Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Alunan musik lembut memenuhi gereja saat Kevin berdiri di hadapan pendeta, mengenakan setelan jas yang rapi.
Perempuan yang berdiri di sampingnya merupakan anak kedua dari konglomerat generasi kedua yang luar biasa kaya. Dia berasal dari keluarga Giovano, pemilik Giotech Corp, perusahaan yang memimpin pasar teknologi dunia.
Semua ini bermula setelah ayahnya terjerat utang judi yang tak mampu dibayar. Andrew Giovano, CEO Giotech Corp, menawarkan bantuan dengan satu syarat: sang ayah harus menyerahkan putra semata wayangnya untuk dinikahkan dengan putri pertamanya.
Saat mendengar tawaran itu, tentu saja Kevin sangat marah dan menentang keputusan ayahnya. Namun, setelah mengetahui jumlah utang yang sangat besar, Kevin akhirnya pasrah dan bersedia menikahi perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
Gereja hanya diisi oleh tiga orang pendeta, orang tua Kevin, dan seorang perempuan berseragam pelayan. Dengan kata lain, pernikahan ini benar-benar disembunyikan dari publik.
"... Vin, Kevin..." suara pendeta menyadarkannya dari lamunan, "cincinnya," sambung sang pendeta.
"Ah..." Kevin merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru merah, lalu mengambil sebuah cincin untuk disematkan di jari Ashley.
Ashley Giovano adalah anak kedua Andrew Giovano. Perempuan ini terkenal dingin, perfeksionis, dan gila kerja. Ashley memimpin salah satu anak perusahaan di bawah naungan inti Giotech Corp, yakni Giotech C&T yang bergerak di bidang pasar saham dan keuangan.
Setelah Ashley menyematkan cincin di jari Kevin, pendeta mengumumkan resminya pernikahan mereka dan meminta keduanya menandatangani banyak dokumen. Ibu Kevin tampak menangis, merelakan putra semata wayangnya pergi demi menanggung kesalahan sang suami.
Setelah hari itu berlalu, Kevin dibawa Ashley ke mansion-nya yang terletak di puncak bukit, dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi yang seolah menutupinya dari dunia luar. Mata Kevin menatap takjub pada bangunan megah di hadapannya. Bahkan, terlihat sebuah helikopter terparkir di atap belakang bangunan utama.
Neena, sang kepala pelayan, membawa Kevin menuju kamarnya yang terletak berseberangan dengan kamar Ashley. Kevin sudah menduganya; mereka menikah bukan karena keinginan masing-masing, jadi mana mungkin mereka akan berbagi kamar yang sama?
Sulit dipercaya, mansion itu memiliki fasilitas yang menyerupai isi kota: perpustakaan, bioskop pribadi, galeri, ruang karya seni, bahkan Kevin diberikan satu ruangan khusus hanya untuk menyimpan pakaiannya. Jika fasilitasnya seperti ini, Kevin justru rela dikurung di dalam mansion. Dia tidak akan protes selama ada banyak buku komik di perpustakaan atau bisa menonton film di bioskop pribadi tanpa harus berdesakan dengan orang lain.
Kehidupan pernikahannya terasa sangat damai dan menyenangkan karena Kevin tidak perlu lagi bekerja dan bertemu atasan yang menyebalkan. Tentu saja, itu semua atas perintah Ashley.
Melalui Neena, Kevin menerima beberapa ketentuan setelah memasuki mansion. Kevin dilarang bekerja dan akan diberikan uang bulanan untuk segala kebutuhannya. Dia diberikan buku tabungan, kartu pribadi, bahkan identitas baru dengan nama belakang Givano. Kevin menatap kartu identitas barunya. Givano. Nama yang serupa, namun tanpa huruf 'o' di tengahnya, seolah menegaskan bahwa ia ada di sana tetapi tetap bukan bagian dari mereka.
Jika ingin keluar dari rumah, dia wajib ditemani sopir dan pengawal-tujuannya agar Kevin tidak kabur. Kevin sama sekali tidak keberatan; dia justru senang karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos bus. Namun, ada satu larangan yang aneh: Kevin tidak diperbolehkan berinteraksi dengan para pelayan selain untuk memberi perintah.
Setelah pernikahan itu, orang tua Kevin meninggalkan ibu kota. Mereka menjual rumah dan pindah ke pedesaan untuk bertani dan melanjutkan hidup dengan tenang.
Kehidupan Kevin terasa sangat sempurna, hingga malam ini, di aula makan yang tenang dan beraroma sedap, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. Perempuan di depannya ini baru saja bicara apa?