NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Hari itu Alya tidak berangkat ke kantor.

Ia duduk di kursi tunggu rumah sakit memeluk tas kecil berisi dokumen dan botol minum. Udara dingin bercampur bau antiseptik membuat kepalanya terasa ringan, seperti melayang tapi juga berat di waktu yang sama. Alya duduk bersandar dengan mata terpejam, sebuah gambaran kelelahan yang tidak perlu dijelaskan.

Sekitar pukul 01:00 dini hari, papanya mengeluh nyeri di dada, tak lama kemudian jatuh tak sadarkan diri, ibunya berteriak histeris, bahkan Alya yang belum sempat tidur pun rasa kantuknya menguap entah kemana.

Dan disinilah ia, di koridor ruang gawat darurat, papanya belum sadar, tapi suara detak jantungnya yang berdetak melalui monitor seolah mengatakan, papa baik-baik saja.

Tetes demi tetes air mata mengalir di pipi yang tak sempat ia usap, Alya biarkan saja air matanya mengalir meluapkan kesedihannya.

Alya menatap layar ponsel. Ada banyak panggilan tak terjawab dari mama dan adiknya.

Serangan jantung, bagaimana Alya bisa mengatakan itu pada dua orang yang mungkin tidak akan tenang setelah Alya mengatakan itu, tapi Alya pikir, Mama dan Adiknya perlu tahu.

Pilihan paling tepat adalah adiknya, Viko, bocah kecil yang paling bisa menenangkan mama, Alya hanya perlu menjelaskan kepada Viko selanjutnya biar dia yang bicara kepada mama mereka.

“Akhirnya direspon juga telfon ku, bagaimana papa kak?” Alya tahu Adiknya sedang menahan emosi, bocah itu tidak suka panggilan atau pesannya dihiraukan siapapun, tapi kali ini, adik kecilnya sudah mengerti.

“Papa harus rawat inap, serangan jantung” setelah mengatakan itu Alya menangis lagi, mati-matian ia menahan suara tangisnya agar adiknya tak semakin panik.

“Oke aku pulang, biar Mama jadi urusanku, kalau ada apa-apa kabarin aku ya kak”

Lihat, betapa dewasanya bocah kecil itu, Alya tak perlu bicara panjang lebar, tapi adikknya sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

“Terimakasih dek, kamu hati-hati dijalan”

“Iya kak” telfon terputus.

Alya juga bisa melihat beberapa pesan masuk dari kantor. Ia membacanya satu per satu, menjawab seperlunya.

Izin WFH hari ini, Mbak. Papa saya masuk rumah sakit.

Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel kembali ke pangkuannya.

Hari-harinya sejak malam itu seperti bergerak tanpa jeda. Mengantar, menunggu, mengurus resep, mendengarkan dokter berbicara dengan suara datar yang terlalu tenang untuk isi kalimatnya. Alya belajar mencatat tanpa menunjukkan reaksi, belajar mengangguk tanpa bertanya terlalu banyak. Ada hal-hal yang tidak ingin ia dengar dua kali.

Siang menjelang. Di kantor, di waktu yang hampir bersamaan, Reyhan datang.

Ia berdiri di depan meja resepsionis, menyebutkan nama Alya dan maksudnya dengan nada yang biasa, koordinasi lanjutan soal rencana kerja sama kampus. Tidak ada yang istimewa dari caranya datang. Tidak ada yang mencurigakan.

“Emm, Alya lagi nggak masuk, Pak,” kata salah satu staf. “Kayaknya izin.”

Reyhan mengangguk. “Baik. Saya titipkan dokumennya saja.”

Ia meninggalkan map tipis berisi draft awal MoU. Di halaman pertama, namanya tercetak rapi sebagai koordinator. Di sudut bawah, tanggal hari itu, sebuah penanda kecil bahwa ia sempat datang.

Beberapa hari kemudian, papanya sudah berada di ruang rawat inap, Alya bersyukur papanya sudah membuka mata, meski masih terlihat pucat dan lemah.

Sore harinya, teman satu seksinya, Mas Aldo, Mbak Pingkan, Mbak Indri, dan Pak Ilham datang menjenguk. Sekedar datang dan memberi support untuk Alya dan mendoakan Papanya segera pulih.

Tidak lama karena terbentur jam besuk, dan memang papanya harus banyak istirahat, saat mengantar mereka sampai ruang perawatan, Mbak Pingkan mendekat dan berbisik.

“Al, Pak Reyhan dua hari yang lalu ke kantor,” katanya ringan. “Katanya mau koordinasi.”

Alya terdiam, sesaat ia teringat kembali kebaikan pria itu beberapa hari yang lalu.

“Oh ya?” katanya, nada suaranya datar, bahkan terlalu datar untuk sesuatu yang sebenarnya bergetar di dalam.

“Iya. Sayang banget pas kamu gak masuk, dia secara spesifik sebutin nama kamu, padahal di tim kita ada banyak orang, tapi yang keluar dari bibir pria matang itu nama kamu.”

Alya mengangguk. “Oh… iya.”

Pingkan menatap Alya dengan tatapan jengkel, tapi ia mengerti tidak tepat jika membahas hal ini disini, saat pikiran Alya tidak tentu ada dimana.

“Yang kuat ya Alya, aku yakin kamu pasti bisa lewatin ini” ucap Mas Aldo menguatkan.

“Iya Al, kamu gak usah pikirkan masalah kantor, kamu nanti tetap dapet bagian tapi saat kondisi papamu stabil” Pak Ilham pun ikut menimpali.

Alya terharu, disaat seperti ini, ternyata Alya dikelilingi orang-orang baik.

Mbak Indri dan Mbak Pingkan, memeluk tubuh Alya sebagai bentuk support mereka.

“Terimakasih kakak-kakak sekalian, maaf kalau Alya bakal sering merepotkan kalian setelah ini” mereka mengangguk maklum.

Setelah para seniornya pulang, Alya kembali ke ruang rawat papanya, kali ini bisa dilihat papanya sedang video call dengan mamanya.

“Sudah Ma, jangan banyak pikiran, nanti mama ikutan sakit, kasihan anak-anak kita nanti kalau kita berdua sakit bersamaan” hati Alya kembali sendu.

Dihadapannya, orang sakit sedang menyemangati orang sakit dan itu semua agar tidak merepotkan anak-anak mereka.

Bisa Alya dengar mamanya menangis di seberang sana, sejak tadi pagi mamanya merengek ingin ikut menunggu Papanya yang sedang di rawat di rumah sakit, sedaangkan keadaan mamanya juga tak kalah rentan.

Alhasil Alya dan Viko sepakat biar mereka saja yang bergantian berjaga Papa mereka.

Tapi jelas mamanya tidak setuju dan ingin ikut menjaga papa mereka dirumah sakit.

“Mama istirahat yaa, papa disini sudah mendingan kok, doakan saja papa segera pulih biar segera pulang” Alya mengaminkan itu dalam hati.

Setelah dibujuk sejak tadi oleh viko dan papa mereka, akhirnya mamanya setuju.

Viko sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Alya pun bersiap untuk pulang, membawa semua barang yang sudah tidak diperlukan.

“Papa minta maaf ya kak” gerakan tangan Alya tiba-tiba berhenti.

Alya tahu arah pembicaraan ini akan kemana, tapi Alya harus kuat demi Papanya.

Gadis itu duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan papanya, menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan “Gak ada yang perlu dimaafin Pa, Alya Cuma mau papa sembuh dan bisa kumpul lagi sama kita di rumah”

Air mata meluncur dari sepasang mata yang terbiasa terlihat tegas dan kuat, walaupun berat Alya memilih menahan tangisnya, tangannya berpindah mengusap air mata papanya.

“Papa kenapa? Ada yang sakit?” papanya menggeleng.

Tangan Alya membingkai wajah sedih itu.

“Papa gak mau jadi beban untuk kamu dan adikmu, jadi tolong, tolong jangan buat Papa semakin merasa bersalah dengan membuat kamu dan adikmu susah karena harus nungguin Papa di rumah sakit”

Runtuh sudah pertahanan Alya, air matanya kini tak terbendung.

“Papa tolong jangan pikirkan itu dulu ya, kami anak-anak Papa, sudah sewajarnya kami menemani papa disaat sulit papa, menjaga papa saat sakit sama seperti papa yang selalu sedia menjaga kami saat sakit di masa kecil dulu”

“Tolong biarkan kami berbakti dengan merawat papa ya, Alya mohon”

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!