NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ELEVASI

05:20 AM. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Langit fajar berwarna ungu kemerahan menyambut truk Bimo yang meluncur pelan menuju area kargo VIP. Raka sudah berganti pakaian. Kali ini ia mengenakan setelan kru darat bandara jaket high visibility oranye di atas kaos hitam taktisnya.

Liana berada di sampingnya, mengenakan seragam serupa, namun rambut pendeknya disembunyikan di balik topi baseball berlogo maskapai logistik.

Target mereka adalah Icarus 4, sebuah pesawat kargo Boeing 747 yang telah dimodifikasi secara khusus. Secara resmi, pesawat ini membawa peralatan medis untuk bantuan kemanusiaan.

Secara tidak resmi, di dalam perut raksasa itu terdapat unit kontrol Mobile Uplink yang akan menghubungkan pangkalan Maladewa dengan jaringan inti Aegis di orbit.

"Bim, kau yakin enkripsi sinyalnya akan tahan?" tanya Raka sambil memeriksa sabuk taktis yang ia sembunyikan di balik jaket oranye yang longgar.

Bimo, yang tetap berada di balik kemudi truk, mengacungkan jempol. "Aku sudah menanamkan ghost signature di daftar manifes kru. Di sistem bandara, kalian adalah dua teknisi tambahan yang dikirim untuk mengecek sistem navigasi. Tapi ingat, kalian hanya punya waktu empat jam sebelum pesawat ini mendarat di Maladewa. Setelah itu, kalian sendirian di sarang serigala."

"Empat jam lebih dari cukup untuk membuat kekacauan," sahut Liana. Ia menoleh ke arah Raka, lalu memperbaiki posisi topi pria itu. "Jangan terlalu tegang, Raka. Teknisi bandara biasanya terlihat mengantuk dan bosan, bukan seperti agen yang siap mematahkan leher orang."

Raka mengatur napasnya. "Aku mencoba."

"Sini," Liana menarik kerah jaket Raka, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Anggap saja ini latihan akting." Liana memberikan kecupan ringan di sudut bibir Raka, sebuah sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik kecil di tengah udara pagi yang dingin.

Raka mematung sesaat. "Apa itu bagian dari protokol?"

"Itu bagian dari protokol biar-kamu-nggak-terlihat-kayak-robot," goda Liana dengan kedipan mata yang nakal. "Sekarang, jalan. Jangan menoleh ke belakang."

Mereka turun dari truk dan berjalan melewati pemeriksaan keamanan pintu belakang. Berkat kartu akses hasil kloningan Bimo, gerbang sensor hanya mengeluarkan bunyi beep hijau yang ramah. Mereka menaiki tangga menuju pintu kargo Icarus 4 yang masih terbuka lebar.

Di dalam, aroma bahan bakar jet dan logam dingin mendominasi. Kotak kotak kontainer besar berlogo Aegis Global tertata rapi, diikat dengan sabuk baja. Raka dan Liana bergerak menuju bagian belakang pesawat, tempat di mana unit kontrol utama disembunyikan di balik dinding palsu.

Setelah memastikan tidak ada kru lain di sekitar, Raka menarik panel rahasia. Di sana, sebuah terminal komputer dengan puluhan kabel serat optik yang menyala biru menanti mereka.

"Bingo," bisik Liana. Ia langsung mengeluarkan kabel interface dari pergelangan tangannya sebuah modifikasi yang memungkinkannya terhubung langsung ke sistem lewat sarung tangan sensoris.

Pesawat mulai bergerak, melakukan taxiing menuju landasan pacu. Getaran mesin raksasa di bawah kaki mereka terasa seperti raungan binatang buas. Saat pesawat lepas landas, gravitasi menekan tubuh mereka ke lantai kabin kargo.

Setelah tanda sabuk pengaman (jika ada) mati, Raka berdiri dan berjaga di dekat pintu akses kru, sementara Liana tenggelam dalam dunianya.

"Raka, sistem ini... luar biasa," gumam Liana. Cahaya dari monitor memantul di kacamatanya, memperlihatkan aliran data yang sangat kompleks. "Yudha tidak hanya membangun perisai. Dia membangun otak kolektif. Dia mencoba memetakan setiap pikiran manusia lewat lalu lintas data."

Raka mendekat, duduk di lantai di samping kursi lipat Liana. "Apa kau bisa memutusnya dari sini?"

"Memutusnya? Tidak. Tapi aku bisa menanamkan benih keraguan dalam algoritma mereka," Liana berhenti mengetik sejenak. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit langit pesawat yang dipenuhi kabel. "Hei, Raka. Jika kita berhasil melewati ini... dan jika toko buku itu benar benar ada... apa kau akan membiarkanku memilih warna cat dindingnya?"

Raka menoleh, menatap profil samping Liana yang tampak tenang meski mereka sedang berada di ketinggian 30.000 kaki di dalam pesawat musuh. "Asal bukan warna hijau neon seperti layar kodemu, aku tidak keberatan."

Liana tertawa kecil, suara yang terasa begitu hangat di tengah desis AC pesawat. "Aku pikir warna biru laut akan cocok. Seperti matamu saat kau sedang tidak mencoba menghitung trajektori peluru."

"Mataku tidak berwarna biru, Li." jawab Raka.

"Dalam imajinasiku, matamu biru saat kau sedang jatuh cinta, Raka," sahut Liana nakal. Ia meraih tangan Raka, menjalin jemari mereka di atas paha. "Kau tahu, di Unit 09 dulu, aku sering bertanya tanya... apakah kau benar-benar tidak punya perasaan, atau kau hanya terlalu takut untuk merasakannya."

Raka menggenggam tangan Liana lebih erat. "Mungkin keduanya. Di duniaku, perasaan adalah variabel yang membuat tembakan meleset. Tapi sejak kau muncul lagi di gudang itu... variabel itu menjadi satu satunya alasan aku tidak ingin meleset."

Liana menatap Raka dengan tatapan yang dalam, penuh kerinduan yang telah tertahan selama satu dekade. Ia mendekat, membiarkan dahinya bersandar di bahu Raka. "Tetaplah seperti itu, Raka. Jangan jadi mesin lagi. Aku lebih suka pria yang punya spasi ekstra di kodenya daripada sistem yang sempurna tapi kosong."

Momen manis itu terputus oleh suara langkah kaki yang mendekat dari arah kokpit.

Raka langsung berdiri, tangannya secara refleks meraih pisau taktis yang tersembunyi di pergelangan tangannya. Ia memberi isyarat pada Liana untuk tetap diam dan bersembunyi di balik tumpukan kargo.

Seorang penjaga keamanan berseragam hitam masuk ke ruang kargo. Ia memegang tablet dan tampak sedang melakukan pengecekan rutin. Pria itu berhenti tepat di depan dinding palsu yang terbuka.

"Hei! Siapa di sana?" teriak penjaga itu sambil menarik pistol Stun gun dari pinggangnya.

Raka tidak menunggu. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, ia meluncur dari balik bayangan. Ia menangkap pergelangan tangan penjaga itu, memutarnya hingga pistol itu terjatuh, dan dalam satu gerakan halus, ia membanting pria itu ke lantai kargo.

Raka menekan titik saraf di leher penjaga tersebut hingga ia jatuh pingsan dalam hitungan detik.

Liana muncul dari balik kontainer, napasnya sedikit terengah. "Cepat sekali. Kau tidak membunuhnya, kan?"

"Hanya tidur selama satu jam," jawab Raka sambil menyeret tubuh penjaga itu ke dalam lemari penyimpanan. "Tapi ini berarti mereka akan segera menyadari ada yang tidak beres. Berapa lama lagi sampai kita mendarat?"

Liana memeriksa tabletnya. "Dua puluh menit. Dan Raka... ada masalah lain."

"Apa?" tanya Raka.

"Seseorang baru saja mencoba melakukan ping ke lokasi kita dari Maladewa. Bukan Yudha. Tapi sistem otomatis Aegis. Mereka mendeteksi adanya intrusi data di dalam pesawat ini," wajah Liana berubah pucat. "Mereka tidak akan menunggu kita mendarat, Raka. Mereka akan menjatuhkan pesawat ini."

Raka menatap jendela kecil pesawat. Di kejauhan, di atas hamparan Samudra Hindia yang biru, ia melihat dua titik hitam yang mendekat dengan cepat. Dua jet tempur tanpa awak drone yang dikendalikan oleh Aegis.

"Mereka ingin menghapus bukti," desis Raka. Ia menarik Liana menuju bagian belakang pesawat, tempat pintu kargo darurat berada. "Li, ingat latihan terjun payung kita di Bandung?"

Liana menelan ludah, matanya membelalak. "Raka, itu sepuluh tahun lalu! Dan saat itu aku hampir pingsan!"

"Kali ini jangan pingsan," kata Raka sambil memakaikan tas parasut darurat ke punggung Liana. Ia mengencangkan sabuknya, lalu memasang parasutnya sendiri. "Kita tidak akan mendarat di bandara. Kita akan mendarat di air, dua kilometer dari resort target."

Raka memegang kedua pipi Liana, menatapnya dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Percaya padaku?"

Liana menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Senyum nakalnya kembali muncul meski sedikit gemetar. "Hanya jika kau berjanji akan memegang tanganku saat kita melompat."

"Aku tidak akan melepaskannya," janji Raka.

Ia menekan tuas darurat.

Pintu kargo terbuka dengan suara raungan angin yang memekakkan telinga. Tekanan udara menyedot segala sesuatu di sekitarnya. Di belakang mereka, sebuah rudal baru saja dilepaskan dari salah satu drone musuh.

"LOMPAT!" teriak Raka.

Mereka meluncur ke angkasa, jatuh bebas dari ketinggian ribuan kaki. Di bawah mereka, Maladewa tampak seperti untaian permata di tengah biru laut. Dan di tengah terjun bebas itu, Raka benar benar memegang tangan Liana, bukan karena protokol, tapi karena ia tidak ingin hantu cantik itu menghilang lagi dari hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!