Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
"Ma, ayo bantu bujukin tante Dinda supaya kak Kenzo mau secepatnya menikah sama Angel." rengek Angel pada sang mama, bu Mutia.
"Mau bujukin gimana lagi sih sayang, mama lho setiap ketemu sama tante Dinda selalu menyinggung soal kamu sama Kenzo. Kamu berusaha juga dong, deketin terus Kenzo nya." ujar bu Mutia.
"Kak Kenzo selalu ngehindar kalau Angel deketin, diajak jalan aja susah ma. Ayo dong bujuk lagi tante Dinda nya, siapa tahu kak Kenzo langsung mau kalau terus-terusan dibujuk sama mamanya."
ucap Angel yang terus merengek.
Bu Mutia memutar bola matanya jengah, meskipun ia ingin sekali berbesan dengan sahabatnya, tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak. Apalagi melihat Kenzo yang terlihat tidak tertarik dengan putrinya.
"Eum.. Besok mama coba lagi bujukin tante Dinda."
"Sekarang aja kita kerumah tante, ayo." ajak Angel yang tidak sabaran.
"Besok aja sekalian mama arisan, besok arisannya kebetulan dirumah tante Dinda."
"Ishh.. Makin lama nunggunya." kesal Angel mengerucutkan bibirnya.
"Kamu yang sabar dong, pokoknya sekali ini aja mama bantu bujukin tante Dinda lagi. Kalau Kenzo nya tetap gak mau, kamu cari laki-laki lain aja. Satria juga kan tampan, coba kamu deketin Satria aja." usul bu Mutia yang mengingat anak dari sahabatnya.
"Ogah! Satria jelek, resek juga. Gak mau ah."
Bu Mutia mendengus mendengar ucapan anaknya. Ia tahu betul bagaimana tidak akurnya putrinya dengan Satria sedari kecil. Karna Sartia yang sering usil pada Angel, tidak seperti Kenzo yang kalem.
"Ya udah, kalau Kenzo nya tetap gak mau, berarti kamu cari laki-laki lain ya. Mama juga lama-lama gak enak sama tante Dinda, padahal jelas-jelas anaknya gak mau dijodohin sama kamu." ujar bu Mutia iba pada anaknya, tapi ia juga malu pada sahabatnya jika terus-menerus mengusulkan perjodohan antara anaknya dengan anak sahabatnya itu.
"Kok mama gitu sih? pokoknya Angel gak mau menikah kalau bukan sama kak Kenzo!" rajuk Angel yang ngebet dengan Kenzo.
Bu Mutia menggeleng kepalanya melihat sifat keras kepala anaknya. Sendirinya tidak bisa merayu orangnya langsung, malah memaksa dirinya yang harus bisa membujuk mama dari Kenzo.
"Pak Kenzo dan pak Satria mau pesan apa?" tanya Nita yang akhirnya turun tangan melayani bosnya itu, karna Shafira yang langsung menghilang.
"Eumm.. Shafira nya gak ada?" cicit Kenzo yang malah menanyakan Shafira.
Nita mengulum senyumnya melihat bosnya itu malah menanyakan keberadaan Shafira, kentara sekali kalau kedatangannya kesini bukan karna untuk makan. Datang makan hanya sebagai kedok supaya bisa terus bertemu dengan Shafira.
"Ada pak, tapi Shafira nya sedang sibuk dibagian dapur." jawab Nita.
"Oh gitu, saya pesan yang seperti biasa saja." ujar Kenzo agak kecewa karna bukan Shafira yang melayaninya seperti biasa.
"Oke, pak Satria mau pesan apa?" Nita melirik sekilas ke arah Satria, ia tahu sedari tadi Satria terus menatapnya. Ia merasa sungkan kalau harus terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka didepan bosnya.
"Seperti biasa juga, dek." ucap Satria senyum-senyum.
"Oke, ditunggu pesanannya ya, permisi." Nita membungkuk hormat pada bosnya itu sebelum pergi.
"Tumben bukan Shafira yang datang, apa Shafira sedang menghindar ya." celetuk Kenzo merasa berkecil hati.
"Mungkin benar yang dibilang Nita bos, Shafira nya sedang sibuk. Mungkin lagi banyak orderan." sahut Satria menghibur sahabatnya, karna Kenzo yang tiba-tiba tidak sesemangat tadi.
Padahal dari kantor sahabatnya itu tidak sabaran sekali untuk cepat-cepat datang ke ruko tempat kateringan Shafira.
"Semoga aja emang bener lagi sibuk."
"Makanya, sesekali kalau datang kesini bawa bunga kek, atau apa gitu. Romantis dikit lah, biar Shafira nya kelepek-klepek sama lo." usul Satria, ia gemas dengan Kenzo yang menurutnya tidak ada romantis-romantisnya itu.
"Kenapa sekarang lo baru ngingetin gue." kesal Kenzo yang malah menyalahkan Satria.
Satria mendengus.
"Katanya suka sama Shafira, tapi gak punya inisiatif bawain bunga. Cewek itu cepat luluh kalau dikasih bunga. Nita aja kelihatan malu-malu waktu gue kasih bunga." ujar Satria mesem-mesem mengingat dirinya yang terlihat romantis didepan Nita.
"Itu bukan kelihatannya lagi, tapi si Nita memang malu, b*go! Lo kasih bunganya didepan banyak orang gitu. Mana lo salah orang lagi." kekeh Kenzo mengingat kekonyolan sahabatnya itu.
Satria juga tertawa mengingat dirinya yang salah orang. Ia kira yang berdiri membelakangi itu Nita, ternyata bukan. Padahal ia sudah mengucapkan kata-kata romantis sambil menyodorkan bunga yang ia pegang. Tapi ketika perempuan yang Satria kira Nita itu berbalik, ternyata itu bukanlah Nita.
Niat mau terlihat romantis malah membuat dirinya malu karna banyak karyawan yang tertawa menyaksikan kekonyolan sekretaris pemilik perusahaan tersebut. Kenzo yang jarang terlihat tertawa didepan para karyawannya sampai ikut terkekeh melihat tingkah Satria.
"Ya kan gue niatnya mau terlihat romantis, gak tahunya yang gue sodorin bunga malah temannya Nita." kekeh Satria.
"Lo gak ada bakat buat romantis." cebik Kenzo.
"Mending gue ada usaha. Daripada lo, gak ada inisiatifnya." cibir Satria.
Dari subuh Shafira dan timnya sudah sibuk menyiapkan pesanan makanan dan kue-kue. Kateringan nya juga menjual kue-kue basah seperti cake dan jajanan pasar.
Shafira selalu turun tangan langsung meskipun karyawan dibagian dapur juga ada. Ia tidak ingin ada kesalahan sedikit saja, apalagi mengurangi cita rasa masakannya.
"Alhamdulillah.. Sudah beres, tinggal disusun aja didalam mobil. Rani, Sasa, kalian berdua ikut saya ya mengantar pesanan ini. Nanti disana makanannya kita tata yang rapi." ujar Shafira pada dua karyawannya.
"Siap mbak." sahut keduanya.
"Gue juga ikut ya, mumpung gue libur kerja." ucap Nita.
"Oke, ayo. Ini sudah jam delapan. Makanannya harus udah diantar jam sembilan."
Mereka berempat berangkat dengan Shafira yang menyetir, mobil khusus untuk mengantar dan membeli bahan makanan.
"Ini alamatnya udah bener kan?" tanya Shafira memastikan sambil melihat rumah mewah yang ada didepannya.
"Bener kok, alamatnya udah bener ini." sahut Nita yang melihat alamat yang tertera dichat pemesanan.
Tak lama, terlihat sekuriti yang menghampiri mobil Shafira.
"Mau mengantar pesanan bu Dinda, ya?" tanya sekuriti itu yang sudah diberi tahu oleh pemilik rumah.
"Iya pak, pesanan bu Dinda dari katering Rasa Rindu." ujar Shafira sopan.
"Langsung masuk aja mbak, bu Dinda sudah nunggu didalam." sekuriti itu pun membuka gerbang lebar-lebar, mempersilahkan mobil Shafira masuk.
"Terima kasih pak." Shafira mengangguk sopan pada sekuriti itu sambil melajukan mobilnya.
"Waah.. Rumahnya gede banget ya, mewah. Kayak istana." gumam Nita berdecak kagum melihat rumah mewah didepannya.
"Apa yang punya rumah gak salah pesan makanan ke kita ya? Kenapa gak pesan direstoran bintang lima aja ya." ujar Nita lagi yang juga heran.
Shafira mengendikkan bahunya.
"Ini namanya rezeki. Udah ayo, turunin makanannya." titah Shafira.
Mereka pun menurunkan makanannya dan menatanya sesuai intruksi bu Dinda dibantu sekuriti dan ART dirumahnya.
"Waah.. Ternyata benar, makanan direstoran kamu memang enak-enak ya." puji bu Dinda setelah mencicipi makanan yang menurutnya menggugah selera itu.
"Hanya katering kecil-kecilan bu, bukan restoran." Shafira nyengir.
"Sama aja, ini malah lebih enak dari masakan restoran." ucap bu Dinda.
"Ibu bisa aja, alhamdulillah kalau ibu suka sama makanannya."
"Saya suka sama makanannya, saya pasti pesan lagi kalau ada acara-acara dirumah. Nanti saya rekomendasikan juga kateringan kamu ke teman-teman saya ya." ujar bu Dinda yang ramah.
"Terima kasih bu, saya tunggu orderan selanjutnya." canda Shafira tersenyum.
"Ma, Ken izin keluar ya." ujar Kenzo mendekat melihat banyak orang diruang tengah.
"Kamu mau kemana sih pagi-pagi, gak betah sekali dirumah. Padahal kantor juga libur." ucap bu Dinda mencebik.
Shafira yang masih sibuk menata makanan berbalik badan melihat siapa yang berbicara dibelakangnya itu.
"Pak Kenzo?" lirih Shafira kaget.