NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Kakak Ipar

Cinta Terlarang Dengan Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Saling selingkuh / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Liora tak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Marvin akan membawanya pada sesuatu yang menggila. Marvin, pria itu begitu menginginkannya meskipun tahu jika Liora adalah adik iparnya.

‎Tidak adanya cinta dari suaminya membuat Liora bisa dengan mudah menerima perlakuan hangat dari kakak iparnya. Bukan hanya cinta yang Marvin berikan, tapi juga kepuasan diatas ranjang.

"Adikku tidak mencintaimu, jadi biar aku saja yang mencintaimu, Liora." ~ Marvin Leonardo.


📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 ~ CTDKI

Malam ini meja makan hanya diisi oleh empat orang karena Nyonya Maria belum pulang. Begitupun dengan Haikal yang mengatakan akan pulang terlambat. Sebenarnya bukan hanya malam ini saja, malam sebelum-sebelumnya juga Haikal selalu pulang sampai larut. Pekerjaan yang menumpuk selalu menjadi alasan setiap kali Liora bertanya.

"Yah, tau nggak, tadi siang kak Liora jatuh ke kolam renang," suara Audrey memecah keheningan ditengah-tengah acara makan malam mereka berempat.

"Uhukkk... Uhukkk..." Liora yang sedang menelan makanan langsung terbatuk. Dia meraih gelas berisikan air putih didepannya, meletakkannya kembali setelah meminum airnya sedikit.

"Benar itu, Liora?" tanya Tuan Arthur menatap ke arah menantunya. Disampingnya, Marvin berusaha menahan senyumnya.

"A- itu... Aku tidak sengaja terpeleset dan jatuh, Yah." jawab Liora, menundukkan wajahnya kembali sambil mengaduk makanannya.

"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Tadi siapa yang membantumu keluar dari kolam renang? Bukankah kamu tidak bisa berenang," tanya Tuan Arthur lagi.

Tentang Liora yang tidak bisa berenang bukan menjadi rahasia lagi. Sebelumnya Liora juga pernah jatuh ke kolam renang saat baru pertama kali datang sebagai menantu dirumah itu. Beruntung saat itu ada Haikal yang ikut menjatuhkan diri ke air untuk menolongnya.

Liora mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata Marvin yang juga sedang menatapnya. Pria itu tersenyum menggoda sambil memainkan sendoknya dibibir.

"Ah, tadi... Tadi aku ditolong oleh para pelayan dirumah, Yah," kilah Liora yang terpaksa harus berbohong. Tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya jika dia basah karena Marvin, bukan karena jatuh ke kolam renang.

Selesai makan malam Liora kembali ke kamarnya, sementara Tuan Arthur meminta Marvin datang ke ruangan pribadinya karena ada yang ingin dibicarakan dengan putranya itu. Seperti biasa, meskipun Haikal memintanya untuk tidak menunggunya pulang, tapi Liora tetap menunggu kedatangan suaminya.

Sembari menunggu suaminya pulang, Liora duduk-duduk di atas ranjangnya sambil menyalakan televisi. Tontonan yang sedang berputar di layar tak benar-benar menjadi fokus utamanya, pikirannya menerawang jauh ke kejadian tadi siang saat dia berada di dalam kamar mandi milik Marvin.

"Dia tinggal lama diluar negeri, mungkin hal seperti itu sudah umum baginya. Tapi bagaimanapun juga aku ini adik iparnya, harusnya dia tidak berbuat seperti tadi padaku," Liora menghela napas panjang, kembali menyenderkan punggungnya pada headboard dengan pikiran yang terus berkecamuk.

Jarum jam terus berputar, Liora sampai tertidur saking lelahnya menunggu. Namun dia kembali membuka matanya lebar-lebar saat mendengar pintu kamar dibuka oleh seseorang. Haikal masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah, rambut dan pakainya terlihat sedikit berantakan. Dasi yang tidak terpasang dengan benar, dan dua kancing kemeja atasnya yang sudah terbuka.

"Kamu sudah pulang, Mas." Liora turun dari ranjang, mengambil alih tas kerja suaminya dan meletakkannya di atas meja.

"Kenapa belum tidur? Aku sudah menyuruhmu untuk tidak perlu menungguku." Haikal membuka jasnya yang langsung diambil alih oleh Liora.

"Aku sudah tidur tadi sebentar," jawab Liora, tiba-tiba tubuhnya membeku saat matanya menangkap noda lipstik di kerah kemeja suaminya.

"Ini noda lipstik siapa, Mas?" Liora memberanikan diri untuk bertanya sembari menunjuk noda lipstik yang ada di kemeja suaminya dengan jari telunjuknya.

"Dan jas kamu," Liora mengarahkan jas yang sedang dipegangnya ke hidungnya. "Jas kamu juga bau parfum wanita."

Haikal nampak acuh tak acuh, tangannya sibuk membuka kancing kemejanya. "Aku kerja dan berinteraksi dengan banyak orang diluar, Liora. Jadi wajar kalau pakaianku bercampur dengan parfum orang lain."

"Lalu noda lipstik itu?" tanya Liora dengan tatapan mengintimidasi. "Ini bukan pertama kalinya aku melihat ada noda seperti itu di pakaian kamu. Dan selama ini aku memilih diam, aku berusaha untuk tetap berfikir positif tentang kamu. Tapi sekarang tolong berikan jawaban yang lebih masuk akal padaku, Mas!"

"Masuk akal bagaimana, Liora?!" bentak Haikal. "Kamu menuduh aku berselingkuh, begitu?!"

"Aku tidak bilang seperti itu. Atau jangan-jangan kamu memang punya wanita lain diluar sana makanya kamu sering pulang terlambat!" Liora mencoba mengontrol emosinya. "Sudah enam bulan sejak kita menikah, tapi kamu sama sekali belum pernah menyentuhku. Apa kamu sudah sering tidur dengan wanita hingga kamu tidak pernah menginginkanku?!"

Plakkkk...

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Liora hingga kepalanya tertoleh kesamping, sudut bibirnya bahkan sampai mengeluarkan sedikit darah. Untuk pertama kalinya Liora mendapatkan perlakuan kasar seperti ini dari suaminya, air matanya bergulir dengan begitu saja. Liora memegangi pipinya yang terasa sakit dengan tangan bergetar.

"Jangan membuatku bertindak terlalu jauh, Liora." tekan Haikal. "Kamu harusnya ingat tujuan kita menikah untuk apa, supaya panti asuhan itu mendapatkan donatur tetap. Jadi keberadaanmu disini sama sekali tidak penting bagiku!" Haikal berbalik, masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.

Ucapan itu begitu menusuk dihati Liora, seperti anak panah yang dilepaskan dengan begitu mudah hingga menembus tepat ke sasaran. Dia pikir ketulusan akan berbalas ketulusan, namun nyatanya dia tetap diperlakukan semena-mena dan tidak pernah dipandang sebagai seorang wanita apalagi sebagai seorang istri oleh suaminya.

Setelah tangisnya mereda, Liora keluar dari kamar untuk menenangkan pikiran selagi suaminya masih ada didalam kamar mandi. Liora pergi ke dapur, mengambil gelas kosong dari rak dan mengisinya dengan air putih, kemudian meneguknya sampai habis.

Jam segini semua orang pasti sudah tidur, hingga Liora tidak perlu takut akan ada yang melihat pipinya yang masih sedikit memerah akibat tamparan keras suaminya. Langkahnya menuju ke kamar terasa berat, dia harus kembali ke kamar sebelum suaminya selesai mandi.

Ketika kakinya baru menapaki satu anak tangga, sebuah tangan kekar menariknya secara tiba-tiba. Membawanya masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup Liora kenali.

"Kak Marvin, apa yang Kakak lakukan? Menyingkir, aku ingin keluar!"

Marvin tak menjawab, matanya sibuk menatap pipi Liora yang sedikit memerah dengan sedikit darah diujung bibirnya.

"Apa dia menamparmu?" tanya Marvin, tangannya ingin menyentuh wajah Liora namun segera ditepis oleh wanita itu.

"Bukan urusanmu, Kak. Sekarang tolong buka pintunya, suamiku sudah menunggu dikamar," pinta Liora dengan nada memohon, saat ini dia sedang tidak ingin berdebat.

Marvin tak menghiraukan permohonan Liora, dia menarik tangan wanita itu kearah ranjangnya dan menjatuhkan tubuhnya disana. Dalam hitungan detik Marvin sudah mengungkung tubuh Liora dibawahnya, membuat wajah Liora mulai terlihat panik sekaligus kesal.

Liora menahan dada Marvin dengan kedua tangannya. "Kak Marvin, apa-apaan! Cepat turun, aku ingin keluar dari sini." pinta Liora memohon.

Lagi-lagi Marvin tak menjawab, tangannya mulai bergerak untuk menyentuh wajah Liora meskipun wanita itu berusaha menolak sentuhannya dengan memalingkan wajahnya kesamping.

"Liora, kamu dimana, Sayang?"

Suara Haikal diluar kamar membuat keduanya saling menatap. Berbeda dengan Marvin yang nampak tenang dengan senyuman diwajahnya, Liora justru sebaliknya. Wanita itu terlihat sangat panik dengan air mata yang mulai terlihat membasahi kedua bola matanya. Kepalanya menggeleng cepat seolah meminta Marvin untuk tidak mengatakan jika dia ada dikamarnya.

Tok... Tok... Tok...

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, semakin menambah ketegangan didalam ruangan. Marvin mengarahkan kembali pandangannya ke wajah Liora yang masih ada dibawahnya.

"Bukan tanda seperti ini yang seharusnya ada di tubuhmu, tapi seperti ini,"

Liora terbelalak saat Marvin mengarahkan wajahnya ke lehernya, mengecupnya lembut kemudian mengisapnya kuat-kuat. Membuat Liora merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

📍

📍

📍

Bersambung.....

1
Marina Tarigan
Elisa biadap yg membakar pasti dpt kzrma karena mereka tfk punya siapa2
Marina Tarigan
loira hamil muda .asa tak ada istrihat jln 2 apa tdk takut keguguran ya
Marina Tarigan
hambar sekarang pernikahanmu ya itu upah yg serakah
Marina Tarigan
jijik mau muntah kayak anjing
Marina Tarigan
jgn kauhina liora butet kamu utu perlu berobat ke RS jiwa Marvin itu suami liora kamu tdk apanya pun tdk tahu malu ceburkan dirimu ke laut sana supaya. adem Liora tdk mudah kamu tindad
Marina Tarigan
swmua mati kutu tak bucara Marbin bicara tdgas tdk mempan reaksi siapapun casandra kesepiam ya Haikal sdh jijik pdmu wanita gatal
Marina Tarigan
apalagi
Marina Tarigan
kata si Lisa Sabrina orang orang baik dan berpendidikan tapinyatanya. jalang seperti. monyet gatal ya ambil cokan cabe setan godokkan ke lobang gatalmu itu keparat
Marina Tarigan
lagi ada jebakan Marvin hati2 maunya kamu antar Kiara sm Liora saja
Marina Tarigan
hebat deh marn ada juga ulat ingin dekat kalau Haikal candra tdk bisa tinggal diam Marvin tdk mau mundur yg sakit kepala. Maria. Elisa dan tuan Arthur
Marina Tarigan
liora kamu sdh terlampau jauh disakiti mereka menurut kita bercerai dgn haikal dan pergi jauh tinggalkan semuanya sm Haikalpun kamu akan tersiksa karena Casandra txk tinggal diam pergi tinggalkan semua diam2
Marina Tarigan
anakmu itu yg tdk sanggup berpisah dgn liora ibu jgn terla.pau percaya kamu sangat keterlaluan menghina Liora Marvin dan Haikal tdk usah sm anakmu itu dua2nya walaupun dia janda akan ada jodohnya yg terbaik yg ditentukan takdirnya
Marina Tarigan
perang Iran Irak perang saudara yg menegangkan baru tahu rasa ayah Arthur sakit kepala deh semoga lumpuh nya terus sembuh karena kagetnya
Marina Tarigan
apa salah bodat kamu tinggalkan istrimu di hotel sepi balik menjumpai pacarmu sehari sampai larut sendirian jgn egois dong kamu pikir lioa anak yatim piatu bisa kamu buat seenak jidatmu sdh 6 bln lebih kalian menikah kamu abaikan terus malahan kamu tampar keras dia bertanya kemana kamu jgn egois dong tanpa kamu bisa liora hidup di panti tahu
Marina Tarigan
rmh tgga amburadul bawa liora ke Australia Marvin
Marina Tarigan
sdh dibawa kabur bos mknya jgn amburadul selama pernokahanmu tak pernah kamu seperti suami sungguhan tak perduli sm liora kamu sdh ditikung Marvin yg mencintai Lora
Marina Tarigan
bahaya akan menantang rmh tggamu nanti
Marina Tarigan
kalau betul haikal sdh diluar jalur baiklah Marvin dekati Liora tapi tolong jgn buat liora jd p elapiasan dan melecehkan kan kasihan ia yatim piatu
Marina Tarigan
beraryi Marven sdh tahu kelakuan Haikal dan ibunya memperlakuan liora sepeperti babu dirmh
Marina Tarigan
sebaiknya tinggalkan rmh itu Liora pulang ke panti saja di rmh itu bahaya pake otakmu jgn bodoh iparmu sdh kewat batas bila terjadi apa2 pasti kamu yg disalahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!