Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Three Wind Directions
Araluen
William tiba menjelang malam.
Istana Araluen menyambutnya dengan cahaya obor dan lantai marmer yang berkilau—terlalu bersih setelah berhari-hari di wilayah utara. Namun ketenangan itu tidak menenangkannya.
Ia langsung menuju ruang kerjanya.
“Panggil Kiel,” perintahnya singkat.
“Dan semua laporan wilayah abu-abu, sepuluh tahun terakhir.”
Sir Aldren terkejut. “Yang Mulia… wilayah itu biasanya diabaikan.”
“Justru karena itu,” jawab William.
Saat sendirian, William duduk dan membuka sarung tangan kulitnya. Tangannya berhenti di udara.
Anthenia Blackwood.
Ia teringat tatapannya—bukan tatapan bangsawan, bukan pula prajurit biasa.
Seperti seseorang yang sudah tahu akhir cerita… dan memilih melawan.
Ketukan terdengar.
Kiel de Courcy masuk membawa gulungan tebal. “Yang Mulia.”
William menunjuk meja. “Apa kau percaya takdir bisa bocor?”
Kiel terdiam sesaat. “Aku percaya… manusia sering tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”
William mengangguk pelan.
“Cari seseorang yang bergerak di antara wilayah. Tanpa lambang. Tanpa afiliasi.”
Kiel mengerutkan kening. “Seseorang seperti itu… tidak tercatat.”
“Justru itu,” kata William dingin.
“Dia ada.”
—
Benteng Blackwood
Jane berdiri di ruang strategi bersama Ash.
Ini pertama kalinya mereka benar-benar berbicara tanpa bayangan dan jarak.
“Kita tidak bisa saling percaya,” kata Jane langsung.
Ash menyandarkan bahu ke dinding batu. “Setuju.”
“Namun kita punya musuh yang sama.”
“Cerita,” jawab Ash singkat.
Jane menatap peta. “Dalam novel, setelah Blackwood diperhatikan istana, muncul tragedi kecil. Bukan kematian utama—tapi cukup untuk mendorong konflik besar.”
Ash mengangkat alis. “Dan tragedi itu belum terjadi.”
“Belum,” Jane mengangguk. “Artinya ada dua kemungkinan.”
“Aku tahu,” potong Ash.
“Entah kau mengubah alur… atau aku melakukannya lebih dulu.”
Jane menatapnya tajam. “Kau?”
Ash tersenyum tipis. “Aku mencegahnya.”
Jane membeku.
“Kau menghentikan peristiwa yang seharusnya terjadi?” tanyanya pelan.
“Ya,” jawab Ash tanpa ragu. “Dua tahun lalu. Di jalur dagang selatan. Seorang bangsawan kecil seharusnya mati. Aku menggeser waktu.”
Jane menghela napas panjang.
“Itu sebabnya ceritanya pecah.”
“Dan itu sebabnya kau di sini,” balas Ash.
“Cerita tidak suka dilawan sendirian.”
Jane menutup mata sesaat.
Jadi aku bukan pemicu pertama… tapi aku pemicu terbesar.
—
Kediaman Valerius
Heilen Valerius menjatuhkan cangkir tehnya.
Bukan karena emosi—melainkan insting.
“Ada yang salah,” gumamnya.
Alistair menoleh. “Tentang Blackwood?”
“Bukan,” jawab Heilen pelan.
“Ini lebih buruk.”
Ia berjalan ke jendela, menatap malam Araluen.
“Putra Mahkota bergerak. Blackwood berubah. Dan… aku kehilangan satu jalur lama.”
Alistair menyipitkan mata. “Jalur apa?”
Heilen tidak menjawab.
Karena jika jalur itu mati, pikirnya,
maka seseorang sedang bermain di belakangku.
—
Benteng Blackwood — malam
Jane duduk sendirian setelah Ash pergi.
Ia menulis satu kalimat di buku kosong—bukan catatan wilayah, bukan rencana perang.
“Aku tidak lagi mengikuti cerita. Aku menulisnya.”
Tangannya berhenti.
Namun di sudut pikirannya, satu pertanyaan menggema:
Jika Ash masuk lebih dulu…
siapa yang masuk setelahku?
Di luar, angin berputar dari tiga arah.
Utara.
Selatan.
Dan tengah.
Dan untuk pertama kalinya,
kekaisaran bergerak bukan karena perang—
melainkan karena orang-orang yang tahu terlalu banyak.
Kamar Anthenia — larut malam
Lampu minyak bergetar pelan.
Jane—atau Anthenia—duduk di tepi ranjang, menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajah muda delapan belas tahun itu tidak mencerminkan pikirannya.
Terlalu banyak yang bergeser.
Dalam novel, bagian ini seharusnya tenang. Tidak ada pergerakan besar. Tidak ada penyelidikan diam-diam dari putra mahkota. Tidak ada Ash yang mengaku mengubah alur.
Dan yang paling mengganggunya—
“William seharusnya tidak menyelidikanku,” gumamnya lirih.
Ia berdiri, berjalan menuju jendela, membuka sedikit tirai.
Benteng Blackwood tertidur.
Namun Jane tahu—ada orang yang terjaga.
Dia.
Bukan sebagai tunangan politik.
Bukan sebagai putri duke.
Sebagai variabel.
Jane menutup mata, mencoba mengingat.
“Tokoh baru…” bisiknya.
“Setelah bab ini… harusnya muncul seseorang dari wilayah abu-abu. Seseorang yang netral, tapi memicu perang besar.”
Namun ingatannya kabur.
Seolah halaman novel itu… dihapus.
—
Istana Araluen — ruang arsip rahasia
William berdiri di hadapan rak batu tua.
Debu tidak tersentuh puluhan tahun.
Kiel menyerahkan satu gulungan kecil. “Ini satu-satunya catatan yang tidak cocok dengan garis sejarah.”
William membukanya.
Nama itu tertulis samar.
Ash Calderon
Status: Tidak terklasifikasi
Wilayah: Tidak tetap
Catatan terakhir: Dihapus oleh perintah tidak dikenal
William menegang.
“Siapa yang bisa menghapus arsip kekaisaran?” tanyanya pelan.
“Tidak ada,” jawab Kiel.
“Kecuali… seseorang dengan akses di luar struktur.”
William teringat tatapan Anthenia saat duel.
Bukan kaget.
Bukan takut.
Seperti seseorang yang tahu… aku akan datang.
“Hubungkan Blackwood dengan nama ini,” perintah William.
Kiel ragu. “Jika benar—”
“Jika benar,” potong William, suaranya datar,
“maka aku tidak sedang memilih calon permaisuri.”
Ia menatap nama itu lama.
“Aku sedang memilih… sisi.”
—
Koridor gelap istana
Alistair berdiri sendirian.
Tangannya mengepal, kuku menekan telapak.
“William bergerak terlalu cepat,” gumamnya.
Bayangan mendekat.
“Karena dia mencium sesuatu,” suara itu lembut—Heilen.
“Apa yang kau sembunyikan, Ibu?” tanya Alistair akhirnya.
Heilen tersenyum, tapi matanya dingin.
“Aku menyembunyikan fakta,” jawabnya.
“Bahwa cerita ini tidak lagi milik keluarga Whiston.”
Alistair menelan ludah. “Lalu milik siapa?”
Heilen menatap ke arah luar istana—ke arah Blackwood.
“Milik orang yang datang dari luar halaman.”
—
Benteng Blackwood — dini hari
Jane terbangun tiba-tiba.
Bukan mimpi.
Insting.
Ia duduk tegak, meraih belati di bawah bantal—gerakan refleks dari kehidupan lamanya.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di meja kecil dekat jendela…
ada sesuatu yang tidak ia letakkan sebelumnya.
Sepotong kertas tipis.
Tanpa segel. Tanpa tanda tangan.
Hanya satu kalimat:
“Jika kau ingin tahu halaman yang hilang, datanglah sendirian.”
Jane menarik napas perlahan.
“Jadi,” bisiknya dingin,
“tokoh barunya muncul.”
Ia melipat kertas itu rapi.
Matanya tidak menunjukkan takut—
melainkan antisipasi.
Karena ia tahu satu hal pasti sekarang:
Cerita tidak lagi berjalan ke arahnya.
Cerita sedang memanggilnya.
Hutan perbatasan Blackwood — sebelum fajar
Kabut tipis menggantung rendah.
Jane melangkah sendirian, jubah hitam menutup sebagian wajahnya. Tidak ada pengawal. Tidak ada bayangan Ash. Ia sengaja memastikan dirinya benar-benar sendiri.
“Kalau ini jebakan,” gumamnya pelan,
“maka penulisnya ceroboh.”
Ia berhenti di sebuah lingkaran batu tua—tempat yang bahkan tidak disebutkan dalam novel.
Udara terasa… salah.
“Keluar,” ucap Jane tenang.
“Aku sudah datang.”
Hening.
Lalu suara langkah.
Bukan berat. Bukan ringan.
Terukur.
Sosok itu muncul dari balik kabut—seorang pria berambut perak kusam, mata abu-abu, mengenakan mantel wilayah tanpa lambang.
“Menarik,” katanya.
“Kau bahkan tidak bertanya siapa aku.”
Jane menatapnya datar. “Karena kau bukan karakter utama.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Benar,” ujarnya.
“Namaku Eryndor Vhal. Dan aku… tidak pernah muncul di versi novel yang kau baca.”
Jane menegang—bukan secara fisik, tapi mental.
“Jadi kau bukan kesalahan kecil,” katanya.
“Kau halaman yang dibuang.”
Eryndor mengangguk pelan. “Atau halaman yang disembunyikan.”
—
Lingkaran batu
“Apa yang kau inginkan?” tanya Jane langsung.
“Jawaban,” balas Eryndor.
“Dan pertukaran.”
Jane menyilangkan tangan. “Aku tidak menukar informasi gratis.”
Eryndor tertawa pelan. “Bagus. Itu berarti kau masih Jane… bukan Anthenia sepenuhnya.”
Hening.
Udara seakan membeku.
“Kau tahu namaku,” kata Jane, nadanya turun satu tingkat.
“Aku tahu lebih banyak,” jawab Eryndor.
“Termasuk fakta bahwa sebelum Ash… sebelum kau… ada satu orang lagi yang masuk ke dunia ini.”
Jane menahan napas.
“Dan dia gagal.”
—
Istana Araluen — ruang pengamatan
William berdiri di balkon tinggi, menatap kabut yang sama dari kejauhan.
Kiel berdiri di belakangnya.
“Yang Mulia,” kata Kiel pelan, “mata-mata kita melaporkan—Lady Anthenia meninggalkan benteng sebelum fajar.”
William tidak menoleh.
“Sendirian?”
“Ya.”
William memejamkan mata sesaat.
Jadi kau bergerak lebih cepat dariku.
“Biarkan,” katanya akhirnya.
“Jika aku menghentikannya sekarang, aku akan kehilangan jawabannya.”
Kiel ragu. “Dan jika dia tidak kembali?”
William membuka mata, tatapannya dingin dan tenang.
“Maka dunia ini akan berubah tanpa izinku,” katanya.
“Dan itu… tidak bisa kuterima.”
—
Kembali ke hutan
“Orang itu,” Jane akhirnya bicara,
“bagaimana dia gagal?”
Eryndor menatap kabut.
“Dia percaya cerita harus diselamatkan,” jawabnya.
“Bukan ditulis ulang.”
Jane tersenyum tipis—dingin.
“Kesalahan pemula.”
Eryndor mengangguk. “Itulah sebabnya aku memilihmu.”
“Memilih?” Jane mengangkat alis.
“Untuk memperingatkan,” jawab Eryndor.
“Di bab berikutnya… dunia akan memaksamu memilih satu dari tiga hal.”
Jane menatapnya tajam. “Apa?”
Eryndor mengangkat tiga jari.
“Putra Mahkota.”
“Wilayah abu-abu.”
“Atau… dirimu sendiri.”
Kabut menebal.
Saat Jane berkedip—
Eryndor menghilang.
Tertinggal hanya satu kalimat terukir di batu tua:
“Halaman yang hilang selalu menuntut harga.”
Jane menarik napas panjang.
“Baik,” bisiknya.
“Kita lihat… siapa yang menulis akhir.”
Ia berbalik, kembali ke Blackwood—
tanpa tahu bahwa tiga pasang mata sedang menunggu langkah berikutnya.