Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kedamaian 3 Bulan
Ruang utama vila mewah itu tampak seperti baru saja dihantam badai. Pecahan kaca berserakan di atas karpet bulu yang terkoyak, perabotan kayu hancur berantakan, dan dua mayat penjaga elit tergeletak kaku di sudut ruangan.
Di tengah kekacauan itu, keheningan yang sangat pekat mengambil alih.
Ji Wuyue, Ratu Ular dari faksi Ji yang selama ini ditakuti oleh para penguasa dunia persilatan Jinghai, kini berlutut merendah di atas lantai. Gaun cheongsam merahnya yang robek di bagian paha mengekspos kulit putih mulusnya, menempel ketat pada tubuhnya yang dibanjiri keringat dingin. Wajah cantiknya menunduk dalam, bibir merahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatu Ye Xuan.
Dada penuh wanita itu naik turun dengan ritme yang memburu. Bukan lagi karena panik, melainkan karena sensasi asing yang kini membakar setiap inci sarafnya. Segel Darah di jantungnya tidak hanya mengikat kesetiaannya, tapi juga menghancurkan dinding keangkuhan yang selama ini ia bangun.
Di balik fasad wanita mematikan yang selalu menyiksa musuhnya, Ji Wuyue menyimpan hasrat gelap yang tak pernah bisa ia puaskan hasrat untuk ditaklukkan, dihancurkan, dan didominasi secara absolut oleh eksistensi yang jauh lebih kuat darinya. Dan malam ini, pria berjubah hitam di depannya telah memberikan dominasi itu dengan cara yang paling brutal.
"Angkat kepalamu," perintah Ye Xuan. Suaranya datar, tanpa emosi, dan sangat dingin.
Tubuh Ji Wuyue tersentak pelan. Otot-ototnya patuh sebelum otaknya sempat berpikir. Dia mendongakkan kepalanya perlahan, mempertemukan sepasang mata rubahnya dengan tatapan Ye Xuan yang segelap jurang.
Wajah Ji Wuyue memerah pekat. Matanya yang biasanya memancarkan racun mematikan kini terlihat sayu, basah, dan dipenuhi oleh kabut kerinduan yang sangat sensual. Bibirnya sedikit terbuka, mengeluarkan embusan napas yang panas.
Ye Xuan menatapnya dalam diam. Dia membungkukkan tubuhnya sedikit. Tangan kanannya terulur, menjepit dagu Ji Wuyue dengan ibu jari dan telunjuknya. Cengkeramannya kuat, sedikit kasar, mempertegas perbedaan status di antara mereka.
Alih-alih menepis atau marah, Ji Wuyue justru memejamkan matanya sesaat. Dia mencondongkan wajahnya, menggesekkan pipinya dengan sangat manja ke punggung tangan Ye Xuan layaknya peliharaan yang sedang mencari kehangatan majikannya. Terdengar suara desahan tertahan yang sangat pelan dari tenggorokannya.
"Siapa namamu?" tanya Ye Xuan, menguji batasan Segel Darah itu.
"Ji Wuyue... pelayanmu yang paling hina, Tuanku," bisik wanita itu dengan suara mendayu yang bergetar karena gairah. "Seluruh nyawa, tubuh, dan jiwa ini... adalah milikmu untuk kau gunakan sesukamu."
"Bagus," ucap Ye Xuan, melepaskan cengkeramannya di dagu Wuyue. Dia kembali berdiri tegak. "Egomu sudah hancur, tapi aku tidak butuh pelayan yang bodoh. Berdirilah."
Ji Wuyue bangkit dengan susah payah. Kakinya masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa efek Pukulan Pemutus Meridian. Dia berdiri dengan postur sedikit menunduk, kedua tangannya disilangkan di depan perutnya dengan sangat sopan, menunggu perintah.
"Dengarkan aku baik-baik," Ye Xuan memulai intruksinya. "Pertama, bereskan kekacauan ini. Kedua, buat laporan palsu ke faksi Ji pusat. Katakan bahwa Kuang tewas dalam penyergapan oleh sindikat musuh dari kota tetangga. Hentikan semua pencarian terhadap 'Tabib Tanpa Nama'."
"Perintah Anda adalah hukum mutlak, Tuanku," angguk Wuyue patuh.
"Ketiga," Ye Xuan menatap lurus ke arah mata wanita itu. Inilah tujuan utamanya. "Ujian kelulusan SMA-ku tinggal tiga bulan lagi. Setelah lulus, aku akan mengambil waktu satu tahun penuh sebelum masuk universitas. Dalam kurun waktu itu, tugasmu adalah mengumpulkan aset cair, mengamankan jalur bisnis bawah tanah Jinghai, dan membelikan ramuan-ramuan medis tingkat tinggi untukku berlatih. Kau yang akan menjadi wajah di permukaan, sementara aku yang memegang talinya dari balik bayangan."
Mata rubah Wuyue berbinar kagum. Rencana yang sangat rapi dan licik. Menggunakan kekuatan faksi Ji untuk membiayai kultivasi pribadi majikannya. "Wuyue akan memastikan Tuan mendapatkan gunung emas dan sumber daya yang tak terbatas."
Wanita itu melangkah maju setengah langkah. Dia memberanikan diri mengangkat kedua tangannya yang lentik, lalu memegang ujung lengan jaket Ye Xuan yang robek dengan sangat lembut. Tubuhnya yang memancarkan aroma mawar beracun kini terasa sangat dekat.
"Tuanku..." bisik Ji Wuyue dengan napas yang memburu. Matanya menatap bibir Ye Xuan dari balik bayangan tudung. "Wuyue telah menyerahkan segalanya padamu. Jika Anda berkenan... malam ini... Wuyue bisa melayani Anda lebih dari sekadar mengurus mayat. Ranjang di kamarku sangat luas, dan aku bersedia melakukan... apa saja yang Tuan perintahkan untuk menghukum tubuh ini."
Namun, Ye Xuan adalah pria pragmatis berusia 35 tahun. Otaknya selalu mengutamakan logika dan efisiensi. Dia menatap Wuyue dengan dingin, lalu menarik lengannya dengan gerakan tegas, menepis tangan wanita itu.
"Sadari batasanmu, Wuyue," ucap Ye Xuan dengan nada yang sangat rendah dan mengintimidasi. "Selesaikan tugasmu. Buktikan nilaimu selama tiga bulan ke depan. Jika kau bisa menyingkirkan semua lalat yang mengganggu bisnisku tanpa membuat kesalahan... mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memberikanmu sedikit sentuhan sebagai hadiah."
Penolakan dingin itu menembus ulu hati Ji Wuyue. Namun, alih-alih merasa sakit hati, penolakan itu justru menghantam titik masokis terdalam di jiwanya. Jantungnya berdebar menggila. Diabaikan dan diperlakukan seperti alat oleh pria yang memiliki kuasa absolut atas dirinya memberikan ledakan euforia yang tak bisa ia jelaskan.
"A-Ah..." Wuyue mendesah pelan, meremas ujung gaunnya sendiri untuk menahan tubuhnya agar tidak kembali berlutut. Wajahnya semakin merah padam. "M-Maafkan kelancangan Wuyue, Tuanku... Hukuman Tuan, penolakan Tuan... semuanya terasa begitu indah. Wuyue akan membuktikan diri."
Ye Xuan hanya tersenyum tipis di balik kegelapan tudungnya. Segel Darah itu benar-benar mengunci psikologis wanita ini dengan sempurna. Wuyue adalah pedang bermata dua yang mematikan bagi musuh, namun gagangnya kini terpasang kuat di genggaman Ye Xuan.
"Aku akan menghubungimu besok," ucap Ye Xuan, lalu berbalik dan melesat menghilang ke dalam kegelapan malam.
Keesokan paginya.
Kehidupan warga sipil Kota Jinghai berjalan normal seperti biasa, sama sekali tidak menyadari perpindahan kekuasaan masif yang baru saja terjadi di dunia bawah tanah mereka semalam.
Ye Xuan berjalan santai memasuki lorong SMA Jinghai. Waktu kelulusan tinggal tiga bulan lagi. Dia berencana menghabiskan sisa waktu sekolahnya ini dalam kedamaian mutlak, menyerap sumber daya yang akan dikirimkan Wuyue, dan memperkuat fisik remajanya.
Saat dia masuk ke kelas 2-B, suasana terasa sedikit canggung.
Di barisan depan, Zhao Wei sedang duduk dengan wajah pucat pasi. Lengan kanannya dibungkus oleh penyangga kain medis. Meskipun dia masih mengenakan sepatu mahal dan jam tangan Rolex-nya, aura arogansinya lenyap. Setiap kali ada suara kursi ditarik atau meja bergeser, bahu Zhao Wei langsung tersentak kaget.
Di sampingnya, Lin Xia sedang berusaha menghiburnya. Gadis cantik itu menempelkan lengannya ke lengan Zhao Wei yang tidak terluka.
"Zhao Wei, jangan terlalu dipikirkan cedera lenganmu. Dokter bilang ini hanya saraf yang terkilir," ucap Lin Xia dengan nada manja, mencoba mengembalikan kepercayaan diri pangeran kayanya itu. "Akhir pekan ini keluargamu jadi mengajakku makan malam di restoran bintang lima itu kan?"
Zhao Wei hanya mengangguk kaku tanpa menatap Lin Xia. Matanya dengan liar melirik ke arah pintu. Saat Ye Xuan melangkah masuk, napas Zhao Wei langsung tertahan. Pria kaya itu memalingkan wajahnya secepat kilat, menundukkan kepalanya dalam-dalam menghadap meja, tidak berani melakukan kontak mata sedikit pun.
Ye Xuan berjalan melewati meja mereka berdua tanpa melambat. Dia bahkan tidak melirik ke arah Zhao Wei atau Lin Xia. Di matanya, anak orang kaya yang trauma itu dan gadis materialistis di sampingnya hanyalah sekumpulan NPC (karakter figuran) yang tidak memiliki nilai jual.
"Biarkan mereka berenang dalam ilusi kekayaan mereka," batin Ye Xuan dengan tenang sambil duduk di kursinya di sudut belakang. "Menghancurkan keluarga Zhao sekarang terlalu membuang energi Wuyue yang seharusnya kugunakan untuk mencari Batu Spiritual. Tiga bulan ini... aku hanya akan menjadi bayangan."
Dan begitulah, roda waktu mulai berputar cepat.
Satu bulan... dua bulan... tiga bulan berlalu dalam keheningan yang mematikan.
Selama waktu tersebut, tidak ada lagi perundungan di kelas 2-B. Zhao Wei benar-benar menjaga jarak radius sepuluh meter dari Ye Xuan. Lin Xia yang kebingungan melihat sikap Zhao Wei perlahan mulai merasa di atas angin, mengira bahwa Zhao Wei mengabaikan Ye Xuan karena yatim piatu itu tidak level dengannya.
Namun di balik layar, malam demi malam, Ye Xuan menerima koper-koper berisi uang tunai, herbal langka bermutu tinggi, dan informasi dari pelayan setianya, Ji Wuyue. Pil demi pil diserap oleh tubuh Ye Xuan. Tenaga fisiknya meningkat tajam melampaui batas manusia.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh para remaja itu tiba. Ujian kelulusan selesai, dan malam ini adalah malam Pesta Perpisahan Angkatan SMA Jinghai. Sebuah panggung di mana topeng-topeng terakhir masa remaja akan dilepas sebelum mereka melangkah ke dunia nyata.