Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Orang, Bu !!!
Pagi itu, Arga berangkat ke kantor dengan langkah terburu-buru. Di rumah, suasana masih terasa mencekam. Tiara pun tampak kesal karena tidak bisa mengenakan kemeja yang senada dengan teman-temannya. Sementara itu, Laras sudah lebih dulu berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak karuan.
Ketegangan di meja makan tadi masih membekas. Arga mengamuk karena Laras tidak membangunkannya, Bu Ajeng pun ikut meradang hanya karena Laras cuma menyajikan nasi goreng sederhana. Belum lagi Tiara yang berteriak-teriak karena pakaiannya belum dicuci oleh Laras. Empat tahun pernikahan ini, rasanya Laras lebih mirip pelayan daripada seorang istri.
"Jam berapa ini? Kenapa baru datang? Mana laporan yang saya minta jumat kemarin?" tanya Pak Handoko ketus begitu melihat Arga muncul.
Arga menepuk keningnya. Sial. Ia benar-benar lupa dengan tugas itu. Laporan tersebut baru terselesaikan separuh, padahal Pak Handoko, sang manajer pemasaran, memintanya pagi ini tanpa toleransi.
"Mana, Ga?" desak Pak Handoko lagi.
"Maaf, Pak. Saya lupa menyelesaikannya karena badan saya drop sejak jumat sore. Kemarin seharian saya cuma bisa terbaring di rumah. Sepertinya vertigo saya kambuh, Pak." dusta Arga lancar. Ia tahu benar watak Pak Handoko yang tegas dan tak segan memecat karyawan yang beralasan tidak masuk akal. Ini bukan kali pertama Arga ditegur karena kinerjanya yang berantakan.
"Halah, alasan klasik. Selesaikan sekarang juga. Sebelum jam satu siang, laporan itu harus sudah ada di meja saya. Kalau tidak, saya sendiri yang akan menghadap Direktur untuk meminta surat pemecatanmu." ancam Pak Handoko sebelum berlalu pergi.
"Iya, Pak." jawab Arga sambil menahan geram. Begitu punggung Pak Handoko menjauh, makian langsung meluncur dari bibirnya. "Dasar tua bangka tidak tahu diri. Dia pikir dia yang punya perusahaan ini apa? Bisanya cuma mengancam."
"Kalau mau memaki, mending di depan orangnya langsung, Ga. Biar puas. Kalau sudah pergi begini mah percuma." sahut Gea, rekan kerja di samping meja Arga, dengan nada menyindir.
"Diam kau, Ge." sentak Arga ketus.
"Tapi benar kamu sakit, Ga? Kemarin aku lihat status WhatsApp-mu lagi di pantai. Masa orang vertigo kuat main ke pantai?" timpal Andri, rekan kerja lainnya yang ikut merasa heran.
Arga tersentak, merasa terpojok. "Sudahlah, jangan banyak tanya. Waktunya kerja, bukan bergosip."
Teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka sadar Arga mulai sering berbohong dan bekerja semaunya sendiri akhir-akhir ini.
"Aku benar-benar lupa soal laporan itu karena keasyikan jalan dengan Angel sampai tengah malam. Tapi tidak apa-apa, yang penting Angel bahagia. Lagipula, dia sudah menyerahkan segalanya padaku. Aku harus memastikan dia semakin lengket." atin Arga dengan senyum penuh kemenangan.
**
Sementara itu, di sebuah rumah besar yang asri, Angel sedang membantu ibunya, Bu Sitti, merapikan ruang tamu. Ayahnya, Pak Komar, sedang pergi mengantar majikannya.
"Bu, aku sudah punya pacar. Dia itu mantan pacarku zaman SMA. Setelah delapan tahun, akhirnya kami bertemu lagi dan balikan." ucap Angel sambil mengelap meja kayu yang mengkilap.
"Kaya tidak?" tanya Bu Sitti tanpa basa-basi.
"Kaya, Bu. Rumahnya besar, dia juga punya mobil dan kerja kantoran. Orangnya royal sekali, lihat saja, aku baru saja dibelikan cincin ini." pamer Angel sambil menunjukkan jemari manisnya.
Mata Bu Sitti berbinar. "Wah, kalau memang kaya dan royal, pepet terus sampai dapat. Kalau kamu menikah dengan dia, hidup kita bisa berubah. Ibu sudah bosan bertahun-tahun jadi asisten rumah tangga begini. Ibu ingin santai, belanja tanpa harus memikirkan uang."
Angel tersenyum tipis, lalu menarik napas panjang. "Iya sih, Bu. Tapi masalahnya... Mas Arga itu sudah punya istri. Tapi dia janji akan segera menceraikannya dan menikahiku. Aku mencintai Mas Arga, tapi aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku cinta uangnya, Bu."
Bu Sitti sempat terdiam sejenak, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Angel menunduk, takut ibunya akan marah karena ia menjadi selingkuhan.
Namun, jawaban Bu Sitti justru di luar dugaan. "Kalau memang kalian saling cinta, ya tidak masalah. Lagipula jodoh itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari suami orang. Tenang saja, Ibu akan mendukungmu sepenuhnya."
"Serius, Bu? Terima kasih! Pokoknya kalau aku sudah menikah dengan Mas Arga, Ibu dan Ayah tidak perlu bekerja capek-capek lagi. Kita akan beli apa saja tanpa melihat label harga." seru Angel bangga.
"Ibu juga sudah jenuh, Ngel. Sudah empat tahun Ibu bekerja di sini. Kalau Ayahmu malah sudah sepuluh tahun ikut Pak Harun. Memang sih gajinya besar dan kerjanya tidak terlalu berat karena majikan kita jarang di rumah, tapi tetap saja Ibu ingin jadi nyonya." keluh Bu Sitti.
Diam-diam, Angel dan ibunya memang memiliki tabiat yang sama, gila harta dan haus akan pengakuan sosial.
"Bu, Mas Arga tahunya rumah besar ini adalah milik kita. Dia ingin bertemu Ibu dan Ayah, bagaimana ya?" tanya Angel mulai cemas.
"Tunggu saja sampai Pak Harun dan Bu Sulis pergi lama. Biasanya mereka bisa berbulan-bulan tidak pulang ke sini. Nanti kamu bawa Arga dan keluarganya ke sini. Kita bisa bebas berlagak seperti pemilik rumah." usul Bu Sitti memberi ide licik.
"Lalu Ayah? Ayah kan orangnya lurus." tanya Angel lagi.
"Soal Ayahmu itu urusan Ibu. Nanti Ibu yang bicara. Lagipula kalau Pak Harun pergi, Ayahmu biasanya ikut mengantar. Jadi tenang saja, tapi jangan dalam waktu dekat. Pak Harun baru saja datang kemarin, belum tahu kapan berangkat lagi."
Angel dan ibunya saling melempar senyum penuh rencana. Angel merasa sangat beruntung. Arga yang sekarang jauh lebih mapan dibanding Arga zaman SMA yang sering ia bayari makan.
"Bu, bukankah anaknya Pak Harun itu perempuan semua? Laras dan Mutia kan? Kenapa mereka tidak tinggal di sini saja?" tanya Angel penasaran.
"Si Laras sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya, sedangkan Mutia lebih memilih tinggal di asrama kampus. Biarkan saja, malah bagus buat kita. Ibu tidak perlu repot melayani mereka di rumah ini." jawab Bu Sitti.
Bu Sitti memang tinggal di paviliun belakang. Tugasnya adalah menjaga agar rumah mewah milik orang tua Laras itu tetap terawat. Namun, karena sang pemilik jarang ada, ia merasa rumah itu sudah seperti miliknya sendiri.
"Benar juga, Bu. Kalau mereka ada di sini, aku tidak bisa pamer ke teman-temanku. Mereka semua mengira aku ini anak orang kaya karena aku sering foto-foto di rumah ini." ucap Angel bangga.
"Tapi jangan terlalu sering pamer di media sosial, nanti kalau anak majikan tahu, kamu sendiri yang malu." pesan Bu Sitti mengingatkan.
"Tenang saja, Bu, semua bisa kuatur. Ya sudah, aku mandi dulu ya. Aku mau ke rumah Mas Arga. Ada mobil kan, Bu? Pinjam ya?"
"Ada, tapi harus pulang sebelum jam enam sore ya. Kata Ayahmu, Pak Harun dan rombongan akan pulang jam enam setelah selesai acara kondangan." ujar Bu Sitti.
"Siap, Bu!"
Angel pun melangkah menuju kamarnya di area belakang dengan hati berbunga-bunga. Ia harus tampil cantik karena hari ini ia akan dikenalkan secara resmi kepada kakak pertama Arga, Dimas.