Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Permadi menyadari bahwa suasana haru dan serius ini harus segera diakhiri.
Ia tidak ingin Rengganis terus-menerus terjebak dalam memori pahit tentang Laras.
Dengan gerakan tangkas, ia menekan tombol panggil di samping kursinya.
Tak butuh waktu lama, seorang pramugari cantik berseragam rapi muncul dengan langkah anggun dan senyum profesional yang terkembang.
"Iya, Pak Permadi? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari itu dengan sopan.
Permadi melirik arlojinya, lalu menatap pramugari itu dengan tatapan sedikit menyindir namun diiringi tawa kecil yang jenaka.
"Apa tidak ada makanan di pesawat ini? Istri saya sudah mulai lemas karena kelaparan, atau kalian ingin saya memecat koki kateringnya karena telat menghidangkan menu?"
Pramugari itu tersenyum tipis, sudah paham dengan gaya bercanda bos besarnya yang memang suka blak-blakan.
"Mohon maaf, Pak. Makanan sudah siap dan sedang dalam proses penataan. Kami hanya menunggu instruksi dari Bapak agar hidangannya tetap hangat saat disajikan."
"Nah, sekarang instruksinya keluar. Tolong siapkan makan malam terbaik untuk kami," sahut Permadi sambil mengibaskan tangannya santai.
Pramugari itu mengangguk hormat.
"Baik, Pak. Segera kami siapkan."
Rengganis yang sejak tadi hanya menyimak, menyenggol lengan Permadi.
"Mas! Jangan galak-galak, kasihan mereka. Lagipula aku belum lapar-lapar banget."
"Bohong," goda Permadi sambil mencolek hidung Rengganis.
"Tadi di mobil perutmu bunyi pelan, aku dengar ya. Kamu itu dokter, tapi paling sering telat makan kalau sudah urusan pasien. Sekarang, tidak ada pasien, yang ada cuma suami yang harus kamu urus."
Beberapa saat kemudian, aroma harum mulai tercium di kabin pesawat.
Pramugari datang membawa nampan berisi Appetizer berupa Seared Scallops dengan saus lemon, diikuti dengan hidangan utama Wagyu Steak yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna.
Meja lipat di depan mereka ditata dengan taplak putih bersih, peralatan makan perak, dan sepasang lilin elektrik yang memberikan kesan romantis di tengah penerbangan malam itu.
"Silakan dinikmati, Pak Permadi, Dokter Rengganis," ucap pramugari tersebut sebelum undur diri ke area galley.
Permadi mengangkat gelas berisi jus anggur dinginnya ke arah Rengganis.
"Untuk awal yang baru. Tanpa masa lalu, tanpa gangguan, hanya kita berdua di Labuan Bajo."
Rengganis tersenyum, kali ini senyumnya benar-benar tulus hingga mencapai matanya. Ia menyentuhkan gelasnya ke gelas Permadi.
"Untuk awal yang baru, Mas."
Makan malam itu berlangsung hangat. Permadi terus melancarkan aksi-aksi konyolnya, menceritakan betapa sulitnya ia belajar memasak bubur ayam tadi pagi hanya demi memanjakan sang istri.
Rengganis tertawa lepas, beban di hatinya perlahan menguap seiring dengan pesawat yang terus membelah langit malam menuju timur Indonesia.
Di sela-sela suapan steak mereka, suasana kabin menjadi lebih tenang dan intim.
Permadi menyesap minumannya, lalu menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap Rengganis dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sayang, aku penasaran dari dulu. Kenapa kamu pilih spesialis SpOG? Maksudku, menjadi dokter kandungan itu kan capeknya luar biasa. Jam tidur nggak teratur, sering dipanggil mendadak tengah malam kalau ada yang mau melahirkan. Kenapa suka dengan bidang itu?"
Rengganis meletakkan pisau dan garpunya. Ia terdiam sejenak, matanya menerawang seolah sedang memutar kembali memori masa koasnya dulu. Sebuah senyum tipis yang sarat makna menghiasi bibirnya.
"Banyak orang yang bertanya begitu, Mas. Katanya, kenapa nggak pilih spesialis kulit atau mata saja yang jam kerjanya lebih santai," Rengganis memulai ceritanya.
"Tapi bagiku, SpOG itu berbeda. Di sana, aku bukan cuma menangani penyakit, tapi aku merayakan kehidupan."
Ia menatap Permadi dengan binar mata yang hangat.
"Ada perasaan yang nggak bisa digambarkan dengan kata-kata saat aku membantu seorang ibu membawa nyawa baru ke dunia. Mendengar tangisan pertama bayi setelah perjuangan panjang, itu seperti melihat keajaiban terjadi tepat di depan mataku, setiap hari."
Rengganis menghela napas pelan. "Meskipun aku harus bangun jam dua pagi atau melewatkan makan siang karena operasi darurat, semua rasa lelah itu hilang begitu aku melihat senyum orang tua yang menggendong bayi mereka. Bidang ini mengajarkanku tentang harapan dan pengorbanan seorang ibu."
Permadi tertegun. Ia selalu melihat Rengganis sebagai sosok yang tegas dan dingin di rumah sakit, namun ternyata ada sisi lembut dan penuh empati yang begitu dalam di balik pilihannya itu.
"Ternyata istriku ini punya jiwa malaikat, ya?" goda Permadi, meski nada suaranya terdengar sangat bangga.
Rengganis tertawa kecil, sedikit tersipu. "Malaikat juga bisa galak kalau suaminya mulai nakal, Mas."
"Tapi jujur," lanjut Permadi sambil memajukan tubuhnya, "setelah mendengar alasanmu, aku jadi makin nggak sabar."
"Nggak sabar apa?" tanya Rengganis curiga.
"Nggak sabar melihat kamu menangani persalinanmu sendiri. Aku penasaran, apakah dokter kandungan sepertimu akan tetap tenang atau malah lebih panik dari pasien-pasienmu," bisik Permadi dengan senyuman nakal yang sudah sangat dihafal Rengganis.
"Permadi! Kita baru saja berangkat bulan madu!" seru Rengganis sambil melempar serbet kainnya ke arah suaminya dengan gemas.
Permadi tertawa terbahak-bahak, menangkap serbet itu dengan tangkas.
"Justru itu, Sayang. Kita harus segera mulai 'praktik' supaya teori-teori medis yang kamu punya bisa kita buktikan secepatnya."
Selesai menikmati makan malam yang mewah, Rengganis merebahkan tubuhnya di kursi first class jet pribadi tersebut.
Kursi itu telah disetel ke posisi santai, hampir menyerupai tempat tidur yang nyaman.
Kelelahan emosional setelah kejadian di landasan tadi perlahan mulai mereda, digantikan oleh rasa nyaman karena kehadiran Permadi di sisinya.
Permadi menggeser kursinya lebih dekat, lalu menggenggam jemari tangan istrinya dengan erat namun lembut.
"Istirahatlah, Sayang. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi," ucap Permadi pelan sambil mengelus punggung tangan Rengganis.
"Aku juga mengantuk, kita tidur bersama ya?"
Rengganis hanya tertawa kecil. Bukannya memejamkan mata, ia justru merasa kantuknya terbang entah ke mana. Melihat wajah Permadi yang tampak sangat santai, ia malah ingin terus mengobrol.
"Mas, ceritakan sesuatu yang aku belum tahu. Tapi yang seru, bukan soal bisnis."
Permadi terdiam sejenak, menatap langit-langit kabin pesawat seolah sedang memilah-milah memori di kepalanya.
"Hmm, Kamu tahu tidak? Waktu aku umur sepuluh tahun, aku pernah jadi buronan tukang nasi goreng di kompleks rumah lama Papa."
"Hah? Bagaimana bisa?" Rengganis menoleh, rasa penasarannya bangkit.
"Jadi begini," Permadi mulai bercerita dengan ekspresi wajah yang dibuat serius.
"Waktu itu malam-malam, aku mau mengagetkan Papa yang baru pulang kantor. Aku pakai topeng hantu mainan dan sembunyi di balik pagar rumah. Pas aku dengar suara langkah kaki dan bunyi tek-tek-tek, aku langsung loncat keluar sambil teriak 'Waaaaa!'"
Permadi memeragakan gerakannya dengan tangan, membuat Rengganis mulai tersenyum.
"Ternyata, yang lewat itu bukan Papa, tapi Abang nasi goreng yang lagi lewat bawa wajan panas! Si Abang kaget setengah mati sampai kakinya tersangkut gerobak. Saking kagetnya, dia refleks melempar penggorengannya ke udara!"
Permadi tertawa kecil mengenang kejadian itu.
"Wajannya melayang, nasi gorengnya berhamburan ke aspal, dan si Abang lari tunggang langgang sambil teriak minta tolong karena disangka ada hantu beneran. Aku yang ketakutan malah ikut lari ke dalam rumah, tapi besoknya Papa harus bayar ganti rugi satu gerobak karena wajannya penyok kena pagar!"
Cerita konyol itu pecah di tengah keheningan kabin pesawat.
Rengganis yang biasanya tampil anggun dan terkendali, kini tertawa terbahak-bahak.
Bayangan Permadi kecil yang nakal dan tukang nasi goreng yang melempar wajan benar-benar menghancurkan pertahanannya.
"Hahahaha! Mas! Itu, jahat banget!" seru Rengganis di sela tawanya.
Air matanya mulai mengalir di sudut matanya—bukan karena tertawa terlalu keras hingga perutnya terasa kaku.
"Iya, sejak hari itu, kalau ada suara tek-tek-tek lewat depan rumah, aku langsung sembunyi di bawah kolong meja," tambah Permadi lagi, yang membuat tawa Rengganis semakin pecah.
Rengganis menyeka air matanya, napasnya masih tersengal karena tawa.
Suasana berat akibat kemunculan Laras tadi sore benar-benar hilang tak berbekas.
Di atas awan, di dalam jet pribadi ini, Rengganis menyadari satu hal: Permadi adalah obat terbaik untuk setiap luka dan kekakuannya.