NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Saat alvar akan membuka suara, dia mendengar suara motor milik Supradi. Pria itu tak langsung berhenti. Tapi matanya tajam, menyapu pemandangan di depannya, Alvar dan Hesti, berdampingan. Bibir Supradi terangkat perlahan, membentuk senyum miring yang penuh arti. Senyum orang yang merasa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata.

Hesti langsung menangkap perubahan itu. Wajahnya pucat, tangannya refleks mencengkeram tas.

“Mas Alvar…” suaranya nyaris tak terdengar, “itu—”

“Aku tahu,” potong Alvar pelan, tapi rahangnya mengeras.

Supradi sempat mengegas motornya sedikit, seolah memberi tanda, lalu pergi sambil tertawa kecil tawa yang membuat dada Alvar terasa panas.

Alvar menoleh ke Hesti.

“Kamu masuk aja,” katanya dingin.

“Aku pulang.”

“Mas, tunggu—” Hesti mencoba menahan.

Namun, Alvar sudah menyalakan motor.

“Mulai sekarang, jangan minta aku nganter,” lanjutnya tanpa menatap.

“Aku nggak mau bikin masalah.”

Mesin motor meraung. Alvar pergi meninggalkan puskesmas, meninggalkan Hesti yang berdiri kaku di tempatnya, dengan perasaan panik yang menjalar pelan, karena ia tahu, senyum Supradi barusan bukan senyum biasa.

Sementara itu di Jakarta, waktu berjalan pelan bagi Kiara.

Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Alvar ke desa, dan selama itu pula ponselnya tak pernah lagi berbunyi karena nama yang ia tunggu. Tak ada pesan, dan tak ada panggilan. Bahkan sekadar kabar singkat pun tidak.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.

Desain terakhir Kiara akhirnya resmi diserahkan pada Darius. Proposal itu diterima, disetujui, dan akan digunakan sebagai proyek utama perusahaan. Untuk pertama kalinya sejak lulus kuliah, hasil karyanya benar-benar diakui.

Darius tampak puas, bahkan tak sungkan memujinya.

“Desain kamu solid, Kiara. Aku nggak salah minta bantuanmu.”

Kiara tersenyum, sopan tapi tak sepenuhnya sampai ke matanya. Begitu keluar dari ruang meeting, Delia langsung menangkap sesuatu yang janggal.

“Kok muka kamu datar banget?” tanyanya sambil berjalan di samping Kiara.

“Ini tuh pencapaian besar, kamu tahu.”

“Aku senang,” jawab Kiara cepat.

“Cuma capek aja.”

Delia berhenti melangkah, menatap sahabatnya lekat-lekat. Dia sudah terlalu mengenal Kiara untuk percaya jawaban itu.

“Capek atau kepikiran?” desaknya.

Kiara mengalihkan pandangan, tangannya meremas tali tas.

“Aku baik-baik aja, Del.”

Delia mendesah kecil.

“Seminggu ini kamu murung. Senyum iya, tapi kosong. Jangan bohong sama aku.”

Kiara tak menjawab, diamnya justru menjadi jawaban paling jujur. Delia merangkul bahu Kiara lalu menariknya pelan.

“Come on,” katanya lembut.

“Kita makan di luar. Rayain desain pertama kamu yang resmi dipakai perusahaan setelah lulus. Kamu pantas dapet itu, apa pun yang lagi kamu pikirin.”

Kiara menoleh, menatap Delia dengan mata yang sedikit berkaca.

“Kamu yakin?”

“Yakin banget,” jawab Delia tanpa ragu. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi kamu ngerayain diri kamu sendiri?”

Kiara akhirnya mengangguk.

Di restoran kecil bernuansa hangat itu, Kiara dan Delia duduk saling berhadapan. Hidangan yang mereka pesan sudah tersaji, aroma makanan menguar, seharusnya menggugah selera. Delia makan dengan lahap, sementara Kiara lebih sering mengaduk makanan di piringnya daripada benar-benar menyantapnya.

Delia melirik tingkah sahabatnya.

“Kalau makan tuh dimakan, bukan dipandangi,” godanya.

Kiara tersenyum kecil, lalu akhirnya bersuara pelan, seolah takut pada keputusannya sendiri.

“Del … aku kepikiran sesuatu.”

“Apa?” Delia menyuap lagi, santai.

“Aku pengin ke desa.” Kiara berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Nyusul Mas Alvar.”

Sendok Delia berhenti di udara.

“Serius?”

Kiara mengangguk.

“Kali ini aku mau bawa mobil sendiri. Aku capek nunggu kabar yang nggak datang. Aku pengin lihat langsung keadaannya … dan pastiin dia baik-baik aja.”

Delia menatap Kiara lama, lalu senyum pelan muncul di wajahnya.

“Ya udah,” katanya ringan. “Aku ikut.”

Kiara refleks menggeleng.

“Del, nggak usah. Itu desa, jauh. Kamu kan orang kota—”

“Justru itu,” potong Delia cepat. “Sekalian liburan. Refresh otak, lagian aku nggak mau kamu nyetir jauh sendirian.”

Kiara terlihat ragu.

“Aku nggak tahu bakal betah berapa lama di sana. Takut kamu malah nggak nyaman.”

Delia terkekeh.

“Kalau kamu betah, aku juga bisa betah. Tenang aja, aku fleksibel.”

Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Kiara penuh arti.

“Lagipula, kamu butuh temen. Aku nggak mau kamu ke sana dengan hati setengah hancur sendirian.”

Kalimat itu membuat Kiara terdiam. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya.

“Terima kasih, Del,” ucapnya lirih.

Delia mengangkat gelas minumnya.

“Deal ya. Beberapa hari lagi kita berangkat.”

Kiara ikut mengangkat gelasnya, senyum tipis akhirnya benar-benar terukir di wajahnya bukan karena makanan, bukan karena pekerjaan, tapi karena harapan.

Malam itu, desa terasa sunyi. Di gudang belakang rumah Supradi, sebuah lampu bohlam menyala redup, memantulkan bayangan dua orang yang berdiri saling berhadapan. Bau anyir lumpur dan kayu lembap memenuhi udara.

Wajah Supradi merah padam, rahangnya mengeras, napasnya berat.

“Aku sudah bilang, aku nggak punya uang,” katanya tajam, nyaris mendesis.

Orang di hadapannya tak kalah menekan. Suaranya rendah, penuh tuntutan.

“Kamu yang janji mau beri uang terus buat aku. Supradi, aku tahu ya kebusukan keluarga kamu. Seluruh sawah yang kalian punya itu milik ayahnya Kiara, istri Alvar. Jangan kau pikir aku nggak tahu ya!"

Supradi terkekeh kecil, bukan karena lucu, tapi karena marah.

“Janji apa? Terus kamu mau apa kalau benar itu milik keluarga istri si Alvar?!” balasnya sinis.

“Jangan sok suci. Kalau kamu terus maksa, aku bisa laporin semua ulahmu ke Alvar. Kamu pikir aku nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan, hah?!”

Ancaman itu membuat suasana berubah. Tatapan orang itu mengeras, napasnya memburu.

“Kamu berani?”

“Coba saja,” jawab Supradi cepat, melangkah maju.

Cekcok makin panas. Kata-kata kasar saling dilempar, tanpa ada yang mau mengalah. Dalam satu langkah mundur, Supradi tak sadar tumitnya menginjak tanah licin di tepi empang milik ayahnya.

“Kurang aj...”

Tubuhnya terhuyung dan jatuh ke dalam empang dengan suara air keruh memercik ke segala arah. Supradi terbatuk keras, meronta, tangannya berusaha meraih pinggiran.

“Tarik aku!” teriaknya panik.

“Aku nggak bisa naik! Ada banyak jaring di bawah sini!”

Sesaat, ia masih baik-baik saja. Air hanya setinggi dada. Namun, bayangan di atas empang bergerak mendekat.

Satu pukulan keras menghantam kepalanya. Supradi terdiam, tubuhnya melemas seketika. Air empang beriak pelan, lalu perlahan menelan tubuh itu sedikit demi sedikit. Tangannya yang sempat terangkat kini tenggelam, meninggalkan permukaan air yang kembali tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Lampu gudang masih menyala redup, angin malam kembali berdesir.

"Nyusahin banget! Lebih baik mati aja! Bikin hidup orang nggak tenang aja!" gumam orang itu dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan tubuh Supradi yang tenggelam di dalam empang milik ayahnya.

1
Ariany Sudjana
tetap semangat yah dokter Alvar, Dan tunjukkan kamu jadi dokter yang kompeten dan berintegritas. tapi harus selalu waspada yah, banyak dokter senior yang tidak suka sama kamu
suryani duriah
yg senior hrsnya bangga sama yg masih muda tapi kompeten ini malah iri😔
dyah EkaPratiwi
dr Bram tambah iri ini sama alvar
Teh Euis Tea
dr bram sepertinya iri sm alvar nih
Rokhyati Mamih
begitulah profesi kalau kita maju dan bertanggung jawab justru ada aja yang menjegal 💪💪💪💪 buat Alvar
tiara
semangat Alvar tapi tetap waspada ya
Nar Sih
dr bram iri dgn mu alvar ,tetap hti,,dan waspada org yg ngk suka slalu cri jln buat jatuhin lawan nya ,semagatt akvar💪😊
Hendra Yana
lanjut
Oma Gavin
dokter bram sengaja menjebak alvar dan ingin menjatuhkan tapi sayangnya alvar berhasil operasi dgn sukses
Nar Sih
sabarr ya alvar ,org baik pasti bnyk ujian
Esther
pasienmu itu dokter Bram, jangan pura2 lupa ya
Esther
malah saling tuduh, tangani dulu pasiennya itu lho
tiara
bukannya cepat ditangani malah ribut ini para dokter senior, semoga masalahnya dapat segera diatasi ya
Aditya hp/ bunda Lia
ini para senior malah saling tuduh pasien udah kritis pula dasar gak ngotak ntar Alvar yang tangani dia jadi tambah harum namanya kalian lebih sirik lagi ....
Siti Amyati
ujian buat alvar smoga cepat kembali seperti semula ,emang pingin sukses banyak rintangan apalagi penyakit hati bikin daeting
Narti Narti
maa baru mampir kak🤭🤭🤭
Nar Sih
semoga kebahagiaan yg seperti ini terus berjalan di rmh tangga mu ya alvar kiara ,dan gk ada ujian yg berat lgi😊
Gadis misterius
Bermacam2 tipe orang yg ada dialam semesta ini, slah satunya yg iri dengki meliht orang lain bahagia mlah panas ada orang yg melihatt orang lain bahagia ikut bahagia jd hati2 krn manusia seperti yg iri dengki
Esther
pasien terakhir, pasien istimewa ya Alvar
Esther
antrian pasien langsung pindah ke dokter baru Alvar.
pasti dokter lama ada yang iri dengki, hati2 Alvar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!