Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
[Asrama Putra Mahasiswa - Pondok Cina]Jam dinding menunjukkan pukul 23.55 WIB.
Suasana kamar 303 masih hening mencekam setelah Raka melontarkan kalimat "sakti"-nya: "Emangnya Civic 600 juta itu mahal?"
Doni, Budi, dan Asep masih mematung. Otak mereka yang biasanya cuma dipake mikirin tugas kuliah dan push rank Mobile Legends, mendadak overheat mencoba memproses kesombongan tingkat dewa dari teman sekamar mereka ini.
Baru saja Doni hendak membuka mulut untuk menyembur Raka dengan sumpah serapah, sebuah bunyi notifikasi memecah keheningan.
Ting!
Bukan bunyi notifikasi WhatsApp biasa. Itu bunyi notifikasi prioritas yang Raka atur khusus. Raka yang sedang duduk santai di tepi kasur, mengambil ponselnya.
Doni, yang rasa keponya sudah mendarah daging, memanjangkan lehernya seperti jerapah. Matanya memicing, mengintip layar ponsel Raka dari balik punggung.
Detik berikutnya, mata Doni melotot hingga nyaris keluar dari rongganya.
"ANJING!" teriak Doni spontan. "Itu... itu profil WA-nya Vania Winata?! Yang centang hijau?!"
Budi dan Asep langsung tersentak. "Hah?! Serius lo, Don?!"
"Demi Allah! Liat sendiri!"
Mereka bertiga langsung mengerubungi Raka seperti semut melihat gula. Raka menghela napas panjang, pura-pura terganggu, padahal dalam hati menyeringai puas. Dia memutar layar ponselnya ke arah wajah-wajah kelaparan itu.
Tertera jelas di layar: Contact Name: Vania Winata (Official) ✅ Status: Online Last Message: "Good night, Sultan. Mimpi indah ya. Jangan lupa besok kabarin soal donasinya. See you! ✨"
"Mimpi indah..." baca Asep dengan suara bergetar. "Dia disuruh mimpi indah sama Vania... Sementara gue tadi malem disuruh mimpi indah sama bot admin judi slot..."
"Ka..." Doni mencengkeram bahu Raka, tatapannya penuh selidik. "Pas lo dipeluk tadi... sepuluh kali... jujur sama kita. Rasanya gimana? Real nggak?"
Raka tertawa kecil. Dia meletakkan ponselnya, lalu melipat tangan di belakang kepala, bersandar pada tembok.
"Gimana ya bilangnya," Raka memejamkan mata sejenak, berpura-pura flashback dengan ekspresi menikmati. "Bukan cuma wangi, Don. Tapi... solid."
"Solid gimana woy?!" desak Budi.
"Ya... solid. Lo tau kan di TV dia keliatan kurus banget? Nah, aslinya tuh... berisi. Pas. Kualitas premium. Kenyal tapi kenceng. Wanginya juga... kayak wangi surga campur vanilla dan bunga melati yang baru mekar."
"BANGSAT KAU RAKA!!! ASUUUU...."
Tiga bantal melayang serempak menghantam wajah Raka.
BUK! BUK! BUK!
Teriakan frustrasi para jomblo menggema di lorong asrama malam itu. Tetangga kamar sebelah sampai menggedor dinding saking berisiknya. Raka tertawa lepas, membiarkan teman-temannya menggila dalam rasa iri.
Malam semakin larut. Raka mematikan lampu, tapi otaknya masih bekerja. Dia membuka aplikasi Mobile Banking dengan mode layar redup.
Angka di sana bergerak real-time, seperti taksimeter yang menghitung kekayaannya.
Saldo: Rp 20.359.750... Saldo: Rp 20.360.000...
Setiap kali dia berkedip, uang masuk. Skill [Waktu Adalah Uang] bekerja sempurna. Bahkan saat dia tidur nanti, uang itu akan terus mengalir deras.
"Lima jam gue tidur, dapet sekitar 4,5 juta," gumam Raka pelan. "Bangun tidur bisa beli Handphone baru. Gila..."
[Keesokan Harinya - Pukul 11.00 WIB]
Matahari Jakarta sudah menyengat ketika Raka turun dari taksi online Premium di kawasan Arteri Pondok Indah.
Hal pertama yang dia lakukan saat bangun tadi adalah mengecek saldo. Dan benar saja, rekeningnya bertambah hampir 5 juta rupiah hanya karena dia sukses tidur nyenyak. Passive income level dewa.
Raka berdiri di depan bangunan kaca megah bertuliskan McLaren Jakarta.
Kaca-kaca besar setinggi dua lantai menampilkan deretan supercar yang harganya bisa buat memberi makan satu kecamatan. Ini bukan sembarang dealer. Ini adalah kuil kecepatan.
[Area Parkir Karyawan McLaren]
Beberapa staf penjualan (Sales Executive) pria sedang bergerombol, bersiap untuk istirahat makan siang. Salah satu dari mereka menoleh ke dalam showroom, melihat seorang wanita yang masih sibuk di dekat unit pameran.
"Bu Clarissa nggak makan?"
"Nggak, katanya mau ngafalin spek teknis lagi. Gila tuh cewek, workaholic parah."
"Tapi cantik banget, Bro. Umur 22 tahun udah jadi Branch Manager. Sayang, dinginnya minta ampun. Kayak Ratu Es."
"Yoi. Kita gombalin dikit, langsung dibales pake target penjualan. Minder gue."
Mereka berlalu, meninggalkan sang "Ratu Es" sendirian di dalam akuarium kaca raksasa itu.
Di dalam showroom yang hening dan sejuk, Clarissa Wijaya sedang berdiri di samping sebuah McLaren Artura. Dia sedang mempelajari data aerodinamika di tabletnya.
Clarissa bukan sekadar cantik. Dia memiliki aura yang mengintimidasi.
Rambut hitamnya digelung rapi gaya French Twist, menyisakan leher jenjang yang putih mulus. Wajahnya dipoles makeup natural namun tegas alis presisi, eyeliner tajam, dan lipstik nude matte.
Dia mengenakan setelan kerja yang menjeritkan kata "Profesional". Blazer hitam pas badan, kemeja putih sutra di dalamnya, dan rok pensil (pencil skirt) selutut yang memeluk pinggul rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjangnya dibalut stocking hitam tipis (sheer black pantyhose) yang memberikan efek elegan sekaligus sensual, berakhir pada sepasang stiletto hitam mengkilap.
Tiba-tiba, sensor pintu berbunyi. Wuuush.
Clarissa mengangkat wajah. Matanya yang tajam menangkap sosok Raka yang masuk dengan gaya santai kaos polos hitam, celana jeans, dan sneakers. Bukan tipikal klien McLaren pada umumnya.
Tapi Clarissa bukan sales amatir yang menilai buku dari sampulnya. Dia berjalan mendekat.
Tak... Tak... Tak...
Suara hak tingginya beradu dengan lantai marmer, menciptakan ritme yang menggetarkan hati pria manapun.
"Selamat siang, Pak," sapa Clarissa. Suaranya merdu tapi tegas. Senyumnya sopan, namun memberi jarak. "Ada yang bisa saya bantu?"
Raka menatap wanita di hadapannya. Jantungnya berdesir. Jika Vania adalah "Idola yang Manis", wanita di depannya ini adalah "Wanita Karir yang Matang".
Aroma parfumnya tercium wangi floral woody yang elegan, mahal, dan dewasa.
Sebuah panel holografik biru muncul seketika di samping wajah Clarissa.
[DING!] [Skill Aktif: Deteksi Bidadari (Enhanced Mode)]
[TARGET ANALISIS]
Nama: Clarissa Wijaya (22 Tahun)
Jabatan: Branch Manager
Tinggi: 168 cm (175 cm with Heels)
Skor Wajah: 98/100 (Kategori: Ice Queen)
Ukuran Atribut: 36B (Bentuk: Kencang/Proporsional)
Status: Single / High Maintenance
Raka mengernyit sedikit. 36B? Secara volume mungkin kalah dari Vania (32C), tapi bentuk tubuh Clarissa yang lebih tinggi dan ramping membuat proporsi itu terlihat sangat... artistik. Pinggang kecil yang dibalut rok pensil itu membuat bagian atasnya terlihat lebih menonjol dan menggoda. Ada aura dominan yang membuat pria ingin menaklukkannya.
"Halo," sapa Raka, mengeluarkan KTP-nya. "Saya Raka Adiyaksa. Mau ambil pesanan."
Clarissa menerima KTP itu dengan dua tangan. Matanya membelalak sedikit saat melihat nama di sistem tabletnya.
"Ah... Pak Raka Adiyaksa," nada suaranya berubah, lebih hormat namun tetap profesional. "Pemilik unit McLaren 720S Memphis Red? Mohon maaf, saya tidak menyangka Bapak masih semuda ini."
"Rezeki anak soleh, Bu," canda Raka.
"Panggil saya Clarissa saja, Pak. Mari ikut saya."
Clarissa berbalik, memimpin jalan menuju area VVIP di belakang. Raka berjalan di belakangnya, tak bisa memungkiri bahwa pemandangan punggung tegap dan pinggul yang bergerak seirama dengan langkah kaki stiletto itu adalah pemandangan kelas satu.
Mereka sampai di sebuah ruangan privat. Di tengahnya, terparkir sebuah monster.
McLaren 720S. Warnanya Memphis Red merah gelap yang menyala di bawah lampu sorot. Desainnya agresif, futuristik, seolah pesawat alien yang mendarat di bumi.
"Ini dia, Pak," Clarissa menekan tombol kunci.
Klik.
Kedua pintu mobil itu terbuka ke atas, seperti sayap serangga yang siap terbang. Sangat dramatis.
"Silakan dicek, Pak," ujar Clarissa.
Raka masuk ke kursi pengemudi. Posisi duduknya sangat rendah, hampir menyentuh aspal. Interiornya penuh dengan Alcantara dan serat karbon. Dia menekan tombol Start Engine.
VROOOOM!!!
Suara mesin V8 Twin-Turbo meledak, menggelegar di ruangan tertutup itu. Getarannya merambat ke punggung Raka, memacu adrenalin. Ini bukan mobil, ini roket darat.
"Gimana cara makenya nih? Tombolnya banyak banget kayak pesawat tempur," gumam Raka.
Clarissa tersenyum tipis. "Biar saya jelaskan, Pak. Izinkan saya masuk."
Clarissa melangkah masuk ke kursi penumpang. Karena mobil ini sangat rendah dan dia memakai rok pensil ketat, dia harus melakukan manuver yang cukup... menantang untuk masuk.
Begitu Clarissa duduk, kabin yang sempit itu langsung dipenuhi aroma parfum mahalnya. Jarak bahu mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Suasana mendadak menjadi intim.
"Jadi, ini tombol Active Dynamics Panel," Clarissa mencondongkan tubuhnya ke arah Raka untuk menunjuk tombol di konsol tengah.
Gerakan ini membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Napas hangat Clarissa terasa di pipi Raka.
Tapi bukan itu yang membuat Raka salah fokus.
Karena posisi duduk bucket seat yang rendah dan Clarissa yang mencondongkan tubuh, kancing kemeja putih sutra Clarissa sedikit meregang. Kancing teratasnya memang sengaja dibuka untuk gaya, tapi kancing kedua tampaknya berjuang keras menahan beban.
Dari sudut pandang Raka yang lebih tinggi sedikit... dia bisa melihat celah itu.
Jendela dunia.
Kulit putih susu yang sangat halus, kontras dengan renda hitam dari pakaian dalamnya yang sedikit mengintip. Lembah yang terbentuk di sana terlihat dalam, padat, dan sangat... mengundang.
Ada sebuah puisi kuno yang mendadak melintas di otak Raka: "Bagai kulit giok yang mabuk kepayang di musim semi."
Sangat putih. Sangat mulus. Dan... sangat besar.
Raka menelan ludah. Matanya melirik panel sistem yang masih melayang transparan.
[Ukuran Atribut: 36B]
"Sistem..." batin Raka protes keras. "Lo perlu di-update kayaknya. Atau mata gue yang siwer?"
Benda di depannya ini terlihat mendesak, penuh, dan berat. Bagaimana mungkin ini cuma B? Apakah karena push-up bra? Atau karena Clarissa sedang mencondongkan tubuh?
Apapun itu, Raka merasa hormat.
"Pak Raka?" panggil Clarissa, menyadari Raka tidak melihat ke tombol yang dia tunjuk.
Raka tersentak, matanya refleks kembali ke wajah cantik Clarissa yang kini menatapnya dengan alis terangkat satu. Ada kilatan tajam di mata Clarissa dia tahu kemana arah mata Raka barusan.
Tapi sebagai sales profesional, Clarissa tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, sedikit membusungkan dadanya saat kembali duduk tegak, merapikan blazernya dengan gerakan elegan yang lambat.
"Fokus ke jalan, Pak. Bukan ke airbag," sindir Clarissa halus namun savage.
Raka tertawa canggung. "Maaf, Bu Manajer. Dashboard-nya terlalu menarik."
"Bagus," Clarissa mengedipkan mata sebuah gerakan langka dari sang Ratu Es. "Kalau begitu, mari kita Test Drive. Saya ingin lihat apakah 'Raja Jalanan' bisa menaklukkan kuda liar ini."
Mesin menderu lagi. Raka menginjak gas.
Siang itu, Raka belajar dua hal:
McLaren 720S adalah mobil tercepat yang pernah dia naiki.
Data sistem tentang wanita mungkin akurat secara teknis, tapi realitas visual di lapangan seringkali memberikan kejutan yang menyenangkan.