NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Kota Yunlong Dalam Bahaya dan Pertempuran Yang Membara

Ketika Feng, Linglong, dan Ye Chen tiba di perbatasan Kota Yunlong, pandangan mereka langsung terpaku pada pemandangan mengerikan di depan mata. Dinding kota yang megah kini retak-retak oleh energi gelap, dan asap hitam menggulung dari balik tembok yang mulai roboh. Bunyi jeritan dan suara benturan baja bergema di udara, menyatu dengan gemuruh tanah yang terus bergoyang.

“Kita terlambat!” teriak Ye Chen, menarik pedangnya lebih erat ke tubuhnya. “Mereka sudah memasuki pinggiran kota!”

Di tengah medan perang yang kacau, pasukan Sekte Ular Hitam berpakaian hitam berkeliaran seperti lautan yang menghanyutkan segala yang ada di jalannya. Mereka membakar rumah-rumah pinggiran, dan nyala merah menyala di antara rerumputan yang terbakar. Feng merasakan getaran kuat dari Pedang Naga di tangannya—kalung itu kini menyala dengan cahaya keemasan yang stabil, seolah telah mengenali ancaman yang akan datang.

“Mari kita bagi wilayah!” kata Feng dengan tegas. “Chen, kamu bantu pasukan Kota Yunlong di sisi timur. Linglong, kamu bantu saya di utara. Saya akan fokus pada Hei Yu dan kekuatan utama mereka!”

Tanpa berlama-lama, Feng melesat seperti kilat ke arah tengah kota yang sedang diserang. Pedang Naga di tangannya menyala dengan cahaya keemasan yang semakin terang saat dia menghadapi gelombang energi hitam yang datang dari arah Hei Yu.

“Hei Yu!” teriak Feng dengan suara yang jelas menyilang kebisingan perang. “Kau telah membawa kehancuran bagi banyak orang! Hari ini, aku akan mengakhiri siklus kegelapan yang kamu bawa!”

Hei Yu hanya menyeringai, tubuhnya mulai menyala dengan energi gelap yang lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini, sosoknya tampak lebih besar dan mengerikan, dengan sisik hitam yang muncul di kulitnya seperti sisik naga yang menyala. “Kau tidak akan menghentikan saya, Chen Feng! Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!”

Pertempuran antara keduanya pecah dengan kekuatan yang luar biasa. Setiap benturan pedang menghasilkan percikan cahaya dan energi yang menyembur ke segala arah. Feng menggunakan gerakan yang lebih lincah, menghindari serangan dengan presisi sambil mengirimkan energi keemasan yang membungkus pedangnya.

“Hei Yu, kau harus mengerti!” ujar Feng dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekuatan. “Kemarahanmu hanya akan membawa kehancuran bagi dirimu sendiri!”

Saat pertempuran semakin intens, gambar-gambar masa lalu Hei Yu muncul di sekitar mereka—gambar keluarganya yang juga menderita karena kekuatan gelap yang dia gunakan, dan wajahnya yang penuh dengan kesedihan mendalam. Feng merasakan getaran dari Pedang Naga yang semakin kuat di tangannya, seolah merespons emosi yang ada di sekitarnya.

“Aku tahu kamu merasakan sakit yang sama dengan apa yang kurasakan!” teriak Hei Yu dengan suara yang pecah dalam pertempuran. “Kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai!”

Feng menghindari serangan dengan tenang, merespon dengan kecepatan yang presisi. “Kita bisa memilih jalan yang berbeda, Hei Yu! Jangan biarkan kegelapan menguasaimu seperti yang telah aku alami!”

Akhirnya, Feng menghadapi serangan terakhir dari Hei Yu dengan gerakan yang lambat namun pasti. Dia tidak menggunakan kekuatan untuk menyerang balik, melainkan hanya menghindari dengan tenang, menunjukkan bahwa dia tidak perlu kekerasan untuk mengalahkan musuhnya.

“Kau benar-benar mengerti,” ujar sosok Hei Yu dengan suara yang lembut sebelum menghilang seperti debu yang terbawa angin. “Kau telah membuktikan bahwa kamu layak—bahwa kegelapan tidak akan menguasaimu.”

Ketika medan perang menghilang, Feng menemukan dirinya berdiri di tengah kota yang terbakar. Namun kali ini, dia melihat sosok baru berdiri di kejauhan—Hei Yu berdiri dengan wajah yang penuh dengan kesedihan yang mendalam, bukan kemarahan.

“Kau telah mengerti,” ujarnya dengan suara yang tenang. “Namun perjuangan belum selesai. Kita semua memiliki rasa sakit yang harus kita bawa.”

Di kejauhan, suara lembut terdengar di udara: “Ujian belum selesai—kamu harus memahami bahwa masa lalu tidak bisa mengubah masa depan yang kamu pilih.”

Saat Kota Yunlong mulai pulih dari serangan, Feng melihat wajah-wajah penduduk yang selamat, termasuk wajah-wajah anak-anak yang melihatnya dengan harapan. Linglong mendekatinya dengan cepat, matanya penuh dengan perhatian.

“Kau berhasil,” ujarnya dengan lembut. “Kau telah menunjukkan bahwa kekuatanmu bukanlah dari kemarahan.”

Feng menyimpan Pedang Naga dengan hati-hati, merasakan kekuatan yang mengalir dalam dirinya. “Aku akan melindungi kota ini dan semua orang di dalamnya,” janjinya dengan suara yang jelas di tengah kebisingan kota yang mulai pulih. “Aku tidak akan membiarkan kehancuran datang lagi.”

Malam itu, mereka berkumpul di tengah kota yang mulai pulih. Api unggun menyala di tengah kota, dan suara cerita mulai terdengar—cerita tentang perjuangan mereka, tentang cinta yang mengalahkan kegelapan, dan tentang harapan yang muncul dari puing-puing kehancuran.

“Hei Yu mungkin telah pergi saat ini,” ujar Ye Tianhong dengan suara yang penuh dengan kebijaksanaan. “Namun kita harus tetap waspada. Keseimbangan alam semesta selalu rentan terhadap kegelapan yang ada di dalam diri kita semua.”

Feng melihat ke arah langit yang mulai bersinar dengan bintang-bintang. Pedang Naga di tangannya bersinar dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah memberikan harapan baru bagi semua orang di sekitarnya.

“Kita telah melewati ujian yang sulit,” ujar Feng dengan suara yang jelas di tengah keramaian kota yang mulai pulih. “Dan aku tahu bahwa kita akan menghadapi tantangan baru di masa depan. Tapi bersama-sama, kita akan menghadapinya dengan hati yang penuh dengan kedamaian dan kekuatan yang benar.”

Linglong menggenggam tangannya dengan erat, matanya penuh dengan keyakinan. “Bersama,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan cinta dan tekad. “Kita akan selalu bersama menghadapi apa pun yang datang.”

Di kejauhan, bentuk kecil muncul dari balik awan—seolah Hei Yu berdiri dengan sikap tegas, namun kali ini wajahnya penuh dengan pemahaman yang mendalam. Dia mungkin belum menemukan jalan kembali ke kebaikan, namun ada harapan yang muncul di udara seolah angin yang membawa pesan baru: “Perjuangan belum selesai, namun jalan menuju perdamaian selalu terbuka bagi mereka yang mau melihatnya.”

 

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!