Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
Ditempat lain, lebih tepatnya di ruang kerja kediaman Vallon. Axlyn sudah berdiri dengan sebuah surat yang berada dalam dalam genggamannya. Surat pengunduran diri itu tipis, hanya satu lembar, tapi terasa lebih berat dari semua senjata yang pernah ia bawa.
Ia berdiri tegak di hadapan Leora, di ruang kerja berpanel kayu gelap yang kini terasa pengap. Wajah putri pengusaha itu pucat, senyum manisnya retak sebagai bukti bahwa rencana licik yang disusun rapi telah runtuh. Bukti, saksi, dan satu pengakuan yang terekam rapi telah berpindah tangan. Tak ada teriakan, tak ada drama. Hanya keheningan yang dipenuhi kemarahan dari Leora.
“Aku ingin mengundurkan diri,” katanya tenang. “Mulai hari ini.”
Leora menatapnya lama, lalu tertawa pendek dan tajam. “Kau pikir dengan surat pengunduran dirimu ini bisa mengembalikan rencanaku yang telah gagal gara-gara pekerjaan tidak becus yang kalian semua lakukan, Hah?”
“Mana mungkin aku akan membiarkan pria yang aku cintai masuk dalam jebakan wanita sepertimu. Jika itu bukan Kay, maka aku tidak akan menganggu apapun rencana kalian,” ucap Axlyn dalam hatinya.
Kemudian, ia kembali membalas dengan tatapan datar. “Tidak. Pekerjaan kami hanya untuk melindungi anda dari bahaya. Bukan untuk mengikuti seluruh perintahmu diluar tugas utama kami.”
“Sialan! Pergilah, tapi aku pastikan kau tidak bisa bekerja dimana pun lagi di sini.” ucapnya penuh ancaman.
Axlyn tidak membalas, ia langsung meletakan surat pengunduran dirinya dan berbalik pergi tanpa menolah sedikitpun. Tidak apa ia kehilangan pekerjaannya, bahkan harus di deportasi dari negara tersebut. Asalkan ia bisa melindungi pria yang dicintainya dari wanita seperti Leora.
...****************...
Praha menyambut pagi dengan kabut tipis yang menggantung di atas Sungai Vltava, seolah kota itu sendiri enggan membuka rahasianya. Kay berdiri di depan jendela motel, jasnya sudah rapi, wajahnya dingin seperti batu tua Jembatan Charles. Di belakangnya, Noah yang kini menjadi asisten pribadinya yang biasanya tak pernah kehabisan akal. Saat ini terpaksa menutup laptop dengan gerakan frustrasi yang jarang ia perlihatkan.
“Tidak ada,” kata Noah akhirnya. “Hotel, bandara, stasiun kereta, kamera jalanan di sekitar Old Town semuanya kosong. Seakan dia tidak pernah ada. Kau yakin tidur dengan manusia, bukan dengan hantu?”
Kay tidak menoleh sama sekali. Tangannya mengepal perlahan, tak ingin menanggapi candaan dari Noah seperti biasanya.
Satu bulan sudah berlalu dari jadwal yang seharusnya ia tinggal di sana. Kay hanya berada di Praha satu bulan. Itu fakta yang pasti. Jadwalnya padat, pergerakannya terdata, pertemuannya tercatat.
Namun wanita itu… wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya tidak meninggalkan apa pun. Tidak nama, tidak alamat, tidak akun digital. Bahkan kamar motel itu kini terasa seperti ruangan yang disterilkan secara sengaja. Sprei diganti, karpet dibersihkan, kamar mandi mengilap. Tidak ada sehelai rambut. Tidak ada aroma parfum yang tertinggal lagi.
“Haruskah aku menyerah untuk menemukannya sekarang?” Ucapnya ragu dalam hati.
“Pengusaha itu… Tuan Adam dan putrinya? Kau sudah mengurusnya dengan baik, bukan?” Kay akhirnya bertanya pelan.
Noah mengangguk. “Sudah beres. Bukti transfer palsu, rekaman percakapan, niat menjebakmu dengan putrinya… semuanya kita sudah mengurusnya. Mereka tidak akan berani mendekat lagi. Karena yang satu dipenjara dan satunya lagi di rumah sakit jiwa. Hahahaa…”
Setidaknya ada satu masalah utama telah terselesaikan. Kay menghela napas panjang. Ia ingat malam itu dengan kejernihan yang menyiksa. Ia sempat curiga. Tentu saja. Hidupnya menuntut kecurigaan.
Namun ia telah memeriksa segalanya malam itu dimana tidak ada keterlibatan wanita itu dalam rencana keluarga Vallon, seolah wanita itu hanya berniat membantunya saja. Dan kini terbukti, pencariannya selama satu bulan itu tidak membuahkan hasil apapun. Wanita itu seakan tidak ingin menuntut tanggung jawab apapun darinya.
Kay lolos dari jebakan licik keluaga Vallon. Tapi wanita itu? Entah apa yang terjadi padanya sekarang? Apakah dia baik-baik saja sekarang? Atau sesuatu yang lain suda tumbuh di dalam perutnya? Sungguh itulah hal yang terus Kay pikirkan hingga detik ini.
“Dia terlalu bersih,” gumam Noah. “Atau terlalu ahli untuk menghilang.”
“Atau tidak ingin ditemukan,” jawab Kay lirih.
Jam dinding berdetak seperti pengingat waktu yang hampir habis. Penerbangan pulang Kay berangkat malam ini. Setelah itu, Praha akan menjadi catatan singkat dalam hidupnya. Sebuah kota indah, intrik gagal, dan satu malam yang tak bisa dijelaskan, hingga membekas di lubuk hatinya.
Kay berjalan kembali ke kamar tidur. Ia membuka laci meja kecil di samping ranjang. Kosong. Ia ingat sempat berharap menemukan sesuatu yang remeh seperti anting yang tertinggal, catatan kecil, bahkan helai rambut di bantal. Apa saja yang membuktikan bahwa ia tidak membayangkan semuanya. Namun, jelas tidak ada. Tidak ada jejaknya sama sekali, kecuali kehangatan yang masih Kay ingat hingga detik ini.
“Kalau dia bagian dari rencana keluarga Vallon, kita pasti sudah menemukannya. Atau setidaknya dia menunjukkan diri untuk meraih keuntungan darimu.” kata Noah, mencoba rasional.
Kay tersenyum tipis, tanpa humor. “Justru itu yang menggangguku. Aku jadi teringat dengan kisah pertemuan Grandpa dan Grandma dulu yang sama seperti yang aku alami sekarang. Apakah wanita itu, juga langsung pindah ke negara lain. Sehingga kita tidak bisa menemukannya di sini?”
“Bisa jadi dan bisa saja tidak? Sejak awal kita tidak menemukan sedikitpun petunjuk tentang wanita itu. Sehingga kita tidak bisa menyimpulkan ataupun memperkirakan apapun tentang nya,” jelas Noah.
Mereka sudah terbiasa mengalahkan musuh yang terlihat. Ia tahu cara membaca niat, mematahkan rencana, membersihkan jejak. Namun kali ini, yang tersisa hanyalah kekosongan. Sebuah absensi total dari seseorang yang begitu nyata di kulitnya, di ingatannya.
Kay bahkan hampir berpikir bahwa perkataan Noah ada benarnya. Bahwa kemungkinan ia tidak tidur dengan manusia, tapi dengan hantu karena tidak ada jejaknya sama sekali.
“Bersiaplah, kita harus pergi sekarang. Lebih baik lupakan saja wanita itu, jika berjodoh kalian pasti akan dipertemukan kembali,” ujar Noah sembari membereskan laptopnya.
“Benar… jika kita memang ditakdirkan bertemu kembali. Aku pasti bisa menemukanmu suatu hari nanti,” ucap Kay membenarkan dalam hatinya.
Bersambung…
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌