NovelToon NovelToon
Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Obsesi / Menikah dengan Kerabat Mantan / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Dalam diamnya luka, Alina memilih pergi.

Saat menikah satu tahun lalu, ia dicintai atau ia pikir begitu. Namun cinta Rama berubah dingin saat sebuah dua garis merah muncul di test pack-nya. Alih-alih bahagia, pria yang dulu mengucap janji setia malah memintanya menggugurkan bayi itu.

"Gugurkan! Aku belum siap jadi Ayah." Tatapan Rama dipenuhi kebencian saat melihat dua garis merah di test pack.

Hancur, Alina pun pergi membawa benih yang dibenci suaminya. Tanpa jejak, tanpa pamit. Ia melahirkan seorang anak lelaki di kota asing, membesarkannya dengan air mata dan harapan agar suatu hari anak itu tahu jika ia lahir dari cinta, bukan dari kebencian.

Namun takdir tak pernah benar-benar membiarkan masa lalu terkubur. Lima tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan.

Saat mata Rama bertemu dengan mata kecil yang begitu mirip dengan nya, akhirnya Rama meyakini jika anak itu adalah anaknya. Rahasia masa lalu pun mulai terungkap...

Tapi, akankah Alina mampu memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 16.

Rama melangkah pelan namun penuh tekanan mendekati Erika. Sorot matanya tajam, seperti bilah pisau yang siap menebas. Napasnya berat, menahan amarah yang mendidih di dalam dada.

“Jawab aku, Erika…” Suaranya rendah, namun setiap suku kata terdengar seperti petir menggelegar di langit kemarau. “Apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Kau yang membius Alina? Kau yang membuka pintu untuk Zidan?!”

Wajah Erika pucat, nyaris kehilangan warna. “Aku… hanya… aku tak bermaksud__”

“Jangan beri aku alasan!” Rama membentak, suaranya membelah keheningan seperti pedang. “Kau tahu betul betapa aku mencintai Alina. Tapi hari itu… aku menghancurkan semuanya, hanya karena aku mempercayai mata kepalaku sendiri. Dan semua itu... karena permainanmu, bukan?!”

Erika terdiam, terpojok. Bibirnya bergetar saat akhirnya ia bicara, pelan namun penuh racun.

“Aku mencintaimu, Rama. Sejak lama, jauh sebelum Alina masuk dalam hidupmu. Tapi kau terlalu buta untuk menyadarinya. Kau hanya melihat dia! Alina yang tiba-tiba merebut tempat yang selama ini... secara diam-diam kupeluk dalam harap. Dia merenggut perhatianmu dariku, rasa pedulimu... masa depan yang seharusnya untukku. Alina merebut semuanya!” Suaranya menggema dalam luka yang ia rawat sendiri.

Rama menggeleng, perlahan tapi pasti. Matanya nyalang, suaranya bergetar menahan kecewa.

“Erika, aku tak pernah mencintaimu... bahkan sejak awal. Kau tahu itu! Sebelum Alina hadir, bahkan saat aku terpuruk ditinggalkan Alina, meski kau selalu ada untukku… aku hanya menganggap mu sahabat. Tak lebih! Tapi kau malah memilih jalan pengkhianatan! Kau hancurkan hidupku… dan pernikahan yang aku perjuangkan.”

Alina melangkah maju, tatapannya menusuk antara luka dan keyakinan.

“Itu yang selalu kukatakan padamu, Mas. Sejak sebelum pernikahan kita, aku pernah bertanya… apakah benar tak ada rasa antara kalian berdua? Karena aku tahu, di antara laki-laki dan perempuan… persahabatan yang benar-benar murni jarang sekali ada. Tapi kau meyakinkanku, bahwa Erika tak pernah menyukaimu. Kau bahkan menuduhku cemburu… ketika kau tetap teguh menjadikannya sekretaris mu. Menemanimu dari pagi hingga malam. Sekarang, lihatlah sendiri… inilah hasil dari kepercayaan mu yang buta itu.”

Rama tercekat... wajahnya menegang, hatinya dihantam penyesalan yang datang terlalu larut.

Alina menoleh pada Erika, kini dengan sorot mata yang tak lagi menunjukkan amarah… tapi kehancuran.

“Kau hampir merenggut nyawa anakku, Erika. Bukan hanya rumah tanggaku yang kau hancurkan, tapi masa depan seorang anak yang bahkan belum sempat melihat dunia.”

“Itu karena aku terlalu mencintai, Rama…” lirih Erika.

Rama menatap Erika dengan pandangan dingin. “Jika itu yang kau sebut cinta, maka kau telah menodai makna cinta itu sendiri.”

Davin melangkah ke depan, berdiri kokoh di sisi Alina. Suaranya terdengar tenang, tapi menyimpan bara keadilan yang menyala.

“Erika, kau tak hanya bersalah secara moral tapi juga secara hukum. Aku punya bukti, rekaman CCTV hari itu. Dan aku bisa meminta pengacaraku menyiapkan berkasnya. Kau akan bertanggung jawab… sepenuhnya.”

Wajah Erika membelalak, panik. “Tidak, Tuan Davin! Tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik__”

“Tidak ada hal yang baik-baik saja! Kau menjebakku, menelanjaangiku dengan fitnah, menjatuhkan martabatku… cukup sudah! Sekarang, giliranmu berdiri di hadapan keadilan.” Timpal Alina dengan nada berat.

Davin melanjutkan, dia menatap Erika tanpa kompromi. “Cinta bukan alasan untuk menghancurkan orang lain, kau telah melewati batas! Dan... tak seorang pun berhak melukai orang lain dengan mengatasnamakan perasaan.”

Erika gemetar, bibirnya ingin berkata sesuatu… namun lidahnya kelu. Ia menoleh sejenak ke arah Dita, seolah meminta perlindungan namun akhirnya ia tetap bungkam. Ia masih berharap… bahwa Rama akan kembali padanya, sebab ia yakin Alina tak akan mungkin memaafkan kesalahan Rama. Terlebih, kini Alina sudah bersama Davin.

Rama tak berkata apa-apa, ia hanya menatap Erika dengan tatapan kosong... lalu memalingkan pandangan pada Daffa yang berdiri tak jauh, diam menyaksikan segalanya meski sepertinya anak itu tidak mengerti.

Dan saat itu juga, Rama sadar.

Sepertinya ia telah kehilangan bukan hanya istri dan anak. Tapi kepercayaan dari Alina yang mungkin... takkan pernah kembali.

Nyonya Ayunda yang sedari tadi menyaksikan adegan itu tanpa bersuara, akhirnya melangkah maju. Sorot matanya tajam, tubuhnya tegak dan setiap langkahnya membawa aura kuasa seorang wanita yang tak bisa dipermainkan. Ia berdiri tepat di hadapan Dita, lalu menarik lengan mantan madunya itu dengan sikap penuh pengendalian namun jelas berisi amarah.

“Pergilah!" Ucapnya dingin, namun setiap katanya terasa seperti gemuruh. “Bawa serta anakmu dan wanita yang satu jenis denganmu yang menjadikan cinta sebagai permainan murahan! Aku akan menyelidiki semuanya... termasuk, apakah kau ikut bermain dalam fitnah keji terhadap calon menantuku lima tahun lalu!”

Wajah Dita memucat, matanya membelalak panik. Ia tahu, jika rahasianya terbongkar maka Rama akan tahu kebenaran yang selama ini ia sembunyikan. Dengan gugup ia meraih tangan putranya dan mencoba menyeretnya pergi, dibuntuti oleh Erika yang sejak tadi hanya diam menunduk.

Namun Rama menahan langkah, melepaskan tarikan Dita dengan tegas lalu menatap Alina.

“Aku belum selesai! Alina, aku ingin bicara berdua denganmu… sebentar saja.” Suara Rama rendah namun mengandung gejolak.

Alina berdiri tenang, tapi sorot matanya membeku. “Jika kau ingin meminta maaf, sayangnya... aku belum siap memaafkan mu.”

Rama menggeleng pelan, suaranya sedikit gentar. “Bukan itu... aku hanya ingin tahu tentang acara ini. kau benar-benar menerima lamaran pria lain?”

Tatapan Alina meredup, ada luka lama yang nyaris bangkit di matanya. Namun sebelum keraguan sempat tumbuh, Davin menggenggam tangan Alina dengan mantap.

“Alina…” suara Davin lembut namun menguatkan.

Alina menoleh dan dalam sekejap, keraguan itu lenyap. Meski cintanya pada Davin belum sempurna, namun ia tahu luka bersama Rama tak lagi layak diperjuangkan. Masa lalu telah terkubur, masa depan telah menanti.

“Ya... aku menerima pinangan Mas Davin. Kami akan segera menikah. Dan… semoga kau bisa datang di hari pernikahan kami, Mas.”

Wajah Rama mengeras, ada getir yang sulit ia sembunyikan. “Alina, urusan kita belum selesai. Aku__”

“Kisah kita... sudah berakhir sejak lima tahun lalu. Saat kau meragukan kesetiaanku dan dengan mudah menyuruhku menggugurkan darah dagingku sendiri.” Potong Alina, suaranya tenang namun menggores hati Rama begitu dalam.

Rama terdiam namun matanya membasah, luka di dadanya seperti ditoreh ulang. Namun sebelum ia sempat berkata lagi, Dita kembali menarik lengannya dan menyereettnya pergi dari sana dengan paksa.

Acara pun berlanjut.

Syukurlah, para tamu yang hadir adalah keluarga besar Tuan Yudistira dan sahabat-sahabat Viola yang menjaga suasana tetap hangat. Meski badai sempat menyapa, tapi hari itu tetap menjadi hari bahagia bagi Alina dan Davin, awal dari perjalanan baru yang mereka pilih bersama meski akan selalu ada bayang-bayang masa lalu menghampiri.

.

.

.

Bersambung__

1
ANI MATTORI
Luar biasa
muth yasin
mungkin juga Erika
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Aisyah Suyuti
seru
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐭𝐚 𝐤𝐢 𝐞𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐣𝐣𝐚𝐥 𝐦𝐤𝐧𝐞 𝐚𝐧𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐛𝐥𝐢𝐬 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐢𝐡, 𝐦𝐧𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐠 𝐛𝐥𝐦 𝐝𝐢𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐢𝐧 𝐚𝐝𝐞𝐤 𝐃𝐚𝐯𝐢𝐧 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐪 𝐣𝐠 𝐬𝐢𝐧𝐠𝐥𝐞 𝐩𝐚𝐫𝐞𝐧𝐭 𝐚𝐧𝐤 𝟏 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐛𝐮𝐣𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣 𝟏𝟓𝐭𝐡 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐮𝐝𝐡 𝟑 𝐲𝐠 𝐬𝐦 𝐛𝐮𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐧𝐢 𝟐
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐦𝐢𝐢𝐧 𝐲𝐚 𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚 𝐫𝐨𝐛𝐛𝐚𝐥 𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢𝐧, 𝐦𝐤𝐬𝐡 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫, 𝐬𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐣𝐠 𝐥𝐚𝐧𝐜𝐚𝐫 𝐫𝐞𝐣𝐞𝐤𝐢𝐧𝐲𝐚


𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐥𝐮 𝐤𝐚𝐤, 𝐬𝐞𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐁𝐮𝐦𝐞𝐫 𝐮𝐝𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐪 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐧𝐤𝟐 𝐪𝐮 𝐣𝐠 😘😘😘

𝐤𝐫𝐧 𝐜𝐮𝟐 𝐧𝐲𝐚 𝐜𝐦 𝐝𝐫𝐪𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐪𝐮, 𝐚𝐝𝐞𝐤 𝐢𝐩𝐚𝐫𝐪𝐮 𝐮𝐝𝐡 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐭𝐩 𝐠𝐤 𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐧𝐤
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐡 𝐝𝐚𝐯𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐚𝐦𝐚 𝟏𝐚𝐲𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐝𝐚 𝐢𝐛𝐮, 𝐩𝐧𝐭𝐬 𝐦𝐢𝐫𝐢𝐩 🥺🥺😭😭
Lily Miu
ya bagus buka lembaran baru tutup yg lama
Lily Miu
dasar bodoh
Netty Netty
kira2 ratna dapat karma gk ya,,,
Netty Netty
semoga gendis sm rama
Netty Netty
lanjooot
Dian
baguss
Yunita Sophi
ya ampun Gendis seberang itu kamu di depan banyak orang... pake ngaku ngaku klo anak itu anak nya Rama... ternyata ada yah orang nya kalm tp nekat 🤭😂😂
Yunita Sophi
kan drama bikin seru thor... dunia jg kan penuh drama 😂
Yunita Sophi
dasar ulet nangka penyebar fitnah... tunggu aja pasti ada balasan nya
Yunita Sophi
jangan mau kembali Gendis... Galang bekas di pake perempuan murahan... yg ada jijik kali..
Yunita Sophi
wah ini sib lebih parah lg ada perempuan iblis satu rumah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!