"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PREDATOR DI BALIK KACA
Malam di markas besar Matsuda Corp tidak pernah sesunyi ini. Kenzo Matsuda berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya. Ia mengenakan jubah sutra hitam, menatap pantulan dirinya yang legendaris—wajah yang tidak menua, tubuh yang atletis, dan mata yang memancarkan otoritas mutlak. Namun, malam ini, cermin itu seolah mengkhianatinya.
Setiap kali ia berkedip, ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat bayangan Renji, putranya yang baru berusia beberapa bulan, namun memiliki tatapan yang seolah-olah sudah hidup selama seribu tahun. Ia melihat goresan kecil di telapak tangannya—bekas luka yang diberikan Renji—yang secara medis sudah sembuh, namun secara psikologis terus berdenyut.
Kenzo mencoba menyesap wiskinya, tetapi tangannya sedikit gemetar. Gemetar. Sebuah cacat yang tidak bisa ditoleransi.
"Kenapa aku merasa seperti... mangsa?" bisiknya pada keheningan.
Tiba-tiba, monitor di dinding kamarnya menyala otomatis. Bukan menampilkan data saham atau laporan intelijen, melainkan rekaman CCTV dari kamar bayi Renji. Di sana, di dalam kegelapan yang hanya ditembus lampu tidur biru, Renji tidak sedang tidur. Bayi itu duduk tegak—sesuatu yang secara medis hampir mustahil untuk usianya—dan menatap lurus ke arah kamera.
Renji mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah kamera, ke arah Kenzo.
❤️❤️❤️
Kenzo membanting gelas wiskinya hingga hancur. "Ini tidak mungkin! Aku yang menciptakanmu! Aku yang membentuk genetikamu!"
Ia berlari menuju kamar bayi, melewati koridor yang biasanya terasa seperti kemenangan, namun kini terasa seperti lorong menuju eksekusi. Saat ia sampai di depan pintu kaca antipeluru kamar Renji, ia berhenti. Di sana, di balik kaca, ia tidak melihat bayi.
Ia melihat Rena Sato.
Rena berdiri di dalam kamar bayi, menggendong Renji dengan kasih sayang yang mematikan. Namun, saat Kenzo mengucek matanya, sosok itu menghilang, menyisakan Renji yang kembali berbaring tenang.
Mental "kesempurnaan" Kenzo mulai runtuh. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah mengendalikan apa pun. Proyek Hydra, kekayaannya, dan obsesinya pada "darah murni" hanyalah kompensasi dari ketakutannya akan kegagalan. Ia menyadari bahwa dengan mencoba menciptakan dewa, ia justru melahirkan iblis yang akan melahapnya.
❤️❤️❤️
Kenzo kembali ke ruang kerjanya yang luas, hanya untuk menemukan lampu padam dan jendela besar yang menampilkan pemandangan Tokyo telah retak membentuk pola jaring laba-laba. Di tengah ruangan, duduk dua sosok yang paling ia takuti sekaligus ia dambakan: Rena dan Hana Sato.
Hana mengenakan gaun hitam panjang, terlihat seperti ratu kegelapan yang lahir dari abunya sendiri. Rena berdiri di sampingnya, memegang sebilah belati yang memantulkan cahaya bulan.
"Kenzo," suara Hana terdengar seperti lonceng kematian yang merdu. "Kau terlihat... berantakan. Mana pria sempurna yang dulu mengajariku tentang dominasi?"
Kenzo jatuh berlutut. Bukan karena dipaksa, melainkan karena beratnya dosa dan kegagalan yang tiba-tiba menghantam dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa sebagai seorang Saikou. Ia merasa sebagai pria yang sangat kesepian.
❤️❤️❤️
Kenzo menatap Hana, lalu beralih ke Rena. Air mata—sesuatu yang ia anggap sebagai tanda kelemahan genetik—mulai mengalir di wajahnya yang sempurna. Ia tidak meronta. Ia tidak memanggil pengawalnya.
"Aku menghancurkan segalanya, bukan?" suara Kenzo serak, namun tetap memiliki martabat seorang bangsawan yang kalah. "Aku mengira dengan memiliki kalian secara fisik, aku bisa memiliki keabadian. Aku mengira dengan menodaimu, Hana... aku bisa menyatukan dua kekuatan besar."
Ia menarik napas panjang, menundukkan kepalanya di depan kaki Hana. "Aku adalah arsitek dari nerakaku sendiri. Aku tidak hanya menodai tubuhmu, Hana... aku menodai masa depan yang seharusnya bisa kalian miliki tanpa campur tanganku."
Hana melangkah maju, mengangkat dagu Kenzo dengan ujung jarinya. "Permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang ada di dalam rahimku saat itu, atau apa yang ada di dalam boks bayi itu sekarang, Kenzo."
Kenzo memejamkan mata. "Aku tahu. Dan itulah hukumanku. Mengetahui bahwa anak itu akan tumbuh dengan kebencianku dan kekuatan kalian. Rena..." ia menatap wanita yang pernah ia cintai dengan cara yang salah. "Maafkan aku karena tidak pernah mencintaimu sebagai manusia, melainkan sebagai obsesi. Aku telah mengubah cinta menjadi sains yang busuk."
❤️❤️❤️
"Kau meminta pengampunan sekarang?" tanya Rena, suaranya dingin namun ada nada kasihan di dalamnya. "Setelah kau mengubah putriku menjadi senjata?"
"Aku tidak meminta pengampunan," jawab Kenzo dengan tenang, kembali berdiri meski kakinya masih goyah. Ia merapikan jasnya, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabatnya. "Aku hanya ingin kalian tahu bahwa sang 'Predator' ini akhirnya menyadari... bahwa dia hanyalah serangga di bawah mikroskop takdir yang kalian pegang."
Kenzo berjalan menuju brankas rahasianya, membukanya, dan mengeluarkan sebuah dokumen berlapis emas. Itu adalah pengalihan aset mutlak Matsuda Corp dan akses kode genetik global.
"Ini adalah warisan yang kucuri dari masa depan kalian," Kenzo menyerahkannya pada Hana. "Gunakan ini untuk menghancurkanku, atau untuk membangun dunia baru di mana Renji tidak perlu menjadi monster seperti ayahnya. Ini adalah satu-satunya cara eleganku untuk mengatakan bahwa aku... aku kalah."
Hana menerima dokumen itu. "Kau pikir ini cukup?"
"Tidak akan pernah cukup," kata Kenzo sambil menatap keluar ke arah kota Tokyo. "Tapi ini adalah awal dari akhirku. Kalian bebas pergi. Pengawal tidak akan menghentikan kalian. Aku telah menonaktifkan semua sistem."
❤️❤️❤️
Rena dan Hana berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Mereka menuju kamar bayi, mengambil Renji, dan menghilang ke dalam kegelapan malam Tokyo yang dingin.
Kenzo tetap berdiri di ruang kerjanya. Ia melihat ke arah cermin yang kini benar-benar pecah. Ia melihat wajahnya yang hancur dalam pantulan seribu kepingan kaca. Ia tidak lagi sempurna. Ia terluka, ia hina, dan ia hancur.
Namun, di tengah kehancuran mentalnya, ia merasakan kelegaan yang aneh. Beban untuk menjadi "sempurna" telah diangkat oleh penyesalannya sendiri.
Di dalam kamar bayi yang kosong, hanya tertinggal satu mainan—sebuah bola kristal yang di dalamnya terdapat miniatur Villa Samudera. Kenzo mengambilnya, memandangnya sejenak, lalu meletakkannya di atas meja.
"Jadilah lebih baik dariku, Renji," bisiknya pada udara kosong.
Bab berakhir dengan Kenzo Matsuda yang duduk sendirian di kegelapan istananya yang luas, sementara di luar sana, Hana dan Rena memulai babak baru dengan senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia: seorang pewaris yang memiliki dendam ibunya dan sumber daya ayahnya.
BERSAMBUNG...