Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kamar rawat inap itu kini benar-benar senyap. Di bawah temaram lampu tidur, Linggar tampak tertidur pulas di kursi tunggu dengan posisi kepala sedikit miring, napasnya teratur dan tenang.
Rangga, yang sebenarnya tidak bisa tidur karena rasa perih di perutnya yang belum sepenuhnya hilang, perlahan-lahan menggerakkan tangannya ke arah mulut.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sret yang keras, ia menarik ujung lakban itu sedikit demi sedikit.
"Akh..." rintihnya pelan saat lakban itu terlepas dari kulit bibirnya.
Ia menoleh ke arah Linggar. Melihat wajah wanita itu yang tampak begitu damai dalam tidurnya, amarah dan ego Rangga luruh seketika.
Ia menarik tangan Linggar yang terkulai di dekat brankar, lalu membawanya ke bibirnya.
Rangga mengecup punggung tangan itu dengan sangat lama dan penuh perasaan, menghirup aroma sabun bayi dan minyak kayu putih yang masih tertinggal di sana.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, sayang..." gumam Rangga sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.
"Maafkan aku yang baru sadar betapa berharganya kamu."
Setelah itu, Rangga meletakkan tangan Linggar kembali dengan lembut, lalu ia memejamkan matanya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah pucatnya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia bisa tidur dengan perasaan yang sedikit tenang.
Di luar ruangan, melalui celah kaca kecil di pintu, Pak Richard memperhatikan pemandangan itu.
Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Fabian yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah sangat keruh.
"Sudahlah, Fabian," ucap Pak Richard sambil menepuk bahu pria muda itu.
"Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, meski dengan perawat tercantik sekalipun. Ayo, kita pulang dulu. Biarkan mereka menyelesaikan 'urusan' yang belum selesai itu."
Fabian terdiam lama, menatap tajam ke arah dua orang di dalam sana sebelum akhirnya mendengus pelan dan membuang muka.
"Baik, Pak. Mari kita pulang."
Keduanya pun melangkah pergi meninggalkan koridor rumah sakit, membiarkan Linggar dan Rangga terjebak dalam ruang dan waktu yang perlahan mulai menyatukan kembali kepingan masa lalu mereka yang sempat hancur.
Sinar matahari pagi Yogyakarta menyeruak masuk melalui celah gorden, menyilaukan mata Linggar yang perlahan terbuka.
Ia mengerjap-erjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Namun, rasa hangat di telapak tangannya membuatnya tersentak.
Linggar terbelalak menyadari jemarinya masih bertautan erat dengan tangan Rangga yang terbaring di brankar.
Dengan gerakan refleks yang hampir membuat kursi kayunya terjungkal, ia segera melepaskan tangan itu dan berdehem canggung, seolah-olah ada penonton yang sedang mengawasinya.
Ia segera meraih ponsel di atas nakas untuk meredam kegugupan. Ada satu pesan masuk dari Fabian:
"Pagi, Linggar. Aku sudah di jalan menuju rumah sakit. Aku bawakan gudeg favoritmu untuk sarapan. Sampai ketemu."
Linggar menghela napas. Belum sempat ia membalas pesan itu, sebuah suara berat yang serak khas bangun tidur menyapa indranya.
"Pagi, bidadariku..." sapa Rangga dengan senyum lebar yang terlihat sangat tulus, meski wajahnya masih agak kuyu.
Linggar memutar bola matanya, mencoba menyembunyikan rasa senangnya.
"Issh! Kenapa lagi kamu, Ngga? Masih efek obat semalam ya?"
"Bukan efek obat, tapi efek melihat kamu saat pertama kali buka mata," goda Rangga lagi.
Tepat saat itu, seorang perawat masuk ke ruangan membawa nampan berisi perlengkapan medis dan semangkuk makanan.
"Selamat pagi, Pak Rangga. Saya periksa dulu ya tensinya," ucap perawat itu ramah. Setelah selesai memeriksa, ia meletakkan semangkuk bubur putih yang tampak sangat tawar di atas meja lipat.
"Kondisi Bapak sudah lebih baik, tapi lambungnya masih sensitif. Jadi, nanti makan bubur dulu ya, Pak. Jangan makan yang aneh-aneh dulu."
Melihat mangkuk bubur yang tampak membosankan itu, Linggar tidak bisa menahan tawa kecilnya.
Ia mengingat kejadian di mobil kemarin saat Rangga mengincar lumpianya dengan penuh damba.
"Tertawa di atas penderitaan orang lain itu tidak baik, Linggar," keluh Rangga menatap bubur itu dengan pandangan sedih.
Linggar mendekat, melipat tangannya di dada dengan nada kemenangan.
"Akhirnya, tidak ada lagi yang akan mengambil lumpiaku hari ini. Selamat menikmati bubur bayinya, Pak CEO."
Rangga hanya bisa mendesah pasrah, sementara Linggar terus terkikik, membayangkan betapa kontrasnya selera makan Rangga sekarang dengan ambisinya yang ingin menjadi "Bandung Bondowoso" kemarin malam.
Pintu kamar terbuka, dan aroma gurih santan serta manisnya nangka muda langsung memenuhi ruangan.
Fabian melangkah masuk dengan gaya penuh energi, menjinjing tas kertas berisi gudeg paling terkenal di Yogyakarta.
"Selamat pagi, Linggar!" sapa Fabian ceria, sengaja mengabaikan keberadaan Rangga yang tengah menatap nanar ke arah bungkusan itu.
"Aku bawakan gudeg komplet. Telur, ayam suwir, dan kreceknya ekstra pedas seperti seleramu."
Fabian membuka bungkusan itu di atas meja sofa, tidak jauh dari ranjang Rangga.
Aroma harumnya benar-benar menjadi siksaan batin bagi Rangga yang hanya dihadapkan pada semangkuk bubur putih pucat dan hambar.
"Terima kasih, Fabian. Wanginya enak sekali," ucap Linggar yang memang sudah merasa lapar.
Fabian segera mengeluarkan tablet dan beberapa lembar dokumen dari tasnya.
"Sambil sarapan, pagi ini kita bahas soal proyek ya? Ada revisi dari Pak Richard soal area parkir di lereng bukit yang kemarin kita tinjau."
Linggar menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan profesional itu.
Ia mengambil sendok dan mulai menikmati gudegnya bersama Fabian, sementara mereka mulai berdiskusi serius tentang teknis lapangan.
Suara denting sendok dan aroma makanan itu membuat Rangga menelan ludah berkali-kali.
Rangga mencoba berdehem untuk mencari perhatian, namun Linggar segera menoleh dengan tatapan peringatan yang tajam.
"Jangan coba-coba merayu minta gudeg ini, Ngga," ucap Linggar seolah bisa membaca pikiran Rangga.
Ia berdiri sebentar, merapikan selimut Rangga sebelum kembali fokus pada dokumen proyek.
"Makan buburmu sampai habis. Aku akan fokus bahas proyek dengan Fabian dulu."
Sebelum benar-benar tenggelam dalam diskusi, Linggar menunjuk wajah Rangga dengan jari telunjuknya, memberikan nada ancaman yang tidak main-main.
"Nanti aku tinggal sebentar ke kantor Pak Richard untuk ambil sisa berkas. Dan ingat, jangan berani turun dari ranjang selama aku pergi! Kalau aku balik dan kamu tidak di tempat, aku akan minta dokter perpanjang masa rawat inapmu seminggu lagi. Mengerti?"
Rangga hanya bisa mengerucutkan bibirnya, tampak sangat tidak berdaya di bawah kendali mantan sekretarisnya itu.
"Iya, Galak..." gumamnya pelan.
Fabian tersenyum penuh kemenangan, melirik Rangga dengan tatapan yang seolah berkata, 'Skor satu untukku pagi ini.'
Pagi itu, koridor rumah sakit terasa begitu panjang bagi Linggar yang harus bergegas pergi bersama Fabian untuk mengurus dokumen proyek.
Ia sempat menoleh sekali lagi ke arah pintu kamar 302, memastikan "pasien manjanya" tetap tenang.
Di dalam kamar, begitu suara langkah kaki Linggar menghilang, suasana berubah drastis. Wajah Rangga yang tadinya penuh candaan dan binar jenaka mendadak berubah menjadi kaku dan dingin.
Tidak ada lagi sisa-sisa CEO manja yang merengek minta lumpia.
Rangga perlahan bangkit dari tempat tidur. Gerakannya sangat berhati-hati, menahan rasa nyeri yang bukan sekadar maag biasa.
Ia meraih ponsel pribadinya yang tersimpan di dalam laci tertutup, lalu menekan sebuah nomor internasional dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Ini saya, Rangga," ucapnya begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah, nyaris berbisik.
"Bagaimana hasilnya? Apa perkembangan pengobatan di London ada kemajuan? Apa penyakitku ini masih tetap belum bisa disembuhkan?"
Rangga terdiam mendengarkan penjelasan di seberang sana.
Matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pemandangan Gunung Merapi dari kejauhan.
Penyakit ini adalah rahasia terbesarnya. Sebuah beban yang ia bawa sejak kecil, yang ia sembunyikan bahkan dari ayahnya, apalagi dari Linggar. Namun, pikiran Rangga tiba-tiba melayang pada percakapannya dengan Nadya, adik Linggar, beberapa waktu lalu.
Saat itu, Nadya secara tidak sengaja bercerita bahwa Linggar juga pernah mengalami masa kecil yang sulit karena sebuah penyakit kronis, meskipun jenisnya berbeda dengan apa yang diderita Rangga.
"Kenapa takdir kita begitu mirip, Linggar?" batinnya pedih.
Rangga mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Lakukan apa pun. Saya butuh waktu lebih lama. Saya baru saja menemukannya kembali, dan saya tidak akan membiarkan penyakit ini merenggutnya lagi," tegasnya sebelum mematikan ponsel.
Tepat saat ia hendak kembali berbaring, pintu kamar diketuk dari luar.
Rangga dengan cepat menyembunyikan ponselnya dan mengatur raut wajahnya kembali menjadi pria yang "hanya sakit lambung."
mengharukan 👍
dan juga penuh pembelajaran agar lebih menghargai orang lain, bukan dari cover nya saja 👍👍👍
Good....sukses selalu 👍👍👍👍
buat linggar bersatu dengan rangga
menikah beranak cucu sampai maut memisahkan
kak thor sehat swmangat terus yaaa
crazy upnya ditunggu selalu💪🙏👍