NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:109.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedagang Yang Licik

Gao Rui dan Tetua Peng Bei meninggalkan kediaman Keluarga Nao ketika matahari telah naik sepenggal. Jalanan kota Yanjing mulai ramai. Suara langkah kaki bercampur teriakan pedagang, denting logam, dan aroma makanan yang menguar dari berbagai sudut.

Bagi Gao Rui, semua itu terasa… baru. Ia berjalan sedikit di depan Tetua Peng Bei, matanya bergerak ke kiri dan kanan tanpa henti. Toko-toko berjejer rapi, kain sutra berwarna cerah digantung di depan kios, senjata-senjata sederhana dipajang berkilau, sementara aroma manisan dan daging panggang membuat perutnya sedikit berbunyi.

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Tetua Peng Bei sambil meliriknya.

Gao Rui tersadar, lalu tersenyum kikuk.

“Entah kenapa… rasanya ramai sekali. Berbeda dengan sekte.”

Tetua Peng Bei tertawa kecil.

“Hmph. Akhirnya kau mengeluarkan sisi normalmu juga. Biasanya kau terlalu tenang untuk anak seusiamu.”

Mereka akhirnya tiba di pasar utama kota Yanjing. Sebuah area luas dengan atap kain dan lorong-lorong sempit di antara lapak. Di sinilah berbagai pedagang berkumpul. Menjual rempah, perhiasan, kerajinan, bahkan benda-benda aneh yang tak jelas kegunaannya.

Begitu Gao Rui melangkah masuk, para pedagang langsung bereaksi.

“Adik kecil! Lihat pedang kayu roh ini!”

“Pil penambah stamina! Murah!”

“Kain sutra selatan! Cocok untuk hadiah!”

Suara-suara itu bertubi-tubi menghantam telinganya. Gao Rui sedikit terkejut, namun justru matanya semakin berbinar. Ia berjalan pelan, menatap setiap lapak dengan penuh rasa ingin tahu, sesekali berhenti hanya untuk melihat, lalu melanjutkan lagi.

Hingga akhirnya… langkahnya terhenti. Di salah satu sudut pasar, ada lapak kerajinan sederhana. Tidak mencolok, tidak ramai. Namun di atas meja kayu itu berjajar beberapa patung kecil dari batu dan kayu, diukir rapi menyerupai hewan. Ada patung harimau, burung bangau, kura-kura, kucing dan beragam jenis hewan lainnya.

Mata Gao Rui terpaku. Ia mendekat tanpa sadar, menatap patung-patung itu satu per satu. Menatap satu per satu ukiran di patung itu.

Pedagangnya seorang pria paruh baya dengan wajah licin dan senyum ramah.

“Tuan Muda berminat?” katanya cepat. “Ini ukiran tangan. Setiap detail dikerjakan sendiri. Cocok sebagai oleh-oleh.”

Gao Rui mengangguk pelan. Ia mengambil dua patung, seekor bangau dan kura-kura.

“Yang ini… bagus.”

Pedagang itu langsung memanfaatkan kesempatan. Ia menilai pakaian Gao Rui yang bagus, sikapnya yang tenang, serta cincin di jarinya. Dalam hati, ia tersenyum licik.

“Dua patung itu,” katanya sambil mengelus janggut tipisnya, “dua koin emas.”

Gao Rui membeku sejenak.

“Dua… koin emas?”

Ia kembali menatap patung di tangannya. Ia tidak tahu harga pasar. Sejak lama, ia tidak pernah membeli barang sendiri. Namun rasa suka pada patung itu membuatnya ragu untuk meletakkannya kembali.

“Kalau begitu… tidak apa-apa,” gumamnya pelan.

Ia merogoh kantong kulit di pinggangnya, bersiap mengeluarkan dua koin emas. Pedagang itu nyaris tersenyum lebar. Dalam hati ia sudah memaki bocah itu sebagai tuan muda bodoh yang mudah ditipu.

Namun sebuah tangan menahan pergelangan tangan Gao Rui.

“Rui’er,” suara Tetua Peng Bei terdengar tenang namun berat. “Apa yang kau beli? Harga itu… mahal sekali.”

Gao Rui menoleh.

“Mahal…? Aku tidak tahu.”

Tetua Peng Bei memandang dua patung itu sekilas.

“Dua patung seperti ini, paling mahal hanya dua koin perak.”

Wajah pedagang itu langsung berubah. Senyum ramahnya menghilang, digantikan ekspresi kesal.

“Hei! Jangan asal bicara!” bentaknya. “Ini barang berkualitas!”

Suasana di sekitar lapak mulai memanas…

Pedagang itu langsung meninggikan suaranya, seolah takut pembelinya kabur.

“Ini bukan patung murahan!” katanya sambil menepuk meja kayu. “Semua patung di sini adalah patung tangan! Dibuat sendiri dengan bahan kualitas terbaik. Batu pilihan, kayu tua yang sudah dikeringkan bertahun-tahun!”

Tetua Peng Bei menyipitkan mata. Ia tidak langsung membantah. Dengan tenang, ia meraih sebuah patung kura-kura lain yang diletakkan di sisi meja, lalu membandingkannya dengan patung yang dipegang Gao Rui.

Ia membaliknya, menatap bagian bawah, lekukan cangkang, sudut kepala, bahkan goresan halus di bagian kaki.

“Hm?” gumamnya.

Ia lalu mengambil satu patung lagi. Lalu satu lagi.

“Bentuknya… sama persis,” ujar Tetua Peng Bei datar. “Sudut ukiran, kedalaman pahatan, bahkan cacat kecil di bagian ini.” Ia menunjuk sebuah titik kecil di bawah perut patung. “Ini bukan karya tangan satu per satu. Ini hasil cetakan.”

Wajah pedagang itu seketika menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.

“Apa maksudmu?” katanya cepat. “Itu karena keahlianku! Justru karena aku ahli, semua patung buatanku bisa identik!”

Tetua Peng Bei tertawa pendek, tanpa humor.

“Keahlian sejati justru melahirkan perbedaan halus. Tidak ada dua pahatan tangan yang benar-benar sama.”

Nada suaranya tenang, tapi mengandung tekanan. Keributan itu mulai menarik perhatian. Beberapa pembeli lain menghentikan langkah, mendekat, berbisik-bisik sambil melirik ke arah lapak.

Gao Rui menatap patung di tangannya, lalu menoleh ke Tetua Peng Bei.

“Jadi… aku salah menaksir harga ya?” tanyanya polos.

Tetua Peng Bei mengangguk kecil.

“Jika kau ingin membeli sesuatu, kau harus tahu harga normalnya dulu. Pasar bukan sekte. Di sini, senyum bisa lebih tajam dari pisau.”

Gao Rui terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk pelan.

“Aku mengerti.”

Ia menurunkan tangannya, tidak lagi berniat membayar. Di dalam hatinya, ia menyadari sesuatu. Pengetahuannya tentang dunia luar… masih dangkal. Tidak semua bahaya datang dalam bentuk pedang atau aura membunuh. Ada yang datang dalam bentuk harga, kata-kata manis, dan wajah ramah.

Ia tiba-tiba paham. Pantas saja Guru menitipkanku pada Tetua Bei…

Pedagang itu melihat situasi berbalik. Nada suaranya kembali meninggi.

“Tidak bisa begitu!” katanya keras. “Kalian sudah sepakat! Anak itu sudah setuju dengan harga dua koin emas! Bayar sekarang!”

Tetua Peng Bei melangkah maju setengah langkah. Wajahnya mengeras.

“Kami belum sepakat apa pun.”

Suasana makin tegang. Beberapa orang mulai berbisik lebih keras. Akhirnya, dua pria berseragam abu-abu dengan lambang pasar di dada mendekat. Petugas keamanan pasar.

“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.

Pedagang itu langsung menyela, menceritakan semuanya menurut versinya. Tentang bocah kaya yang sudah setuju membeli, tentang seseorang yang tiba-tiba datang mengacau, tentang kerugian yang akan ia alami.

Petugas keamanan mendengarkan dengan wajah datar. Lalu salah satu dari mereka menoleh ke arah Tetua Peng Bei.

Begitu mata mereka benar-benar memandang wajahnya, keterkejutan jelas muncul. Langkah mereka terhenti.

“Pe-Peng Bei… Tetua Peng Bei?” ujar salah satu petugas dengan suara tercekat.

Suasana pasar mendadak senyap. Bisik-bisik langsung meledak di antara orang-orang yang mengerumuni lapak itu.

“Peng Bei…?”

“Yang dari Sekte Bukit Bintang itu?”

“Tidak mungkin salah orang…”

Wajah-wajah yang tadinya hanya penasaran kini berubah penuh keterkejutan. Beberapa orang refleks mundur setengah langkah, seolah baru sadar bahwa mereka berdiri terlalu dekat dengan sosok yang cukup dikenal itu.

Nama Peng Bei bukan nama sembarangan di wilayah ini. Ia adalah tetua dari Sekte Bukit Bintang, salah satu sekte besar yang disegani di Kekaisaran Zhou. Seorang pendekar suci tingkat tinggi, sosok yang namanya sering muncul dalam cerita pertempuran besar, konflik sekte, dan peristiwa-peristiwa yang hanya bisa dibicarakan dengan suara pelan.

Seorang pria di kerumunan menelan ludah.

“Katanya… dia pernah sendirian mengusir tiga tetua sekte iblis di Lembah Petir.”

“Benar. Dan kemampuannya konon bisa membelah bukit.”

Petugas keamanan pasar yang tadi bicara itu langsung menegakkan tubuh. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menangkupkan tangan dengan hormat.

“Maafkan kami, Tetua Bei. Kami tidak menyangka Anda berada di pasar kota Yanjing.”

Tetua Peng Bei mengangguk tipis, ekspresinya tetap tenang.

“Aku hanya menemaninya berjalan-jalan,” katanya datar. “Tidak berniat membuat keributan.”

Kenyataan itu justru membuat pedagang patung itu pucat pasi. Ia menoleh ke arah Gao Rui. Baru sekarang ia benar-benar menatap bocah itu dengan seksama. Sikap tenang, tatapan jernih, cincin di jarinya semuanya tiba-tiba terasa berbeda.

Kakinya gemetar.

“Te—Tetua… aku… aku tidak tahu…” katanya terbata-bata. Nada congkaknya lenyap tanpa sisa.

Tetua Peng Bei memandangnya.

“Kau menjual barang cetakan sebagai ukiran tangan,” ujarnya tenang. “Lalu menagih harga puluhan kali lipat dari harga wajar. Apa kau masih ingin bersikeras?”

Pedagang itu langsung berlutut.

“Ampun! Ampun, Tetua!” serunya panik. “Hamba… hamba salah! Hamba hanya… hanya mencari makan!”

Kerumunan langsung riuh. Beberapa orang mencibir, yang lain menggelengkan kepalanya. Petugas keamanan pasar berdeham keras.

“Penipuan di pasar utama,” katanya tegas. “Sesuai aturan, barang disita dan pedagang dikenai denda.”

Pedagang itu semakin gemetar, tapi tidak berani membantah sedikit pun.

Tetua Peng Bei melirik Gao Rui.

“Rui’er.”

Gao Rui tersadar dan melangkah maju sedikit.

“Ya, Tetua.”

“Kau masih menyukai patung itu?”

Gao Rui menatap patung bangau dan kura-kura di tangannya. Ia terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. Ia meletakkan patung itu.

“Tidak terlalu,” jawabnya jujur. “Setelah tahu … rasanya tidak istimewa lagi.”

Tetua Peng Bei tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

“Baiklah.”

Ia menoleh kembali ke petugas keamanan.

“Kami tidak jadi membeli apa pun. Silakan lanjutkan sesuai aturan pasar.”

Petugas keamanan langsung mengangguk dalam-dalam.

“Tentu, Tetua.”

Tetua Peng Bei lalu berbalik dan berjalan pergi. Gao Rui mengikuti di sampingnya. Kerumunan spontan memberi jalan, memandang mereka dengan campuran hormat dan kagum.

Saat mereka menjauh, Gao Rui menoleh sekali lagi ke lapak yang tadi ramai itu. Hari ini, ia tidak hanya belajar tentang harga barang. Ia belajar tentang nama dan reputasi yang mampu menyelesaikan masalah dengan lebih mudah.

1
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
Mamat Stone
/Joyful//Smirk/
Mamat Stone
bocah tua nakal 😈
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
Mahayabank
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!