NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yuliana Dewi part 2

Ny. Lusi menaruh cangkir teh di atas meja kecil yang terletak di tengah balkon, kemudian duduk bersandar di sisi suaminya dengan menghadap ke arah timur di mana matahari mulai muncul perlahan dari balik kabut. Udara pagi yang segar membuat mereka merasa damai dan tenang.

"Mah... kenapa bukan Yati yang mengantar minuman ke sini? Bukannya biasanya dia yang selalu mengantar minuman pagi untukku?" tanya Pak Hartawan dengan suara pelan, sambil mengambil cangkir teh dan menghirup aromanya yang harum.

"Kenapa Papa tidak mau kalau Mamah yang mengantarkan teh hangat ini ke balkon? Apakah ada yang salah dengan apa yang Mamah lakukan?" tanya balik Ny. Lusi dengan nada sedikit cemas, meskipun wajahnya tetap menunjukkan senyum lembut.

"Bukan begitu maksud Papa, sayang. Jangan emosi dulu dong... slowly aja deh Mah," ucap Pak Hartawan dengan suara lembut, mulai merayu istri yang sudah mulai menunjukkan ekspresi sedikit kesal. Dia dikenal sebagai pria yang perayu dan lemah lembut terhadap istri serta orang yang dicintainya.

"Mamah kan kemarin bilang ke Papa kalau badan kurang enak kan? Jadi seharusnya Mamah banyak istirahat di kamar saja, bukan keluar rumah dan membawa minuman seperti ini," ucap Pak Hartawan dengan penuh perhatian, kemudian mulai memijit bagian punggung Ny. Lusi dengan lembut agar istri nya merasa lebih nyaman.

"Tap... tapi Pah, Mamah tuh kalau terlalu banyak istirahat badan jadi akan pegel-pegel semuanya. Jadi Mamah ambil inisiatif sendiri deh untuk membawakan secangkir teh CINTA khusus untuk Papa," ucap Ny. Lusi dengan suara manis, kemudian kedua tangannya memeluk pinggang suaminya dengan erat seperti seorang gadis muda yang sedang merayu kekasihnya.

Pasangan mesra suami istri ini memang telah menjalani hidup bersama selama hampir enam dekade, namun hingga saat ini Allah SWT belum memberikan mereka seorang anak kandung. Hingga suatu hari sekitar lima tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk mengangkat seorang anak perempuan yang masih berusia remaja—putri dari pembantu rumah tangga mereka yang bernama Yati. Anak perempuan tersebut bernama YULIANA DEWI, atau yang biasa dipanggil Yuli.

"Mah... gimana sih Yuli? Apakah dia sudah masuk di SMA Harapan Bangsa seperti yang kita rencanakan?" tanya Pak Hartawan dengan suara penuh perhatian, matanya tetap melihat ke arah langit yang mulai semakin terang.

"Yuli udah masuk kok Pah... ke sekolah favorit itu sudah tiga hari lebih. Emang kenapa sih Pah? Tiba-tiba aja nanya tentang Yuli," tanya Ny. Lusi dengan suara yang sedikit datar, seolah ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan suaminya.

"Gak apa-apa kok Mah... emang Papa tidak boleh nanya tentang anak kita sendiri ke Mamah?" ucap Pak Hartawan dengan nada sedikit cemberut, membuat Ny. Lusi langsung tersenyum lembut.

"Boleh aja kok Pah, tidak ada yang melarang. Tapi kita harus selalu ingat dengan batasan yang ada ya Pah... karena Yuli itu bukan anak kandung kita. Kita hanya sebagai orang tua sambungnya saja, jadi kita tidak boleh terlalu campur tangan dengan kehidupannya yang sudah mulai dewasa," ujar Ny. Lusi dengan suara yang jelas dan tegas, sebagai pengingat bagi suaminya yang terkadang terlampau sayang kepada Yuli.

"Ya ya ya... Papa ngerti dan akan selalu ingat itu, sayang. Apalagi sekarang dia sudah besar dan masuk SMA. Sekarang dia dimana saja, Mah?" tanya Pak Hartawan kembali, tidak ingin membahas hal yang membuat istri nya tidak nyaman.

"Tadi saat Mamah sedang membuat teh untuk Papa, dia kayaknya mau berenang di kolam renang Pah. Dia bilang ingin berenang untuk melepas penat setelah tiga hari pertama masuk sekolah," jawab Ny. Lusi dengan suara yang kembali menjadi hangat.

"Emangnya dia tidak sekolah ya Mah? Kalau begitu Papa juga mau ikut berenang bareng dia aja deh," ucap Pak Hartawan dengan senyum ceria, namun kemudian dia melihat wajah istri nya yang mulai menunjukkan ekspresi sedikit tersenyum sinis.

"Aah si Papa tuh kayak kura-kura dalam perahu aja ya?" ucap Ny. Lusi dengan sedikit tertawa, membuat Pak Hartawan merasa bingung.

"Maksud Mamah apa sich? Papa tidak paham sama sekali," ucap Pak Hartawan dengan wajah penuh kebingungan, menoleh ke arah istri nya yang sedang tersenyum.

"Kura-kura dalam perahu itu artinya Pura-pura tidak tahu atau lupa kan, Pah? Padahal Papa pasti sudah tahu bahwa hari ini adalah tanggal merah—hari libur nasional! Jadi sekolah tidak masuk hari ini," ucap Ny. Lusi dengan suara yang penuh candaan, membuat Pak Hartawan langsung menghela napas panjang dan menepuk dahinya sendiri.

"Oooooh... begitu ya! Papa jadi lupa sama sekali bahwa hari ini libur nasional tuh Mah! Kenapa Mamah tidak bilang-bilang aja ke Papa dari tadi? Bikin Papa jadi kelihatan bodoh aja," ucap Pak Hartawan dengan suara sedikit kesal namun tetap penuh keceriaan.

"Jadi gimana nih Pah? Mau Mamah panggil Yuli datang kesini ke balkon, atau kita berdua yang turun ke kolam renang untuk menemukannya?" tanya Ny. Lusi dengan senyum hangat, siap melayani keinginan suaminya.

"Baiknya biar Yuli datang kesini aja Mah... jadi kita bisa ngobrol santai sambil menikmati teh hangat ini yang masih panas," ujar Pak Hartawan dengan senyum ceria, lalu mengambil cangkir teh dan meneguknya perlahan.

Setelah itu, Ny. Lusi berdiri dan berjalan turun dari balkon menuju arah kolam renang yang terletak di belakang rumah. Namun saat dia sampai di dekat kolam renang yang luas dan dikelilingi oleh taman bunga yang indah, tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar kolam renang—apalagi Yuli yang katanya mau berenang. Air kolam renang yang jernih tampak tenang tanpa ada riak sedikit pun.

"Yatiii?! Yatiiii?! Tolong datang kemari sebentar dong!" panggil Ny. Lusi dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke arah kamar pembantu yang terletak di sisi belakang rumah.

Tak lama kemudian, seorang wanita dengan penampilan sederhana dan selalu mengenakan baju seragam pembantu berjalan dengan cepat menghampiri Ny. Lusi sambil menunduk sebagai tanda hormat. Dia adalah Yati—ibu kandung Yuli yang telah bekerja sebagai pemb...antu rumah tangga di rumah Pak Hartawan selama lebih dari sepuluh tahun.

"Ada apa Ny. Besar?" tanya Yati dengan suara lembut dan sopan, matanya tetap melihat ke arah tanah sebagai bentuk penghormatan.

"Kamu melihat Yuli tidak? Tadi Mamah dengar dia mau berenang di kolam renang, tapi sekarang tidak ada orangnya sama sekali," ucap Ny. Lusi dengan suara sedikit cemas, mata nya bergerak menyapu area sekitar kolam renang dan ruang tengah yang terletak di dekatnya.

"Yuli ada di kamar nya sendiri Ny. Besar, sedang ganti pakaian setelah selesai berenang. Dia bilang badan nya sedikit keringetan jadi mau ganti baju yang lebih nyaman dulu," jawab Yati dengan jelas, tetap dengan sikap yang sopan dan patuh.

"Aku mau ke kamar dulu untuk mengambil air wudhu dan sholat Dhuha. Nanti tolong bilang sama Yuli ya, dia di tunggu sama Pak Hartawan di balkon atas. Katakan aja kita mau ngobrol santai bareng," ucap Ny. Lusi dengan suara yang kembali menjadi tenang, kemudian dia berjalan menuju arah kamar mandi untuk melakukan wudhu.

Sedangkan Yati segera bergegas masuk ke dalam kamar kecil yang menjadi tempat tinggalnya bersama anaknya. Kamar tersebut terletak di sisi belakang rumah, cukup sederhana namun rapi dan bersih. Saat dia masuk, Yuli sedang berdiri di depan cermin kecil yang terletak di sudut kamar, sedang menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangannya.

"Yuli... kamu di panggil sama Pak Hartawan di balkon atas lho," ujar Yati dengan suara lembut, mendekati anak perempuannya yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik.

"Ada apa sich Bu? Aku sebenarnya capek banget habis berenang, mau bobo sebentar aja dulu deh," ucap Yuli tanpa melihat ke arah ibunya, masih fokus menyemprotkan parfum dengan aroma yang cukup kuat.

"Haduuuh kamu tuh gimana sich Yuli! Yang panggil kamu itu Tn. Besar Pak Hartawan lho! Bukan orang sembarangan! Kenapa kamu tidak mau pergi aja? Ayoo cepetan ya sebelum dia marah," ucap Yati dengan nada sedikit tergesa-gesa, mulai merasa khawatir karena takut membuat majikannya tidak senang.

"Ya sabar dong Bu... aku lagi sibuk menyemprot parfum nih biar badan tetap harum dan mewangi sepanjang hari. Kalau tidak pakai parfum, badan bakal bau peluh kan?" ucap Yuli dengan suara yang sedikit kesal, lalu melangkah untuk keluar dari kamarnya dengan langkah yang anggun.

Namun baru beberapa langkah saja dia berjalan, Yati langsung berteriak dengan suara yang cukup keras: "Yuliiii!!! Tunggu dulu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!