NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Legenda Bayangan Kehampaan

Ye Chenxu terhuyung, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia segera duduk bersila di tengah kekosongan itu, mengalirkan Sutra Kehampaan Awal dengan ritme yang lambat.

Pemuda itu tidak mencoba melawan energi yang masuk, justru menyelaminya dan menjadikannya bagian dari napasnya.

“Aku akan tetap sadar,” bisiknya dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. “Bahkan jika seluruh dunia berubah menjadi abu, aku akan tetap menjadi Ye Chenxu.”

Keheningan yang damai akhirnya turun. Ruang di sekelilingnya bergetar ringan, dan di hadapannya, sebuah gulungan hitam berbahan material yang menyerupai kulit naga purba perlahan muncul.

Gulungan itu memancarkan aura yang begitu dalam hingga seolah-olah menyerap suara di sekitarnya.

“Kitab Awal Kehampaan — Bab Pertama.”

Informasi dalam jumlah besar mengalir deras ke dalam benaknya, mengukir simbol-simbol emas di dinding kesadarannya.

Teknik pertama dari warisan ini terbuka: Langkah Sunyi Tanpa Jejak.

Ini bukan sekadar teknik kecepatan seperti yang dimiliki sekte-sekte besar, bukan pula teknik ilusi untuk menipu mata.

Melainkan metode tingkat tinggi untuk menghapus eksistensi penggunanya sesaat, membuat molekul tubuh dan frekuensi aura menyatu sepenuhnya dengan elemen kehampaan di alam semesta.

Saat teknik ini digunakan, Ye Chenxu tidak lagi berada "di sana", namun juga tidak pergi ke mana pun, ia akan seolah-olah menjadi tiada.

Pikiran Ye Chenxu bergetar hebat saat memahami esensi teknik ini.

“Kau tidak berlari menghindari musuh …” gumamnya.

“Kau menghilang dari eksistensi mereka,” sambung bayangan kuno itu sambil mengangguk. “Dan jika suatu hari kau menguasainya hingga tahap puncak, bahkan mata langit pun tidak akan mampu menemukan jejakmu.”

Ketika Ye Chenxu membuka matanya kembali, ia menemukan dirinya duduk bersila di tengah aula reruntuhan. Cahaya hitam yang tadi menyelimutinya telah sirna.

Keadaan aula sangat mengerikan. Mayat-mayat kultivator yang tadinya bertarung kini berserakan seperti sampah, banyak yang mati dengan wajah penuh teror.

Darah yang tumpah telah membeku di atas lantai batu dingin yang retak-retak. Sisa-sisa energi pertarungan masih menggantung di udara, berbau besi dan kematian.

Ye Chenxu bangkit perlahan dan merasakan sensasi aneh di punggung tangannya. Sebuah tanda segel kehampaan samar, berbentuk garis melingkar yang rumit, berdenyut pelan di sana sebelum memudar di bawah kulitnya.

Di sudut aula, di balik sebuah pilar yang hancur, seorang kultivator dari kelompok pemburu yang masih hidup memandangnya dengan tubuh gemetar hebat.

Dia menyaksikan bagaimana Ye Chenxu "ditelan" cahaya dan kini bangkit dengan aura yang jauh lebih menakutkan.

“I-iblis ... Kau benar-benar iblis dari jurang ...” isak kultivator itu sambil mencoba menyeret tubuhnya mundur.

Ye Chenxu menatap pria itu sejenak. Matanya yang jernih namun sunyi tidak memancarkan kebencian, melainkan kekosongan yang dalam.

Kali ini, ia tidak mengangkat senjatanya karena tidak merasa perlu membunuh sisa-sisa orang yang sudah patah semangat ini.

Ia hanya melangkah pergi menuju pintu keluar reruntuhan.

Pada langkah ketiga, tubuh Ye Chenxu mengabur seperti bayangan yang terkena cahaya terang. Di langkah keempat, ia benar-benar lenyap.

Tidak ada getaran angin ataupun suara gesekan pakaian. Ia menghilang begitu saja dari pandangan mata manusia, seolah-olah memang tidak pernah berdiri di sana sejak awal.

Di luar reruntuhan, angin Dunia Bawah bertiup kencang, menyambut sang pewaris kehampaan yang baru saja lahir.

***

Hujan hitam turun perlahan di Dunia Bawah, jatuh seperti butiran abu yang mencair dalam kegelapan. Tidak ada aroma tanah yang basah atau kesejukan yang menyegarkan, yang ada hanyalah bau belerang yang samar dan rasa pahit yang menempel di lidah.

Langit kelabu di atas sana dipenuhi awan berat yang menggantung rendah, seolah-olah seluruh wilayah itu tengah menahan napas dalam kecemasan, menunggu badai besar yang akan segera pecah menghancurkan segalanya.

Di balik reruntuhan batu-batu tajam dan jajaran pepohonan mati yang dahannya meliuk seperti jemari mayat, sesosok bayangan bergerak tanpa suara.

Ye Chenxu!

Pemuda itu tidak lagi berjalan seperti manusia biasa. Tubuhnya seolah menyatu dengan gelap, setiap inci keberadaannya nyaris tidak terdeteksi oleh indra visual maupun spiritual.

Gerakannya ringan, senyap, dan mengalir seperti kabut yang tertiup angin.

Dia bukan lagi sekadar makhluk hidup yang berpijak di atas tanah, melainkan adalah bagian dari ketiadaan yang sedang melintasi ruang.

Inilah Langkah Sunyi Tanpa Jejak.

Teknik warisan pertama dari Kitab Awal Kehampaan yang baru ia kuasai setengah matang. Namun, meski dalam kondisi belum sempurna, efeknya sudah cukup mencengangkan.

Ye Chenxu melintasi pos-pos patroli penjaga tanpa satu pun kultivator menyadari keberadaannya.

Bahkan ketika melintas hanya beberapa meter di belakang seorang penjaga, yang dirasakan orang itu hanyalah hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduk berdiri, tanpa pernah melihat sosok pelakunya.

Di kejauhan, sebuah lembah besar tampak bersinar redup di tengah kegelapan Dunia Bawah. Cahayanya bukan berasal dari lampu atau api, melainkan dari pendaran ungu gelap yang keluar dari perut bumi.

Itulah Lembah Roh Hitam.

Lembah ini adalah salah satu arteri terpenting di wilayah bawah tanah—sebuah tambang energi spiritual yang sangat vital.

Di sanalah berkumpul puluhan kultivator dari berbagai faksi, mulai dari sekte-sekte gelap yang dibuang, klan bawah tanah yang haus darah, hingga tentara bayaran pengembara.

Mereka semua membentuk aliansi sementara yang rapuh, disatukan oleh satu tujuan serakah, yaitu merebut Kristal Roh Kehampaan.

Sumber daya langka itu hanya muncul di tempat-tempat di mana densitas kehampaan mencapai puncaknya, dan harganya di pasar gelap mampu membeli sebuah kota kecil.

Di atas tebing yang menjorok tajam seperti taring naga, Ye Chenxu berjongkok dalam kesunyian yang mencekam.

Angin lembah yang dingin menderu melewati tubuhnya, namun helaian rambut dan ujung jubahnya nyaris tak bergerak, tertahan oleh medan statis dari energi kehampaan yang menyelimutinya.

Matanya, yang kini kehilangan warna putih dan sepenuhnya berubah menjadi semu hitam pekat, membelah kegelapan malam dengan ketajaman yang tidak manusiawi.

Setiap detail di bawah sana tidak lagi tampak sebagai materi, melainkan aliran partikel energi yang terpeta jelas di dalam benaknya.

Di dasar lembah, puluhan tenda kulit berwarna kelam berdiri dalam formasi melingkar yang kaku, menyerupai pola segel pengunci kuno.

Di tengah-tengah pemukiman darurat itu, cahaya dari formasi pertahanan berkedip-kedip dengan ritme yang tidak teratur, memancarkan denyut warna ungu kemerahan yang menusuk mata.

Aura peringatan dari formasi itu merambat di udara seperti kawat berduri yang tak kasat mata; satu sentuhan fisik atau gangguan Qi sekecil apa pun akan memicu lonceng kematian bagi siapa pun yang berani melintas.

Ye Chenxu mengalihkan fokusnya pada titik-titik cahaya bergerak di sela-sela tenda.

Patroli berlapis bergerak dalam ritme yang ketat. Ye Chenxu bisa merasakan tekanan dari berbagai arah—setidaknya ada tiga kultivator Pengumpul Qi yang berjaga, dan ada satu aura di tenda pusat yang terasa sangat berat, seolah-olah hampir menembus ambang Pembentuk Inti.

"Terlalu banyak jika harus dilawan secara langsung," gumam Ye Chenxu lirih, suaranya ditelan oleh deru angin lembah.

Jika menyerang secara frontal, ia akan mati dalam hitungan detik di bawah hujan teknik bela diri. Namun, Ye Chenxu tidak datang sebagai seorang pendekar yang mencari kehormatan.

Dia datang sebagai seorang pemburu yang mencari esensi!

1
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
Mommy Dza
Ye Chen Xu berhitung mundur
satu....

tunggu pembalasanku 🤭
Nanik S
Ibunya masih didalam penjara
Nanik S
Shiip
Nanik S
Semakin baik aku matu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!