Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran di Depan Mata
Wira duduk di kamar mandi dengan ponsel di tangan. Layarnya masih menampilkan percakapan Ima dan Rizky. Ribuan pesan. Ratusan foto. Puluhan janji temu rahasia.
Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung.
"Ima sayang kamu, Rizky. Bukan sama Wira."
Kalimat itu terus berulang di kepalanya. Istri yang setiap malam ia peluk, yang setiap pagi ia cium, yang memberinya anak—ternyata hatinya milik orang lain. Milik sahabatnya sendiri.
Wira ingin berteriak. Ingin membanting sesuatu. Tapi ia diam. Membisu. Membeku.
Pintu kamar mandi diketuk pelan.
"Mas? kamu di dalem dari tadi? Rakha nangis, minta digendong." Suara Ima di luar.
Wira tak menjawab. Ia hanya mematikan ponsel, menyimpannya di saku, lalu membuka pintu.
Ima kaget melihat wajah Wira yang pucat dan mata sembab.
"Mas, kamu kenapa? Sakit?"
Wira menatapnya lama. Perempuan ini. Istri yang ia cintai. Yang ia jaga. Yang ia beri segalanya.
"Nggak papa," jawab Wira datar. "Aku ke luar sebentar."
"Ke mana? Malam-malam begini?"
Wira tak menjawab. Ia mengambil kunci motor dan pergi, meninggalkan Ima yang bingung di ambang pintu.
---
Wira melaju kencang di jalanan Balikpapan yang mulai sepi. Angin malam menerpa wajahnya, tapi tak mampu mendinginkan kepalanya yang panas. Ia tak tahu mau ke mana. Yang ia tahu, ia tak bisa berada di dekat Ima sekarang.
Sesampainya di pinggir pantai, ia berhenti. Duduk di atas motor, memandangi ombak yang gelap. Lalu ia mengambil ponsel, membuka kontak Sasha.
"Sha, aku tahu semuanya."
Tak lama, balasan masuk. "Tahu apa, Wir?"
"Ima sama Rizky. Aku baca chat mereka."
Sasha di Jakarta membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Ia duduk di sofa, menatap Kirana yang tidur di boks bayi. Lalu jemarinya menari di layar.
"Ya Allah, Wir... aku turut sedih."
"Kamu tahu selama ini?"
"Nggak. Aku nggak tahu. Tapi aku curiga. Rizky sering pulang malam, sering ke luar kota, sering sembunyi-sembunyi pegang HP."
"Kenapa kamu nggak bilang?"
"Karena aku juga punya dosa sendiri, Wir."
Wira membaca pesan itu. Ia mengerti. Sasha juga berselingkuh—dengannya.
Mereka berdua diam cukup lama. Lalu Wira mengetik:
"Kita hancur, Sha. Semua hancur."
---
Keesokan paginya, Wira pulang ke rumah setelah semalaman di pantai. Ima sudah bangun, sedang menyusui Rakha di ruang tamu. Begitu melihat Wira masuk, ia tersenyum, tapi senyum itu langsung pudar melihat ekspresi suaminya.
"Mas, kamu dari mana aja? Ima khawatir—"
"Berhenti." Suara Wira dingin. "Berhenti berpura-pura."
Ima membeku. "Apa maksud kamu mas?"
Wira mengeluarkan ponselnya, membuka chat Ima dengan Rizky. Lalu menyodorkannya ke hadapan Ima.
Ima membaca beberapa baris. Wajahnya pucat pasi.
"Mas... Ima bisa jelasin..."
"Jelasin apa? Ini semua udah jelas." Suara Wira bergetar. "Kamu selingkuh sama Rizky. Sahabat aku sendiri. Dari sebelum kamu nikah sama aku, bahkan setelah punya anak."
Ima menangis. "Mas, maaf... Ima minta maaf..."
"Maaf?" Wira tertawa getir. "Kamu pikir maaf cukup? Kamu hancurin aku, Ima. Kamu hancurin rumah tangga kita. Kamu hancurin kepercayaan aku."
"Ima nggak bermaksud—"
"DIAM!" bentak Wira. Rakha di gendongan Ima ikut menangis ketakutan.
Wira menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia memandangi anaknya yang menangis, lalu kembali menatap Ima.
"Aku akan urus surat cerai."
Ima tersentak. "Mas, jangan—"
"Aku nggak bisa hidup sama perempuan yang hatinya buat orang lain." Wira berbalik, menuju pintu. "Kamu urus sendiri hidup kamu. Dan jangan harap aku akan baik-baik aja lihat kamu sama Rizky."
Ia pergi. Meninggalkan Ima yang terisak di ruang tamu, menggendong anak mereka yang tak tahu apa-apa.
---
Di Jakarta, suasana tak kalah panas.
Sasha sudah menyiapkan diri. Sepanjang hari ia memikirkan cara terbaik untuk mengkonfrontasi Rizky. Setelah Kirana tidur, ia duduk di ruang tamu, menunggu suaminya pulang.
Rizky datang sekitar pukul sembilan malam. Begitu masuk, ia sudah merasakan ketegangan.
"Sha? Kamu belum tidur?"
"Duduk." Suara Sasha dingin.
Rizky menurut. Jantungnya berdebar tak enak.
Sasha menghela napas panjang. "Rizky, aku mau tanya sesuatu. Dan aku minta kamu jujur."
"Apa?"
"Kamu selingkuh?"
Rizky tersentak. "Apa? Maksud kamu?"
"Jangan pura-pura. Aku tahu. Aku lihat caramu pegang HP, caramu menghindar, caramu sering ke luar kota." Sasha menatapnya tajam. "Kamu sama Ima, kan?"
Dunia Rizky serasa runtuh. Ia membuka mulut, ingin menyangkal, tapi tak ada kata yang keluar.
"Sasha, aku..."
"Jawab. Jujur."
Rizky menunduk. Lalu mengangguk pelan.
Sasha menutup mata. Air matanya jatuh. Meskipun sudah menduganya, mendengar pengakuan itu tetap menghancurkan.
"Berapa lama?"
"Beberapa bulan. Tapi—"
"Jangan jelasin. Aku muak."
Sasha berdiri, berjalan ke kamar. Di ambang pintu, ia berbalik.
"Rizky, aku mencintai kamu dengan sepenuh hati. Aku ninggalin Bandung, ninggalin keluarga, ninggalin semuanya buat kamu. Dan kamu balas begini?" Suaranya pecah. "Kamu selingkuh sama mantan kamu. Yang sekarang jadi istri sahabat kamu sendiri."
Rizky menangis. "Sha, maaf... aku minta maaf..."
"Maaf kamu nggak berarti apa-apa." Sasha masuk kamar, mengunci pintu dari dalam.
Rizky terduduk di sofa, menatap kosong. Ia tahu ini akan terjadi. Tapi tak pernah siap menghadapinya.
---
Malam itu, di dua kota berbeda, dua rumah tangga hancur dalam waktu bersamaan.
Wira duduk di hotel murah dekat bandara, menatap langit-langit dengan mata kosong. Ponselnya berdering, Ima mencoba menghubungi berkali-kali. Tak satu pun dijawab.
Sasha menggendong Kirana sambil menangis. Bayinya tertidur pulas, tak tahu bahwa keluarganya sedang hancur.
Rizky masih duduk di sofa, memandangi foto pernikahannya dengan Sasha. Dulu mereka tersenyum bahagia. Sekarang, semua tinggal kenangan.
Dan Ima, di Balikpapan, menggendong Rakha sambil menunggu Wira pulang. Tapi ia tahu, suaminya tak akan kembali malam ini. Mungkin tak akan kembali sama sekali.
---
Pagi harinya, Wira mengirim pesan singkat ke Ima.
"Aku akan ke Jakarta. Urus surat cerai. Kamu bisa tinggal di rumah itu sampai ketemu pengacara. Rakha... aku minta hak asuh."
Ima membaca pesan itu dengan air mata. Ia membalas: "Mas, jangan ambil Rakha. Dia anak Ima juga."
"Dia anak aku. Dan aku nggak mau dia tumbuh sama ibu kayak kamu"
Tak ada balasan lagi.
Di Jakarta, Sasha juga mengambil keputusan. Ia mengemas beberapa barang, menggendong Kirana, dan pergi meninggalkan apartemen itu. Tanpa pamit. Tanpa pesan.
Rizky baru sadar saat bangun siang dan menemukan apartemen kosong. Lemari Sasha kosong. Perlengkapan bayi juga hilang.
Ponselnya berdering. Sasha.
"Sha! kamu di mana?"
"Aku di Terminal. Mau pulang ke Bandung"
"Tunggu! Kita bisa bicara—"
"Udah, Rizky. Cukup." Suara Sasha lelah. "Aku nggak bisa hidup sama orang yang nggak bisa dipercaya. Urus aja surat cerainya nanti lewat pengacara."
"Sasha, tolong..."
Telepon terputus. Rizky menghubungi lagi, berkali-kali, tak diangkat.
---
Dua minggu kemudian, proses perceraian berjalan.
Wira dan Ima resmi bercerai dengan hak asuh Rakha jatuh ke tangan Wira—Ima dianggap tidak layak karena perselingkuhannya terbukti. Ima hanya bisa pasrah. Ia tinggal sendiri di Balikpapan, tanpa suami, tanpa anak.
Sasha dan Rizky juga menyelesaikan perceraian mereka dengan damai—setelah pertengkaran hebat di pengadilan. Hak asuh Kirana diberikan kepada Sasha, dengan hak kunjung untuk Rizky setiap akhir pekan.
Rizky kembali ke apartemen kosong. Sepi. Sunyi. Hanya ada bayangan-bayangan masa lalu yang menghantuinya.
---
Suatu sore, Rizky duduk di kafe dekat apartemennya. Ia memesan kopi, menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya melayang pada Sasha dan Kirana. Pada Wira. Pada Ima. Pada semua kehancuran yang ia ciptakan.
Pintu kafe terbuka. Seseorang masuk. Rizky menoleh, dan terkejut.
Wira.
Mereka bertatapan. Beberapa saat saling memandang. Lalu Wira mendekat, duduk di hadapan Rizky tanpa permisi.
"Lo sendiri?" tanya Wira.
Rizky mengangguk. "Lo juga?"
Wira mengangguk. "Gue baru sampai Jakarta. Urus administrasi cerai."
Hening. Suasana canggung menyelimuti mereka.
"Ra... gue minta maaf." Suara Rizky serak.
Wira diam. Lalu ia berkata, "Gue juga harus minta maaf."
Rizky mengerutkan kening. "Maksud lo?"
Wira menghela napas. "Selama lo sama Ima, gue juga... deket sama Sasha."
Dunia Rizky berhenti berputar.
"Apa?"
"Gue sama Sasha. Chat-an mesra. Bahkan sempat ketemu di Jakarta." Wira menunduk. "Gue nggak tahu apa hubungan kalian, tapi gue juga salah."
Rizky terdiam. Informasi itu terlalu berat untuk dicerna. Sasha. Istrinya. Selingkuh dengan Wira. Sahabatnya.
Mereka berdua duduk diam, dua pria yang saling mengkhianati, saling menghancurkan.
"Aneh, ya," kata Wira akhirnya. "Kita bersahabat bertahun-tahun. Tapi saling hancurin dalam waktu singkat."
Rizky tertawa getir. "Iya. Kita emang brengsek."
Mereka diam lagi. Lalu tiba-tiba, Wira tertawa. Rizky ikut tertawa. Tertawa getir, tertawa pahit, tertawa di tengah kehancuran.
"Gue benci lo," kata Wira sambil tertawa.
"Gue juga benci lo."
"Tapi gue juga kangen lo, bro."
Rizky menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Gue juga."
Mereka berpelukan di kafe itu. Dua sahabat yang saling menghancurkan, tapi juga saling memahami.
---