NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Warisan yang Tak Terlihat

Hidup kembali menemukan ritmenya setelah badai kehilangan pekerjaan itu berlalu. Perusahaan rintisan tempatku bekerja semakin berkembang. Tim kecil yang dulu kupimpin kini bertambah menjadi dua kali lipat. Tanggung jawabku ikut membesar, tetapi kali ini aku tidak lagi merasa tercekik oleh ambisi. Aku belajar membedakan antara bekerja untuk membuktikan diri dan bekerja untuk membangun masa depan.

Naomi sudah masuk sekolah dasar. Daniel mulai belajar berjalan dengan langkah yang masih goyah, persis seperti kakaknya dulu. Rumah kami yang sederhana kini dipenuhi coretan krayon di dinding dan suara tawa yang kadang berubah menjadi tangis.

Suatu malam, ketika listrik sempat padam karena hujan deras, kami duduk bersama di ruang tamu hanya ditemani cahaya lilin.

“Papa, cerita dong,” pinta Naomi.

“Aku cerita apa?” tanyaku sambil tersenyum.

“Cerita waktu Papa kecil.”

Aku terdiam sejenak. Masa kecilku tidak selalu ringan untuk diceritakan. Ada kenangan tentang kerasnya didikan, tentang tuntutan adat, tentang mama yang sering terlihat khawatir memikirkan masa depan anak-anaknya.

Namun malam itu, aku memilih bagian yang hangat.

“Waktu Papa kecil, Papa sering naik sepeda tua keliling kampung. Papa mimpi suatu hari bisa kerja di kota besar.”

“Terus?” tanya Naomi, matanya berbinar.

“Terus Papa sadar, kota besar tidak selalu membuat orang besar. Yang bikin orang besar itu hati yang mau belajar.”

Naomi mengangguk pelan, mungkin belum sepenuhnya mengerti, tapi ia tersenyum puas.

Di sudut ruangan, Maria menatapku dengan pandangan yang penuh arti. Ia tahu aku sedang menata ulang masa lalu dalam versi yang lebih bijak—bukan untuk menyembunyikan luka, tetapi untuk mewariskan pelajaran tanpa kepahitan.

Beberapa minggu kemudian, mama jatuh sakit.

Awalnya hanya demam ringan. Namun setelah diperiksa, dokter menemukan gangguan pada jantungnya. Tidak parah, tetapi cukup untuk membuat kami waspada.

Aku menemaninya ke rumah sakit beberapa kali. Di ruang tunggu, aku sering melihat mama menatap kosong ke luar jendela.

“Kamu tidak perlu selalu ikut, Nak. Kamu punya pekerjaan,” katanya suatu siang.

“Aku punya waktu,” jawabku tegas.

Ia tersenyum kecil. “Dulu mama selalu takut kamu memilih jalan yang salah. Sekarang mama justru bangga melihat kamu memilih untuk hadir.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Selama ini aku selalu merasa harus membuktikan sesuatu—bahwa aku bisa mandiri, bisa mengambil keputusan sendiri. Namun kini aku mengerti, kehadiran jauh lebih berarti daripada pembuktian.

Suatu malam, mama memanggilku ke kamarnya.

“Ada satu hal yang ingin mama sampaikan,” katanya pelan.

Aku duduk di samping tempat tidurnya.

“Jangan ulangi kesalahan mama.”

Aku terdiam. “Kesalahan apa, Ma?”

“Terlalu lama menahan ketakutan. Mama sering membiarkan rasa takut mengatur cara mama mendidik kalian. Padahal cinta tidak seharusnya membuat orang takut.”

Aku menggenggam tangannya yang mulai keriput.

“Ma, kalau mama tidak seperti dulu, mungkin aku tidak akan belajar seperti sekarang.”

Ia tersenyum tipis.

“Mungkin. Tapi kamu harus lebih baik dari mama. Itu namanya warisan.”

Warisan.

Bukan tanah. Bukan rumah. Bukan uang.

Warisan nilai.

Warisan keberanian.

Warisan cara mencintai tanpa membelenggu.

Beberapa bulan setelah kondisi mama stabil, aku mendapatkan kesempatan besar di kantor. Investor baru masuk dan perusahaan membuka cabang di kota lain. Aku ditawari posisi strategis di sana.

Gaji lebih besar. Jabatan lebih tinggi.

Tapi artinya kami harus pindah kota.

Malam itu, aku dan Maria duduk lama di teras setelah anak-anak tertidur.

“Kamu ingin ambil?” tanyanya.

“Aku bingung,” jawabku jujur. “Ini peluang besar. Tapi Naomi baru mulai nyaman di sekolah. Mama juga butuh kita.”

Maria tidak langsung menjawab. Ia selalu seperti itu—memberi ruang pada pikiranku sebelum memberi pendapatnya.

“Kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri,” katanya akhirnya. “Keputusan besar harus mempertimbangkan semua.”

Aku mengangguk.

Dulu mungkin aku akan langsung menerima tawaran itu demi gengsi dan ambisi. Namun sekarang, aku melihat hidup dari sudut yang berbeda.

Beberapa hari kemudian, aku menolak tawaran tersebut.

Atasanku sempat terkejut.

“Kesempatan seperti ini jarang datang,” katanya.

“Saya tahu,” jawabku. “Tapi untuk saat ini, prioritas saya berbeda.”

Keluar dari ruangannya, aku tidak merasa rugi. Justru ada kedamaian yang sulit dijelaskan.

Waktu berjalan.

Naomi semakin kritis. Suatu sore ia pulang sekolah dengan wajah murung.

“Ada teman bilang keluarga kita biasa saja,” katanya pelan.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Rumah kita tidak besar. Mobil kita tidak sebagus orang lain.”

Aku tersenyum dan mengajaknya duduk.

“Menurut kamu, keluarga itu dinilai dari apa?”

Naomi berpikir.

“Dari… rumahnya?”

Aku menggeleng lembut.

“Keluarga dinilai dari bagaimana mereka saling memperlakukan. Kalau kita saling mendukung, itu sudah cukup.”

Ia menatapku lama.

“Papa pernah merasa kurang?”

Aku terdiam sejenak.

“Pernah. Tapi Papa belajar bahwa cukup itu bukan soal punya banyak. Cukup itu ketika hati tidak lagi membandingkan.”

Naomi memelukku erat.

Momen kecil seperti itu membuatku sadar—anak-anak tidak hanya meniru kata-kata, tetapi sikap.

Di tengah kesibukan hidup, suatu malam aku kembali membuka media sosial. Nama Nisa muncul di beranda—ia sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Aku tersenyum tulus.

Tidak ada lagi getaran aneh. Tidak ada bayangan “seandainya”. Hanya doa dalam hati agar ia bahagia.

Maria melihatku memandang layar ponsel.

“Teman lama?” tanyanya ringan.

“Iya,” jawabku jujur. “Orang yang dulu mengajarkanku tentang melepaskan.”

Maria tersenyum, tanpa cemburu.

“Kalau bukan karena dia, mungkin kamu tidak akan jadi suami seperti sekarang.”

Aku tertawa kecil.

“Benar juga.”

Masa lalu tidak lagi menjadi ancaman. Ia menjadi bagian dari perjalanan yang membentukku.

Tahun demi tahun berlalu.

Mama akhirnya berpulang dengan tenang di suatu pagi yang cerah. Ia tidak lagi kesakitan. Wajahnya damai, seperti seseorang yang telah menyelesaikan tugasnya.

Di pemakaman, aku berdiri dengan hati yang berat tetapi tidak hancur. Aku menggenggam tangan Maria dan anak-anak.

Warisan itu kini benar-benar berada di pundakku.

Beberapa hari setelahnya, aku menemukan sebuah buku kecil di lemari mama. Di dalamnya ada catatan doa-doa yang ia tulis untukku sejak aku remaja.

“Semoga anakku menjadi lelaki yang lembut hatinya.”

“Semoga ia tidak mengulang kesalahan orang tuanya.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Mama mungkin tidak selalu sempurna. Tapi cintanya selalu nyata.

Malam itu, aku duduk di teras seperti dulu—tanpa motor tua, tanpa beban ambisi. Hanya aku dan kenangan.

Maria duduk di sampingku.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan.

“Aku kehilangan seorang ibu,” jawabku. “Tapi aku juga mendapatkan keberanian yang ia wariskan.”

Maria menggenggam tanganku.

“Kamu sudah menjalankannya.”

Aku menatap ke arah kamar anak-anak.

Kini giliranku meneruskan warisan itu.

Bukan dalam bentuk aturan keras.

Bukan dalam bentuk ketakutan.

Tetapi dalam bentuk kehadiran.

Dalam bentuk pelukan.

Dalam bentuk keberanian untuk berkata, “Papa salah,” ketika memang salah.

Beberapa tahun kemudian, ketika Naomi beranjak remaja dan Daniel mulai mengerti dunia lebih luas, aku sering mengajak mereka duduk bersama.

Aku menceritakan tentang pilihan.

Tentang cinta yang pernah kulepaskan.

Tentang pekerjaan yang pernah hilang.

Tentang nenek mereka yang pernah takut, tetapi tetap mencintai.

“Papa tidak selalu benar,” kataku suatu malam. “Tapi Papa selalu berusaha jujur.”

Naomi tersenyum.

“Papa itu keras kepala, tapi lembut,” katanya bercanda.

Aku tertawa.

Mungkin itu memang warisanku.

Hidup tidak pernah benar-benar mudah.

Tetapi setiap fase membawa pelajaran.

Aku tidak lagi mengejar kesempurnaan.

Aku mengejar keutuhan.

Keutuhan dalam keluarga.

Keutuhan dalam nilai.

Keutuhan dalam diri sendiri.

Di usia yang tidak lagi muda, aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu sulit kupahami:

Kita tidak pernah benar-benar selesai membangun diri.

Setiap hari adalah kesempatan memperbaiki cara kita mencintai.

Dan jika suatu hari nanti anak-anakku berdiri di persimpangan hidup seperti aku dulu, aku berharap mereka tidak memilih karena takut.

Aku berharap mereka memilih karena mengerti.

Karena itulah warisan yang tak terlihat.

Warisan yang tidak tercatat di akta atau sertifikat.

Warisan yang hanya bisa diturunkan lewat contoh.

Dan ketika aku menutup hari dengan doa sederhana, aku tidak lagi meminta hidup tanpa masalah.

Aku hanya meminta hati yang cukup kuat untuk tetap lembut.

Karena pada akhirnya, itulah yang membuat sebuah keluarga bertahan.

Bukan kekayaan.

Bukan gengsi.

Bukan kesempurnaan.

Melainkan keberanian untuk terus belajar mencintai—tanpa rasa takut, tanpa perlu pembuktian.

Dan perjalanan itu, seperti biasa, masih terus berjalan.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!