"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 18: WAKTU YANG BERJALAN
71 jam menuju ancaman.
Timer yang tak terlihat itu menghantui setiap napas mereka. dr. Arman memutuskan untuk memindahkan keluarga ini ke lokasi rahasia di dalam rumah sakit sebuah ruang observasi lama di basement yang sudah tidak digunakan, dengan satu pintu masuk, tanpa jendela, dan sistem keamanan independen.
"Tidak ada yang tahu lokasi ini kecuali saya dan kepala keamanan," kata dr. Arman saat memimpin mereka melalui lorong bawah tanah yang dingin. "Bahkan staf senior tidak tahu ruangan ini masih berfungsi."
Ruang itu mirip bunker: kecil, berlapis baja, dengan persediaan darurat untuk seminggu. Tapi setidaknya, ada tiga tempat tidur pasien yang bisa diatur untuk mereka semua. Sangkar yang lebih kecil dalam sangkar besar rumah sakit.
Arka melihat sekeliling dengan mata berbinar ketakutan. "Kita seperti di kapal selam, Bun."
"Untuk sementara, sayang," bisik Aisha, merapikan selimutnya. "Sampai polisi tangkap orang jahatnya."
Nadia menggenggam tangan Laras erat-erat. "Nadia mau pulang."
"Kita akan pulang, sayang. Tapi nanti."
Arkana, entah mengapa, justru tenang di ruang sempit ini seolah merasa lebih aman dalam ruang tertutup. Mungkin bayi itu punya insting lebih tajam daripada orang dewasa.
---
dr. Arman memasang monitor tambahan tidak hanya untuk tanda vital Arkana, tapi juga untuk kamera keamanan di setiap sudut rumah sakit. Dari ruang bunker ini, mereka bisa melihat 16 layar yang menunjukkan lorong-lorong kunci, pintu masuk, bahkan ruang server.
"Jika AngelOfMercy adalah orang dalam, dia akan muncul di salah satu kamera ini," kata dr. Arman. "Kita akan mengawasi."
Tapi mengawasi 16 layar sekaligus melelahkan. Mereka bergantian: Rafa shift pagi, Aisha siang, Laras malam. Arka bahkan ingin membantu, tapi mereka melarang.
"Kamu tugasnya istirahat dan sehat," kata Rafa pada Arka. "Itu yang terpenting."
---
68 jam menuju ancaman.
Ibu Rina mengirim pesan via aplikasi aman yang disediakan polisi: "Ada kabar buruk di forum. Pembalas01 mengumumkan 'operasi telah dimulai'. Mereka tidak bilang apa, tapi beberapa anggota mulai keluar dari grup takut terlibat."
"Artinya mereka akan bergerak sendiri," analisis Rafa. "Tim inti. Mungkin cuma 3-4 orang sekarang."
"Tapi itu justru lebih berbahaya," tambah Aisha. "Kelompok kecil lebih mudah bersembunyi, lebih cepat bergerak."
Mereka memutuskan untuk meningkatkan keamanan eksternal. Polisi menempatkan sniffer dog di semua pintu masuk rumah sakit, mendeteksi bahan kimia berbahaya. Tim anti-teror siaga di pos terdekat.
Tapi semua itu terasa seperti pertahanan di luar, sementara musuh mungkin sudah ada di dalam.
---
dr. Arman menemukan anomali dalam sistem logistik rumah sakit.
"Ada pemesanan insulin dosis tinggi untuk gudang farmasi lantai 3. Tapi tidak ada pasien diabetes di lantai itu yang membutuhkan sebanyak itu."
Insulin. Zat yang bisa mematikan jika diberikan pada pasien transplantasi ginjal dalam dosis tinggi. Zat yang pernah diancamkan Rangga.
"Kapan pesanan itu?" tanya Rafa.
"Tadi pagi. Dan sudah diambil sejam lalu oleh seseorang dengan kartu akses farmasi kartu milik perawat senior yang sedang cuti."
"Jadi kartunya dicuri."
"Atau dipinjamkan."
---
63 jam menuju ancaman.
Kepala keamanan rumah sakit memeriksa semua kartu akses yang aktif malam itu. Dan ditemukan: kartu akses farmasi itu digunakan di tiga lokasi berbeda secara bersamaan secara fisik tidak mungkin.
"Ada duplikat kartu," simpul kepala keamanan. "Seseorang membuat kopi elektronik."
Teknologi tinggi. Bukan sekadar dendam emosional. Ini terorganisir, terdidik, dan punya sumber daya.
Aisha tiba-tiba teringat sesuatu. "Rafa, dulu waktu kuliah, Rangga sering banget dengan teknologi. Dia yang selalu bantu kita kalau ada masalah komputer."
"Tapi Rangga masih di penjara."
"Tapi teman-temannya? Atau... muridnya? Rangga dulu mengajar les programming untuk anak SMA."
Mereka menghubungi polisi untuk menyelidiki jaringan Rangga di luar penjara. Ternyata, Rangga punya kelompok belajar online dengan 15 anggota. Dan salah satu anggotanya adalah mahasiswa teknik informatika yang drop out karena adiknya meninggal gagal ginjal.
"Nama dia Andika," kata penyidik via telepon. "Sekarang bekerja sebagai freelance IT. Dan kami baru tahu dia pernah magang di rumah sakit ini setahun lalu, di bagian sistem informasi."
Koneksi. SystemBreaker mungkin adalah Andika.
---
58 jam menuju ancaman.
Polisi mengunjungi alamat Andika. Kosong. Tetangga bilang dia sudah dua hari tidak pulang. "Katanya ada proyek luar kota."
Tapi perangkat elektroniknya masih ada di kamar komputer, harddisk, semuanya. Polisi menyita dan menganalisis. Dan mereka menemukan skenario serangan detail terhadap rumah sakit, dengan target utama: "Bayi, lantai 4, ruang isolasi."
"Rencana mereka bukan cuma ancaman," lapor penyidik. "Mereka punya timeline, titik masuk, bahkan rencana pengalihan."
"Pengalihan seperti apa?" tanya Rafa.
"Kebakaran kecil di gudang linen. Alarm kebakaran akan memicu evakuasi pasien. Dalam kekacauan itu, mereka akan masuk ke ruang isolasi."
Tapi rencana itu dibuat sebelum mereka pindah ke bunker basement. Artinya mereka belum tahu lokasi baru.
"Tapi mereka akan tahu jika ada orang dalam yang memberitahu," ingatkan Aisha.
AngelOfMercy. Masih di luar sana. Masih di dalam rumah sakit.
---
dr. Arman melakukan pembersihan internal.
Semua staf yang memiliki akses ke lantai basement diperiksa ulang hanya 5 orang: dr. Arman sendiri, kepala keamanan, dua perawat senior tepercaya, dan seorang teknisi listrik.
"Teknisi listrik ini siapa?" tanya Laras.
"Bapak Joko. Sudah bekerja di sini 20 tahun. Tidak mungkin."
Tapi dalam situasi seperti ini, "tidak mungkin" adalah kata yang berbahaya.
Mereka memutuskan untuk tidak memberi tahu siapa pun termasuk keempat orang itu tentang pemindahan ke bunker. Mereka akan berpura-pura masih di ruang isolasi lantai 4. Umpan.
"Kita akan pasang kamera tersembunyi di ruang isolasi lama," usul Rafa. "Lihat siapa yang datang."
---
52 jam menuju ancaman.
Ruang isolasi lantai 4 dipasangi kamera tersembunyi. Dan di bunker basement, mereka menonton layar khusus yang hanya menampilkan ruangan itu.
Sepanjang malam, tidak ada yang mencurigakan. Hanya perawat jaga yang masuk sesuai jadwal untuk "memeriksa pasien" padahal ruangan kosong.
Tapi pukul 03.17, sesuatu terjadi. Pintu ruang isolasi terbuka tanpa ada yang mendorongnya. Dari kamera, terlihat pintu terbuka perlahan, tapi tidak ada sosok manusia.
"Sistem pintu otomatis diretas," bisik Rafa. "Mereka uji coba."
Beberapa menit kemudian, pintu tertutup lagi. Pesan tersirat: "Kami bisa masuk kapan pun."
---
46 jam menuju ancaman.
Ibu Rina mengirim pesan darurat: "Baru dapat info. Ada yang bilang di grup tertutup bahwa 'operasi' akan dilakukan besok malam. Saat pergantian shift malam ke pagi. Jam 04.00-05.00."
Besok malam. 24 jam lagi.
dr. Arman mengumpulkan tim keamanan rumah sakit dan polisi. Mereka menyusun strategi: ketika alarm kebakaran berbunyi (seperti yang direncanakan dalam skenario Andika), mereka tidak akan mengosongkan lantai 4. Sebaliknya, polisi akan bersembunyi di kamar-kamar kosong, menunggu pelaku.
Tapi tetap ada ketakutan: bagaimana jika mereka punya rencana B? Bagaimana jika target sebenarnya adalah bunker basement?
---
38 jam menuju ancaman.
Arka mulai demam ringan. Stres, kata dr. Arman. Tapi dalam kondisi transplantasi ginjal, demam ringan pun bisa berbahaya.
"Kita harus periksa darah," kata dr. Arman. "Tapi lab di lantai 3. Tidak aman."
"Kita punya alat rapid test di sini?" tanya Aisha.
"Ada. Tapi akurasinya rendah."
Mereka mengambil sampel darah Arka dengan hati-hati, steril. Hasil rapid test: tanda-tanda infeksi ringan. Mungkin karena daya tahan tubuh menurun akibat stres berkepanjangan.
"Kita harus kasih antibiotik," kata dr. Arman. "Tapi aku tidak berani mengambil dari farmasi. Stok kita di sini hanya untuk darurat."
"Pakai stok darurat," desak Laras. "Untuk Arka."
dr. Arman mengangguk, mengambil kotak darurat kecil. Tapi ketika dia akan menyuntikkan antibiotik, Aisha menghentikannya.
"Tunggu. Kita periksa dulu obatnya."
"Dari kotak darurat, Aisha. Tertutup rapat."
"Tapi siapa yang tahu kotak ini tidak disabotase?"
Keraguan yang masuk akal. dr. Arman memeriksa kemasan masih tersegel, kode kedaluwarsa sesuai. Tapi tetap, mereka ragu.
Akhirnya, dr. Arman memutuskan untuk memberikan antibiotik oral dari stok pribadinya yang selalu dibawa dalam tas. "Ini punyaku. Aku yakin aman."
Arka minum obat dengan patuh. Tapi wajahnya pucat, lelah. "Ayah, Bunda... Arka capek."
"Tidur saja, sayang," bisik Rafa, membelai rambutnya. "Kita jagain."
---
28 jam menuju ancaman.
Malam yang sunyi. Terlalu sunyi. Di layar monitor, lorong-lorong rumah sakit terlihat kosong. Tapi di layar ruang isolasi umpan, ada bayangan bergerak seperti siluet seseorang yang berdiri di luar pintu, tidak masuk, hanya mengamati.
"Siapa itu?" bisik Laras.
"Tidak jelas. Tapi dia ada di sana sejak 10 menit."
Bayangan itu akhirnya pergi. Tapi lima menit kemudian, alarm kebakaran berbunyi di lantai 2.
"Pengalihan!" seru Rafa. "Tapi terlalu dini. Masih 28 jam lagi."
"Kecuali... mereka tahu kita sudah tahu rencana mereka. Jadi mereka ubah jadwal."
Kekacauan di monitor. Staf berjalan cepat. Tapi tidak ada asap terlihat. Alarm dimatikan setelah 3 menit. False alarm.
"Uji respons kita," analisis Aisha. "Mereka lihat bagaimana reaksi keamanan. Di mana polisi berkumpul. Berapa lama respons."
Cerdik. Mereka memetakan pertahanan.
---
dr. Arman memerintahkan semua polisi untuk tetap di posisi, tidak bereaksi berlebihan pada alarm kecil. "Mereka ingin kita panik. Kita tidak akan beri mereka itu."
---
22 jam menuju ancaman.
Pesan dari Ibu Rina lagi: "Ada yang bilang operasi dibatalkan. Tapi aku tidak percaya. Mungkin tipuan."
Tipuan atau tidak, mereka tidak bisa lengah.
Arka demamnya turun, tapi masih lemas. Dia tidur lebih sering. Nadia juga mulai batuk-batuk kecil mungkin karena udara basement yang pengap.
"Kita tidak bisa terus di sini," keluh Laras. "Anak-anak sakit."
"Tapi di luar lebih berbahaya," jawab Rafa.
Aisha memandangi anak-anaknya, lalu dr. Arman. "Ada cara lain. Kita pindah dari rumah sakit. Tapi bukan ke rumah. Ke tempat yang tidak terduga."
"Seperti apa?"
"Rumah ibadah. Masjid atau gereja. Tempat yang dianggap suci. Mereka mungkin tidak berani menyerang di sana."
dr. Arman mempertimbangkan. "Bisa. Tapi perjalanan dari sini ke luar berisiko."
"Kita gunakan ambulans. Dengan pengawalan ketat."
---
Mereka merencanakan pelarian diam-diam.
Ambulans akan datang jam 04.00 nanti saat gelap, dan saat rencana serangan seharusnya terjadi. Mungkin mereka bisa menyelinap di saat musuh sedang bersiap menyerang ruang kosong.
Polisi setuju. Dua ambulans: satu kosong sebagai umpan, satu dengan mereka. Rute berbeda. Pengawalan lapis baja.
---
18 jam menuju ancaman.
Persiapan terakhir. Mereka mengemasi sedikit barang. Arka dibangunkan pelan.
"Kita pindah lagi, sayang."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang lebih aman."
Arka mengangguk, tidak bertanya lagi. Dia sudah terlalu lelah untuk bertanya.
Nadia setengah tidur digendong Laras. Arkana masih dalam gendongan Aisha.
dr. Arman akan ikut. Kepala keamanan juga. Dua perawat senior yang dipercaya.
---
10 jam menuju ancaman.
Mereka menunggu di bunker, mendengarkan setiap suara. Jam bergerak lambat. Setiap detik seperti satu jam.
Rafa memegang tangan Aisha dan Laras. "Apa pun yang terjadi... kita sudah berjuang sebaik mungkin."
"Kita akan selamat," kata Aisha, berusaha yakin.
"Kita harus," tambah Laras, menatap Nadia dan Arkana.
---
4 jam menuju ancaman.
Ambulans tiba di pintu darurat basement tepat seperti rencana. Mereka bergerak cepat, masuk ke dalam ambulans yang gelap, jendela tertutup.
dr. Arman duduk di depan bersama sopir yang adalah polisi berseragam. Rafa, Aisha, Laras, dan anak-anak di belakang.
Ambulans bergerak pelan, keluar dari basement, masuk ke jalan sepi di belakang rumah sakit. Lampu dimatikan. Hanya lampu kota yang menerangi.
Di radio polisi, terdengar laporan: "Ambulans umpan sudah bergerak. Ada dua motor mengekor."
"Mereka mengikuti yang salah," bisik sopir.
Tapi tiba-tiba ban ambulans mereka pecah. Kencang. Ambulans oleng, nyaris terbalik.
"APA YANG TERJADI?" teriak dr. Arman.
"RANJAU PAKU! DI JALAN!" jawab sopir, berusaha mengendalikan kendaraan.
Ambulans berhenti di pinggir jalan gelap. Di depan, tiga sosok menghadang dengan lampu senter menyilaukan.
Salah satu sosok itu mengangkat tangan, memegang sesuatu yang kecil dan berkilat di bulan.
Pistol.
Dan suara yang mereka kenal suara wanita, dingin, tajam berkata:
"Keluarlah. Perlahan. Operasi dimulai lebih awal."
---
(Di kejauhan, sirene polisi mendekat. Tapi mungkin terlalu terlambat. Dan di tangan wanita itu, bukan hanya pistol tapi juga sebuah suntikan kecil dengan label yang samar-samar terbaca: "Potassium Chloride".)