Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Sang Penguntit
Stella kelelahan, ketakutan, dan frustrasi. Jam pasti sudah hampir sebelas malam, dan yang dia inginkan hanya rebahan dan pingsan. Untuk saat ini, dia memutuskan akan tetap di kamar tamu.
Namun saat menaiki tangga melingkar di belakang Kayson, dia teringat sesuatu yang pria itu katakan di rumahnya. Kayson mengira dia dan Riggs akan mengumumkan kabar pernikahan mereka.
"Kenapa lo peduli kalau gue sama Riggs nikah? Maksud gue, masalah lo apa? Lo pikir gue enggak baik buat dia?"
Pertanyaan itu menyakitkan.
Keluarga Stella tidak sekaya keluarga Kayson. Terutama setelah Papanya pergi.
Stella dan Mamanya nyaris kehilangan segalanya. Dia bisa tetap bersekolah di sekolah swasta hanya karena beasiswa, yang sangat dia curigai berasal dari keluarga Sheridan.
Tidak, Stella memang tidak selevel dengan keluarga mereka. Tapi Riggs, Kayson, dan orang tua mereka, tidak pernah bersikap sombong atau merendahkan. Sejak hari pertama, sejak prasekolah, rumah mereka selalu terbuka untuk Stella.
Hanya Kayson yang selama bertahun-tahun ini terasa tidak pernah benar-benar menerima dirinya. Dan sekarang dia malah berada di rumah Kayson.
Mendengar pertanyaannya, Kayson berhenti di tangga dan sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya.
"Justru sebaliknya. Gue pikir lo terlalu baik buat adik gue. Ter la lu baik!"
Stella tertegun.
"Gue juga pikir lo terlalu baik buat semua cowok idiot yang pernah deketin lo!"
Perut Stella terasa terikat. "Kalau lo ngomong hal-hal baik kayak gini, gue malah jadi khawatir."
Senyum tipis terangkat di sudut bibir Kayson sebelum dia kembali berbalik. Dia tidak berkata apa-apa lagi sampai mereka mencapai lantai atas, menyusuri lorong, dan berhenti di depan pintu putih.
"Ini kamar lo. Terhubung ke kamar mandi. Harusnya ada jubah mandi cadangan di dalam. Kalau lo butuh apa pun, bilang aja."
Stella menggigit bibirnya. "Lo mau ke mana?"
Tatapan Kayson bergeser ke samping. Ke pintu tepat di sebelah kamar itu.
Oh.
"Itu kamar lo?"
Kayson mengangguk. "Kalau lo butuh gue, tinggal teriak."
Butuh dia?
"Gue bakal baik-baik aja." Stella meraih gagang pintu.
"Gue bakal nemuin penguntit sialan itu, Stella."
Kalau ada yang bisa melakukannya, itu hanya Kayson. Terlepas dari perbedaan pribadi mereka, Stella tahu pria itu sangat ahli dalam pekerjaannya. Dia pernah melacak selebritas, menemukan anak-anak hilang, menciptakan sistem keamanan untuk melindungi Benda-benda paling berharga di dunia. Namanya sering muncul di berita.
Dia ingin menghabisi orang idiot yang telah membuat hidup Stella berantakan.
“Kenapa ini bisa terjadi?” Kayson menggeleng.
Sebagian pertahanan Stella runtuh, hanya sesaat, ketika ia menatap pria itu.
“Gue pernah ngerasain itu, tahu? Seseorang juga pernah ngancurin barang-barang gue. Dia hancurin semua foto gue sama Riggs. Foto gue sama temen-temen gue. Lukisan gue disobek. Baju-baju gue dirobek.” Kayson kembali menggeleng. “Tapi kayaknya dia enggak ngambil apa pun. Cuma dirusak doang. Mungkin itu sebabnya polisi enggak bisa banyak bantu. Ini bukan pencurian. Bukan penyerangan langsung ke gue. Bukan ...” Kayson melangkah mendekat. “... Niat dia itu jelas kasih serangan ke lo.”
Wajah Kayson tiba-tiba berubah sangat serius. “Dan iya, gue juga bisa ngerasain amarahnya. Itu yang bikin gue khawatir. Orang ini terobsesi. Dia ngancurin hal-hal yang penting buat lo karena dia mau nyakitin lo. Gue pernah lihat kasus penguntit yang makin parah. Itu yang gue takutin dari orang-orang ini. Awalnya dia masuk ke rumah lo dan cuma mindahin beberapa barang.”
“Kenapa? Kenapa dia lakuin itu?” tanya Stella.
“Karena dia mau ngerasa dekat sama lo. Sentuh barang-barang lo, ada di rumah lo, ada di kamar lo, itu bikin dia ngerasa punya hubungan intim sama lo. Begitulah cara kerja orang-orang kayak gitu.”
Ya Tuhan.
Stella menggeleng pelan.
“Dia mungkin nunggu dan ngamatin lo!” imbuh Kayson, bibirnya mengeras.
“Waktu-waktu lo ngerasa kayak ada seseorang di sekitar lo? Bisa jadi memang dia. Dia bisa aja ngeliatin lo, dan makin lama makin terobsesi sama lo.”
Stella tak mampu mengalihkan pandangan dari mata Kayson.
“Kadang,” kata Kayson hati-hati, “Seseorang bisa terjebak dalam fantasi. Kehilangan batas antara kenyataan dan khayalan, lalu nekat ngelakuin apa pun buat bikin fantasinya jadi nyata. Dia mungkin mikir lo itu miliknya. Tapi kemudian sesuatu terjadi. Mungkin dia lihat lo sama pria lain. Mungkin ada sesuatu yang merusak fantasinya, dan dia enggak bakal bisa nerima itu.”
Stella menelan ludah. “Jadi dia mau nyakitin gue, makanya dia ngancurin barang-barang gue?”
“Gue pernah lihat kasus kayak gini.” Kayson terdiam sejenak. “Dan gue juga pernah lihat yang lebih buruk. Setelah .…”
Ia berhenti.
“Jadi berarti dia bakal nyakitin gue?”
“Enggak. Enggak akan.”
Mata Kayson gelap dan dalam. “Gue enggak bakal biarin itu terjadi.”
“Gue enggak ngelakuin apa-apa.” Suara Stella meninggi. Ia segera menarik napas panjang, berusaha menguasai diri. Tenang, berusaha kendalikan lagi. “Gue cuma kerja dan jalanin hidup gue. Kenapa ada orang yang terobsesi sama gue? Kenapa ada yang lakuin ini ke gue?”
Kayson menggeleng.
“Dan kenapa lo cepet banget nolongin gue?” tanyanya pelan. “Apalagi waktu itu gue pikir lo lagi benci gue.”
Pertanyaan itu terlepas begitu saja dari mulut Stella karena emosinya masih membara.
Mata Kayson melebar. Ia lalu melangkah lebih dekat. Jarak di antara mereka lenyap ketika tubuh pria itu mengurungnya.
Dulu, saat mereka masih remaja, Kayson Sheridan adalah bintang di dunia kecilnya. Ia unggul di semua cabang olahraga sekolah dan terpilih sebagai MC kelulusan.
Dialah gadis yang selalu berada di sekitar adik laki-lakinya dan dianggap merepotkan. Ia dua tahun lebih muda dari Kayson. Dua tahun seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun pada masa itu, selisih usia dua tahun itu terasa tua sekali.
“Gue enggak pernah benci sama lo.” Tatapannya jatuh ke bibir Stella.
Stella langsung menatap bibirnya.
Oh tidak.
Jangan sampai.
Kedua tangan Stella terangkat. Niatnya menempelkan tangan ke dada Kayson dan mendorongnya menjauh. Namun saat dia menyentuhnya, saat dia merasakan kerasnya otot di balik kemeja itu dan hangat tubuhnya, Stella tidak jadi mendorong.
Seberapa sering pria ini latihan Gym?
Rahang Kayson mengeras. “Kita harus meluruskan semuanya di antara kita secepatnya, Stella. Karena gue gak bakal diam lagi. Terlalu banyak yang dipertaruhkan.”
Memang selalu begitu.
“Istirahatlah. Kita bicara besok pagi.” Tatapan Kayson masih di bibirnya. Dan Stella masih menyentuhnya.
Pergi ke rumahnya adalah kesalahan besar. Stella akan tinggal satu malam saja, hanya satu malam, lalu harus mencari opsi lainnya.