NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:38.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Latihan Berdarah di Bawah Bulan

Hutan Bambu Hitam di belakang Paviliun Seribu Bambu selalu sepi saat tengah malam. Desir daun bambu yang bergesekan tertiup angin terdengar seperti bisikan hantu.

Di tengah pembukaan kecil di hutan itu, Lin Xuan berdiri tegak bak patung. Jubah atasnya telah dilepas, menampakkan tubuh bagian atasnya yang pucat dan dipenuhi bekas luka.

Di tangan kanannya, ia memegang pedang besi biasa yang ia beli di pasar loak kota. Di tangan kirinya, terbentang gulungan bambu kuno: Seni Pedang Kilat Hantu.

"Teknik ini lahir dari keputusasaan," suara Gu Tianxie menggema di benak Lin Xuan. Hantu tua itu melayang di sekitarnya dalam bentuk kabut merah transparan. "Penciptanya adalah seorang kultivator buta bersenjata tunggal. Dia tahu dia tidak bisa menang dalam pertarungan panjang, jadi dia memusatkan seluruh Qi di tubuhnya ke dalam satu tebasan."

"Satu tarikan napas. Satu tebasan. Jika musuh tidak mati, kau yang mati," lanjut Gu dingin. "Bukan karena musuh membunuhmu, tapi karena beban teknik ini akan menghancurkan lenganmu sendiri."

Lin Xuan menatap gulungan itu lekat-lekat. Matanya menelusuri diagram aliran Qi yang rumit. Teknik ini memaksa Qi mengalir melawan arus meridian alami di lengan kanan, menciptakan tekanan luar biasa yang meledak saat pedang dicabut dari sarungnya.

"Ayo kita mulai," gumam Lin Xuan.

Ia memasukkan pedangnya ke dalam sarung kayu di pinggang kirinya. Ia memejamkan mata, membayangkan aliran Qi seperti yang ada di diagram.

Dia menarik napas panjang. Udara malam yang dingin masuk ke paru-parunya.

Pusatkan Qi. Paksa ke lengan kanan.

Tiba-tiba, urat-urat biru menonjol di lengan kanan Lin Xuan, berdenyut mengerikan seolah ada ular yang merayap di bawah kulitnya. Dagingnya membengkak.

"Tarik!" batin Lin Xuan.

SRAAAAT!

Pedang besi itu tercabut dari sarungnya. Kecepatannya tak kasat mata. Sebuah busur perak melintas di udara malam, menebas tiga batang bambu hitam raksasa sejauh lima meter di depannya.

Brukk! Brukk! Brukk!

Ketiga bambu itu tumbang serentak, potongan melintangnya halus seperti kaca.

Tapi pada saat yang bersamaan...

CROOSH!

Darah segar menyembur dari lengan kanan Lin Xuan. Kulit dan daging di lengan bawahnya terkoyak dari dalam, tak mampu menahan ledakan energi Qi yang liar.

"Argh!" Lin Xuan terhuyung ke depan, jatuh berlutut sambil mencengkeram lengan kanannya. Pedangnya terlepas, menancap di tanah.

Rasa sakitnya luar biasa. Berkat Cincin Samsara Darah, rasa sakit akibat daging yang robek itu dilipatgandakan seratus kali. Rasanya seolah-olah lengannya baru saja dimasukkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari dahinya.

"Hah... hah..." Lin Xuan mengatur napasnya yang putus-putus.

"Sudah kubilang," cibir Gu. "Tulang Asura mu memang kuat. Tulangmu tidak patah. Tapi daging dan meridianmu masih setingkat manusia biasa. Kekuatan ledakan pedang itu merobek kulitmu seperti kertas."

Lin Xuan menatap lengannya yang berlumuran darah. Luka robeknya memanjang dari pergelangan hingga siku. Daging merahnya terbuka.

Namun, tidak ada penyesalan di matanya. Hanya ada kepuasan yang gila.

"Kecepatannya... luar biasa," bisik Lin Xuan, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang menakutkan. "Huo Yan... bahkan dengan kultivasi Foundation Establishment nya, dia tidak akan sempat berkedip jika tebasan ini mengarah ke lehernya dalam jarak dekat."

"Lalu apa gunanya jika setelah satu tebasan, tanganmu menjadi bubur?" tanya Gu retoris.

Lin Xuan tidak menjawab. Dia mengulurkan tangan kirinya, menyentuh luka di lengan kanannya.

Cincin Jiwa Kuno bersinar merah terang.

Lin Xuan mengambil satu Inti Serigala Gigi Baja dari sakunya dan meremukkannya di genggaman. Cincin itu langsung melahap energi inti tersebut, mengubahnya menjadi kabut darah yang tebal, lalu menyuntikkannya ke luka Lin Xuan.

Daging yang terkoyak itu perlahan merajut diri. Proses penyembuhan paksa ini sama menyakitkannya dengan saat terluka, tapi Lin Xuan hanya menggigit bibirnya sampai berdarah, menolak untuk berteriak.

Setengah jam kemudian, lengannya kembali utuh. Hanya menyisakan bekas luka kemerahan yang perlahan memudar.

Lin Xuan bangkit berdiri. Dia mencabut pedangnya dari tanah dan memasukkannya kembali ke sarungnya.

"Lagi," kata Lin Xuan datar.

Malam itu, Hutan Bambu Hitam menjadi saksi bisu kegilaan seorang pemuda.

SRAAAT! CROOSH! Daging robek. Darah tumpah. Disembuhkan.

Ditebas lagi. Robek lagi. Disembuhkan lagi.

Puluhan kali ia mengulangi siksaan itu. Setiap kali kulitnya robek, lapisan daging baru yang tumbuh menjadi sedikit lebih kuat, sedikit lebih alot, beradaptasi dengan tekanan teknik Pedang Kilat Hantu. Itulah inti dari Jalan Asura berevolusi melalui kehancuran.

Fajar menyingsing saat Lin Xuan kembali ke Kamar 204.

Dia sudah mandi di sungai kecil untuk membersihkan darah, dan mengenakan jubah sekte abu-abu yang bersih. Kulitnya sepucat biasanya, langkahnya setenang air kolam. Tidak ada yang tahu bahwa semalaman ia baru saja memotong dan menyambung dagingnya sendiri puluhan kali.

Begitu ia mendorong pintu kayu kamar, ia melihat Zhao Yun sedang mondar-mandir dengan wajah tegang.

"Saudara Mu! Kau dari mana saja?!" seru Zhao Yun begitu melihatnya. "Aku mencarimu tapi kau tidak ada!"

"Meditasi pagi," jawab Lin Xuan singkat, berjalan menuju tempat tidurnya. "Ada apa? Wajahmu seperti baru melihat hantu."

Zhao Yun menutup pintu rapat-rapat. "Lebih buruk dari hantu. Geng Wang Long bergerak!"

Lin Xuan duduk bersila, matanya setengah tertutup. "Wang Long? Tuan muda manja dengan dua elemen itu?"

"Ya! Dia menyebut kelompoknya 'Fraksi Naga'. Karena dia punya bakat tinggi, banyak senior Murid Luar yang langsung menjilatnya. Sekarang mereka menguasai separuh asrama ini!"

Zhao Yun duduk di tepi tempat tidurnya, suaranya dipelankan. "Pagi ini, kaki tangannya mulai mendatangi kamar-kamar murid baru. Mereka meminta 'Uang Keamanan'. Sepuluh Batu Roh atau Poin Kontribusi per bulan! Kalau tidak bayar, mereka akan mencari alasan untuk menantang duel dan membuat kita cacat!"

Lin Xuan tetap tenang. Di dunia sekte, pemerasan antar murid adalah rahasia umum. Selama tidak ada yang mati secara terang-terangan, para Tetua akan menutup mata. Ini adalah cara sekte menyaring yang lemah.

"Lalu?" tanya Lin Xuan.

"Lalu?! Mereka sedang menuju koridor kita, Mu Chen! Kamar sebelah baru saja digebuki karena menolak bayar!" Zhao Yun mengepalkan tangannya. "Kita tidak punya Sepuluh Batu Roh! Dan meskipun punya, aku tidak sudi memberikannya pada anjing-anjing itu!"

Tepat setelah Zhao Yun menyelesaikan kalimatnya...

BAM!

Pintu kamar ditendang.

Debu berterbangan. Tiga orang pemuda berjubah sekte dengan ban lengan bersulam benang emas (lambang Fraksi Naga) berdiri di ambang pintu.

Pemimpin mereka adalah seorang pemuda jangkung berwajah lonjong, memegang tongkat kayu ek yang diikat pelat besi. Kultivasinya berada di Qi Condensation Lapisan 5.

"Kamar 204," kata si wajah lonjong sambil menyeringai, mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke telapak tangan. "Waktunya bayar pajak perlindungan, junior."

Zhao Yun langsung berdiri, menghalangi pandangan mereka ke arah Lin Xuan yang masih duduk bersila.

"Kami tidak butuh perlindungan kalian!" kata Zhao Yun tegas, Qi angin mulai berputar ringan di sekitar tinjunya. "Keluar dari kamar kami!"

Si wajah lonjong tertawa keras, teman-temannya ikut tertawa.

"Oh, lihat ini. Pahlawan kesiangan," ejeknya. "Kudengar kau mengalahkan Zhang Hu si Codet. Kau pikir mengalahkan preman pasar tingkat bawah membuatmu hebat, hah? Kami ini orang-orang Tuan Muda Wang Long!"

Dia melangkah maju, mengangkat tongkatnya. "Pilihannya sederhana. Serahkan sepuluh Batu Roh, atau tinggalkan kamar ini dan tidur di kakus. Jika kau menolak keduanya..."

Tongkat besi itu diayunkan dengan kecepatan tinggi, mengincar lutut Zhao Yun.

TRANG!

Suara logam beradu keras memekakkan telinga.

Tongkat ek berlapis besi itu berhenti di udara, tertahan hanya beberapa inci dari lutut Zhao Yun.

Bukan Zhao Yun yang menahannya.

Lin Xuan, yang sedetik lalu masih duduk di ujung ruangan, kini berdiri di samping Zhao Yun. Tangan kanannya masih bersedekap di dada, sementara tangan kirinya memegang pedang besi... yang masih berada di dalam sarungnya.

Dia hanya menggunakan sarung pedangnya untuk menangkis pukulan sekuat tenaga dari kultivator Lapisan 5 itu.

Si wajah lonjong terkejut. Dia menarik tongkatnya, tapi sarung pedang Lin Xuan menempel padanya seperti magnet yang sangat berat, tak bergeming sedikit pun.

"Kau..." si wajah lonjong membelalak. "Lepaskan!"

Lin Xuan mengangkat wajahnya. Matanya sedingin es abadi, menatap ketiga preman itu layaknya menatap mayat yang sudah mati berhari-hari.

"Mengotori pintuku di pagi hari," suara Lin Xuan terdengar pelan, namun mengandung niat membunuh yang membuat suhu di ruangan itu terasa turun sepuluh derajat.

"Kalian punya tiga detik untuk meninggalkan Sepuluh Batu Roh sebagai biaya ganti rugi pintu, lalu merangkak keluar dari sini."

Lin Xuan mencondongkan tubuhnya ke depan. Jari jempol tangan kanannya perlahan menyentuh gagang pedang di pinggangnya, mendorong pelindung pedang itu terbuka sejauh satu milimeter.

"Atau aku akan menguji teknik baruku pada leher kalian."

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!