NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LABIRIN BAWAH TANAH

Suara ledakan kecil yang diperintahkan Maximilian bergema di dalam ruang kerja yang sempit itu, menciptakan getaran hebat yang merontokkan debu-debu dari langit-langit setinggi empat meter. Dinding rak buku jati yang selama puluhan tahun menyimpan koleksi sastra klasik dan dokumen hukum ayah Vivien perlahan-lahan bergeser, mengungkap sebuah lubang hitam menganga—sebuah jalur darurat yang bahkan Vivien, sebagai putri kandung di rumah ini, tidak pernah tahu keberadaannya.

"Masuk, Vivien! Sekarang!" bentak Maximilian. Suaranya hampir tenggelam oleh rentetan tembakan otomatis yang kini terdengar semakin dekat, menghancurkan vas porselen dinasti Ming di lorong depan ruang kerja.

Vivien merangkak masuk ke dalam kegelapan lubang itu, mendekap amplop cokelat dan kotak beludru hitam di dadanya seolah itu adalah jantungnya sendiri. Bau tanah yang lembap dan aroma semen tua menyergap indra penciumannya. Maximilian menyusul di belakangnya, sementara Gideon tetap di ambang pintu, melepaskan tembakan balasan yang memekakkan telinga untuk memberikan waktu bagi tuannya melarikan diri.

"Tuan, pergi! Saya akan menahan mereka di sini!" teriak Gideon sebelum Maximilian menutup kembali panel rahasia itu dari dalam.

Kegelapan total menyelimuti mereka selama beberapa detik sebelum Maximilian menyalakan senter taktis dari saku jasnya. Cahaya putih yang tajam membelah lorong sempit yang menurun tajam ke bawah tanah. Dindingnya terbuat dari beton kasar, dan udaranya terasa tipis serta penuh dengan partikel debu yang membuat tenggorokan Vivien terasa gatal.

"Ikuti aku, dan jangan lepaskan peganganmu pada dinding," bisik Maximilian. Nafasnya memburu, namun gerakannya tetap efisien.

Mereka menuruni tangga besi yang berkarat satu per satu. Setiap langkah kaki Vivien yang masih mengenakan sisa-sisa pakaian formalnya terasa berat. Pikirannya masih berputar pada foto yang ia temukan di brankas tadi. Foto dua pria yang seharusnya saling membenci, namun tersenyum seperti saudara kandung. Mengapa ayahnya menyimpan foto itu di tempat paling rahasia jika dia memang berniat membunuh Alaric?

"Max, tunggu..." Vivien berhenti sejenak, dadanya naik turun dengan cepat. "Foto itu... kau lihat tulisan di belakangnya? Ayahku menyebut ayahmu 'saudara'. Dia bicara tentang benang merah yang tidak boleh putus. Jika dia membunuh Alaric, kenapa dia menulis janji seperti itu?"

Maximilian berhenti, namun ia tidak berbalik. Cahaya senternya menyorot ke ujung lorong yang tak berujung. "Sentimen adalah topeng terbaik bagi pengkhianat, Vivien. Ayahmu mungkin menulis itu untuk menenangkan hati nuraninya yang busuk setelah memberikan lokasi ayahku kepada para eksekutor. Jangan biarkan selembar kertas tua melemahkan logikamu."

"Tapi bagaimana jika kita salah?" suara Vivien meninggi, bergema di dinding beton yang sempit. "Bagaimana jika ada orang lain yang menginginkan mereka berdua mati? Lihat siapa yang menyerang kita sekarang! Mereka bukan orang-orangmu, Max. Mereka adalah orang-orang yang sama dengan yang menyerang kita di Melbourne!"

Maximilian berbalik dengan cepat, langkahnya yang besar membuat jarak di antara mereka hilang dalam sekejap. Ia mencengkeram bahu Vivien, cahaya senter di tangannya menyorot wajah Vivien yang pucat dan berlumuran debu. Matanya yang gelap memancarkan kilatan emosi yang campur aduk—antara dendam yang sudah mendarah daging dan keraguan yang mulai merayap seperti racun.

"Jika kau benar," desis Maximilian, suaranya parau, "maka sepuluh tahun hidupku adalah sebuah kebohongan besar. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku harus percaya ayahmu bersalah, karena jika tidak, akulah yang menjadi monster di sini karena telah menghancurkan hidupmu tanpa alasan."

Maximilian melepaskan cengkeramannya dan kembali berjalan. Lorong itu membawa mereka semakin jauh ke bawah tanah, melewati sistem drainase tua Jakarta yang bau dan pengap. Vivien hanya bisa mengikuti, air matanya menetes jatuh ke lantai beton yang lembap. Ia menyadari bahwa bagi Maximilian, kebenaran tentang pengkhianatan ayahnya adalah satu-satunya hal yang menjaga pria itu tetap waras. Jika ayahnya ternyata tidak bersalah, maka seluruh kekejaman Maximilian selama ini—pernikahan kontrak ini, akuisisi paksa ini—hanyalah tindakan seorang pria yang kehilangan akal sehat.

Setelah berjalan selama hampir tiga puluh menit di dalam labirin bawah tanah itu, mereka sampai di sebuah pintu besi tua yang terkunci dari dalam. Maximilian mengeluarkan sebuah alat peretas elektronik kecil dari sakunya, menghubungkannya ke panel pintu, dan dalam hitungan detik, kunci elektromagnetik itu terbuka dengan bunyi klik yang berat.

Di balik pintu itu bukan lagi saluran pembuangan, melainkan sebuah ruang bawah tanah yang luas yang terlihat seperti pusat komando rahasia yang sudah lama ditinggalkan. Ada beberapa monitor tua yang sudah mati, meja-meja penuh dengan tumpukan berkas yang menguning, dan sebuah peta besar Jakarta di dinding dengan tanda-tanda merah di beberapa titik strategis.

Vivien melangkah masuk dengan perasaan ngeri. "Tempat apa ini? Ini masih di bawah rumahku?"

"Ini adalah bunker yang dibangun ayahmu selama krisis tahun 98. Dia tidak pernah memberitahumu, bukan?" Maximilian berjalan menuju meja utama, menyapu tumpukan debu dengan tangannya. "Tempat ini adalah pusat intelijen Aksara Group. Di sinilah mereka menyimpan data-data yang tidak boleh diketahui oleh publik ataupun pemerintah."

Vivien berjalan menuju sudut ruangan, di mana ia melihat sebuah meja kecil yang berbeda dari meja lainnya. Di atas meja itu terdapat sebuah bingkai foto kecil yang kacanya sudah retak. Ia mengambilnya dan membersihkan debunya. Foto itu menunjukkan dirinya saat masih berusia lima tahun, sedang duduk di pangkuan ayahnya, dan di samping mereka berdiri seorang bocah laki-laki yang wajahnya tampak murung namun tegas.

Bocah itu adalah Maximilian.

"Max... lihat ini," bisik Vivien.

Maximilian mendekat, melihat foto itu. Ia terdiam cukup lama. "Aku ingat hari itu. Itu adalah hari ulang tahunmu yang kelima. Ayahku membawaku ke sini karena mereka memiliki 'rapat penting'. Aku benci berada di sana karena ayahku lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahmu daripada denganku."

"Mereka bukan sekadar rekan bisnis, Max. Mereka mencoba melindungi sesuatu," Vivien meletakkan foto itu kembali. Ia kemudian membuka kotak beludru hitam yang ia bawa. Selain foto yang tadi, ia menemukan sebuah kunci kecil berwarna perak di dasar kotak itu. "Ini kunci apa?"

Maximilian mengambil kunci itu, menimbangnya di telapak tangan. Matanya menyapu ruangan, mencari sesuatu yang cocok. Pandangannya berhenti pada sebuah laci besi di sudut meja utama yang memiliki gembok dengan ukiran yang sama dengan kunci tersebut.

Ia memasukkan kunci itu. Klik.

Di dalam laci itu terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Maximilian membukanya dan mulai membaca. Setiap kali ia membalik halaman, wajahnya semakin memucat. Rahangnya mengeras, dan tangannya mulai gemetar hebat.

"Apa failsinya, Max? Katakan padaku!" desak Vivien.

Maximilian menutup buku itu dengan keras. Ia menatap Vivien dengan tatapan yang kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya.

"Buku ini berisi catatan harian ayahmu tentang sebuah proyek bernama 'Project Crimson'. Itu bukan proyek bisnis. Itu adalah operasi untuk mengungkap jaringan pencucian uang global yang melibatkan pejabat-pejabat tertinggi di negeri ini dan beberapa korporasi internasional," Maximilian berbicara dengan suara yang hampir tak terdengar. "Ayahmu dan ayahku bekerja sama untuk menjatuhkan mereka. Tapi mereka ketahuan."

Maximilian berhenti sejenak, menarik napas yang terasa sangat berat. "Ayahmu tidak memberikan lokasi ayahku untuk membunuhnya, Vivien. Dia memberikan lokasi itu karena ayahku sudah tertangkap dan sedang disiksa. Ayahmu... dia mencoba melakukan pertukaran. Dia memberikan seluruh aset Aksara Group kepada mereka untuk menebus nyawa ayahku. Tapi mereka mengkhianati perjanjian itu. Mereka membunuh ayahku dan membuat ayahmu terlihat seperti dalangnya agar kita berdua saling menghancurkan."

Keheningan yang luar biasa menyelimuti ruangan bawah tanah itu. Vivien merasa seolah seluruh oksigen di sekitarnya menghilang. Sepuluh tahun dendam. Sepuluh tahun kebencian yang mendalam. Semuanya ternyata didasarkan pada sebuah skenario yang disusun oleh pihak ketiga untuk melenyapkan dua keluarga paling berpengaruh yang mencoba menjadi pahlawan.

"Jadi... Ayah tidak membunuhnya?" bisik Vivien, air matanya kini mengalir tanpa kendali. "Ayah mencoba menyelamatkannya?"

"Dan dia gagal," sambung Maximilian, suaranya pecah. "Dia menghabiskan sisa hidupnya dengan rasa bersalah, membiarkan aku membencinya, membiarkan aku menghancurkan perusahaannya, karena dia pikir dia pantas mendapatkannya karena gagal menyelamatkan sahabatnya."

Maximilian tiba-tiba memukul meja besi itu dengan tinjunya hingga tangannya berdarah. "Aku telah menghabiskan sepuluh tahun untuk memburu orang yang salah! Aku telah menghancurkan hidupmu, aku telah memaksamu menikahiku, aku telah memperlakukanmu seperti sampah... dan selama ini, musuh yang sebenarnya sedang tertawa melihat kita saling mencekik!"

Vivien melangkah mendekat, mengabaikan ketakutannya sendiri. Ia meraih tangan Maximilian yang terluka, menahan pria itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri lebih jauh. "Max, berhenti. Ini bukan salahmu sepenuhnya. Mereka yang melakukan ini pada kita."

Maximilian menatap Vivien, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali di Melbourne, Vivien melihat air mata mengalir dari mata sang predator yang dingin itu. Maximilian menarik Vivien ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu Vivien. Ia terisak—sebuah isak tangis yang sangat dalam, penuh dengan penyesalan yang tak terhingga.

"Maafkan aku, Vivien... Maafkan aku," bisik Maximilian berkali-kali di antara isaknya.

Di tengah kegelapan pusat komando bawah tanah yang penuh debu itu, benang merah yang patah mulai terasa menyambung kembali, namun dengan cara yang menyakitkan. Mereka bukan lagi musuh. Mereka adalah dua korban yang tersisa dari sebuah konspirasi yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Tiba-tiba, suara alarm berbunyi di dalam bunker tersebut. Sebuah layar monitor tua di dinding tiba-tiba menyala, memperlihatkan kamera keamanan dari lorong atas.

Sekelompok pria bersenjata lengkap dengan pakaian taktis hitam—tanpa logo, tanpa identitas—sudah berhasil menjebol pintu panel rahasia di ruang kerja tadi. Mereka mulai menuruni tangga menuju ke bawah.

Maximilian segera melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dengan gerakan cepat, dan kembali menjadi sosok pria yang waspada. "Mereka tidak akan membiarkan kita keluar dari sini dengan membawa buku ini, Vivien. Mereka ingin menghapus jejak terakhir Project Crimson."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Vivien, suaranya kini terdengar lebih kuat. Ia tidak lagi merasa seperti tawanan; ia merasa memiliki tujuan.

Maximilian mengambil pistolnya kembali, memeriksa peluru terakhirnya. Ia memberikan sebuah ponsel kecil yang diambil dari meja pusat komando kepada Vivien. "Gunakan ponsel ini. Ini terhubung langsung dengan satelit pribadi ayahmu yang masih aktif. Kau harus mengirimkan data dari buku ini kepada pers internasional dan otoritas yang tidak bisa mereka beli."

"Lalu kau?"

Maximilian menatap pintu besi yang mulai dihantam dari luar. "Aku akan menahan mereka di sini. Kau harus lari melalui lorong keluar darurat di belakang peta itu. Lorong itu akan membawamu langsung ke luar kawasan Menteng, ke sebuah rumah aman milik teman lama ayahmu."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Max!" teriak Vivien.

Maximilian memegang wajah Vivien dengan kedua tangannya, mencium keningnya dengan penuh perasaan yang sangat dalam—sebuah janji yang tidak terucapkan. "Dengar, Vivien. Selama ini aku hidup untuk dendam, dan itu membuatku menjadi monster. Biarkan hari ini aku hidup—atau mati—untuk kebenaran. Untukmu. Pergi sekarang, atau pengorbanan ayah kita akan sia-sia selamanya."

Maximilian mendorong Vivien ke arah jalur keluar di balik peta besar, sementara ia sendiri berdiri di depan pintu besi, siap menyambut maut demi memberikan waktu bagi istrinya.

Vivien berlari menembus lorong sempit yang gelap itu, air matanya mengalir, namun hatinya dipenuhi dengan api yang baru. Ia menyadari bahwa benang merah yang patah tidak akan pernah bisa benar-benar menyatu tanpa adanya pengorbanan. Dan di belakangnya, suara tembakan kembali pecah, menandakan dimulainya pertempuran terakhir untuk menebus dosa masa lalu.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!