NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Madam Xu

********

Satu Minggu berlalu dalam keheningan, ketika perasaan duka memenuhi kediaman keluarga Yun. Orang paling berpengaruh, Yun Fang, kepala keluarga Yun yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan bisnis keluarga harus menutup umurnya karena pembunuhan.

Hal ini meninggalkan rasa duka, kehilangan dan kekhawatiran yang dalam bagi seluruh anggota keluarga, bahkan para pelayan dan orang-orang yang menggantungkan kehidupan mereka pada bisnis keluarga bangsawan itu.

Tuan Yun Fang, tidak hanya sebagai orang yang mengekspansi bisnis tenun keluarga, dia juga orang yang sangat pandai bermain bisnis seperti itu, bahkan tuan Sun, pemilik pabrik teh mengamati kehidupannya dan perlahan-lahan memandangnya sebagai saingan dan orang yang kuat.

Hanya ada tiga keluarga besar yang memiliki bisnis besar, diantaranya, keluarga Yun, keluarga Sun dan Qin.

Mereka bertiga adalah tiga keluarga bangsawan di desa yang saling berperang, tidak hanya di dalam, tapi juga di luar desa.

Oleh karena itu dengan kematian tuan Yun Fang, itu tidak hanya membuat duka di desa, tapi juga di luar daerah, bahkan berita kematiannya pun sampai pada telinga yang mulia Maharani. Dia segera memerintahkan badan intelijen untuk menyelidiki kasus ini.

Segera setelah tiga hari pemakaman, tiga orang pria akan tiba di kediaman keluarga Yun.

Madam Xu, istri sekaligus kepala keluarga pengganti langsung membuat persiapan untuk menyambut tiga tuan yang akan datang.

Karenanya keributan besar terjadi pada pagi hari dan berangsur-angsur mereda setelah satu jam berlalu.

Di aula yang lantainya di lapisi karpet merah, Madam Xu sedang duduk di depan meja kecil dengan secangkir teh hangat yang perlahan-lahan dingin. Dia sadang menunduk. Ekspresinya terlihat dalam dan matanya sedikit kosong.

Dia duduk untuk waktu yang lama dan tidak bergerak sedikit pun. Tidak ada yang datang, bahkan tidak ada yang akan datang.

Para pelayan, bahkan anggota keluarga tidak akan berani mengganggunya dalam suasana hati yang buruk.

Aula itu cukup besar dengan area yang terbuka, hanya di batasi pagar kayu mewah.

Suara gerisik air bisa terdengar dari kolam di samping penuh dengan bunga-bunga Lotus merah muda.

Butuh satu jam untuk salah seorang pelayan berlarian tergesa-gesa dan dengan ekspresi panik berseru, “Nyonya, nyonya, mereka sudah datang!”

******

Hanya Madam Xu yang datang seorang diri ke depan gerbang, secara langsung dan sopan menyambut tiga orang dari badan intelijen.

Segera mereka dibawa ke dalam dan di persilahkan duduk di aula.

Sebelum mereka duduk, Madam Xu yang ada di tengah segera membungkuk dalam-dalam dan penuh kehormatan berkata, “Terima kasih telah datang mengunjungi tempat kami para tuan-tuan. Silahkan, Tehnya akan di hidangkan.”

Tiga orang pria yang tubuhnya terbungkus pakaian mewah merasa terhormat dengan perilaku Madam Xu yang sopan.

Wanita itu, tidak hanya cantik dalam penampilan, tetapi juga dalam perilaku. Benar-benar seorang wanita yang terpelajar, yang tubuh dan kapasitas intelektualnya setara.

Lalu orang-orang duduk dan dua pelayan yang sopan segera masuk ke ruangan untuk menghidangkan teh.

Segera para tamu menyicipi Tehnya, kemudian mereka mulai menanyakan di mana terakhir kali atau pergi tuan Yun Fang.

Madam Xu dengan mata berkaca-kaca menjawab, “Suamiku pergi malam itu karena ada hal yang mendesak ke luar desa. Saat malam itulah pembunuhannya terjadi.”

Salah satu pria berpikir sebentar lalu bertanya, “Jalan mana yang tuan Yun lalui?”

“Dia tidak pernah pergi ke tempat-tempat sepi dan bahkan tahu jika semua orang mengincarnya. Namun, karena malam itu tergesa-gesa dan mendadak, dia pergi dengan gegabah, tetapi aku yakin, dia tidak akan mengambil jalan yang sepi.”

Madam Xu menceritakannya dengan sungguh-sungguh dan wajahnya menunjukkan antara duka dan kebencian.

Di antara tiga pria itu, semuanya berpikir lalu saling pandang beberapa saat lalu berdiri.

Madam Xu sedikit terkejut dan berdiri. Dia ingin bertanya tapi tuan Fang segera berkata, “terima kasih, kami akan menemukan penjahatnya dan mengirimnya ke kediaman anda secepat mungkin.”

Kelegaan sedikit muncul dalam hati Madam Xu. Dia segera membungkuk memberi hormat. “Terima kasih tuan-tuan. Aku menyerahkan semuanya pada kalian. Keadilan bagi suamiku harus di capai dengan cara apa pun,” katanya sungguh-sungguh. “Dan datanglah kembali jika kalian menginginkan sesuatu. Apa saja, tempat ini terbuka untuk kalian.”

Tuan-tuan dari badan intelijen berterima kasih, memohon pergi dan Madam Xu mengantarnya hingga di depan gerbang.

Mereka memasuki kereta dan perlahan-lahan pergi.

Wajah Madam Xu masih saja seperti sebelumnya, sedikit dingin dan dipenuhi duka. Dia mengusap sedikit air matanya yang jatuh lalu menghela nafas.

Dia teringat sesuatu lalu perlahan-lahan menutup pintu.

Berjalan di lorong panjang kediamannya. Dia menikmatinya tapi hatinya tetap terasa dingin. Dia memandang telaga di halaman yang penuh dengan ikan-ikan berwarna kuning, namun hanya sedikit memberinya ketenangan.

Madam Xu menghela nafas dan berpikir mungkin itu memang seharusnya terjadi. Dia melanjutkan perjalanan dan akhirnya melihat Nona Yun Taoshi yang sedang mengamati lukisan besar cabang persik dengan latar salju cerah. Dia berkata tenang, “Kamu suka lukisan?”

Nona Yun menoleh.

Madam Xu berjalan tiga langkah sambil memandang lukisan itu. “Kamu tahu, pelukisnya seorang pengkhianat, pengkhianat negara.”

Nona Yun sedikit terkejut. “Bagaimana ibu tiri bisa tahu?”

“Jangan panggil ibu tiri, itu membuatku merasa asing. Bagiku, kamu dan yang lainnya sama saja. Bahkan ketika ibumu masih ada, kamu sudah kuangkat menjadi anakku sendiri.”

Nona Yun menghormati Madam Xu dan membungkuk. “Baik, ibu.”

Madam Xu menghela nafas. “Seberapa aku bekerja keras, kamu masih menganggapku orang asing.”

Nona Yun tahu apa yang dirasakannya, menjadi tidak enak, namun dia tidak bisa menipu perasaannya sendiri.

Madam Xu melanjutkan, “Setelah ayahmu meninggal, menurutmu siapa yang akan menggantikannya?”

Nona Yun diam sejenak. “Aku belum memikirkan itu.”

“Aku mengerti. Sebagai perempuan, kamu tidak peduli dengan itu.”

Nona Yun tidak menjawabnya walaupun itu bertentangan.

Kemudian madam Xu memperhatikan lukisan dan berkata, “Sayang sekali, lukisan ini di buat oleh pengkhianat. Tetapi, itu juga memberi nilai tambah untuknya.”

“Mengapa lukisan ini bisa ada di sini?”

“Aku juga tidak tahu. Ketika aku tiba di sini, lukisan ini sudah terpajang seperti ini.”

Nona Yun memperhatikannya dan dia memikirkan beberapa hal dalam beberapa menit. Begitu juga Madam Xu, keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

*****

Waktu berlalu dan satu Minggu pun tiba.

Selama itu hanya satu kali badan intelijen yang datang dan bertanya tentang makanan apa yang di sukai Tuan Yun Fang.

Madam Xu menjawab dengan seadanya.

Kemudian badan intelijen pun kembali pergi.

*****

Chen Li diam di bawah pohon, memegang payung. Hujan berjatuhan pelan.

Sebelumnya hujannya deras sekali dan Chen Li pikir hujan tidak akan reda, tapi perlahan-lahan butiran-butiran menjadi jauh lebih kecil dan pelan.

Dia segera pergi ke akademi desa.

Melihat tidak ada orang di sana, dia berpikir pasti tidak banyak murid-murid bangsawan yang akan datang. Dia ingin lihat, apa murid-murid ini akan menghargai pengetahuan jauh lebih berharga dari rasa dingin yang mereka alami.

Dan juga menantikan, apa gadis yang di sukainya akan datang juga.

Chen Li hanya ingin melihat dan mengamatinya sebelum benar-benar mendekat.

Setelah beberapa saat, dia mendengar langkah kaki dan dalam sekejap dia melompat lalu berdiri di atas dahan pohon.

Melihat ke bawah, dua orang gadis berpakaian putih sedang mendekat.

Salah satunya merasa kedinginan dan berkata, “Sebenarnya aku tidak ingin keluar hari ini, tapi ayah memaksaku. Dingin sekali di luar.”

“Aku juga. Jika bukan karena harus belajar, aku lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar seorang diri.”

Mereka berjalan melintasi bawah pohon tanpa menyadari Chen Li.

Melihat aula desa yang dipenuhi air, segera mereka mengambil sapu dan membersihkannya.

Tidak lama tiga orang pria datang dengan tertawa riang.

Lalu dua wanita lagi datang tanpa berbicara.

Tidak berselang lama, seorang wanita yang terlihat tenang dan tersenyum ketika melihat teman-temannya sudah datang, segera mempercepat langkahnya.

Lalu setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tuan putri kepala desa datang dengan wajah tenang.

Chen Li menatapnya. Dia dapat melihat kelembutan dan ketenangan gadis itu.

Ekspresinya tenang dan kalem.

Ketika berada di bawah pohon, dia diam sebentar. Ingin mengangkat wajahnya tapi ada sesuatu yang terjatuh di kepalanya.

Mengambilnya, ternyata itu daun kering.

Dia segera berjalan lebih cepat dan segera duduk di bawah pohon, membersihkannya dan mulai menulis.

Tidak lama salah seorang murid perempuan berkata, “Apa yang sedang kamu tulis? Apa itu sangat penting?”

Putri kepala desa memandangnya, sedikit tersenyum. “Aku suka menulis.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!