Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANGUN TIDUR, KIAMAT KECIL
BRAAAK!
Daun pintu kayu lapuk itu hancur berkeping-keping, terlempar ke sudut ruangan hingga menabrak meja kayu yang sudah reot. Debu tebal beterbangan memenuhi udara kamar yang sempit dan pengap tersebut.
Di atas ranjang jerami yang keras, sesosok pemuda kurus yang sedang tidur tengkurap hanya menggeliat pelan. Dia menarik selimut tipisnya untuk menutupi kepala, sama sekali tidak peduli dengan suara ledakan pintu yang baru saja terjadi.
"Bangun, Sampah!" teriak Zhao dengan suara menggelegar yang menggetarkan dinding kamar.
Pemuda di bawah selimut itu, Feng, menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah.
"Siapa sih yang teriak-teriak pagi buta begini?" keluh Feng dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Pintu rusak itu harganya mahal. Kalau mau bertamu, ketuk pintunya pelan-pelan."
"Kau masih berani menceramahiku, Bocah Tengik?!" bentak Zhao seraya melangkah masuk dengan sepatu bot besinya yang berdebum keras di lantai kayu. "Singkirkan selimut kusammu itu dan bersujudlah di depanku sekarang juga!"
"Kakak Senior Zhao menyuruhmu bersujud, Feng! Jangan pura-pura tuli!" seru Budi, salah satu kacung yang berdiri mengekor di belakang Zhao.
"Seret saja dia turun dari kasur, Kakak Senior! Orang cacat tanpa Tenaga Dalam seperti dia tidak pantas tidur nyenyak di asrama Sekte Pedang Langit ini!" timpal Anto, kacung kedua yang memegang cambuk rotan.
Feng akhirnya menyerah. Dia melempar selimutnya ke samping, lalu duduk bersila di atas ranjang jerami sambil menggaruk rambutnya yang berantakan seperti sarang burung. Matanya yang setengah tertutup menatap tiga orang berseragam abu-abu di depannya dengan tatapan luar biasa bosan.
"Mas-mas sekalian," ucap Feng santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura membunuh ketiga orang itu. "Saya ini baru saja bangun tidur. Saya bahkan belum cuci muka. Bisa tidak kalian datang lagi agak siangan setelah saya sarapan?"
"Sarapan kepalamu!" teriak Zhao marah, urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Hari ini adalah hari ujian tahunan sekte luar! Kau sudah tiga tahun berturut-turut tertahan di Tingkat Nol Pengumpulan Qi! Ototmu lemah, meridianmu tersumbat, dan kau tidak punya bakat sama sekali!"
"Lalu apa masalahnya dengan Mas Zhao?" balas Feng polos. "Saya yang lemah, kenapa Mas yang marah-marah?"
"Karena sesuai aturan Sekte Pedang Langit, murid yang gagal menembus Tingkat Satu dalam tiga tahun akan langsung dibuang ke Tambang Batu Darah!" jelas Budi dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Tambang Batu Darah?" ulang Feng, memiringkan kepalanya sedikit. "Kedengarannya seperti tempat kerja paksa. Apa di sana disediakan jaminan kesehatan dan makan siang gratis tiga kali sehari?"
"Kau benar-benar sudah gila karena keputusasaan ya?" Zhao tertawa keras, tawanya menggema memenuhi ruangan sempit itu. "Di tambang itu kau akan mati kelelahan dalam sebulan! Tapi, aku orang yang baik, Feng. Aku bisa membantumu."
"Oh? Mas Zhao mau bayarin saya sarapan?" tanya Feng dengan mata sedikit berbinar.
"Jangan memancing emosiku, Sampah!" bentak Zhao, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Serahkan Jatah Pil Darah bulananmu yang terakhir padaku! Sebagai gantinya, aku akan meminta pamanku yang bekerja sebagai pengawas tambang untuk memberimu pekerjaan yang paling ringan. Bagaimana?"
"Ternyata cuma mau memalak," desah Feng kecewa, wajahnya kembali datar. "Saya kira sungguhan mau traktir makan. Jatah Pil Darah itu sudah saya makan tadi malam buat camilan karena saya lapar. Rasanya agak pahit, kurang gula."
"Kau memakannya?!" jerit Anto tidak percaya. "Pil berharga itu kau jadikan camilan?! Padahal kau tidak punya meridian untuk menyerap energinya! Tubuhmu pasti akan meledak!"
"Buktinya saya masih hidup dan sedang ngobrol dengan kalian," jawab Feng santai sambil menunjuk dadanya sendiri. "Sudah ya, transaksinya batal. Silakan keluar, saya mau lanjut tidur lagi. Ujian sektenya nanti siang saja saya ikutinya."
Zhao kehabisan kesabaran. Matanya memerah memancarkan niat membunuh yang pekat. Aura biru muda mulai berpendar dari kedua telapak tangannya, menandakan bahwa dia sedang memusatkan Tenaga Dalamnya.
"Karena kau tidak mau bekerja sama, aku akan mematahkan kedua kakimu sekarang juga! Biar kau merangkak ke tambang itu seperti anjing lumpuh!" ancam Zhao dengan suara mendesis.
Tepat pada detik Zhao mengangkat tangannya, sebuah suara mekanik yang sangat dingin dan datar mendadak bergema di dalam kepala Feng.
MENDETEKSI ANCAMAN FATAL. SISTEM ASAL MULA DIAKTIFKAN.
"Sistem?" batin Feng sedikit terkejut, namun ekspresi wajahnya tetap datar. "Benda apa lagi ini? Bikin pusing kepala saja."
MEMINDAI TUBUH INANG. STATUS: FANA TINGKAT NOL. KAPASITAS PENAMPUNGAN ENERGI: SANGAT BURUK.
"Hei, jangan menghina tubuh orang sembarangan. Saya tahu saya kurus," protes Feng di dalam hatinya.
PERINGATAN! JIWA TUAN ADALAH ENTITAS PURBA TINGKAT DEWA. TUBUH FANA INI TIDAK SANGGUP MENAHAN KEKUATAN ASLI TUAN. JIKA TUAN MENGGUNAKAN KEKUATAN PENUH, TUBUH INI AKAN HANCUR MENJADI DEBU DALAM WAKTU NOL KOMA SATU DETIK.
"Wah, bahaya juga," pikir Feng santai. "Lalu saya harus bagaimana? Orang berwajah preman di depan saya ini mau mematahkan kaki saya."
SOLUSI DITEMUKAN. SISTEM AKAN MENGUNCI SEMBILAN PULUH SEMBILAN KOMA SEMBILAN PERSEN KEKUATAN TUAN. TUAN HANYA DIIZINKAN MENGGUNAKAN KEKUATAN FISIK MURNI TANPA ENERGI SIHIR.
"Baguslah. Saya juga malas pakai sihir yang bercahaya-cahaya begitu. Terlalu mencolok mata," balas Feng tenang.
PERINGATAN TAMBAHAN! KARENA TUBUH INANG SANGAT LEMAH, SETIAP PENGGUNAAN KEKUATAN FISIK SUPER AKAN MEMBAKAR KALORI DAN UMUR INANG SECARA EKSTREM. HARGA DARI SETIAP PUKULAN ADALAH RASA LAPAR TINGKAT TINGGI. JIKA TUAN TIDAK SEGERA MAKAN SETELAH BERTARUNG, TUAN AKAN MATI KELAPARAN DALAM WAKTU SATU JAM.
"Mati kelaparan?!" Mata Feng mendadak melotot. "Syarat macam apa itu?! Kenapa cheat ini menyusahkan sekali?!"
"Mati kau, Sampah!" teriak Zhao yang mengira mata melotot Feng adalah reaksi ketakutan terhadapnya.
Zhao melompat maju, mengayunkan telapak tangannya yang bercahaya biru langsung ke arah lutut kanan Feng. Jurus Tapak Penghancur Batu itu terkenal bisa meremukkan tulang sekeras baja sekalipun.
"Kakak Senior Zhao tidak menahan diri sama sekali!" seru Budi kegirangan dari ambang pintu.
"Kakinya pasti hancur berkeping-keping!" tambah Anto tertawa kejam.
Angin pukulan Zhao menyapu wajah Feng, membuat rambut berantakannya berkibar ke belakang. Namun, bukannya menghindar atau berteriak minta ampun, Feng justru mengangkat tangan kanannya dengan gerakan yang terlihat sangat malas dan pelan.
Tangan kurus yang tidak memiliki setitik pun aura Tenaga Dalam itu menampar pergelangan tangan Zhao yang sedang meluncur deras.
PLAAAK!
Suara tamparan itu terdengar sangat renyah dan keras, menyerupai suara cambuk besi yang dipukulkan ke bongkahan daging.
"AARRGGHH!"
Jeritan melengking yang sangat menyayat hati seketika keluar dari mulut Zhao. Matanya hampir melompat keluar dari rongganya saat dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya.
Cahaya biru di telapak tangan Zhao padam seketika. Tulang pergelangan tangannya bengkok ke arah yang sama sekali tidak wajar, patah dalam satu sentuhan ringan. Tubuh besar Zhao terdorong mundur dengan kasar, menabrak Budi dan Anto yang berdiri di belakangnya hingga mereka bertiga jatuh bergulingan di lantai kayu.
"Tangan Kakak Senior Zhao!" jerit Budi histeris saat melihat tulang putih yang menembus kulit pergelangan tangan seniornya itu.
"Bagaimana mungkin?!" Anto merangkak mundur dengan wajah sepucat mayat. "Dia... dia cuma Level Nol! Dari mana dia mendapatkan kekuatan fisik sebesar itu?!"
Zhao memegangi tangannya yang patah, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya yang kesakitan. Dia menatap Feng dengan pandangan horor yang mendalam, seolah baru saja melihat monster purba yang terbangun dari tidurnya.
"Kau... Siluman jenis apa kau ini?!" teriak Zhao dengan napas terengah-engah. "Jurus Tapak Penghancur Batuku... dipatahkan hanya dengan tamparan biasa?!"
Feng tidak menjawab pertanyaan Zhao. Pemuda itu justru memegangi perutnya yang mendadak berbunyi sangat nyaring.
Krucuk... Krucuk...
Wajah Feng berubah menjadi sangat pucat, keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya. Sensasi lapar yang menyerangnya bukanlah rasa lapar biasa karena belum sarapan, melainkan rasa lapar ekstrem yang menggerogoti organ dalamnya, seolah-olah perutnya sedang mencerna ususnya sendiri.
"Gila... Sistem sialan," maki Feng dengan suara bergetar. Dia menunduk menatap tangannya sendiri. "Cuma menampar satu kali saja kalorinya terkuras habis begini? Aku benar-benar bisa mati kelaparan kalau tidak segera makan."
SISTEM MEMPERINGATKAN: ENERGI INANG MENURUN DRASTIS. WAKTU TERSISA SEBELUM KEMATIAN KARENA KELAPARAN: LIMA PULUH SEMBILAN MENIT. SILAKAN KONSUMSI ENERGI TINGGI SEGERA.
Feng mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Zhao, Budi, dan Anto. Tatapan matanya yang tadi terlihat sangat malas dan mengantuk, kini berubah menjadi tatapan buas seekor serigala kelaparan yang sedang melihat sepotong daging segar.
"Kalian bertiga," ucap Feng dengan nada pelan dan berat. "Kalian punya makanan tidak? Roti sisa, permen, atau pil energi? Apa saja."
"D-Dia mau memakan kita!" jerit Anto yang kehilangan akal sehatnya karena ditatap dengan cara mengerikan seperti itu. "Kakak Senior Zhao, ayo lari! Bocah ini sudah kerasukan iblis kelaparan!"
"Lari kemana kalian?!" bentak Feng. Dia melompat turun dari ranjang jeraminya, mendarat di lantai kayu dengan pijakan yang sangat berat hingga lantainya retak. "Kalau kalian tidak punya makanan, serahkan semua koin emas dan cincin penyimpanan kalian sekarang juga! Aku harus pergi ke kantin sekte detik ini juga!"
Zhao, yang statusnya adalah murid senior yang ditakuti, kini menangis tersedu-sedu sambil menyerahkan kantong koinnya dengan tangan kiri yang gemetar. "Ini! Ambil semuanya! Tolong jangan gigit aku!"
Budi dan Anto juga buru-buru melempar kantong uang mereka ke lantai, lalu menyeret tubuh Zhao yang terluka untuk merangkak keluar dari kamar tersebut secepat mungkin.
Feng meraup tiga kantong koin itu dengan rakus. Perutnya kembali berbunyi, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Sembilan puluh koin tembaga dan lima koin perak? Dasar murid senior miskin!" rutuk Feng setelah melihat isi kantong tersebut. "Uang segini mana cukup buat beli makanan berenergi tinggi di kantin sekte!"
Belum sempat Feng berlari keluar kamar untuk mencari warung makan terdekat, sebuah tekanan energi yang luar biasa besar mendadak turun dari langit, menyapu seluruh asrama murid luar tersebut.
Atap kamar Feng bergetar hebat. Debu dan serpihan kayu berjatuhan dari langit-langit.
Seorang pria paruh baya berjubah putih bersih dengan pedang melayang di punggungnya turun perlahan dari udara, mendarat tepat di depan puing-puing pintu kamar Feng. Matanya yang tajam bagai elang menyapu ruangan yang berantakan itu, lalu berhenti pada Feng yang sedang memegangi perutnya.
"Siapa yang berani membuat keributan dan melukai sesama murid di asrama Sekte Pedang Langit tepat di hari ujian?!" suara pria paruh baya itu menggema, mengandung penindasan mutlak dari seorang kultivator tingkat tinggi.
Itu adalah Tetua Li, penegak disiplin sekte luar yang terkenal tidak kenal ampun dan sangat kejam. Siapa pun yang tertangkap membuat masalah olehnya, pasti akan berakhir cacat atau diusir secara tidak hormat.
Feng menelan ludah dengan susah payah. Kakinya mulai lemas karena kelaparan yang semakin menyiksanya.
"Waktunya benar-benar tidak pas," gumam Feng pelan, wajahnya memucat. "Sistem, kalau saya menampar bapak tua ini, berapa banyak umur saya yang berkurang?"
SISTEM MERESPON: JIKA TUAN MENYERANG KULTIVATOR TINGKAT MASTER INI, TUAN AKAN MATI KELAPARAN DALAM WAKTU TIGA DETIK SEBELUM PUKULAN TUAN MENGENAI WAJAHNYA.
"Bagus sekali," desah Feng pasrah. "Sepertinya saya benar-benar akan mati kelaparan di bab pertama cerita ini."