendra secara diam- diam saat konfrontasi tadi, dengan secarik kertas bertuliskan: "Ini bukan akhir. Ini hanyalah kunci menuju rahasia yang lebih besar tentang orang tuamu."

1
magda lena
kalau di buat film pasti seru d, kyk mission impossible 👍
Night Watcher
🤭🤭🤭
zuwariyah c
novel yg inspiratif dan beda dr yg lain😍
Kal Ktria: terima kasih sudah membaca karya saya sampai akhir 🙏☺
total 1 replies
falea sezi
anya ne ngerepotin bgt tau hadeh jangan balik lah g rela q
falea sezi
gagal bundri y
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!