NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bayangan di Persimpangan Jalan

Semenjak kejadian di koridor kampus itu, hidup Lia tidak lagi sama. Meskipun ejekan terang-terangan dari Sarah dan kelompoknya berkurang drastis karena ketakutan pada Devan, kini ada jenis perhatian lain yang lebih mengusik Lia: keheningan yang mencekam.

Orang-orang menatapnya dengan pandangan penuh selidik, seolah-olah ia adalah makhluk asing yang baru saja turun dari planet lain. Namun, bagi Lia, fokus utamanya bukanlah gosip kampus, melainkan gantungan kunci miniatur motor pemberian Devan yang selalu ia genggam di dalam saku sweaternya.

Sore itu, langit Jakarta tampak mendung, menggantungkan gumpalan awan abu-abu yang berat.

Lia baru saja menyelesaikan kelas tambahannya dan berniat pulang lebih awal. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus yang biasanya sepi. Namun, langkahnya terhenti ketika ia merasakan sebuah mobil van hitam bergerak perlahan di sampingnya, mengikuti ritme langkah kakinya.

Jantung Lia mulai berdegup tidak beraturan. Ia mempercepat langkahnya, namun mobil itu tetap setia mengekor. Ketika ia sampai di sebuah gang yang sedikit agak gelap menuju halte, mobil itu tiba-tiba memotong jalannya dan berhenti mendadak. Pintunya bergeser terbuka, dan dua pria bertubuh besar dengan pakaian serba gelap turun menghalangi jalannya.

"Jadi, ini gadis yang bikin Devan jadi pahlawan kesiangan?" salah satu dari mereka bersuara, nadanya penuh dengan cemoohan. Pria itu memiliki bekas luka sayatan di alis kirinya, memberikan kesan yang jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang pernah Lia temui di kampus.

Lia mundur beberapa langkah, memeluk tasnya erat-erat. "K-kalian siapa? Aku tidak kenal kalian."

"Kami tidak butuh kamu kenal kami, Manis. Kami cuma butuh Devan tahu kalau kami punya sesuatu yang sangat dia sayangi sekarang," pria yang satunya lagi menimpali sambil mendekat. Ia mengenakan jaket denim dengan logo yang berbeda dari milik Devan—sebuah tengkorak dengan rantai yang melingkar.

"Geng mawar hitam itu terlalu sombong belakangan ini. Mungkin kalau pacar ketuanya hilang sebentar, mereka bisa sedikit lebih sopan."

Lia gemetar hebat. "Aku bukan pacarnya! Kalian salah orang!"

"Oh, jangan rendah hati begitu. Devan tidak pernah membela siapa pun sampai segitunya di depan umum kalau orang itu tidak spesial," pria dengan bekas luka itu menjulurkan tangannya hendak meraih lengan Lia.

Dalam kepanikan yang memuncak, Lia teringat pada benda di sakunya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan gantungan kunci motor hitam itu, menunjukkannya dengan tangan yang gemetar hebat. "D-Devan bilang... kalau aku tunjukkan ini, orang-orang akan tahu aku tanggung jawabnya!"

Kedua pria itu terhenti sejenak, menatap gantungan kunci kecil itu. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak. "Anak kecil, itu cuma mainan! Devan mungkin bisa melindungimu kalau dia ada di sini, tapi sekarang dia sedang sibuk berurusan dengan polisi karena ulah kami. Kamu sendirian."

Lia berbalik dan mencoba berlari sekuat tenaga ke arah jalan raya, namun salah satu dari mereka berhasil menarik tasnya, membuat Lia jatuh tersungkur di aspal yang kasar. Lututnya perih, dan kacamatanya terlepas, membuat pandangannya kabur. Di tengah keputusasaan itu, sebuah suara raungan mesin motor yang sangat akrab terdengar dari kejauhan.

Bukan hanya satu, tapi belasan!

Lampu-lampu motor yang terang memecah kegelapan gang tersebut. Sekelompok pengendara motor dengan jaket kulit bersimbol mawar hitam mengepung mobil van itu dalam hitungan detik. Dan di posisi paling depan, Devan melompat dari motornya bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati.

Wajah Devan saat itu tidak menunjukkan keramahan sedikit pun. Ia tampak seperti iblis yang haus darah. Tanpa basa-basi, Devan langsung melayangkan pukulan keras ke wajah pria yang tadi menjatuhkan Lia. Perkelahian singkat namun brutal terjadi. Devan bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan, seolah-olah kemarahannya sudah meluap melampaui batas.

"Sudah kubilang, jangan pernah sentuh dia!" teriak Devan sambil menekan leher pria berbekas luka itu ke badan mobil van. "Katakan pada bosmu, kalau dia ingin menyentuhku, datang langsung kepadaku. Jangan jadi pengecut dengan mengincar seorang gadis!"

Melihat kelompok Devan yang lebih banyak dan bersenjata rantai, anak buah geng tengkorak itu segera masuk ke dalam van dan tancap gas, melarikan diri dari sana.

Devan tidak mengejar mereka. Ia segera berbalik dan berlari ke arah Lia. Ia berlutut di depan Lia, tangannya yang masih memerah karena pukulan tadi gemetar saat mencoba membantu Lia memasang kembali kacamatanya.

"Lia... maafkan aku. Aku terlambat," bisik Devan, suaranya kini penuh dengan penyesalan yang mendalam. Ia melihat lutut Lia yang berdarah dan matanya yang berkaca-kaca.

Lia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menubruk dada Devan, menangis sesenggukan di balik jaket kulit pria itu yang masih terasa panas karena suhu tubuhnya. Devan tertegun sejenak, lalu perlahan ia melingkarkan lengannya di tubuh kecil Lia, mencoba memberikan kehangatan dan rasa aman.

"Aku takut, Devan... aku sangat takut," isak Lia.

Devan mencium puncak kepala Lia dengan lembut, sebuah tindakan yang membuat anggota geng motor lainnya yang berdiri di sekitar mereka saling pandang dengan heran. "Aku di sini, Lia. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Mulai sekarang, kamu akan selalu bersamaku."

Lia melepaskan pelukannya dan menatap mata Devan. Di sana, ia tidak melihat ketua geng yang garang, melainkan seorang pria yang sangat tulus mengkhawatirkannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Lia mulai menyadari bahwa dunia Devan terlalu gelap untuknya. Apakah ia sanggup bertahan di sisi pria ini, ataukah keselamatan dirinya justru terletak pada jarak yang harus ia bangun di antara mereka?

Malam itu, di bawah rintik hujan yang mulai turun, Lia pulang dengan dibonceng Devan, merasa bahwa hidupnya telah terikat pada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!